로그인Terima kasih atas dukungannya. Semoga suka.
Tangan dokter akhirnya berhasil menemukan kepala bayi. Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, ia menarik keluar tubuh mungil itu. Sesaat ruangan hening—bayi tak langsung menangis. Semua orang menahan napas.“Putriku….” Suara Sean terhenti. Dia ketakutan melihat tubuh pucat putrinya dengan rambut berwarna perak berkilau seperti ibunya yang telah meninggal. Tidak ada suara tangis dari bibir yang mungil."Segera lakukan stimulasi! Jangan biarkan terlambat!" Suara dokter terdesak.“Berikan padaku!” Noah mengambil ponakannya dari tangan dokter.Noah mengusap tubuh bayi, menepuk lembut punggungnya. Detik terasa seperti jam. Hingga akhirnya, suara tangisan lemah namun nyata terdengar. Tangisan itu membuat seluruh ruangan bergemuruh oleh kelegaan.“Oh God!” Noah memeluk dan mencium keponakan kecilnya. Air mata pria itu telah membasahi wajahnya. Dia menyerahkan bayi perempuan kepada perawat untuk segera dibersihkan.Sean menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata jatuh deras. Dua k
Lampu operasi menyinari tubuh Aisyah yang terbaring tak berdaya di meja operasi. Bius total telah membuatnya terlelap, wajahnya tenang namun penuh misteri—seolah berada di ambang batas antara kesadaran dan ketiadaan. Di sekelilingnya, tim medis bergerak cepat, setiap langkah penuh ketegangan.Suara monitor jantung berdetak teratur, namun setiap perubahan angka membuat suasana menegang. Bau antiseptik menusuk, bercampur dengan suara logam instrumen yang bergesekan. Dokter bedah menatap layar monitor dengan mata tajam, sementara perawat menyiapkan alat dengan tangan bergetar halus."Kita mulai insisi. Ingat, bayi pertama dalam posisi aman, tapi bayi kedua melintang. Kita harus bekerja cepat." Suara tegas dokter menembus keheningan. “Kehamilan Aisyah benar-benar beresiko. Padahal dia dan bayi kembar sangat sehat.” Noah meminta untuk tetap di dalam ruangan operasi agar bisa mengawasi kondisi Aisyah dan terus berada di sisi adiknya.“Dokter, apa aku Sean bisa masuk?” tanya Noah.“Tentu saj
Aisyah bangun di pagi hari. Dia duduk dengan sangat susah. Tangannya berpegangan pada pinggir tempat tidur agar mendapatkan bantuan tarikan.“Allahu Akbar.” Aisyah mengatur napas. Dia berdiri dan berjalan perlahan ke kamar mandi.“Sayang.” Sean dengan mudah terbangun. Dia melihat Aisyah sudah masuk ke dalam kamar mandi.“Jangan dikunci.” Sean dengan cepat beranjak dari kasur dan berlari ke kamar mandi. Dia segera masuk dan menyusul Aisyah.“Sayang, kenapa tidak membangunkan aku?” tanya Sean khawatir. Pria itu segera mencuci muka.“Aku mau buang air kecil dan langsung mandi. Sebentar lagi subuh baru bangunkan kamu.” Aisyah tersenyum.“Jika kamu terbangun. Harus bangunkan aku, Sayang. Apa pun itu,” tegas Sean.“Baiklah.” Aisyah mandi dibantu Sean. Wanita itu duduk du kursi yang memang telah disiapkan.Sean dengan telaten membersihkan tubuh Aisyah. Dia menyampo rambut hitam istrinya. Membilas hingga bersih. Seorang mafia menjadi pria lembut dan perhatian ketika dia dipertemukan Tuhan deng
Sean terus berada di sisi Aisyah. Dia tidak pernah meninggalkan istrinya sedetik pun. Sepanjang hari menemani Aisyah yang sedang hamil tua. Tim dokter telah standby di klinik mendekati hari kelahiran. Perut yang besar karena mengandung sepasang bayi kembar yang kuat.“Allahuakbar.” Aisyah sudah kesulitan bergerak.“Pelan-pelan, Sayang.” Sean menggandeng tangan Aisyah. Mereka jalan-jalan di taman menunggu waktu kelahiran.“Iya, Sayang.” Aisyah yang sudah makan sesuai dengan pengaturan ahli gizi masih tidak bisa mengontrol pertumbuhan bayi kembarnya. Dia harus menguras banyak tenaga untuk menjaga dan membawa bayi yang ada di dalam kantung rahim.“Sayang, aku tidak kuat lagi berjalan,” ucap Aisyah menghentikan langkah kakinya.“Duduk di sini, Sayang.” Sean membantu Aisyah duduk di kursi taman.“Langkahnya semakin sedikit setiap hari. Aisyah benar-benar kesulitan dan kelelahan.” Sean menatap Aisyah khawatir.“Pertumbuhan bayi sangat cepat sehingga berat badan mereka terus naik. Padahal dok
Aisyah rutin melakukan pemeriksaan setiap bulan di klinik pribadi yang disiapkan Sean. Uang benar-benar memudahkan segala urusan. Pria itu bahkan mampu mendatangkan tim dokter terkenal dan mahal sekalipun untuk merawat anak serta istrinya. Dia membali semua perlengkapan kesehatan untuk mengisi klinik sehingga Aisyah tidak perlu pergi ke luar untuk pemeriksaan hingga melahirkan.“Selamat pagi, Nyonya Aisyah.” Tim dokter terbaik menyambut kedatangan Aisyah untuk pemeriksaan dan USG di usia kandungan yang telah tujuh bulan. Wanita itu sengaja menunggu hingga tujuh bulan untuk melihat jenis kelamin calon bayi kembarnya.“Silakan, Nyonya.” Dokter Elena membawa Aisyah ke ruangan khusus.“Sayang, aku sudah tidak sabar.” Sean selalu setia mendamping Aisyah.“Tenanglah, Sayang.” Aisyah tersenyum melihat Sean yang selalu gugup setiap kali dia melakukan pemeriksaan.Aisyah telah berbaring di atas tempat tidur. Dokter mengoleskan gel khusus di area tubuh agar transduser bisa menghantarkan gelomban
James tiba di bandara. Dia berjalan dengan santai. Pria itu tidak terlihat seperti seorang Mafia.“Tuan James. Mobil sudah menunggu.” Seorang pria dengan setelan jas hitam berdiri di depan James.“Siapa kalian?” tanya James curiga. Pria itu tidak bisa percaya sembarangan orang.“Kami kiriman tuan muda Sean. Anda bisa memeriksa ponsel,” jawab pria itu.“Mm.” James mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya. Dia melihat pesan dari Elio.“Ini bukti kami anak buah Tuan Sean.” Pria itu memperlihatkan kode di layar ponselnya.“Dia dengan mudah tahu kedatanganku.” James tersenyum. Dia mengikuti anak buah Sean pergi menuju ke tempat parkir.“Silakan, Tuan.” Pria dengan jas dan kacamata hitam membuka pintu untuk James.Mobil melaju dengan kecepatan standar menuju kawasan pribadi milik Sean. Pria itu duduk santai di kursi belakang dan memperhatikan jalanan. Lelaki yang terus melajang setelah istrinya meninggal dan tidak pernah berpikir untuk menikah lagi.Mobil berhenti di depan taman villa yang me
Leana terduduk lemas di sofa. Dia masih ditemani Noah yang juga hanya diam menatap sang ibu.“Bagaimana sekarang, Ma?” tanya Noah.“Mama sudah tidak tahu lagi. Mama tidak menyangka semua akan terungkap dengan cepatnya. Kita telah kehilangan Maria.” Leana menangis dan memeluk Noah.“Dosa yang tidak s
Kepulangan Sean masih dirahasiakan. David dan Noah pun tidak memberitahu keluarganya. Padahal dua bersaudara itu sudah tahu, tetapi mereka seakan sengaja menutupinya.“Kak!” Maria bersemangat menuruni tangga menuju ruang tengah.“Kak Noah. Kak David.” Maria memeluk dua pria tampan yang berdiri menun
Sean dirawat di rumah. Pria itu tidak teriasa berada di rumah sakit. Dia duduk di atas tempat tidur dengan bertelanjang dada karena ada luka yang harus dijaga.“Permisi, Tuan. Kami akan mengganti perban.” Dokter dan perawat mengetuk pintu kamar Sean ditemani kepala asisten rumah tangga. Seorang pria
Jordan dan Leana duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Pasangan suami istri itu tampak gelisah.“Sayang, Sean akan segera pulang. Mereka akan bertemu di hari ulang tahun Maria yang kedua puluh.” Leana menatap Jordan. “Ya. Dia akan pulang, tetapi tidak tahu kapan? Maria akan berulang tahun bulan d







