LOGINBeberapa saat kemudian, pintu ruang rapat terbuka. Begitu Leon keluar setelah hampir satu jam berada di dalam, seseorang langsung menghampirinya.Ibunya.Mira sudah tidak sabar."Sudah selesai?""Iya, Bu.""Bagus."Leon mengangguk pelan. Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya kenapa ibunya masih ada di sana. Kalau dipikir-pikir, jawabannya pasti sama.Menemaninya.Atau lebih tepatnya...Mengawasinya.Mira langsung berjalan di samping putranya."Aku tadi jalan-jalan.""Hm.""Terus aku ke bawah.""Hm.""Terus aku ketemu Alena."Langkah Leon langsung melambat."Hah?"Mira sama sekali tidak menyadarinya."Aku sudah bilang, jangan ganggu Alena saat kerja.""Ibu tidak ganggu.""Lalu?""Justru Ibu bikin dia santai sejenak.""Hah?""Ibu ajak ngobrol-ngobrol.""Namanya perempuan pasti suka ngobrol.""Ibu...""Anaknya lucu ya."Leon mulai tidak tenang."Bu...""Polos.""Bu.""Dan imut.""Bu.""Malah Ibu sudah tidak heran."Leon menelan ludah."Tidak heran apa?""Kenapa kamu menganggap dia sepert
Keesokan paginya, Alena berangkat kerja dengan wajah lesu. Bahkan sejak turun dari kendaraan sampai masuk ke ruang marketing, senyum yang biasanya selalu menghiasi wajahnya sama sekali tidak terlihat.Tentu saja perubahan itu langsung ditangkap oleh seseorang.Sisca.Wanita itu langsung menggeser kursinya mendekat."Lena.""Hm?""Ayo senyum.""Hmm.""Aku kangen lesung pipimu."Alena tetap diam."Jangan pelit-pelit.""Hmm."Sisca mulai gelisah. Biasanya Alena memang gampang tersipu, gampang malu, tetapi selalu ceria dan tidak pernah semurung ini. Akhirnya Alena mengangkat sudut bibirnya sedikit.Namun... senyum itu begitu kaku.Sisca langsung memegang dada."Jangan begitu dong."Alena mengernyit."Kenapa?""Lebih baik kamu marah.""Hah?""Senyum kayak gitu bikin aku takut."Alena langsung menghela napas. Daripada berdebat dengan Sisca, lebih baik diam.Namun ternyata... diam juga tidak membuat sahabatnya berhenti bicara."Lena.""Hm?""Di dunia ini cowok banyak."Alena meliriknya."Buk
Keesokan paginya...Leon benar-benar mulai merasakan hidupnya berubah. Kalau biasanya ia bebas pergi ke mana pun, sekarang berbeda.Ke mana pun ia pergi, selalu ada satu orang yang mengikutinya.Ibunya.Pagi itu Leon baru saja mengambil kunci mobil."Sudah mau berangkat?""Iya.""Ibu ikut."Leon hanya bisa mengangguk pasrah.Begitu tiba di perusahaan...Mira langsung ikut turun dari mobil, menyapa para karyawan dengan ramah, bahkan sesekali berhenti mengobrol dengan mereka.Melihat tingkah ibunya, Leon sampai merasa wanita itu sudah naik jabatan menjadi sekretaris pribadi keduanya.Leon mulai punya firasat buruk."Bu.""Hm?""Ibu mau ke mana?""Ikut kamu."Leon menghela napas."Tapi Ibu tidak ada urusan di kantor.""Siapa bilang?""Lalu urusannya apa?""Menemani anak."Leon benar-benar kehabisan kata-kata.Sepanjang hari...Leon bahkan tidak pernah benar-benar sendirian. Saat menuju ruang rapat... Mira ikut sampai depan pintu."Mau meeting, Bu.""Iya.""Ibu tunggu."Saat Leon keluar
Sore itu...Jam kerja akhirnya usai. Sebagian besar karyawan mulai berkemas untuk pulang. Namun tidak dengan Leon. Pria itu justru menghela napas panjang begitu keluar dari ruangannya.Seharian ini... ia sama sekali tidak memiliki kesempatan mendekati Alena. Padahal sejak pagi sudah ada rencana di kepalanya.Sepulang kerja... ia ingin mengajak Alena makan malam. Bukan untuk berkencan. Setidaknya menurut pengakuannya sendiri.Ia hanya ingin menjelaskan semua kesalahpahaman yang terus menumpuk.Tentang Cynthia.Tentang ibunya.Dan tentang boneka singa yang ternyata malah membuat keadaan semakin rumit.Namun semua rencana itu langsung buyar. Karena begitu keluar dari lift... seseorang sudah berdiri sambil tersenyum manis.Ibunya."Sudah selesai?"Leon langsung memejamkan mata."Sudah, Bu.""Bagus."Mira langsung merangkul lengan putranya."Yuk pulang."Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Mira terus mengobrol.Mulai dari menu makan malam.Sampai membah
Begitu Leon dan Mira menghilang ke dalam lift...Area marketing mendadak hening.Lima detik.Sepuluh detik.Lalu..."AAAAAA!"teriak Sisca.Alena yang masih berusaha menenangkan jantungnya sampai terlonjak dari kursinya."Apa lagi sih?!"Sisca langsung menunjuk lift yang sudah tertutup."Itu!""Itu apa?""'Nanti Alena bisa resign!'"Sisca menirukan suara Leon dengan dramatis. Alena langsung memegang kepala."Tolong jangan diulang.""Tidak bisa.""Kenapa?""Karena aku merinding."Alex menghela napas."Aku juga dengar.""Nah kan!"Sisca langsung menepuk meja."Itu bukan kalimat bos biasa."Alena mendelik."Itu kalimat orang yang takut kehilangan karyawan.""Bohong.""Benar."Seperti biasa, Alena memilih diam daripada harus adu mulut dengan Sisca. Ekspresi Sisca sangat serius. Bahkan terlalu serius."Aku tahu sekarang.""Apa?""Pak Leon pasti sudah membayangkan masa depan."Alena langsung memejamkan mata."Tolong jangan mulai.""Tidak."Sisca mengangkat telunjuk."Analisis ini berdasarka
Alena sudah benar-benar hampir putus asa. Karena perasaannya sudah tidak tenang, di kepalanya sekarang hanya ada satu ketakutan.Aduh mati aku.Jangan-jangan aku mau dituduh jadi pelakor lagi.Penyebab hubungan mereka bermasalah.Dan karena terlalu panik ... tanpa sadar Alena malah menambahkan,"Aku juga tidak minta apa-apa.""Hm?""Maksud saya..."Alena langsung ingin menepuk mulutnya sendiri. Namun semuanya sudah terlambat."Aku tidak minta apa-apa."Mira mulai penasaran."Lalu?""Pak Leon sendiri yang antar boneka singa."Hening.Mira membeku."Hah?"Alena ikut membeku.Astaga.Kenapa omongan seperti itu keluar dari mulutnya?"Apa?"Mira berkedip."Boneka singa?"Alena langsung ingin menghilang dari muka bumi.Sementara di kejauhan ... Sisca yang sedang menguping hampir jatuh dari kursinya."ASTAGA!""Kali ini aku juga bakal kena masalah!"Alex buru-buru menarik lengannya."Kok bisa?""Aku kan konsultannya!""Hah?"Tapi Sisca malah berdiri dan menegakkan tubuhnya."Duduk!""Tapi in
Pagi itu Cynthia bangun lebih awal dari biasanya. Sebenarnya ia sempat ragu. Sejak kedatangannya ke perusahaan beberapa hari lalu, Leon sama sekali tidak menghubunginya.Tidak ada telepon.Tidak ada pesan.Tidak ada kabar apa pun.Namun Cynthia berusaha berpikir positif. Mungkin saja kedatangannya
Begitu berhasil masuk ke dalam gedung, Alena baru berani mengembuskan napas panjang. Jantungnya masih berdetak lebih cepat dari biasanya. Semuanya gara-gara Leon.Atau lebih tepatnya... gara-gara dirinya sendiri.Kenapa dia harus mengatakan "Om sudah ganteng"?Kenapa juga mulutnya bisa menurun dari
Malam itu Alena gagal tidur. Sudah lewat tengah malam, tetapi matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar. Setiap kali memejamkan mata, wajah Leon muncul lagi. Terutama saat pria itu berkata,"Saya mulai mempertimbangkannya."Alena langsung menarik selimut sampai menutupi wajahnya."Aduh..."
Jam kerja akhirnya berakhir. Alena sebenarnya sudah berusaha melupakan ucapan Leon sore tadi. Sayangnya, itu mustahil. "Nanti pulang tunggu saya." "Mau beli oleh-oleh untuk ibumu." Semakin dipikir, semakin terasa aneh. Dan semakin aneh karena Leon mengatakannya di depan Sisca. Kalau besok selu







