ログインTerima kasih. Semoga suka.
Sean sadar bahwa Khaled tidak memberikan ponsel kepada Aisyah, tetapi langsung mematikannya. Pria itu melempar ponsel Jordan ke lantai.“Jika tidak ada ponsel itu. Aisyah tidak akan bisa menghubungi Khaled,” tegas Sean.“Siapa yang mau dikorbankan agar Aisyah bisa kembali?” tanya Sean.“Kami tidak bisa menghubungi Aisyah. Dia tidak memiliki ponsel,” ucap Noah.“Aarrgh!” Sean benar-benar tidak bisa mengontrol diri ketika itu berhubungan dengan Aisyah.“Dorr!” Sean menembak kaki Jordan.“Aargh!” Jordan memegang kakinya yang ditembak.“Sayang!” Leana hanya bisa berteriak dan menangis melihat Jordan terjatuh di lantai dengan paha bocor dan mengeluarkan darah.“Sayang.” Leana memeluk Jordan. Wanita itu benar-benar lelah menangisi nasibnya yang kacau. Kehidupan damai mereka hancur dalam sekejap mata. Bertemu putri kandung dan terjadi hal-hal yang tidak terduga.“Pa!” teriak David yang segera menurunkan Maria dari gendongannya. Dia melepaskan sang adik di sofa.“Sean. Izinkan aku obati papa.
Sean duduk di balik meja kerja. Pria itu menatap layar computer dengan jari-jari bergerak cepat di atas keyboard. Dia tidak percaya Aisyah hilang begitu saja dari menara.“Shit!” Sean berhasil memperbaiki rekaman cctv dan melihat Aisyah yang turun dengan mudahnya dari menara. Melompat dari Gedung dan balkon.“Hah!” Sean menghela napas dengan kasar.“Bagaimana dia melakukan ini? Aisyah, kamu benar-benar suka menandang maut.” Sean memijit kepalanya.“Anda juga sudah menantang maut. Kalian benar-benar cocok,” gumam Elio.“Pergi ke rumah Jordan!” Sean beranjak dari kursi kerja. Pria itu mengambil senjata dari laci meja yang terkunci. Dia memakaikan di tubuhnya dan mengenakan jas hitam.“Baik, Tuan.” Elio mengerti dengan sikap Sean. Pria itu pasti menggunakan senjatanya dan membuang peluru tanpa sia-sia.Sean mengendarai mobil sport seorang diri. Elio dan anak buahnya mengikuti dari belakang. Mereka harus memastikan Sean aman hingga sampai tujuan. Tidak ada musuh yang mengikuti. Apalagi men
Mobil Jordan dan David tiba di rumah. Mereka terdiam memikirkan Aisyah yang merupakan putri semata wayang yang telah diberikan kepada keluarga di Kairo dan kini hadir di depan mata.“Maria. Mariaku. Bola mata hijaunya sangat terang. Dia gadis kecil kita.” Leana terus menangis. Dia memeluk Jordan.“Sayang, kita harus menerima konsekuensi bahwa Maria sudah menjadi putri orang lain, tetapi kini dia berada di tangan Sean.” Jordan terlihat sangat gelisah. “Sean benar-benar gila.” Noah terlihat jelas sangat kesal karena Sean mengurung Aisyah.“David, kita harus merebut Aisyah dari Sean,” tegas Noah.“Tidak bisa, Noah. Itu Sean,” balas David.“Apa yang harus kita lakukan agar Maria kembali ke rumah ini?’ tanya Leana terisak.“Ma, nama dia Aisyah. Dia adalah dokter bedah yang hebat dan sering berada di daerah konflik. Aku sudah mengaguminya. Tidak disangka dia adik kandungku.” Sean terduduk di sofa.“Sepertinya Khaled tidak akan tinggal diam,” ucap David.“Benar. Pria itu sangat mencintai Ais
Aisyah dan Leana berpelukan dalam tangis. Ada cinta dan kasih sayang serta rindu yang telah lama tertahan. Hari ini keduanya menumpahkan rasa yang menyiksa.“Maria, putriku. Maafkan Mama.” Leana memeluk erat tubuh Aisyah dan tidak ingin melepaskan.“Mama. Aku tahu aku punya mama. Aku rindu.” Aisyah terisak memeluk Leana. Dia sedang melepaskan rindu yang tertahan selama sepuluh tahun.“Maria.” David dan Noah ingin mendekati Aisyah, tetapi dihalangi Sean. Pria itu tidak mengizinkan lelaki mana pun menyentuh tunangannya.“Kalian, tidak akan pernah bisa mendekati Aisyah,” tegas Sean menjentikkan jari dan beberapa pengawal sudah masuk memegang David serta Noah.“Apa?” David dan Noah kaget karena telah dipegangi anak buah Sean. Para pria dengan jas hitam dan tubuh tegap.“Menjauhlah dari Aisyah. Jika tangan kalian berani menyentuhnya, maka aku tidak akan segan mematahkan atau memotongnya.” Sean menatap tajam pada Noah dan David yang terdiam tidak berkutik.“Mm.” Aisyah menoleh pada David dan
Mobil Jordan dan David telah tiba di rumah Sean. Dua kendaraan mewah itu parkir di depan halaman yang luas. Aisyah melihat dari kamarnya. Dia memperhatikan seorang wanita dan tiga pria yang keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.“Apa mereka keluargaku?” tanya Aisyah duduk di dinding balkon. Wanita itu benar-benar tidak takut sama sekali.“Apa kamu senang duduk di sini?” tanya Sean berdiri di belakang Aisyah.“Sean.” Aisyah menoleh. Dia hampir jatuh dan dengan cepat Sean menarik tubuh Aisyah hingga jatuh menimpa pria itu.“Hah!” Aisyah jatuh di atas tubuh Sean.“Apa kamu tidak tahu bahwa duduk di sana berbahaya, Aisyah?” Sean menatap Aisyah.“Maaf.” Aisyah segera beranjak dari tubuh Sean dan berpindah ke lantai.“Aku suka melihat pemandangan dari atas sini,” ucap Aisyah.“Apa kamu mau turun? Keluarga Jordan sudah datang.” Sean duduk di depan Aisyah.“Ya.” Aisyah mengangguk dan mendongak melihat pada Sean yang sudah berdiri.“Mari.” Sean mengulurkan tangan pada Aisyah.“Terima kasih.” Ai
Sean sudah duduk di kursi depan meja makan. Wajah pria itu tampak berseri melihat kedatangan Aisyah.“Bagaimana luka kamu?” tanya Aisyah duduk di depan Sean.“Ini hanya tergores,” jawab Sean.“Siapa yang mencabut infus?” Aisyah melihat pada Sean.“Aku sendiri. Menunggu kamu tidak datang-datang hingga infus kering,” ucap Sean.“Maaf, aku pikir kamu punya banyak pelayan yang bisa melayani kamu. Aku periksa luka kamu sekarang.” Aisyah berdiri.“Kita sarapan dulu. Setelah itu baru melihat luka ku.” Sean tersenyum.“Baiklah.” Aisyah memang lembut, tetapi dia tegas.Rasa peduli seorang dokter dan suka menolong telah mandarah daging pada jiwa serta raga Aisyah. Selama itu makhluk hidup pasti akan dia obati ketika terluka. Walaupun seorang penjahat dan pembunuh sekali pun.Aisyah membaca doa dan menikmati sarapan yang sangat dirindukan. Rasa yang tidak asing di lidahnya dan dia mulai terbiasa dengan memory-memory yang datang tiba-tiba. Wanita itu bukan tipe orang yang mudah panik.“Apa rencana







