LOGINTerima kasih atas dukungannya. Semoga suka.
Aisyah terlihat gelisah. Ada sesuatu yang mengganggu hatinya. Sean telah menjadi mualaf. Itu artinya mereka berdua akan segera menikah. Dia memalingkan wajahnya menghindari sang tunangan.“Aku tumbuh besar bersama Kak Khaled selama sepuluh tahun, tetapi menikah dengan Sean yang baru saja bertemu setelah sepuluh tahun.” Aisyah berbicara di dalam hati.“Apa yang kamu pikirkan, Aisyah?” tanya Sean dan tidak ada jawaban karena wanita itu sedang melamun. Pikirannya ada di Kairo. Rasa rindu pada keluarga angkat dan khawatir dengan kondisi Khaled yang terluka terakhir kali mereka bertemu.“Aisyah!” Sean menarik tangan Aisyah hingga wanita itu hampir jatuh ke dalam pelukannya. Mata mereka bertemu dalam diam dan bingung. Cadar Aisyah tersingkap beberapa detik dan kembali ke tempat semula.“Kenapa kamu melamun, Aisyah? Aku sudah bertanya dan tidak mendapatkan jawaban.” Sean menatap tajam pada Aisyah. Dia menyelami bola mata hijau yang tenang.“Tidak ada,” jawab Aisyah gugup.“Cantik. Dia sangat
Para pemuka agama Islam telah menunggu Sean di depan pintu. Mereka benar-benar bahagia menyambut kedatangan hamba Allah yang baru. Seorang tanpa agama menemukan hidayahnya melalui cinta dan obsesi pada Aisyah.“Nona, Anda bisa ke ruangan sebelah khusus wanita,” ucap seorang perempuan.“Kita tetap bisa mengikuti prosesinya,” jelas wanita itu.“Ya.” Aisyah mengikuti para wanita menuju pintu samping khusus perempuan.Sean duduk bersama dengan para pemuka agama. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam.“Tuan Sean, kami akan menjelaskan tentang prosesi menjadi seorang muslim. Apa boleh?” tanya seorang pemuka agama.“Silakan,” jawab Sean.“Apa yang membuat Anda mau memeluk agama Islam?” tanya pria dengan pakaian serba putih.“Cinta,” jawab Sean jujur.“Cinta?” Lelaki itu tersenyum.“Ya. Aku mencintai seorang wanita yang beragama Islam sehingga aku harus menjadi seorang muslim agar bisa menikahinya,” jelas Sean menoleh pada Aisyah yang berada di sudut ruangan.“Tuan Sean. Anda haru
Ruangan hening. Sean hanya tersenyum dan memandangi Aisyah. Di matanya, wanita itu adalah gadis kecil yang menggemaskan.“Aku sudah tidak sabar ingin membuka cadar dan mencium bibirnya.” Pikiran Sean sangat nakal. Dia sudah menahan diri dari sepuluh tahun yang lalu. Pria itu seakan tahu bahwa Maria akan tumbuh menjadi gadis yang cantik dan cerdas sehingga membuatnya ingin memiliki Maria dari sejak dulu. “Pilihanku tidak pernah salah. Dia benar-benar menjadi wanita yang cantik dan cerdas. Pandangan pertama tidak pernah mengecewakan.” Sean terus menatap Aisyah sehingga wanita itu harus mengalihkan pandangan dan mengalah.“Besok aku akan pergi untuk memeluk agama Islam. Apa kamu mau ikut?” tanya Sean menyenderkan tubuhnya ke sofa dan membuka buku.“Ya,” jawab Aisyah cepat. Wanita itu ingin melihat dunia luar karena sudah cukup lama terpenjara di istana milik Sean. “Baiklah.” Sean mengangguk.“Apa kita bisa langsung menikah di hari itu?” tanya Sean menutup buku.“Tidak. Ada beberapa pros
Khaled tiba di Kairo. Pria itu harus mendapatkan perawatan karena ditembak Sean.“Tuan Khaled. Itu pembatalan pernikahan Anda dengan Nona Aisyah.” Seorang pria mendekati Khaled yang duduk di tempat tidur.“Apa?” Khaled terkejut melihat berkas yang telah ditanda tangan Aisyah. “Dia sudah menyetujui pembatalan pernikahan denganku. Pasti Aisyah diancam Sean.” Jari-jari Sean meremas berkas penting.“Tuan, Anda harus segera memberikan tanda tangan karena Sean sudah siap dengan serangan yang tidak terduga,” jelas pria itu.“Surat ini harus segera diselesaikan dan disahkan,” lanjut pria itu. “Aarrgh!” Khaled sangat marah. Dia melempar bekas ke lantai. Pria itu tidak rela untuk melepaskan Aisyah. Calon istri yang telah ditunggunya selama sepuluh tahun. “Aisyah milikku! Dia adalah istriku! Kenapa Sean merebutnya?” Jari-jari kekar Khaled meremas seprai.“Khaled.” Sherine berlari memeluk Khaled.“Umi!” Khaled menahan air mata yang akan menetes. Dia memeluk erat tubuh Sherine.“Aisyah tidak aka
Aisyah telah membuat perjanjian dengan Sean bahwa dia hanya akan menikah dengan pria itu, tetapi dengan kebebasan yang diinginkannya. Dia tetap menjadi dokter dan siap membantu serta menolong pasien.Istana mewah kembali terbuka. Menara kaca tidak lagi terkunci. Rantai dan borgol telah dibuang. Aisyah bisa menikmati hari-hatinya dengan tenang. Dia memberikan waktu untuk Sean mempelajari Islam agar menemukan hidayah bukan karena ingin menikahi Aisyah, tetapi benar-benar mendapatkan ketenangan dari sebuah agama dan kepercayaan. Bukan sekedar permainan.“Nona. Surat pembatalan penikahan telah disiapkan. Anda harus tanda tangan.” Elio memberikan berkas dengan materai kepada Aisyah.“Hm.” Aisyah memegang berkas dan menarik napas dengan berat. Dia harus membatalkan pernikahan dengan Khaled agar semua orang mendapatkan kebebasan dari Sean termasuk dirinya sendiri. “Apa aku bisa pergi sendiri ke Kairo?” tanya Aisyah pada Elio.“Maaf, Nona. Negara yang tidak boleh Anda datangi adalah Kairo,” j
Aisyah memeriksa kesehatan bibi dengan teliti. Dia tahu wanita itu bekerja cukup keras dengan lengan kuat.“Dia bukan wanita biasa,” gumam Aisyah.“Otot-otot yang terlatih. Di usia yang tidak muda lagi, tetapi dia benar-benar sehat.” Aisyah menyelesaikan pemeriksaan. “Bagaimana kondisi Bibi, Non?” tanya bibi. “Bibi sangat sehat,” jawab Aisyah merapikan kotak medisnya. “Otot Bibi cukup tegang dan butuh relax,” lanjut Aisyah. Dia yakin wanita paruh baya itu sangat suka Latihan berat. “Terima kasih, Non.” Bibi tersenyum. Dia tidak akan punya waktu untuk bersantai.Sean melihat Aisyah dari kamarnya. Dia memperhatikan interaksi tunangannya dengan bibi. Dia tahu wanita itu tersenyum dengan ceria.“Kenapa dia tidak pernah memperlihatkan senyumnya padaku?” Sean hanya mengenakan handuk. Pria itu baru selesai mandi dan siap berganti pakaian. Dia menghirup udara pagi dari balkon kamarnya. Dedaunan hijau dari pohon memberikan oksigen alami yang segar dan menyejukan. “Elio, panggil Aisyah ke k