LOGIN"Axel... Itu kamu kah?"Suara lantang Rima seketika memotong perdebatan panas itu. Wanita itu baru saja melangkah keluar dari kamarnya yang terletak di lantai satu, terganggu oleh suara obrolan nyaring dan nada tegas Viona. Namun, begitu matanya menangkap sosok pria yang berdiri kaku di tengah ruang tamu, langkah Rima seketika terhenti. Wajahnya dipenuhi rasa terkejut yang tak dibuat-buat.Sapaan mendadak itu sukses membuat Viona dan Axel sama-sama tersentak kaget. Keduanya kompak menoleh ke arah Rima.Axel makin gelagapan, posisinya kini terasa makin tersudut dengan hadirnya Rima. Sementara Viona mendengus kesal, menyilangkan tangan di dada melihat kedatangan ibu tirinya yang selalu suka ikut campur."Tante... Tante Rima," sapa Axel dengan suara tercekat dan gagu.Rima melangkah mendekati mereka dengan tatapan tak percaya. Namun, di tengah jalannya, ekor matanya menangkap pergerakan halus di balik dinding pembatas dekat tangga. Di sana, berdiri Reno yang sedang memperhatikan drama it
Mendengar gertakan tajam dari Viona, wajah Axel seketika makin pias. Ia tak menyangka Viona yang dulu begitu lembut dan penurut padanya kini menatapnya dengan penuh dendam. Namun, demi menyelamatkan dirinya sendiri, Axel mencoba memutar otak. Dengan memasang raut wajah penuh penyesalan dan ringisan palsu, ia menggelengkan kepala perlahan."Viona sayang, tolong dengarkan aku dulu. Jangan emosi seperti ini. Aku tahu aku salah karena hilang tanpa kabar di hari pernikahan kita, tapi aku punya alasan, Vi. Aku... aku mengalami kecelakaan hebat waktu perjalanan menuju gedung pernikahan," jawab Axel dengan nada memelas, melangkah satu titik lebih dekat meski ragu.Axel memegangi dadanya, berpura-pura kesakitan untuk memperkuat kebohongannya. "Ponselku hancur, ingatanku sempat terganggu, dan aku harus menjalani perawatan intensif di luar negeri selama sebulan lebih ini. Begitu ingatanku pulih dan kondisiku membaik, aku langsung terbang kembali ke Indonesia cuma buat menemui kamu, Viona. Aku be
"Apa?! Axel?" seru Viona spontan dengan bola mata yang melebar sempurna.Reno yang berdiri di sebelahnya memang sempat terkejut, namun raut wajahnya dengan cepat kembali tenang. Bagaimanapun juga, Reno sudah mengetahui kenyataan bahwa pria pengecut yang pernah menyakiti Viona itu sebenarnya masih hidup dan berada di luar negeri. Tapi baginya, kedatangan Axel yang begitu mendadak tepat di rumah ini tetap saja sebuah kejutan yang tak disangka-sangka.Viona mengalihkan pandangannya pada Reno, menatap suaminya dengan sorot mata campur aduk, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya."Mbok jangan ngada-ngada ya," ujar Viona beralih menatap Mbok Inah, berusaha menutupi guncangan di hatinya dengan nada bercanda. "Benaran Axel? Atau jangan-jangan hantunya yang datang?"Mbok Inah jadi merinding mendengar celetukan itu. Ia mengusap kedua lengannya yang meremang. "Aduh, Nona Viona ini. Mana ada hantu gentayangan siang bolong begini, Nona. Wujudnya asli, pakai setelan rap
"Ehem! Nggak tahu tempat banget ya, siang-siang begini malah bermesraan di sini."Suara teguran bernada dingin dan sarat kedengkian itu seketika memecah kehangatan di antara Viona dan Reno. Rima baru saja pulang, melangkah masuk melalui pintu utama, melemparkan tas mewahnya ke atas meja samping dengan wajah cemberut penuh amarah.Reno yang kaget setengah mati refleks menegakkan tubuhnya. Dengan agak canggung, ia membantu Viona turun dari pangkuannya dan berdiri tegak sembari merapikan kemejanya yang sedikit kusut."Maaf, Ibu. Tadi cuma—" ucapan Reno terputus."Nggak usah sok sopan kamu, Reno," potong Rima tajam, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap Reno dan Viona bergantian dengan tatapan sinis. "Rumah ini ada kamar. Kalau mau bermesraan atau bikin adegan vulgar kayak tadi, masuk kamar. Nggak usah pamer di ruang tengah yang bisa dilihat semua orang, termasuk pembantu. Nggak punya malu apa kalian itu?"Viona yang dasarnya tidak pernah mau mengalah, langsung memutar matanya m
Axel kepalanya sudah mau pecah rasanya karena stres dan lelah, ditambah omelan dari Lani. Tanpa menjawab sepatah kata pun lagi, ia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak dan memblokir sementara nomor Lani agar wanita itu tidak terus menerus mengusiknya.Tangan Axel megepal menahan emosi. Tapi belum sempat dia melangkah, ponsel di genggamannya kembali bergetar. Di layarnya kini tertera nama Mama.Jantung Axel seketika berdegup kencang, karena cemas. Ia sengaja membiarkan panggilan pertama itu terputus begitu saja karena belum siap mental. Tapi, panggilan kedua langsung masuk kembali tanpa jeda. Sambil menelan ludah dengan susah payah, Axel akhirnya memberanikan diri menggeser ikon hijau dan menempelkan layar ke telinganya."Halo, Ma," sapa Axel lirih."Axel! Kamu ini sebenarnya ada di mana, hah?" semprot Mila tanpa basa-basi, dengan suara melengking tinggi di seberang telepon, karena amarah, rasa kecewa, dan kejengkelan yang sudah meluap-luap."Kamu itu mikir masih punya
Bisik-bisik dan kasak-kusuk seketika terdengar riuh di antara jajaran staf yang hadir di ruang rapat. Mereka saling pandang dengan tatapan heran dan bingung. Bagaimana mungkin orang tua kandung Pak Axel sendiri tidak tahu-menahu soal pernikahan anaknya? Padahal acara pernikahan itu sempat menjadi perbincangan. Tapi ingatan mereka kembali berputar, menyadari fakta bahwa saat pesta pernikahan mewah itu digelar, Pak Dandi dan Bu Mila memang sama sekali tidak nampak hadir.Tidak ada satu pun manajer yang berani membuka suara untuk menjawab pertanyaan heboh dari Mila. Kesunyian canggung yang mendadak melingkupi ruangan itu justru memicu rasa curiga yang mendalam di hati Dandi. Menyadari suasana makin tidak kondusif dan fokus rapat sudah terpecah, Dandi berusaha menahan emosinya."Sudah, rapat hari ini kita cukupkan dulu sampai di sini. Kita lanjutkan besok pagi dengan laporan penyesuaian anggaran yang lebih jelas!" putus Dandi tegas sembari menahan geram.Setelah seluruh jajaran staf dan m
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







