MasukBagaimana rasanya jika menjadi guru dari anak mantan? Ya, itulah yang dirasakan oleh Ai. Terpisah selama beberapa tahun, sekuat tenaga melupakan justru kini bertemu dengan situasi yang berbeda.
Lihat lebih banyakFu Xi adalah anak pertama Hang Xi dari istri pertamanya yang sudah mati, keluarga Xi sendiri salah satu keluarga terkaya yang mendominasi perdagangan wilayah timur, karena sebuah ramalan roh hewan spirit di dalam tubuhnya di hancurkan keluarganya dan dia di krim ke keluarga cabang di desa.
Di keluarga cabang Fu Xi selalu ditindas hanya karena lemah dan tidak bisa berkultivasi, Fu Xi setiap hari diberi makan makanan sisa yang sudah basi bahkan hewan peliharaan lebih baik darinya dan diberi makan dengan layak, keluarga Xi berpikir hewan peliharaan lebih berguna dari pada Fu Xi yang tidak bisa melakukan apapun dan menjadi aib keluarga.Bruaaaaaaaaaak.Pukulan keras membuat Fu Xi terlempar jauh ke belakang, tubuhnya yang lemah setelah di hajar dipaksanya bangkit berdiri, darah segar yang ada di sudut bibirnya diusapnya menggunakan ibu jarinya.Walau tidak bisa bela diri dan tidak pernah berkultivasi Fu Xi tidak mau hanya diam, Fu Xi menatap tajam ke arah sekumpulan Assassin yang baru saja menghajarnya dan membuatnya terluka cukup parah."Sebenarnya siapa kalian? Kenapa kalian terus mengincar ku?" Tanya Fu Xi berteriak keras.Bruuuuuuuuuuaaaaaak.Fu Xi berlari ke arah salah satu Assassin dengan kayu di tangannya sebelum para Assassin menjawab pertanyaannya, belum sempat kayu di pukulkannya ke salah satu Assassin Fu Xi dibuat kembali terlempar ke belakang."Siapa kami bukan urusanmu, kami dikirim untuk mengambil nyawamu, salahkan dirimu sendiri yang tidak berguna dan membuat malu keluargamu," ucap salah satu assassin."Berhentilah melawan karena kamu tidak akan menang melawan kami, pasrah saja mati di tangan kami," sambung Assassin lainnya."Aku mengerti sekarang, ternyata kalian di suruh oleh keluarga ku sendiri untuk membunuhku, aku cukup puas mengetahui keluarga yang aku anggap bisa menerima kekurangan ku malah menginginkan nyawaku, Hahahaha." sahut Fu Xi tertawa keras.Fu Xi sadar memang dirinya tidak akan bisa menang dan mengalahkan para Assassin, tapi dari pada mati di tangan mereka Fu Xi lebih memilih mati dengan cara lain, Fu Xi yang sejak tadi sudah menyadari ada jurang di belakang nya hanya tersenyum."Kalian tidak perlu membunuhku, karena aku lebih memilih mati jatuh ke dalam jurang. Kalian hanya perlu mengingat satu hal, jika kesempatan datang padaku aku akan membunuh kalian semua dan seluruh anggota keluarga Xi!" Sambung Fu Xi yang dipenuhi dendam.Para Assassin yang ingin menahan Fu Xi terdiam tak berkutik, jika target mereka jatuh ke dalam jurang mereka tidak tahu apa dia sudah mati atau belum, karena jika Fu Xi masih hidup mereka yang gagal menjalankan misi harus mati."Sekarang bagaimana?" Tanya salah satu Assassin."Kita hanya perlu mengatakan sudah membunuhnya bukankah akan selesai, lagipula jurang itu sangat dalam mana mungkin ada yang selamat," sahut pemimpin Assassin dengan santai.***Beberapa jam kemudian Fu Xi seperti mendengar suara seseorang, mengira para Assassin datang lagi untuk membunuhnya Fu Xi membuka matanya."Menyesal memang selalu datang terakhir anak muda, semua manusia sama," suara seseorang yang terdengar mengejutkan Fu Xi.Deg, deg, deg.Mendengar suara yang tidak tahu dari mana asalnya Fu Xi bergegas memalingkan wajahnya mencari asal suara, Fu Xi yang saat itu mau bangkit berdiri tertahan karena tubuhnya kembali merasa sangat kesakitan, Fu Xi bahkan kembali terduduk lemas dan hanya bisa menyandarkan kembali tubuhnya."Siapa kamu?" Tanya Fu Xi dengan tubuh gemetar.Fu Xi baru menyadari kalau saat ini dirinya berada di dalam rumah seseorang, orang yang saat ini berjalan ke arahnya pasti orang yang membawanya keluar dari jurang pikirnya."Anak muda siapa aku tidaklah penting, luka di tubuh mu sangat parah bagaimana jika kamu mengobatinya lebih dulu," sahut pria tua yang berjalan mendekat ke arah Fu Xi.Fu Xi hanya diam melihat pria tua yang mendekati nya dan berdiri di depannya, tidak tahu kenapa Fu Xi memiliki firasat kalau pria tua itu bukanlah orang jahat."Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku membawa mu karena melihat mu berada di dasar jurang dengan keadaan yang sangat memprihatinkan," ucap pria tua yang melihat Fu Xi hanya diam.Pria tua yang melihat Fu Xi masih terdiam hanya menggelengkan kepalanya, pria tua itu memperhatikan tubuh Fu Xi dengan sangat teliti lalu menganggukkan kepalanya berulang kali."Padahal memiliki roh hewan spirit yang sangat langka kenapa tubuh mu sangat lemah," ucap pria tua mengejutkan Fu Xi."Tidak mungkin, aku sudah tidak memiliki roh hewan spirit di tubuh ku," sahut Fu Xi cepat."Kenapa kamu yakin seperti itu? Apa kamu tidak percaya kalau roh hewan spirit mu masih ada dan itu bukan hanya satu?" ucap pak tua."Tidak mungkin, saat aku berusia enam tahun sudah dipastikan roh hewan spirit di tubuhku hancur, lalu sekarang bagaimana bisa aku memiliki roh hewan spirit," sahut Fu Xi kebingungan."Haaaaah, Baiklah tidak masalah jika kamu tidak mempercayainya, tapi aku hanya ingin memberitahu mu sebenarnya hewan spirit di tubuhmu bukan hancur dengan sendirinya," ucap pria tua."Apa maksudmu?" Tanya Fu Xi tidak mengerti."Aku beritahu padamu, karena roh hewan spirit di tubuhmu bukan hewan spirit biasa seseorang sengaja menghancurkannya saat masih menjadi gumpalan darah, tapi tenang saja saat ini keduanya masih ada dan hanya tersegel," ucap pria tua kembali mengejutkan Fu Xi.Deg deg deg.Deg deg deg.Detak jantung Fu Xi menjadi tidak menentu saat itu juga, setelah mendengar perkataan pria tua itu Fu Xi benar-benar merasa sangat marah tapi juga merasa senang karena mengetahui dirinya masih memiliki roh hewan spirit di tubuhnya."Hahahaha, hahahaha."Fu Xi tiba-tiba tertawa sangat keras menertawakan semua yang sudah terjadi padanya selama ini, Fu Xi sama sekali tidak menyangka kalau saat itu ayah kandungnya yang berkata ingin memperkuat roh hewan spirit di tubuhnya malah menghancurkannya.Dan yang membuat Fu Xi berpikir dirinya lebih bodoh lagi dirinya baru mengetahui itu setelah terpuruk diantara hidup dan mati saat ini, dan mengetahui semuanya dari orang asing yang tidak dikenalnya sama sekali."Kenapa? Apa saat ini kamu masih berpikir untuk mati? Dan berharap reinkarnasi untuk balasan dendam," ucap pria tua, pria tua seperti mengerti apa yang dipikrkan Fu Xi.Fu Xi memang berpikir seperti itu karena saat ini dirinya tidak berbeda dari orang mati karena terluka sangat parah, apalagi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk membalas dendam pada keluarga nya yang membuatnya sampai seperti ini."Jika menunggu semua itu sangat lama, kamu reinkarnasi juga belum tentu mengingat semuanya. Kenapa kamu tidak mencoba membalas mereka sekarang saja," ucap pria tua membuat Fu Xi menatap nya dalam diam."Haaaah, Memangnya apa yang bisa aku lakukan saat ini? anda sendiri seharusnya juga tahu bagaimana keadaan ku, untuk bangkit berdiri saja tidak bisa," sahut Fu Xi menundukkan kepalanya."Kalau aku berkata seperti itu sudah jelas berarti aku ingin membantumu, tenang saja semua sangat mudah bagiku asal kamu mau menjadi murid ku," ucap pria tua."Tentu saja aku mau asal bisa menjadi kuat dan membalas dendam pada mereka semua," sahut Fu Xi sambil mengepalkan tangannya."Tapi sebelum itu aku harus memanggilmu siapa?" Tanya Fu Xi."Nama tidak penting, tapi kamu bisa memanggil ku Sung," ucap pria tua."Aku akan memanggil mu pak tua Sung, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Fu Xi memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 80"Iya, Mas. Ini cara terakhir agar rumah itu bisa menggantikan rumah yang dijual sama Mas Adit.""No! Aku tidak mengijinkan itu. Terlalu beresiko jika kamu harus kembali ke rumah itu. Kamu nggak lupa, kan, sama apa yang sudah mereka lakukan sama kamu?" Tangan Mas Reza menyilang di depan dada menandakan jika dia menolak apa yang sudah aku rencanakan. Tetapi, tidak ada cara lain selain ini. Mereka tidak akan mungkin menyerahkan rumah itu begitu saja."Betul, itu. Aku juga sangat tidak setuju kalau Bu Ai balik ke rumah itu lagi. Mau cari mati Bu Ai?" sergah Bu Eli. "Ya nggak, lah, masa cari mati. Aku masih pengin diberikan umur yang panjang buat bahagiain ibu peri.""Jangan bercanda, Na. Aku nggak suka. Tetaplah tinggal di sini. Ini tempat yang aman buat kalian. Atau kurang nyaman? Nanti aku carikan rumah yang lebih luas," timpal Mas Reza. Aku bisa melihat rasa khawatirnya saat ini. "Ini cara yang terbaik, bukan masalah rumah ini luas at
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 79"Iya, aku mau dijodohkan, Bu Ai." Jadi masalahnya Bu Eli adalah tentang perjodohan. Pantas saja dia murung."Dijodohkan sama siapa?""Temannya kakakku. Aku juga nggak tahu orangnya, besok kalau kakakku pulang dinas baru aku bertemu dan langsung tunangan," jelasnya."Kamu mau kalau dijodohkan?" Lagi-lagi Bu Eli terdiam, entah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini. "Mau tidak mau harus mau," jawabnya. Aku menelisik wajah ayu itu, yang kini membenamkan wajahnya di balik bantal guling milikku."Sabar, ya , Bu Eli. Kalau Bu Eli sudah punya pilihan, kenapa Bu Eli nggak ngomong?""Bu Ai, kalau aku punya pasangan, orang tuaku nggak mungkin mau jodohin aku. Ini pasti ulah Mas Eka. Dia ngebet banget pengin lihat aku nikah!" gerutu Bu Eli. Bantal guling dia singkirkan, kemudian dibuangnya ke sembarang arah. Mas Eka yang aku tahu adalah kakaknya Bu Eli. Dia bertugas di luar kota. Entah apa pekerjaannya aku kurang paham. Hanya namanya saja y
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 78"Nanti, Bu … kalau Ai bilang di rumah Adit sama aja bohong," dalihku pada Ibu. Padahal ada sesuatu yang kurang agar bisa menjual rumah Mas Adit."Sudah, pokoknya sekarang Ibu istirahat. Nanti kita bicara lagi. Oke?" lanjutku pada wanita yang masih menatapku. Kembali aku berdiri, kali ini aku juga membawa gelas milik Ibu yang sudah kosong menuju ke wastafel.Setelah itu aku menuju ke kamar, merebahkan diri yang sudah terasa amat lelah. Lelah menghadapi cobaan hidup. Memang kalau dilihat tidak mengeluarkan tenaga, tetapi pikiran yang terkuras justru membuat badan ini jadi begitu lelah. Oh, iya, aku jadi ingat kalau aku butuh sesuatu untuk menjalankan misi merebut rumah Mas Adit. Kuambil ponsel yang berada di dalam tas selempang yang tadi aku pakai. Kemudian mulai mengetik pesan pada seseorang, masih dengan posisi rebahan. [ Hai, Ultraman gamon … lagi sibuk? ] Pesan segera centang dua tetapi belum berubah warna menjadi biru. Mungkin dia
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 77"Kalau kamu tidak bisa mengembalikan rumah ibuku, maka rumah ini harus dijual sebagai gantinya!" Aku mengatakan dengan lantang, ingin tahu bagaimana dengan reaksi mereka. "Kamu lagi ngimpi Ai?" tanya ibu diiringi tawanya. Entah apa yang lucu menurutnya. Apa dikira aku sedang melawak? Batinku. Kutatap bergantian wajah dua orang yang masih tertawa itu. Ingin sekali aku tampol pakai parutan kelapa."Siapa yang mimpi? Nggak lihat kalau mataku melek?" Kupelototkan sekalian mataku agar mereka tahu bahwa aku sedang tidak bercanda. "Lagian, kamu itu ngimpinya tinggi banget. Jangan kaya gitu nanti kalau jatuh, sakit, terus nangis," cibir Ibu semakin membuatku muak. "Sudahlah, Dek. Kalau mau balik ke rumah ini, mau balikan sama aku bilang aja, nggak usah pakai ngancam segala," kata Mas Adit. Mungkin otaknya kurang sekilo apa, ya? Bisa-bisanya dia justru berkata seperti itu. Siapa lagi yang mau balikan, kalau saja rumah Ibu tidak dijual olehn
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 7"Kamu hamil, Dek?" tanya Mas Adit. Aku mengangguk seraya tersenyum."Beneran?" Lagi, Mas Adit bertanya."Iya, Mas, aku hamil. Dua garis pada alat itu artinya aku sedang hamil.""Tidak bisa! Kamu harus gugurkan!"Suara lantang dari arah pintu sungguh m
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 6Aku tidak menjawab, gegas aku melangkah keluar dari ruko. Namun, saat membuka rolling door, justru aku kaget dengan sosok yang berdiri di depan pintu."Mas A–dit."Mati aku! Bagaimana kalau Mas Adit tahu apa yang terjadi di dalam? Batinku.Laki-laki y
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 5Aku terlena, saat Mas Reza meraih tanganku, membimbingku melewati karpet merah. Persis seperti sepasang pengantin yang tengah berbahagia. "Aku mencintaimu, Nana … maukah kamu hidup bersamaku? Kita wujudkan impian kita menjadi keluarga yang bahagia, b
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa Baru Bab 4[ Na, aku sudah berhasil. Satu per satu aku mewujudkan impian kita. Aku mewujudkannya untukmu, Na. Aku punya rumah untuk kita, aku punya mobil juga untuk kita dan satu lagi di rumah aku punya kolam renang. Bukankah impianmu dulu punya rumah yang ada












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan