LOGINSi Marion Yuna "Mayu" Selvestre ay bunga ng isang kataksilan. Uhaw sa pag-ibig ng mga magulang. Walang hiniling ang dalaga kun'di maging parte ng pamilya ng kanyang Tatay o Nanay. Ngunit iyon ay naging mas malabo matapos siyang mapiling fiancée ng isang kilalang bilyonaryo na parehong gusto ng kanyang mga kapatid. Hindi iyon matanggap ng kanyang mga magulang sapagkat maging ang mga ito ay naghahabol sa bilyonaryo. At mas lalo pang lumabo ang kanyang kahilingan nang siya ay mabuntis dahil sa isang gabing pagkakamali. Sa takot na ito ay ipalaglag ng kanyang mga magulang at sa takot na malaman ng lalaki na siya ay nagdadalang tao, nagawa niyang lumisan sa kinagisnang lugar at magpalipat-lipat pa sa tuwing siya'y nahuhuli nito. Takot man sa buhay ay mas takot si Mayu na kuhanin sa kanya ang anak ng tuso at tinuturing niyang halimaw na si Aldo Hendrix Castellanos.
View MoreWAJAH ASLI KELUARGA SUAMIKU
(Ketika aku pura-pura bangkrut) Bab 1[Andra, kamu sudah transfer uangnya belum? Kebetulan ada yang mau Mas sama Mbakmu beli ini. Jangan lupa segera transfer tiga puluh juta. Mas sama Mbakmu mau beli ponsel merk ipul yang logonya biji kroak][Siap, Mas, nanti sekitar jam lima aku akan transfer, sekalian aku juga mau keluar] Mataku memicing saat tanpa sengaja membaca kata demi kata yang tertera di layar ponsel milik suamiku. Mas Andra sedang berada di kamar mandi karena aku mendengar gemericik air dari dalam ruangan dengan ukuran 3x2 tersebut. Ak men-scroll layar tersebut hingga ke beberapa nama dan akhirnya mataku tertuju pada satu nama yakni ibu mertua. Kubuka chat atas nama ibu mertuaku itu dan mulai membacanya[Andra, jangan lupa jatah Ibu bulan ini ditambhin ya soalnya ada perhiasan yang Ibu taksir. Harganya sekitar dua puluh juta. Ibu tunggu hari ini juga ya][Iya, Bu, Andra enggak lupa kok. Pasti Andra transfer. Tapi nunggu Kinan pulang dulu soalnya uang di atm Andra lagi habis] [Yaudah kalau begitu yang penting jangan lupa ya. Ingat Andra, kamu harus pintar-pintar jadi suami. Selagi bisa kamu keruk harta istri kamu maka keruklah kalau bisa habiskan dan berikan semuanya pada keluarga kita]Aku segera mengembalikan ponsel mas Andra yang tergeletak di atas nakas. Aku tidak mau dia tahu kalau aku juga membaca chat dari keluarganya. Aku mendesah pelan berusaha menghilangkan sesaknya dada. Entah sejak kapan keluarga suamiku selalu merongrong keuangan rumah tanggaku. Bukannya aku tidak boleh, tentu saja boleh kalau itu sesekali. Akan tetapi, keluarga mas Andra setiap bulannya tidak pernah absen. Mungkin kalau ibu mertua aku masih mentolerir tapi untuk kakaknya yang berstatus sebagai suami yakni, mas Fatih bagaimana? Bukankah tanggung jawab keluarganya ada di pundak dia sebagai kepala keluarga? Hah entahlah aku pusing. Aku pun sudah sejak sebulan yang lalu tahu perihal keluarga suamiku yang ternyata tidak tulus menyayangiku sebagai menantu dan ipar. Aku secara tidak sengaja mendengar percakapan mereka soal bagaiamna mas Andra harus merongrong hartaku. Masih lekat juga dalam ingatan saat aku mengadukan hal ini pada sahabatku yaitu Laras. "Kinan coba deh kamu berpura-pura bangkrut biar kamu tau wajah asli keluarga suamimu seperti apa. Selama ini kan mereka selalu berbuat baik di depanmu makanya kamu kayak gak punya alasan buat menolak apa yang mereka mau kan?""Tapi apa kamu yakin kalau itu akan berhasil?""Kalau enggak dicoba mana kita tahu kan?""Iya sih. Tapi kalau mereka gak percaya gimana coba? Suamiku sangat tahu kalau penghasilan toko grosir dan beberapa cabang resto ayam geprek di beberapa kecamatan selalu rame. Belum lagi toko baju milikku juga selalu rame" "Ck, cobalah dulu. Atau gini aja kamu ultimatum karyawan-karyawanmu untuk mengatakan kalau pemilik tempat mereka bekerja sudah bukan punya kamu lagi. Gimana?""Kamu yakin ini akan berhasil?""Dicoba saja.""Aku alasan apa kalau suamiku tanya kenapa dijual semua usahaku?""Ya simpel aja, kamu jawab untuk menutupi kebutuhan hidup keluargamu dan keluarganya yang selalu merongrong seperti itu. Ditambah lagi harga bahan semakin mahal sedangkan jika dinaikkan harga jual maka pembeli akan sepi alhasil pengeluaran dan pemasukan tidak imbang."Aku mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti dengan apa yang Laras katakan. "Baik, akan aku coba usulanmu ini. Semoga berhasil ya, jujur aku lelah sekali menjadi atm berjalan keluarga suamiku.""Kamu yang sabar ya. Aku selalu ada bersamamu pokoknya kalau butuh sesuatu kamu jangan segan-segan bicara padaku. Kakakmu sudah menitipkanmu padaku maka kamu menjadi tanggung jawabku."Yah, Laras dan kakak laki-lakiku satu-satunya akan segera menikah. Namun, kakak lelakiku itu harus bekerja di luar kota jadi jarang pulang ke sini. Alhasil aku dan kakakku harus berpisah jarak. Aku juga sudah mengamankan surat-surat berharga seperti surat tanah, surat rumah juga surat kendaraan di bank. Itu juga atas usulan Laras agar semuanya tidak bisa diusik mas Andra begitu saja. "Sayang? Kamu sudah pulang? Kok tumben cepat? Dan lagi Kok gak kedengeran suaranya?" Ucapan mas Andra membuyarkan lamunanku. Aku pun menoleh ke arahnya, beruntung aku sudah mengembalikan ponselnya ke atas nakas lagi. "Ah iya kebetulan kepalaku lagi sakit makanya aku pulang duluan dari biasanya." "Emm, Dek, ada yang mau aku bicarakan sama kamu."Dapat kulihat dari ekor mataku mas Andra mendaratkan bokongnya di atas kasur yang ada di sebelahku. Aku sangat tahu dia pasti mau melancarkan rayuan mautnya seperti biasa jika ingin meminta sesuatu padaku terlebih soal uang. Mas Andra memang pengangguran berat. Alasan sebenarnya sungguh bikin kesal karena katanya tidak ada kerjaan yang cocok untuknya selain kerjaan bonafit seperti manajer atau direktur. Ingin sekali aku tertawa terbahak mendengar ucapannya yang seperti itu. Bagaimana bisa seorang lulusan SMA menjabat sebagai manajer atau direktur. Ingin sekali rasanya kutimpuk kepalanya agar sedikit benar otaknya yang rada geser itu. Namun, karena terlalu bucinnya diriku pada mas Andra membuat aku mengiyakan apa yang diucapkannya meski itu susah menzalimiku. Akan tetapi, kini aku tidak mau lagi dijadikan sapi perah oleh keluarga suamiku. Dan aku menyetujui usulan yang Laras berikan. Baiklah, aku akan mencobanya. "Dek, kok kamu melamun sih?" Aku tersentak melihat mas Andra melambaikan tangannya di depan wajahku. "Ya, Mas, ada apa? Katakanlah.""Emm uang di atm Mas kan sudah habis. Tolong kamu kirim ke Mas seratus juta ya. Soalnya mau ada yang Mas beli."Aku berpura-pura mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. Meski tadi sudah membaca pesan dari keluarga mas Andra tapi tetap saja rasa sesak itu masih ada. "Seratus juta? Untuk apa, Mas?" "Untuk bisnis kebetulan teman Mas ada yang buka usaha seperti cafe kekinian gitu. Yah lumayan kam targetnya anak muda jadi Mas bernia tanam saham di sana biar setidaknya Mas juga ada pemasukan tanpa harus minta ke kamu."Aku menghembuskan napas untuk mengumpulkan kekuatan. Baiklah Kinan, mari kita mulai sandiwara ini. "Tapi, Mas, ada yang mau aku bicarakan juga sama kamu.""Apa itu? Penting?" Aku mengangguk yakin menatap kedua netranya. "Ada apa sih? Kok Mas jadi penasaran? Gak biasanya lho kamu begini?" Kening mas Andra berkerut melihat keseriusan di wajahku. "Aku bangkrut, Mas, usahaku semuanya hancur. Aku kelilit hutang di bank dan semuanya yang aku punya harus disita. Bahkan uang yang ada di atm-ku dan dompetku saat ini masing-masing hanya sekitar lima juta saja. Jadi aku gak bisa penuhi apa yang kamu minta barusan."Aldo Hendrix CastellanosI still clearly remember Mayu, whom I saw at the party's garden. Honestly, the first time I saw her, I was sure she was definitely not my type. Glancing at her gown, I knew then she would be one of the candidates. Kaya naman ako na mismo ang naghanap kay Addison upang ibigay ang kahon na patago ko pang kinuha kay Lolo.Hindi ko rin naman gusto ang plano nito at wala sa isip ko ang magpakasal. And who would be happy in an arranged marriage? No one. And so, as much as I could, I tried my best to give the box to the person I somehow liked. I didn't know and I was unaware that fate played me so very well. Wala rin akong plano sa unang gabi kun'di ang takutin siya ngunit mukhang may mas plano ang tadhana sa aming dalawa at hinayaan na may mangyari at maulol ako sa kanya.Oras-oras kong pinapagalitan ang sarili dahil doon. At halos murahin ko ang sarili matapos hindi makuntento sa isang gabi na halos gabi-gabi na lang itong nasa isip ko at pilit ginugulo ang sistem
Walang tigil ang kaba ko sa takot na baka may balak na naman itong masama. Ni hindi ko nga namalayan na na-dial ko ang numero ni Addison. Huli na at hindi ko na ma-end call matapos marinig ang maarte niyang boses. Nawala tuloy kay Stella ang atensyon ko at nalipat sa cellphone."Now, you called me. What, Cheap Bitch?" anitong tingin ko ay umiirap pa sa kabilang linya.Napairap din tuloy ako, "Napindot lang. As if namang tatawagan kita. Bye—""Wait! Don't hang up yet!" pigil nito dahilan upang hindi ko pindutin ang end call."What, Maarteng Bitch?" pagtataray ko.Dinig kong umismid ito ngunit tumikhim din."I'm sorry."Nangunot ang noo ko at tila nabingi. Tama ba ang narinig ko?"Ano?""Ang sabi ko, I'm sorry!" malakas nitong sigaw na kinangiwi ko at nagpasakit sa tainga ko, "I'm sorry nga pero kung ayaw mo, then don't!"Napailing ako. Paano ko naman tatanggapin ang sorry na ganito?"Not forgiven—""Who cares? Nag-sorry lang naman ako dahil ayokong iwan kami ulit ni Mommy. Tss," aniya
"Aldo, tama na nga!" protesta ko matapos nitong hindi tumigil.Ngunit hindi ito nakinig at nagpatuloy lang dahilan upang mapa-halakhak ako. "Tama na kasi! H-indi na ako makahinga, kakain pa ako." Napanguso ako at hinawakan na ang dalawang kamay niya ngunit mahina lang siyang tumawa mula sa likod ko."Ang bad mo ah! Bahala ka kapag na-dislocate si baby," pagbabanta ko.Sandali siyang natigilan at lumipat sa harap ko, "What? Is there a thing called dislocation in pregnancy?"Nangunot ang noo niya at tila ba litong-lito. Kusa akong nangisi at kumibit balikat."Meron na ngayon—""You're bluffing," aniyang lumalapit na naman at pinupuntirya ang tagiliran ko."Aldo nga!" Sinamaan ko siya ng tingin ngunit tanging ngisi ang sinagot niya sa akin."Gutom ako. Kung sanang pinakain mo ako kagabi, wala sana ngayon tayo sa kusina kahit madaling araw pa.""You could have stopped me from making love to you earlier in the night. Hindi mo sana ako pinapagalitan ngayon. I am just being a professional l
"Nakagagaan pala sa pakiramdam kapag ganito," wala sa loob na bigkas ni Daddy habang kumakain sa hawak niyang ice cream.Napatitig ako sa abocado ice cream na hawak, nasa apa iyon. "Sana pala, noon pa ako nagpaka-ama," dagdag nito.Napayuko ito at ramdam ko ang bigat sa damdamin niya. Napaiwas ako ng tingin at napabuntong hininga."Pwede pa naman po, hindi nga lang ngayon," mahinang bigkas ko. "Maghihintay ako, Anak. Hihintayin ko hanggang sa matanggap mo na ako bilang ama mo. Marami akong pagkukulang pero handa akong bumawi," anitong halos manginig pa ang boses.Napalunok ako. Alam ko namang pareho lang sila ng motibo ni Mommy. Pareho lang naman nila akong gusto ngayon dahil asawa ko na si Aldo pero kahit ganoon, gusto kong isipin na totoo si Daddy.Kung pagbabasehan lang naman ang pagiging magulang, si Daddy ang laging nandiyan at updated sa buhay ko kahit pa hindi ko ito nakakasama sa mga importanteng okasyon sa buhay ko. Na-appreciate ko naman ang mga panahon na nagrerenta siya
Hindi ako makapaniwalang nandito ito sa tabi ko at ngumingisi nang simpatiko. Pinaningkitan pa niya ng tingin ang mga nasa gilid ng altar."Aldo, hindi ka mangingibang bansa?" mahinang tanong ko at marahang pinisil ang palad niya. Nabaling sa akin ang atensyon niya at nangunot ang noo."Who told you t
Kinagabihan ay tinawagan ko si Alice, at halos mabingi ako sa singhal nito."Gaga ka! Pinahamak mo na naman ako!" singhal ni Alice mula sa kabilang linya.Nakagat ko ang hinliliit na daliri sa konsensya. Ngayon pareho na kaming may problema."Hindi naman siguro sasabihin agad ni Aldo kay Apollo?""Sana
Hiyang hiya ako noong malapit na mag-uwian. Hindi nga ako lumalabas ng kwarto hangga't hindi niya ako tinatawag. Tinulog ko lang yata ang buong araw pagkatapos noong nangyari sa mesa. Nauna pang nagising sa akin si Arkan na nasa labas na. Si Aldo naman ay sandali lang na natulog bago bumalik sa p
"Arkan, don't run, Baby!"Tumigil ito mula sa pagtakbo at linibot pa ang tingin sa loob ng lobby ng kumpanya. Excited itong makaakyat sa itaas para makita si Aldo. Nauna kasi itong pumasok, pinasundo na lang ako."Mama, so both are you will work?" kuryosong tanong nito.Sinabi k
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore