LOGINBagaimana rasanya jika menjadi guru dari anak mantan? Ya, itulah yang dirasakan oleh Ai. Terpisah selama beberapa tahun, sekuat tenaga melupakan justru kini bertemu dengan situasi yang berbeda.
View MoreNever Again
🌷
“And SOMETIMES,
against all odds,
against all logic,
we still
H O P E.”
~•~
“Every sunrise is an invitation for us to arise and brighten someone's day.”
I couldn't remember where I read that, but when I wake up, I expect things to be good. If they are not then I try to set about trying to make them as good as I can 'cause I know I'm going to have to live that day anyway. So why not try to make the most of it if you can? Some days, they pan out a little better than others, but you still gotta always just try.
Sitting beside my car window while the sun embraced me in its warmth, keeping me alive and enthusiastic for the whole day. I love the feeling of the fresh air on my face and wind blowing through my hair.
"Eve. Eve. Evelyn!"
My chain of thoughts broke when Kat's voice pierced into my ears as she lightly patted my arm. Moving out of trance, and taking in the surroundings, I realised we had already reached Walker Industries. Panic whirled inside my mind and I looked into the mirror.
Completely lost in my thoughts, I hadn't even closed the window, and now I end up having the bird's nest on my head. The tangled mess look didn't suit my strawberry blonde locks.
"Kat, I-I can't appear in the interview looking like this," I exclaimed nervously, while subconsciously my hands were searching for the hairbrush inside my sling-bag, and I failed miserably. "I don't think I should go inside."
Kat slammed her forehead into the steering and groaned before running her fingers through my hair, untangling the stubborn knots. "Eve, it's normal to panic before an interview, and you look absolutely great. But, if you keep repeating the same sentence again and again, I'll push you out of my car."
After ten minutes of non stop 'The Kat talk', I exited the car as Kat wished me luck and walked towards the gigantic building of Walker Industries.
Walking in heels was working as an extra salt in my already miserable life, I entered inside making noise on the floor. It has been years since I last wore heels and I've been out of practice since then.
I asked the receptionist about the interview as she guided me to the elevator, another fear to go through. Pushing the button to the thirtieth floor, I was hoping for someone to enter and as if God himself was on my side today, a girl entered the elevator and from the looks, she was here for the interview too. But, unlike me, she looked really intelligent and sharp in her black well-tailored business suit and her brunette locks pulled up in a small bun, while I wore Kat's green business suit which was really tight around my chest and behind, making it look like I intentionally did it.
I froze, when the door of the elevator slid away from one another, almost fifteen women and ten men were gathered here for the interview, half of them looked like they had graduated from a well known institution.
Sitting beside the same blonde girl, I peeked inside her CV that she was checking for the last ten minutes. My nervousness heightened as I saw several certificates attached in her file, and I lowered my gaze.
Well, guess who was getting the job.
One by one, a woman in her late thirties called each name, as each interview took hardly five to ten minutes and not most of the candidates came out with a smile but a frown.
"Evelyn Williams!" Lost in my thoughts, I heard when the announcing lady called my name. Picking up my file, taking in deep breath, I stood up and trudged towards the room.
The door man opened the door for me as I walked inside before saying a small thank you, trying my best to keep my face straight. The chair of the C.E.O. was showing its back, looking around and contemplated what to do before sitting on the chair. So, I stood beside it waiting for his approval.
"Please, be seated." A masculine voice said. The voice was vaguely familiar and not to mention: very deep, hot and husky.
I was still biting my bottom lip when the chair rotated, revealing the C.E.O to me and I was beyond shocked.
He hasn't seen me yet, and when he finally looked at me, both of us froze for a moment. I couldn't believe my eyes for a minute. He was there, sitting in front of me, as my interviewer, after five years. I spent years hiding from him and yet destiny has brought us in front of each other again.
Xavier Blake Knight
He definitely changed a lot, but I still remember the most alluring and innocent forest green eyes, which were fuming with anger and the way his jaw clenched told me that he remembered me too. Worse, he remembered each and every ounce of pain I've given him and everything I did to him.
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 80"Iya, Mas. Ini cara terakhir agar rumah itu bisa menggantikan rumah yang dijual sama Mas Adit.""No! Aku tidak mengijinkan itu. Terlalu beresiko jika kamu harus kembali ke rumah itu. Kamu nggak lupa, kan, sama apa yang sudah mereka lakukan sama kamu?" Tangan Mas Reza menyilang di depan dada menandakan jika dia menolak apa yang sudah aku rencanakan. Tetapi, tidak ada cara lain selain ini. Mereka tidak akan mungkin menyerahkan rumah itu begitu saja."Betul, itu. Aku juga sangat tidak setuju kalau Bu Ai balik ke rumah itu lagi. Mau cari mati Bu Ai?" sergah Bu Eli. "Ya nggak, lah, masa cari mati. Aku masih pengin diberikan umur yang panjang buat bahagiain ibu peri.""Jangan bercanda, Na. Aku nggak suka. Tetaplah tinggal di sini. Ini tempat yang aman buat kalian. Atau kurang nyaman? Nanti aku carikan rumah yang lebih luas," timpal Mas Reza. Aku bisa melihat rasa khawatirnya saat ini. "Ini cara yang terbaik, bukan masalah rumah ini luas at
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 79"Iya, aku mau dijodohkan, Bu Ai." Jadi masalahnya Bu Eli adalah tentang perjodohan. Pantas saja dia murung."Dijodohkan sama siapa?""Temannya kakakku. Aku juga nggak tahu orangnya, besok kalau kakakku pulang dinas baru aku bertemu dan langsung tunangan," jelasnya."Kamu mau kalau dijodohkan?" Lagi-lagi Bu Eli terdiam, entah apa yang sedang ada di pikirannya saat ini. "Mau tidak mau harus mau," jawabnya. Aku menelisik wajah ayu itu, yang kini membenamkan wajahnya di balik bantal guling milikku."Sabar, ya , Bu Eli. Kalau Bu Eli sudah punya pilihan, kenapa Bu Eli nggak ngomong?""Bu Ai, kalau aku punya pasangan, orang tuaku nggak mungkin mau jodohin aku. Ini pasti ulah Mas Eka. Dia ngebet banget pengin lihat aku nikah!" gerutu Bu Eli. Bantal guling dia singkirkan, kemudian dibuangnya ke sembarang arah. Mas Eka yang aku tahu adalah kakaknya Bu Eli. Dia bertugas di luar kota. Entah apa pekerjaannya aku kurang paham. Hanya namanya saja y
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 78"Nanti, Bu … kalau Ai bilang di rumah Adit sama aja bohong," dalihku pada Ibu. Padahal ada sesuatu yang kurang agar bisa menjual rumah Mas Adit."Sudah, pokoknya sekarang Ibu istirahat. Nanti kita bicara lagi. Oke?" lanjutku pada wanita yang masih menatapku. Kembali aku berdiri, kali ini aku juga membawa gelas milik Ibu yang sudah kosong menuju ke wastafel.Setelah itu aku menuju ke kamar, merebahkan diri yang sudah terasa amat lelah. Lelah menghadapi cobaan hidup. Memang kalau dilihat tidak mengeluarkan tenaga, tetapi pikiran yang terkuras justru membuat badan ini jadi begitu lelah. Oh, iya, aku jadi ingat kalau aku butuh sesuatu untuk menjalankan misi merebut rumah Mas Adit. Kuambil ponsel yang berada di dalam tas selempang yang tadi aku pakai. Kemudian mulai mengetik pesan pada seseorang, masih dengan posisi rebahan. [ Hai, Ultraman gamon … lagi sibuk? ] Pesan segera centang dua tetapi belum berubah warna menjadi biru. Mungkin dia
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 77"Kalau kamu tidak bisa mengembalikan rumah ibuku, maka rumah ini harus dijual sebagai gantinya!" Aku mengatakan dengan lantang, ingin tahu bagaimana dengan reaksi mereka. "Kamu lagi ngimpi Ai?" tanya ibu diiringi tawanya. Entah apa yang lucu menurutnya. Apa dikira aku sedang melawak? Batinku. Kutatap bergantian wajah dua orang yang masih tertawa itu. Ingin sekali aku tampol pakai parutan kelapa."Siapa yang mimpi? Nggak lihat kalau mataku melek?" Kupelototkan sekalian mataku agar mereka tahu bahwa aku sedang tidak bercanda. "Lagian, kamu itu ngimpinya tinggi banget. Jangan kaya gitu nanti kalau jatuh, sakit, terus nangis," cibir Ibu semakin membuatku muak. "Sudahlah, Dek. Kalau mau balik ke rumah ini, mau balikan sama aku bilang aja, nggak usah pakai ngancam segala," kata Mas Adit. Mungkin otaknya kurang sekilo apa, ya? Bisa-bisanya dia justru berkata seperti itu. Siapa lagi yang mau balikan, kalau saja rumah Ibu tidak dijual olehn
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 7"Kamu hamil, Dek?" tanya Mas Adit. Aku mengangguk seraya tersenyum."Beneran?" Lagi, Mas Adit bertanya."Iya, Mas, aku hamil. Dua garis pada alat itu artinya aku sedang hamil.""Tidak bisa! Kamu harus gugurkan!"Suara lantang dari arah pintu sungguh m
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 6Aku tidak menjawab, gegas aku melangkah keluar dari ruko. Namun, saat membuka rolling door, justru aku kaget dengan sosok yang berdiri di depan pintu."Mas A–dit."Mati aku! Bagaimana kalau Mas Adit tahu apa yang terjadi di dalam? Batinku.Laki-laki y
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa BaruBab 5Aku terlena, saat Mas Reza meraih tanganku, membimbingku melewati karpet merah. Persis seperti sepasang pengantin yang tengah berbahagia. "Aku mencintaimu, Nana … maukah kamu hidup bersamaku? Kita wujudkan impian kita menjadi keluarga yang bahagia, b
Nama Mantan di Buku Pendaftaran Siswa Baru Bab 4[ Na, aku sudah berhasil. Satu per satu aku mewujudkan impian kita. Aku mewujudkannya untukmu, Na. Aku punya rumah untuk kita, aku punya mobil juga untuk kita dan satu lagi di rumah aku punya kolam renang. Bukankah impianmu dulu punya rumah yang ada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews