MasukSean dirawat di rumah. Pria itu tidak teriasa berada di rumah sakit. Dia duduk di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada karena ada luka yang harus dijaga.
“Permisi, Tuan. Kami akan mengganti perban.” Dokter dan perawat mengetuk pintu kamar Sean ditemani kepala asisten rumah tangga. Seorang pria yang sudah cukup sepuh. Lelaki yang mengurus Sean sejak kecil.
“Apa Paman lupa?” Sean menatap tajam pada perawat wanita yang berdiri di samping dokter Niko.
“Dokter Niko. Tuan Sean tidak mengizinkan wanita asing masuk ke kamarnya. Apalagi sampai menyentuh beliau.” Paman Rome berdiri di depan Niko dan meneliti perawat yang mencuri pandang untuk bisa melihat Sean.
“Aku akan merawat Tuan Sean sendiri. Kamu tunggu dibawah,” ucap Niko pada perawat.
“Baik, Dok.” Wanita itu hampir tidak mengedipkan mata melihat wajah tampan Sean dan tubuh berotot seksi sang mafia muda.
“Bukankah dia dirawat dokter Aisyah ketika kecelakaan?” tanya Niko.
“Silakan.” Paman Rome tidak menjawab pertanyaan dokter Niko. Mereka membawa dokter keluarga masuk ke kamar dan mendekati Sean.
“Maaf, Tuan. Saya akan memeriksa luka dan mengganti perban.” Tidak ada jawaban atau pun komentar dari Sean. Dokter Niko dengan hati-hati merawat tuan muda yang merupakan keturunan mafia kejam.
“Paman, singkirkan wanita tadi!” perintah Sean.
“Baik, Tuan.” Paman Rome menunduk.
“Apa?” Dokter Niko sangat terkejut. Sean benar-benar kejam melebihi James dan Jack.
“Tuan. Apa yang akan Anda lakukan pada perawat tadi?” tanya Niko khawatir. Dia benar-benar tidak mengenal Sean yang baru pulang dari Amerika.
“Menghilangkannya.” Sean menatap tajam pada Niko.
“Ampun, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu bahwa wanita dilarang.” Dokter Niko bersimpuh di hadapan Sean.
“Dokter Niko. Kami sudah mengirim data Tuan Sean kepada Anda,” jelas paman Rome.
“Silakan.” Paman Rome membawa dokter Niko keluar dari kamar Sean.
“Maafkan saya yang tidak memeriksa data yang dikirimkan.” Tangan dokter Niko gemetar. Apalagi dia tidak melihat sang perawat di ruang tamu.
“Kemana Anda membawa perawat saya?” tanya dokter Niko.
“Anda tidak perlu tahu.” Paman Rome tersenyum tipis.
“Ya.” Dokter Niko segera masuk ke mobil dan meninggalkan castil keluarga Sean.
Tidak ada pelayan wanita di kediaman Sean. Semuanya pria. Mereka bukan hanya pelayan biasa, tetapi juga penjaga yang memiliki kemampuan bela diri dan mampu menggunakan semua jenis senjata.
Sean turun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju jendela dan melihat langit yang cerah. Ada bayangan cantik yang mengacaukan pikirannya.
“Dokter Aisyah.” Sean berusaha mengapus ingatan tentang Aisyah.
“Kenapa aku tidak marah disentuhnya?” tanya Sean pada diri sendiri.
“Apa Maria memiliki saudari kembar? Tidak mungkin, tetapi kenapa wanita itu mempunyai bola mata hijau yang indah dan unik sama dengan Maria? Warna yang berubah ketika terkena cahaya.” Sean duduk di kursi. Dia menarik laci meja dan mengeluarkan kartu identitas Aisyah.
“Permisi, Tuan. Ini data dokter Aisyah.” Luca yang merupakan asisten kakek Jack mengetuk pintu kamar Sean yang terbuka.
“Bawa kemari!” perintah Sean dan pria itu melangkah mendekat. Dia menyerahkan berkas kepada tuan mudanya dan pergi dengan izin.
“Kenapa aku tertarik untuk mencari tahu tentang wanita ini?” Sean membuka amplop cokelat dan mengeluarkan isinya.
“Aisyah Khumairah. Dokter specialis bedah. Tanggal lahir yang sama dengan Maria. Kenapa mereka terlalu banyak kesamaan?” Sean bukan tipe orang yang mudah penasaran, tetapi dia selalu teliti dan akan menyelidiki sesuatu yang membuatnya curiga.
“Bola mata hijau itu langka, tetapi Aisyah memilikinya juga.” Sean membaca berkas tentang Aisyah. Dia membayangkan wajah cantik dengan bola mata hijau yang bisa berubah warna ketika terkena cahaya.
Sean mengambil ponsel dan menghubungi Maria. Pria itu meletakkan gawai di atas meja dan memasang wireless di telinga.
“Halo, Kak Sean.” Suara Maria terdengar bersemangat menerima panggilan dari Sean.
“Kamu di mana?” tanya Sean.
“Aku di rumah,” jawab Maria.
“Maria sangat energik. Dulu ketika masih berusia sepuluh tahun. Dia begitu tenang dan elegan.” Sean mengingat kembali gadis kecil cantik dan Anggun.
“Apa manusia akan berubah dengan bertambah usia?” Bayangan Aisyah bersanding dengan Maria. Ketenangan sang dokter bercadar benar-benar mengingatkannya pada Maria di masa kecil. Usia yang muda, tetapi mampu bersikap dewasa.
“Hah! Kenapa aku tidak bisa menghapus bayangan Aisyah?” Sean benar-benar gelisah oleh kelembutan dan kebaikan serta wajah cantik dari dokter Aisyah yang telah menyelamatkannya dari kematian.
Jika tidak ada dokter Aisyah di pesawat. Kemungkinan akan lebih banyak lagi korban jiwa karena infeksi luka yang tidak diobati dan mendapatkan perawatan.
“Mungkin aku merasa terutang budi. Ini pertama kalinya aku diselamatkan oleh wanita asing. Dia satu-satunya perempuan yang menyentuhku.” Sean memegang luka tembakan di bahunya.
“Kak Sean,” sapa Maria karena tidak mendengar suara pria itu.
“Aku tutup.” Sean memutuskan panggilan. Pria itu benar-benar gelisah.
“Aku harus mengirimkan uang kepada dokter Aisyah agar utangku lunas dan tenang.” Sean beranjak dari kursi dan keluar kamar. Dia pergi ke ruang kerja kakek Jack.
“Sean.” Kakek yang sedang duduk di kursi kerja beranjak menyambut kedatangan cucu tersayang.
“Kek, kirimkan uang kepada wanita ini!” Sean meletakkan data diri Aisyah di atas meja kerja kakek Jack.
“Apa dia dokter yang menolong kamu di kecelakaan pesawat?” Kakek Jack melihat foto Aisyah yang mengenakan cadar.
“Ya. Aku tidak mau terutang budi padanya,” ucap Sean.
“Baiklah. Kakek akan mengirimkan uang kepada wanita ini sebagai ucapan terima kasih. Ah, lihat ini.” Kakek Jack memberikan undangan kepada Sean.
“Undangan peluncuran produk baru.” Sean melihat nama Aisyah dan Khaled di atas undangan.
“Kita tidak bisa hadir karena bertepatan dengan hari pertunangan kamu dengan Maria,” ucap kakek Jack.
“Pasangan itu akan merayakan ulang tahun dan juga pesta pertunangan.” Sean membaca undangan dengan teliti.
“Kirimkan saja hadiah,” tegas Sean keluar dari ruangan kakek Jack dan pergi ke ruang kerja miliknya. Ada kecewa yang tidak dimengerti oleh diri. Harinya terasa gelisah.
“Hm.” Kakek Jack melihat Sean yang telah hilang dari pandangan.
Sean duduk di balik meja. Dia mengaktifkan laptop dan mulai memeriksa laporan bisnis legal dan ilegal dari seluruh dunia. Pria itu mengirimkan senjata ke daerah konflik untuk mendapatkan keuntungan.
“Dua negara berselisih dengan saling serang.” Sean tersenyum tipis. Dia melihat laporan penjualan senjata dari berbagai jenis.
“Wanita itu pernah menjadi relawan di negara ini.” Sean mendapatkan foto Aisyah yang sedang berada di negara konflik. Sang dokter muda tanpa ragu menyelamatkan para korban dengan jubah putih yang berdebu dan berlumuran darah. Jas dokter dengan wajah ditutupi maske.
“Dia sangat pemberani. Aku suka. Tidak ada rasa takut sekali. Sangat cocok menjadi pendampingku. Hah!” Sean terkejut dengan ucapan dirinya sendiri.“Tidak. Aku memiliki Maria. Pasti dia juga gadis yang berani. Ketika aku membuat tato bunga mawar di usianya yang baru sepuluh tahun. Dia tidak menangis sama sekali. Walaupun sempat demam karena kesakitan.”
Sean mengingat kenangan sepuluh tahun yang lalu. Dia membuat tato bunga mawar berduri di lengan kanan Maria kecil. Itu adalah tanda keluarga Jack. Kelopak mawar menjadi merah yang berasal dari darah. Ada huruf S yang berarti Sean.
“Aku akan memeriksa tato itu ketika kami bertemu. Setelah pertunangan, Maria akan pindah ke rumah ini.” Sean melihat foto Maria di samping meja kerjanya.
Terima kasih. Semoga suka.Jangan lupa tinggalkan ulasan dan komentar yaaa.
Tidak sulit untuk keluarga Vito memberikan pesta yang meriah dalam waktu yang singkat. Mereka mengundang kolega dan keluarga terdekat. Satu hotel dijadikan tempat pesta dan kamar diberikan gratis untuk tamu undangan. Prosesi pernikahan dilaksanakan di sebuah gereja tua.Tamu adalah kalangan atas, pembisnis dan pejabat ternama. Tidak ada Masyarakat biasa yang hidup seadanya. Mereka semua adalah orang-orang dengan kuasa, tahta dan harta.Maria berdiri bersama dengan Varrel. Mereka masih menunggu Aisyah dan Sean untuk mengucapkan ikrar sumpah pernikahan di gereja yang mewah yang dihiasi dengan mawar putih.“Kenapa Aisyah belum datang?” Maria terlihat gelisah karena pernikahan tidak akan terjadi jika Aisyah tidak datang.“Bukankah kamu pastikan Aisyan akan datang?” Varrel menatap Maria yang tampak gugup.“Tuan Vito. Kapan sumpah pernikahan akan dilangsungkan?” tanya Pendeta.“Kita masih menunggu tamu Istimewa,” jawab Vito melihat pada Varrel.“Kemana Aisyah dan Sean? Kenapa mereka belum da
Leana keluar dari ruang kerja dan menemui Maria. Dia melihat putri angkatnya masih belum menentukan pilihan.“Maria, apa tidak ada yang kamu suka?” tanya Leana.“Aku suka semuanya, Ma.” Maria memeluk tangan Leana. Dia sangat bahagia karena akan mengenakan rancangan hasil karya sang mama yang legendaris. Perancang busana yang sangat terkenal di seluruh dunia.“Kamu hanya bisa mengenakan tiga gaun, Sayang. Pagi, siang dan malam.” Leana mencubit pipi Maria.“Ma, di ruangan itu ada gaun apa?” Maria menunjukkan ruang kaca yang tertutup rapat.“Itu rancangan gaun Muslimah untuk Aisyah.” Leana tersenyum bangga.“Apa aku boleh melihatnya?” tanya Maria.“Kamu tidak akan suka karena gaun-gaun itu tertutup dan khusus untuk Aisyah,” jawab Leana yang tanpa sadar membuat Maria iri.“Mama sudah siapkan gaun pengantin ini yang juga dirancang khusus untuk kamu kenakan di hari bahagia.” Leana merapikan rambut Maria.“Terima kasih, Ma.” Maria tidak puas sebelum bisa melihat gaun Muslimah yang dibuat oleh
Pagi hari Sean membawa Aisyah sarapan di ruang makan. Dia tidak pergi ke perusahaan sehingga dapat menemani sang istri di rumah.“Sayang, apa tidak pergi ke kantor?” tanya Aisyah menyelesaikan sarapannya.“Beberapa hari ini aku tidak menemani kamu karena sibuk,” jawab Sean.“Jadi, hari ini aku akan tetap di rumah bersama kamu.” Sean tersenyum.“Jika banyak pekerjaan, aku tidak masalah di rumah atau mau aku temani di kantor?” Aisyah menatap Sean.“Tidak, Sayang. Di luar sana sangat bahaya. Jalanan akan menjadi medan perperangan,” jelas Sean.“Aku tidak mau kamu terluka,” lanjut pria itu.“Baiklah.” Aisyah tersenyum.Sean dan Aisyah beranjak dari kursi. Mereka berjalan bersama menuju taman samping ruang tengah. Keduanya menikmati suasana pagi yang tenang dan sejuk. Angin berhembus lembut menggoyangkan dedaunan dan ranting pohon. Kupu-kupu tampak bertebangan bahagia menikmati harumnya bunga yang bermekaran.“Nyaman sekali.” Aisyah memperhatikan sekeliling. Dia sudah lama tidak menginjakka
Langit malam mulai diguyur hujan tipis ketika Sean mengendarai mobilnya pulang. Jalanan basah berkilau oleh lampu kota, namun ketenangan itu segera pecah. Dari persimpangan gelap, dua mobil hitam meluncur cepat, memotong jalannya. Rem Sean berdecit keras, mobilnya berhenti mendadak.Pintu mobil musuh terbuka serentak. Anak buah Barron keluar dengan langkah mantap, jas hitam mereka basah oleh hujan, senjata berkilat di bawah lampu jalan. Sean tetap tenang, matanya menyapu sekeliling mencari celah.“Turun, Sean! Malam ini kau tak akan lolos!” teriak salah satu dari mereka, suaranya menembus deru hujan.Sean membuka pintu, berdiri tegak meski tubuhnya basah kuyup. Pria itu tidak pernah melepaskan musuhnya. Apalagi tidak ada sang istri di dekatnya. Tangan kedua tangannya meraih pistol dari jas hitam.Benturan pertama terjadi cepat. Peluru menghantam bodi mobil, memercikkan api kecil. Sean membalas dengan tembakan terarah, membuat dua penyerang langsung terjatuh. Namun jumlah mereka terlalu
Sean pergi ke penjara. Dia harus memastikan bahwa Khaled masih hidup. Pria itu cukup khawatir dengan keadaan mantan tunangan istrinya.“Khaled,” sapa Sean melihat Khaled yang duduk di kursi. Pria itu sudah mendapatkan perawatan.“Kenapa kamu tidak membunuhku? Apa takut Aisyah akan marah?” Khaled hanya mengenakan celana dengan bertelanjang dada. Tubuhnya seksi dan terbentuk sempurna. Sejak mendapatkan keringanan hukuman dan makanan, Khaled fokus merawat diri dengan Latihan di dalam penjara.“Jika kamu tidak menculik Aisyah, maka tidak akan ada permusuhan ini,” ucap Sean tenang.“Aku hanya meniru kamu, Sean. Kamu yang menculik Aisyah di hari pernikahan kami. Pria mana yang rela?” Khaled menatap tajam pada Sean.“Aku akan mengirim kamu pulang ke Kairo dan jadilah saudara Aisyah. Hapus semua rasa cinta dan sayang kamu padanya.” Sean berlalu.“Sean!” teriak Khaled memegang pintu besi. Pria itu benar-benar marah. Cinta yang tersimpan dan terjaga sepuluh tahun dengan harapan bisa bersama sirn
Setelah identitasnya Aisyah terungkap ke public bukan hanya Sean yang dicari, tetapi juga dirinya. Mereka berdua sama-sama dalam bahaya karena obsesi manusia yang ingin memiliki segalanya.“Apa aku akan terkurung lagi di menara kaca ini?” Aisyah berdiri di balkon. Dia memperhatikan sekeliling. Taman indah dan luas begitu tenang karena jauh dari jalan raya. Ruamh mewah itu berada di lahan pribadi yang tidak terganggu sama sekali.“Apa yang kamu pikirkan, Sayang.” Sean memeluk Aisyah dari belakang dan mencium leher yang terbuka dengan tidak lupa menyibak rambut yang sedikit basah. Istrinya tidak mengenakan hijab ketika berada di menara kaca. Itu adalah permintaan sang suami.“Sayang, maaf. Aku sudah membawa kamu dalam bahaya.” Aisyah memutar tubuh menghadap Sean.“Apa maksud kamu, Sayang? Aku memang selalu dalam bahaya sejak dilahirkan di dunia ini.” Sean meletakkan kedua tangannya di leher Aisyah. Dia melumat bibir merah tanpa ada lipstick. Wanita itu cantik alami dengan perawatan mahal
Ruangan menjadi hening. Semua mata melihat pada Sean. Mereka sedikit takut pada pria yang sedang terluka dan kalah dengan Aisyah. Dia menjadi penurut.“Aku harus ke perusahaan.” David segera keluar.“Papa juga. Sean, kamu istirahat yang cukup. Semoga cepat pulih.” Jordan tersenyum pada Sean dan meny
Aisyah pikir Sean melepaskan Khaled begitu saja. Dia tidak tahu bahwa sang suami melakukan penculikan secara diam-diam oleh anak buahnya yang merupakan pasuka elit yang direkrut dari militer.“Sayang.” Aisyah memeluk tangan Sean. Mereka duduk di sofa ruang tengah.“Ada apa, Sayang? Apa ada yang saki
Sean yang telah tahu posisi kapal yang membawa Aisyah segera bertindak dan tidak menunggu lama. Pria itu tidak menyia-nyiakan waktu untuk mengejar sang istri. Dia tidak peduli jika harus mengejar hingga ke negara lain dan mengeluarkan biaya lebih untuk merebut kembali istrinya.“Siapkan kapal selam!
Mata Aisyah yang terpejam tiba-tibat terbuka. Dia seakan mendengarkan suara Sean yang berteriak memanggil namanya.“Kak Sean.” Aisyah turun dari kasur dan berlari keluar kamar. Dia naik ke atas kapal.“Nona.” Alexa yang hampir terlelap terbangun dan menyusul Aisyah.“Kak Sean!” teriak Aisyah. Dia me







