Teilen

BAB 3 *TRUTH OR DARE*

last update Veröffentlichungsdatum: 30.09.2026 16:55:28

“The bill is on me, girls,” ujarnya enteng sambil menyandarkan tubuh ke kursi. “Gue abis dapet dana segar dari bokap.”

            Mata Azel dan Vayla langsung berbinar.

            “Hehe thankyou Van!” seru mereka kompak sambil tos di udara.

            Kaivan pun memesan 3 botol Smirnoff pada bartender itu. Tanpa menunggu lama, pria bertato naga itu meletakkan pesanan mereka lengkap dengan gelas sloki di atas meja. Ia langsung menuangkan minuman itu ke gelas mereka masing-masing.

            “Beberapa hari ini rasanya kayak terbelenggu, anjir,” gerutu Kaivan sambil memutar bahu pegalnya. “Ujian mulu.”

            “Asli deh, kenapa sih ujian nggak bisa dikasih jeda? Stress banget deh gue.” Timpal Vayla.

            Azel ikut mengambil gelas sloki di depannya, tetapi hanya mengembuskan napas Panjang tanpa berkata-kata. Hal itu membuat kedua temannya saling melirik pelan, sama-sama menyadari perubahan Azel.

            “Berat banget kayaknya beban lo,” ujar Vayla terkekeh, berusaha mencairkan suasana.

            Azel tersenyum tipis.

            “Kalau aja beban gue keliatan di Pundak,” katanya pelan sebelum meneguk minumannya, “Lo berdua mungkin udah liat gue jalannya doyong.” Cetus Azel sambil mempraktikkan.

            Vayla dan Kaivan sontak terkekeh.

            Mereka lanjut mengobrol tentang banyak hal. Tentang dosen killer, deadline tugas yang menumpuk, sampai gossip kampus yang sebenarnya tidak penting tapi tetap seru untuk dibahas.

            Sesekali gelak tawa pecah di antara mereka. Sesekali pula gelas sloki Kembali diteguk tanpa sadar. Hingga tak terasa, botol ketiga hamper tandas.

            “Udah mau abis anjir. Gue takut lo berdua tipsy. Gue nggak bisa gantiin nyetir woy.” Vayla menatap ketiga botol kosong di meja dengan mata membulat.

            Kaivan ikut melirik Azel yang pipinya sedikit memerah. Namun bukannya berhenti gadis itu malah menyandarkan dagunya di meja sambil menatap Kaivan penuh harap.

            “Gue butuh botol keempat deh, Van,” ujarnya membujuk. “Boleh yaa?”

            “Ishh, udah Zel,” sahut Vayla cepat. “Lo harus sober baliknya.”

            “Iya Zel lo nyetir juga sama kayak gue. Vayla mana bisa nyetir.”

Azel mendecih pelan sebelum Kembali memelas.

            “Please.. satu botol lagi aja. It’s been a rough day.”

Kaivan dan Vayla saling pandang beberapa detik. Akhirnya cowok itu menghela napas menyerah.

            “Oke,” katanya sambil mengangkat telunjuk. “Satu botol lagi. Tapi kita harus main Truth or Dare biar otak kita tetep focus,”

            Azel langsung tersenyum sumringah. Sementara Vayla mengangguk antusias.

            “Oke, sekarang lo duluan.” Azel menunjuk Vayla dengan senyum lebar. “Truth or Dare?”

“Truth,” jawab Vayla mantap, meski bibirnya langsung tergigit pelan, seolah menyesali pilihannya sendiri.

Azel menyeringai jahil.

            “Lo naksir Kaivan dari kapan?” tanyanya tanpa aba-aba. “Dan sekarang masih naksir nggak?”

            “Lo parah sih ngelanggar kode etik persahabatan kita yaa!” Vayla refleks menutup wajahnya canggung.

            Azel justru tertawa puas melihat reaksi sahabatnya itu. Sementara Kaivan hanya mengangkat alis sambil melirik Vayla santai.

            “Udah jawab aja,” ujarnya enteng. “Jawabannya nggak ada yang salah kok.”

            Dan kalimat itu sukses membuat Vayla semakin salah tingkah. Pipinya memerah. Tatapannya mendadak sibuk kemana-mana kecuali kee arah Kaivan.

            “Karena Kaivan bilang gitu..” gumamnya malu-malu. “Berarti gue ngangguk aja kali yaa.”

            Setelah mengucapkan itu, Vayla langsung meraih gelas sloki di depannya dan meneguk habis isinya seolah sedang melarikan diri dari rasa malu.

            Azel lagi-lagi tertawa keras. Begitu juga Kaivan yang ikut terkekeh geli melihat tingkah gadis itu.

            “Sekarang giliran lo,” cetus Vayla sambil menunjuk Azel dengan tatapan balas dendam.

Azel yang mulai tipsy hanya tertawa kecil lalu mengangkat kedua tangannya pasrah.

            “Truth or Dare?”

            “Dare deh,” jawab Azel santai. “Biar lo puas.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 9 *NEED HELP?*

    “Teleportasi kemana lo semalem?”Vayla langsung menyerang begitu Azel baru saja mendaratkan tubuhnya di kursi kelas. Pagi itu suasana kelas masih cukup bising karena dosen pengantar ekonomi mereka belum datang. Beberapa mahasiswa masih sibuk bergosip, tik-tokan heboh, bahkan ada yang mukbang berjamaah. Termasuk Vayla. Gadis itu sedang sibuk melahap kebabnya dengan kondisi yang berantakan. Sayur yang berceceran di sekitar jemarinya dan saus di sekitar bibirnya.Sementara Azel, jauh lebih mengenaskan. Matanya setengah tertutup. Kepalanya nyaris jatuh karena menahan kantuk.“Ke rumah cowok itu…” gumam gadis itu lirih sambil menopang dagunya. “Cowok yang gue muntahin.”Vayla seketika berhenti mengunyah.“OMG?! Serius lo?”Matanya membulat heboh. Ia buru-buru menggeser kursinya mendekat mengikis jarak diantara mereka. “Terus-terus ngapain aja lo di rumahnya?”Namun sebelum Azel menjawab, suara heels terdengar memasuki kelas. Bu Leni dosen pengantar ekonomi yang terk

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 8 *TERIMA MISI BERBAYAR*

    “Dari mana aja kamu?” Suara Miranda langsung menggema begitu Azel baru saja masuk pintu utama rumahnya. Wanita itu sedang duduk santai di sofa ruang tengah mengenakan bathrobe berwarna putih dengan rambut basah yang terurai di bahunya. Secangkir the hangat masih berada di tangannya, asapnya masih mengepul di udara. Tatapannya langsung tertuju tajam pada gadis itu. Penampilan gadis itu terlihat berantakan, sementara di tangannya tergenggam sebuah paper bag kecil berwarna coklat. Gadis itu memilih diam. Ia bahkan tidak menatap ibunya sama sekali dan langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas. Namun sikap itu justru membuat emosi Miranda langsung memuncak. “Heh!” Langkah Azel terhenti saat Wanita itu berdiri lalu menghampirinya cepat. Gadis itu memejamkan matanya sesaat. Rasanya, ia terlalu Lelah menghadapi semua ini lagi malam ini. “Saya nanya kamu habis dari mana!” Nada suara

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 7 *SEBUAH PENAWARAN*

    “Sus Anna!”Suasana langsung hening sesaat.“Tolong bawa Mama istirahat ya. Udah malem.”Nada bicara cowok itu terdengar tegas, nyaris seperti menahan sesuatu agar tidak runtuh. Tak lama kemudian Suster Anna datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.“Ayo Bu,” ujarnya lembut sambil merangkul pelan tubuh Bu Metri. “Udah jam 11 malam. Sekarang waktunya istirahat.”Bu Metri tampak masih ingin menahan Azel tinggal lebih lama, tetapi tubuhnya sudah terlalu Lelah untuk melawan. Wanita itu akhirnya menurut dibawa masuk ke dalam kamar. Dan entah kenapa, tatapan sedih Bu Metri sebelum pergi membuat hati gadis itu tidak nyaman.Beberapa menit kemudian, Azel dan Bastian berjalan menuju garasi rumah. Udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Gadis itu mengeluarkan kunci mobil dari tasnya.Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Bastian lebih dulu angkat suara.“Tolong izinin gue anterin lo pulang.”Azel menoleh. Tatapan cowok itu kali ini terasa berbeda.Tidak terdengar intimidatif

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 6 *RUMAH YANG HANGAT*

    Sepanjang perjalanan menuju rumah ini, cowok itu nyaris tidak menjelaskan apapun. Sedangkan ia yang masih merasa bersalah karena insiden muntah tadi memilih untuk tidak banyak bertanya.Tiba-tiba suara ponselnya berbunyi. Azel sedikit tersentak lalu melihat nama Vayla muncul di layar.“Maaf, Ma… aku angkat telepon sebentar ya.”Bu Metri mengangguk pelan.Begitu sampai halaman teras, gadis itu mengangkat panggilannya.“Azel, lo kemana aja sih?!” suara Vayla langsung menggelegar dari seberang sana. “Ditelepon dari tadi nggak ngangkat-ngangkat. Gue sama Kaivan bingung nyariin lo. Pas keluar club mobil lo udah nggak ada!”Azel menghela napas kecil.“Iya, sorry Va…” gumamnya pelan. “Lo tadi liat kan gue ada insiden muntah. Besok gue ceritain ya.”Sebelum Vayla sempat menginterogasi, gadis itu buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik napas panjang sebelum kembali masuk ke dalam rumah.Dan kini Bastian sudah Kembali duduk di sofa samping ibunya dengan kaos hitam dan rambut yang s

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 5 *BELVA?*

    “Belva..?” Suara Bu Metri bergetar saat membuka pintu rumah. Kedua matanya langsung berbinar begitu melihat Azel berdiri di teras Bersama Bastian. “Ya Tuhan… kamu kemana aja, Nak?” Wanita itu buru-buru menghampiri Azel lalu menggenggam kedua lengannya erat seolah takut gadis itu menghilang lagi. “Mama kangen banget sama kamu, sayang..” Azel langsung membeku. Ia sempat melirik Bastian panik, meminta jawaban tanpa suara—apa dirinya benar-benar harus bersandiwara seperti ini? Namun Bastian hanya mengangguk pelan. Tatapannya seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Meski entah kenapa, itu justru membuat dada gadis itu terasa semakin tidak nyaman. Dengan canggung, ia akhirnya membalas genggaman Bu Metri. “Belva juga kangen sama Mama..” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Dan detik berikutnya, wajah Bu Metri langsung berubah penuh haru. Wanita itu memeluk Azel erat tanpa ragu.Sementara itu gadis itu

  • OBSESI PACAR POSESIF YANG MENJERAT   BAB 4 *COWOK SWEATER PUTIH*

    “Lo liat cowok yang pake sweater putih itu nggak? Yang gerakannya chill banget.” Azel mengikuti arah telunjuk Vayla. Seorang cowok terlihat cukup mencolok di tengah keramaian. Sweater putihnya kontras dengan lampu neon yang berkedip-kedip, sementara ekspresinya terlihat datar dan dingin dibanding orang-orang di sekitarnya. “Iya gue liat, terus?” “Samperin dia,” ujar Vayla cepat. “Lo ajak kenalan.” Kaivan langsung tertawa kecil karena yakin Azel bakal nolak mentah-mentah. Namun ternyata dugaan mereka salah. “Itu doang?” Azel menyeringai lebar. “Kecil.” Vayla dan Kaivan langsung saling pandang kaget. Rasanya ia menemukan kepribadian Azel yang baru dan lebih nekat lewat alcohol malam ini. Tanpa pikir Panjang, Azel langsung bangkit dari kursinya lalu berjalan menghampiri cowok bersweater putih itu. Langkahnya sedikit gontai akibat efek alcohol yang kuat. Bahkan pinggulnya sempat terbentur sudut

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status