MasukRima, seorang TKW yang sudah lima tahun tidak pulang ke Indonesia. Dan betapa terkejutnya ia, saat pulang melihat sang suami sedang berzina dengan wanita lain di kamarnya sendiri. Tidak hanya itu, Rima juga sangat terkejut melihat kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan. Ia bersumpah akan membalaskan dendamnya pada suami bejat yang tega menghianatinya dan menyiksa anaknya.
Lihat lebih banyak"Panglima Longwei, lama kita tidak bertemu," kekeh Panglima musuh dengan zirah berwarna hitam membalut tubuhnya.
Longwei, panglima yang diutus oleh kahyangan para dewa untuk menumpas pasukan jiwa iblis menatap sosok di depannya dengan tajam.Pria berbadan tegap di depannya dulunya adalah sahabat karibnya semasa mengabdi pada para Dewa kahyangan.Namun, sebab pengaruh jahat jiwa Iblis yang misterius, sahabatnya itu kini berbalik melawan para dewa Kahyangan."Geming, aku ulang sekali lagi. Hukum kahyangan sangat berat, kau masih ada waktu untuk merubah pikiran," ucap Longwei menatap tajam pria yang saat ini berdiri di hadapannya.Geming tertawa kencang, bahkan dia tidak gentar sedikitpun. Pria itu melayang mendekati Longwei yang bersiap dengan pedangnya."Apa kau buta, Longwei?! Para dewa hanya memanfaatkan orang-orang seperti kita untuk kepentingan mereka! Pada akhirnya nyawa yang kita miliki hanya alat untuk melanggengkan kekuasaan mereka!" ucap Geming seraya menatapnya tajam.Longwei bisa melihat dengan jelas mata merah pekat yang saat ini menatapnya tajam, itu bukanlah jiwa asli sang pemilik raga. Jiwa iblis sudah meresap pada Geming."Geming, sadarlah. Kau hanya bidak catur, kembalilah pada kami," ucap Longwei masih tidak menyerah."Bidak catur?! Lantas kau sendiri apa?! Kau tidak sadar teman-teman kita tewas sebab ambisi para dewa untuk mengenyahkan iblis?! Mereka bukan ingin membasmi iblis! Mereka hanya ingin kekuasaan mereka tidak tergoyahkan!"Geming meludah sebelum akhirnya menatap Longwei kembali, "Lebih baik mati daripada menjadi budak para dewa!"Sadar usahanya tidak membuahkan hasil, Longwei kembali ke barisan pasukannya seraya mengepalkan tangannya.Dalam ratusan tahun terakhir, pertempuran para dewa dan iblis telah berlangsung sengit. Para iblis yang sebelumnya terpenjara di dunia bawah entah kenapa bisa menerobos keluar dan membuat kekacauan di segala dimensi.Sebab itu, para dewa yang merupakan penjaga keseimbangan mau tak mau harus turun tangan untuk menahan gejolak pemberontakan yang dilakukan para iblis.Jika keseimbangan dimensi goyah, tidak hanya dunia kahyangan yang hancur, melainkan juga dunia manusia yang mereka naungi selama ribuan tahun lamanya.Ratusan pertempuran selalu terjadi. Namun, hasilnya selalu berupa kekalahan di pihak para dewa. Bahkan, banyak orang-orang kahyangan yang akhirnya membelot karena terpengaruh hasutan para iblis tersebut.Ya, salah satunya adalah Geming sendiri.Pikiran Longwei melayang jauh saat para dewa memerintahkan untuk membunuh Geming, sebab menurut mereka ia sudah tak bisa lagi diselamatkan.Tapi, walaupun Geming dirasuki jiwa iblis sekalipun, sosok yang ia hadapi tetaplah Geming yang ada dalam pikirannya, sahabat yang dulu selalu membantunya."Bagaimana, Longwei?" Qixuang, dewi yang juga diutus kahyangan untuk membantu Longwei menatapnya dengan sayu.Longwei hanya menggeleng sambil menatap pasukannya dan menganggukkan kepala.Melihat respon Longwei, Qixuang hanya bisa menutup mulutnya. Geming yang sekarang bukan lagi Geming yang mereka kenal.Perang tak dapat dihindarkan!Awan hitam semakin tebal. Longwei mulai bersiap, dia memberi instruksi untuk segera bersiap. Di saat bersamaan, kubu musuh juga melakukan hal yang sama dan pada akhirnya peperangan pun dimulai.Namun, baru saja kedua kubu akan bertempur, tiba-tiba terdengar suara menggelegar disertai guntur saling menyahut!"Kerja bagus, Geming! Hahaha, sisanya biarkan aku yang menghabisi kalian!" suara Raja iblis menggelegar.Longwei menarik tali kekang kudanya dan menginstruksikan pasukannya berhenti. Hal yang sama dilakukan oleh Geming saat suara itu muncul.Geming yang merasa di atas angin karena bantuan raja iblis, menatap Longwei dengan tawa, "Kali ini kerajaan para dewa akan habis!"Menyadari situasinya yang terpojok, Longwei hanya bisa meremas tali kekangnya.Tetapi sesuatu tiba-tiba terjadi, awan hitam tebal mengeluarkan ratusan tombak panjang yang mengarah ke arena pertempuran.Tak pelak, pasukan dari kedua kubu ini tiba-tiba banyak yang tewas tertancap tombak dari awan gelap itu."Raja Iblis! Apa yang kau lakukan?!"Geming, sambil menangkis hujaman tombak-tombak dari atas, berteriak lantang karena kecewa.Namun, teriakannya hanya disambut ratusan ombak lain yang turun dari langit!"Hahaha! Dasar para dewa naif! Adu Domba sederhana dan kalian pecah seperti gelas kaca yang rapuh!" terdengar tawa Raja Iblis.Geming tercekat, "Sial! Kita dijebak!"Sementara Longwei, di situasi mencekam itu, meminta pasukannya untuk beralih menjadi mode bertahan. Namun sayang, semuanya terlambat.Lesatan cepat tombak-tombak itu membunuh hampir seluruh pasukan dari kedua kubu.Crashh!Saat tengah berusaha bertahan dari hujan tombak itu, Longwei tercekat. Ia melihat Geming terkapar tertancap tombak. Mulutnya mengeluarkan darah segar."Geming! Sialan kau Raja Iblis!" Longwei yang mengamuk mengeluarkan jurus Naga Hitam, jurus paripurna yang dimilikinya.Namun, entah kenapa tubuhnya seperti tersegel tanpa bisa berubah wujud menjadi Naga Hitam."Hahaha! Semua percuma! Kemampuan kalian tak akan bisa keluar dalam medan pertempuran yang telah aku kutuk! Rasakan ini dewa bodoh!"Sebuah tombak dengan warna hitam legam di ujungnya mengarah ke Longwei dengan kecepatan suara!"Longwei! awas!"Crash!Darah segar menyiprat wajah Longwei yang tak bisa bergerak. Qixuang, dewi sekaligus kekasihnya di kahyangan, menjadikan tubuhnya tameng bagi Longwei!"Qixuang!"Longwei berteriak, namun sia-sia. Tubuhnya yang tiba-tiba tersegel benar-benar kaku. Ia menatap Qixuang yang sudah terkapar dengan tombak yang tertancap di dadanya.Dengan tangan yang bersimbah darah, Qixuang menyapu wajah tampan Longwei. Wanita yang sudah kehilangan banyak darah itu tersenyum tipis menatap pria tampan di hadapannya."Semua sudah berakhir, tugasku sudha selesai. Aku mohon, jangan sia-siakan pengorbananku ini. Hanya kau yang bisa menghentikan permainan ini," ucap Qixuang lirih."Qixuang... Maafkan aku..." Longwei hanya bisa memejamkan matanya. Tangannya mengepal sampai kuku-kuku jarinya menembus kulit."Kota Qing menantimu Longwei," ucap Qixuang sebelum menghembuskan napas terakhirnya."Apa!? Kota Qing, apa yang kau maksud. Qixuang ... bangun! Buka matamu!" teriak Longwei hancur."Sekarang giliranmu, Kesatria Dewa Naga Hitam!" Awan hitam mengeluarkan petir yang saling menyambar.Longwei menatap nyalang awan gelap jelmaan raja iblis itu. Lalu, ia berteriak lantang, "Aku akan balas dendam atas semuanya, Raja Iblis!"Namun, teriakan itu hanya dibalas gelak tawa, dan tepat saat itu sebuah tombak hitam mengarah ke arah Longwei, diiringi kilatan petir.Jleb!Tiba-tiba pandangan Longwei gelap, namun beberapa detik kemudian, belum sempat ia menyadari di mana tempatnya, sebuah suara merdu wanita menyentak kesadarannya."Kau sudah sadar?"Sebuah cahaya menyeruak masuk ke matanya, lalu sosok wanita yang sangat ia kenal tengah menatap wajahnya."Qi... Qixuang?""Selamat pagi tuan putri," ucap Ibnu saat aku membuka mata."Lho, kamu udah bangun, Nu? Emangnya ini jam berapa?" tanyaku yang masih berbaring di peraduan."Jam tujuh, kalau kamu masih ngantuk, lanjut tidur aja!""Apa?! Jam tujuh?" ucapku segera beranjak dari kasur. "Ko kamu nggak bangunin aku' sih, Nu? Aku kan jadi kesiangan. Ya ampun, bagaimana ini?" ucapku panik. Benar-benar memalukan, masa di hari pertama jadi menantu di rumah ini aku bangun kesiangan. Aduh, apa kata bu RT dan Pak RT. Apa yang harus aku katakan pada mereka."Kamu kenapa sih? Panik banget?" tanya Ibnu dengan santainya. "Ya jelas panik lah, Nu. Masa iya' aku sampai bangun siang gini, kita sampai gak sholat subuh,""Kita? Kamu aja kali. Aku sih' sholat subuh tadi, nih liat, aku udah ganteng kayak gini,""Terus, kenapa kamu gak bangunin aku? Kamu tega banget' sih, Nu!""Hehe, aku sengaja gak bangunin kamu. Habisnya aku gak tega bangunin istri yang lagi tidur nyenyak karena kelelahan habis bertempur semalaman," ucap
🍀 POV RimaTiga bulan setelah sidang perceraian pertama ku dan mas Ilham selesai, hari ini saatnya sidang yang terakhir. Sidang putusan yang aku tunggu-tunggu. Tak sabar rasanya ingin segera lepas dari ikatan ini. Ikatan yang membuat batinku tersiksa."Rim, kamu sudah siap?" ucap Ibnu saat namaku dipanggil oleh hakim. Lantas aku pun mengangguk mengiyakan, kemudian berjalan menuju kursi yang telah disediakan.Beberapa pertanyaan dilontarkan pria paruh baya di hadapanku ini. Beruntung, aku bisa menjawabnya tanpa kesulitan. Sidang berjalan dengan lancar, terlebih mas Ilham tidak hadir dalam persidangan, dan tidak ada tanggapan apapun darinya. Itu yang membuat sidang ini berjalan dengan cepat. "Dengan ini kami putuskan, saudari Rima binti Harsa telah resmi bercerai dengan saudara Ilham bin Marto, maka dengan ini' sidang kami tutup," ucap hakim di barengi dengan ketukan palu yang membuatku lega. "Alhamdulilah, ya Allah, akhirnya selesai juga urusan ku dengan mas Ilham. Setelah ini, aku s
Setelah pertemuan dengan si Ilham tadi, aku pun memutuskan untuk pulang ke kampung. Bisa gila aku jika lama-lama di kota. Apalagi kalau sampai bertemu dengan gadis itu, bisa darah tinggi aku dibuatnya.Bus yang aku tumpangi melaju meninggalkan Banten. Diperkirakan besok pagi aku sampai di kampung halamanku. Kring! Kring!Dering ponsel berbunyi membangunkan aku yang tengah tertidur."Ika? Ada apa dia meneleponku? Bukannya sudah kubilang aku akan tiba jam 7 pagi," gumamku dalam hati. Kemudian segera mengusap tombol hijau di layar."Halo Ibu', ibu dimana? Cepet pulang, Bu! Ika takut," ucap anak perempuan ku itu ketakutan."Ibu masih di bis, kamu kenapa' sih, Ka? Ko' panik banget?""Ika takut, Bu. Barusan ada tiga orang pria berbadan besar datang ke rumah kita. Mereka meminta uang dan mengobrak-abrik isi rumah," "Terus--sekarang mereka dimana?" tanyaku khawatir. Itu pasti para rentenir yang ingin menagih hutangnya si Ilham."Mereka udah pergi, Bu! Tapi mereka bilang, akan datang lagi ke
"Kenapa, Bu? Ibu takut?" tanyaku sedikit meledek. Sebenarnya apa yang aku katakan tentang penggorokan itu tidaklah benar, mana mungkin ada rentenir yang menggorok leher nasabah yang memiliki hutang padanya. Kalau seperti itu, sama saja rentenir itu membeli tiket ke penjara."I-ibu tidak takut! Untuk apa ibu takut sama ancaman kamu!" sahutnya dengan wajah panik."Inget ya' Rima. Ilham masih punya hak atas harta gono-gini yang kamu miliki! Pokoknya kamu harus mengembalikan semua uang yang selama ini Ilham berikan padamu!" Mendengar celotehan ibu, aku hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum, harta gono-gini dia bilang? Ck! Selama aku menikah dengan mas Ilham, dia sama sekali tidak memberi ku nafkah yang cukup. Bahkan, untuk uang makan sehari-hari saja masih di tanggung oleh almarhum ibu dan bapak dulu. Dan setelah aku jadi TKW, semua biaya kehidupannya aku yang menanggung. Dan sekarang dengan seenaknya ibu meminta hak atas harta gono-gini. Lucu sekali."Bukannya gaji mas Ilham






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak