LOGINHarjo memandangi punggung pemuda itu dari kejauhan, melangkah mantap menyusuri koridor temaram menuju area restroom restoran. Jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak menentu.Di dalam toilet pria yang berdesain modern dan elegan dengan pencahayaan hangat, Reno berdiri di depan salah satu urinal, tempat buang air kecil berdiri khusus pria. Suasana di dalam relatif sepi dan tenang, hanya terdengar gemericik air dari keran otomatis di sudut lain.Reno dengan santai menuntaskan hajat kecilnya, sama sekali tak menduga ada langkah kaki lain yang menyusul masuk tak lama setelahnya.Harjo melangkah pelan melewati pintu masuk, sapuan matanya langsung tertuju pada sosok tinggi pemuda itu. Mengabaikan beberapa urinal kosong lainnya yang berjejer, Harjo sengaja mengambil posisi persis di urinal sebelah Reno, sebuah tindakan yang sebenarnya agak tak biasa di kalangan pria kecuali jika sedang ramai, Harjo tak peduli, dia berusaha berada sedekat mungkin.Saat sedang merap
'Masa iya kalau kebetulan kok mirip banget.'Pria paruh baya itu adalah Harjo Santoso, seorang pengusaha dan pebisnis yang sudah menetap di kota itu, sedang makan malam bersama dengan istri dan anaknya, Ambar dan Revan.Bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu identik dengan masa mudanya? Dunia memang luas, dan kemiripan wajah tanpa hubungan darah terkadang bisa saja terjadi. Tapi entah kenapa ada insting dan getaran aneh di dadanya, menolak percaya begitu saja bahwa ini sekadar kebetulan semata.Pikiran mereka berdua melayang ke mana-mana, menerka-nerka kemungkinan ada apa, namun nyata jelas di depan mata mereka.Tak lama kemudian, Revan berdiri dari kursinya. "Ma, Pa... Revan ke toilet sebentar ya," pamitnya singkat sambil meletakkan serbet di atas meja.Harjo dan Ambar kompak mengangguk berdua. "Iya."Begitu Revan melangkah pergi menjauh, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Harjo untuk mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Ambar."Ma," bisik Harjo, matanya kembali melirik seki
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa, seminggu telah berlalu sejak percakapan tegang di kantor dan kehangatan malam itu di rumah Reno. Hari yang dinantikan pun tiba.Pagi-pagi sekali, kesibukan terlihat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Reno, Viona, dan Heru tampak melangkah bersama menuju area keberangkatan terminal internasional setelah menyelesaikan seluruh proses check-in penerbangan menuju Australia. Viona terlihat anggun sekaligus bersemangat, menenteng tas jinjing kecil sambil menggandeng erat lengan suaminya, sementara Reno tampak rapi mengenakan setelan kasual semi-formal khas pejalanan bisnis. Heru berjalan di sisi sebelah kanan, membawa satu koper sedang dan tas kerja, siap mendampingi bos mudanya menaklukkan proyek ekspansi internasional tersebut.Penerbangan berjalan lancar. Setelah menempuh perjalanan udara selama beberapa jam melintasi lintas benua, pesawat yang membawa ketiganya akhirnya mendarat dengan mulus.Setibanya di kota tujuan, mereka langsung menuju
Hari sudah semakin sore ketika Dandi melangkah masuk ke rumahnya, langkah kaki pria paruh baya itu terasa begitu berat. Begitu tiba di ruang keluarga, wajahnya terlihat letih, lesu dengan bahu yang sedikit merosot.Mila yang sedang duduk membaca majalah di sofa langsung mengangkat wajahnya. Melihat ekspresi sang suami yang tidak baik-baik saja, tidak perlu bertanya panjang lebar untuk menebak apa yang terjadi. Dugaannya sepertinya suaminya gagal total melobi Reynald siang tadi. Padahal, semalam Dandi begitu yakin dan berapi-api mengatakan bahwa pemuda itu adalah anak yang baik dan pasti mau membantu karena akan terhubung dengan keluarga kandungnya.Mila meletakkan majalahnya di atas meja, lalu menyambut suaminya dengan raut wajah kecewa sekaligus penasaran."Bagaimana, Pa? Jangan bilang ditolak mentah-mentah sama Reynald?"Dandi menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan gerakan lemas. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap Mila dengan mata sayu."K
Reno menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang garpu, lalu mengangkat wajahnya menatap Dandi yang tampak begitu terpukul. Mendengar ucapan maaf dengan nada penyesalan yang tulus dari pria paruh baya di hadapannya itu, hati Reno sedikit melunak.Meski dia menolak keras untuk terseret dalam masalah keluarga tersebut, dia bukanlah tipe pendendam yang menyimpan benci tanpa alasan."Iya, Om. Saya maafkan," jawab Reno dengan suara yang kini jauh lebih tenang dan datar, tidak lagi setajam sebelumnya. Ia kembali menatap piring di depannya. "Tapi seperti yang sudah saya bilang tadi, memaafkan bukan berarti saya mau menuruti kemauan Om atau ikut campur dalam urusan keluarga Om dan pertukaran anak atau apalah. Keputusan saya sudah bulat."Dandi mendengar jawaban itu dengan dada yang terasa sesak. Dia tahu diri, tidak ada lagi celah atau alasan yang bisa ia gunakan untuk mendesak Reno lebih jauh setelah apa yang pemuda itu alami di masa lalu. Dandi hanya bisa mengangguk pelan, menelan p
Reno menatap Dandi lekat-lekat, rahangnya mengeras, mulai curiga."Lalu apa tujuan dan maksud Bapak menyeret saya ke dalam pembicaraan ini. Saya sudah punya kehidupan sendiri, punya orang tua yang selama ini membesarkan saya, dan saya rasa tidak punya urusan apa pun lagi dengan Axel ataupun keluarga Bapak."Heru yang duduk di samping Reno melirik sekilas, ikut merasa canggung namun memahami betul kenapa Reno bersikap defensif seperti itu.Dandi mengangkat tangannya pelan, mengisyaratkan agar Reno bisa sedikit meredam emosinya. Pria itu menatap menantu Darmawan tersebut dengan tatapan yang menyiratkan keputusasaan sekaligus harapan terakhir."Om tahu ini mengejutkan dan terdengar tidak masuk akal buat kamu, Ren," ujar Dandi lirih. "Tapi dengarkan dulu. Om tidak punya maksud buruk. Kedatangan Om ke sini karena posisi kita sekarang terjepit. Axel, anak yang selama ini kami besarkan, sudah pergi meninggalkan rumah dan sekarang hilang entah ke mana. Kami sama sekali tidak tahu keberadaanny
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa
Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je
"Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang-utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar." Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan la







