MasukHujan turun semakin deras.Raymond berdiri di samping mobil sambil menggenggam kertas yang diberikan Rafael.Satu alamat.Satu tulisan tangan.Dan satu nama yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai kenangan.Maria.Ibunya."Saint Rose..." gumam John.Raymond mengangguk."Siapkan mobil."Clara berdiri beberapa langkah di belakangnya.Wajahnya masih pucat setelah penculikan.Namun kali ini ia tidak terlihat ketakutan.Ia justru menatap Raymond dengan tatapan serius."Kita pergi sekarang?"Raymond menoleh."Ya.""Aku ikut."Raymond langsung menggeleng."Tidak."Clara mengerutkan kening."Kenapa?""Karena aku tidak tahu apa yang menunggu di sana.""Aku juga tidak tahu."Clara melangkah mendekat."Tapi kalau yang kita cari adalah ibumu, aku tidak mau kau pergi
Raymond tidak langsung bergerak.Rafael berdiri beberapa meter di depannya.Wajah pria itu terlihat lebih pucat dibandingkan saat terakhir mereka berbicara melalui telepon. Ada luka kecil di pelipisnya dan darah mengering di kerah bajunya.Raymond mengangkat senjata."Kau."Rafael mengangkat kedua tangannya."Aku tahu kau ingin menembak.""Aku juga tahu kau berada di balik semua ini.""Kalau aku berada di balik semua ini, Clara sudah mati."Raymond tidak menurunkan senjatanya."Di mana dia?""Masih hidup.""Di mana?"Rafael menunjuk ke dalam gudang."Tapi kita harus bergerak sekarang."John muncul di belakang Raymond."Tuan, jangan percaya dia."Rafael menoleh."Kalau kalian tetap berdiri di sini, orang-orang di dalam akan memindahkan Clara melalui terowongan bawah tanah."Raymond langsung menatapnya."Ter
Mobil hitam itu melaju meninggalkan mansion.Clara duduk di kursi belakang dengan kedua tangan terikat.Napasnya masih teratur, meskipun jantungnya berdegup keras.Pria yang duduk di sebelahnya adalah Marcus.Orang yang selama bertahun-tahun dipercaya Raymond untuk menjaga keluarganya.Clara menatapnya dari sudut mata."Jadi selama ini kau bekerja untuk mereka?"Marcus tidak menjawab.Matanya tetap tertuju ke depan.Clara mencoba menarik tali di pergelangan tangannya.Tidak berhasil.Namun ia tidak berhenti berpikir.Raymond pasti sedang mencarinya.Dan jika Marcus memang orang dalam, berarti semua jalur keamanan mansion mungkin sudah diketahui."Kalian mau membawaku ke mana?"Marcus akhirnya menjawab."Ke tempat yang aman."Clara hampir tertawa."Aman?"Ia menatap pria itu."Kau menculikku.""Aku
Suara mesin kendaraan memenuhi halaman mansion.Satu.Dua.Tiga.Empat mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang.Raymond berdiri di tengah ruang utama dengan senjata masih berada di tangannya.Clara berada di belakangnya.John segera berbicara melalui alat komunikasi."Semua unit, posisi bertahan. Jangan menembak sebelum ada perintah."Para pengawal menyebar.Beberapa menuju lantai dua.Sebagian lainnya mengamankan Charles.Raymond menatap layar kamera keamanan.Anehnya, orang-orang di dalam mobil tidak langsung turun.Mereka hanya diam.Menunggu.Raymond menyipitkan mata."Mereka tidak datang untuk menyerang."John menoleh."Lalu?""Mereka ingin kita panik."Tepat setelah Raymond selesai berbicara, lampu seluruh halaman kembali menyala.Empat mobil itu langsung bergerak mundur.
Tubuh Charles jatuh tepat ke dalam pelukan Raymond."Ayah!"Raymond menekan luka di dada Charles dengan telapak tangannya. Darah mulai merembes melalui sela-sela jarinya."Dokter!"Suara Raymond mengguncang seluruh mansion.John langsung berlari mendekat."Pengawal, tutup seluruh akses!"Beberapa pria berlari ke arah pintu utama dan jendela."Jangan biarkan siapa pun keluar!"Raymond menatap wajah Charles yang semakin pucat."Jangan tutup mata."Charles membuka matanya sedikit."Raymond...""Diam. Dokter akan segera datang.""Tidak..."Charles menggenggam pergelangan tangan Raymond."Folder..."Raymond mengerutkan kening."Folder apa?""Maria..."Napas Charles terdengar berat."Jangan biarkan mereka mendapatkannya."Raymond langsung menoleh ke arah ruang kerjanya.Folder hitam.Aset rahasia Maria.Folder yang bahkan Charles sendiri dilarang menyentuhnya."John.""Ya, Tuan.""Amankan ruang kerja."John baru hendak bergerak ketika suara ledakan terdengar dari lantai dua.BOOM!Kaca jend
Raymond masih menatap layar ponselnya.Panggilan telah berakhir.Namun suara Maria masih terngiang jelas di kepalanya.Maafkan Mama.Bertahun-tahun ia mengira tidak akan pernah mendengar kalimat itu lagi.Sekarang, ketika kesempatan tersebut benar-benar datang, justru Maria kembali menghilang."Nomornya bisa dilacak?" tanya Raymond.John segera mendekat dengan perangkat di tangannya."Sedang dicoba."Raymond menatap Charles."Kenapa Mama takut kembali?"Charles tidak menjawab."Dan jangan katakan kau tidak tahu."Charles menghela napas."Karena orang yang mengejarnya belum berhenti.""Elena?"Charles menggeleng."Elena hanya menjalankan perintah."Raymond membeku."Perintah siapa?"Charles menatap putranya."Aku tidak tahu."Raymond tertawa dingin."Kau selalu tidak tahu."
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te







