LOGIN"Halo, Perawan Tua!" "Betah banget jadi perawan tua. Nggak ada niat untuk nikah, Bu Naima?" Bukan sekali dua kali Naima mendengar kalimat serupa dari Gala, jadi telinganya sudah cukup kebal meski tak jarang hatinya sedih. "Buruan nikah, Bu. Jangan terlalu pemilih. Ntar lama-lama 'itunya' berubah jadi asam kandis, lho. Hitam dan berkerut. Hahahaha." PLAK! Kesabaran Naima habis. Dia tidak bisa mentolerir lagi perkataan yang melecehkannya, walaupun kata-kata itu keluar dari mulut seorang Gala, lelaki yang sudah dia kenal cukup lama. Namun, takdir seolah mempermainkannya. Satu minggu kemudian Naima dikejutkan dengan kedatangan Gala yang ingin mempersunting dirinya sebagai istri. Naima ingin menolak, tetapi tak berdaya karena kedua orang tuanya sudah menerima lamaran itu dengan suka cita. Apa yang harus Naima lakukan? Apakah Gala benar-benar mencintainya? Atau adakah alasan lain yang membuat Gala tiba-tiba mengakui cintanya pada Naima?
View MoreAku keluar dari ruang HRD dengan wajah sumringah. Setelah menandatangani beberapa berkas perjanjian kerja yang harus aku tandatangani, aku keluar bersama salah satu staf bagian personalia untuk diantar ke ruangan divisi accounting. Yash! Setelah enam bulan menganggur dan bertahan hidup dengan gaji terakhirku di kantor lama, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan juga. Hari ini dan seterusnya aku jamin tidak akan makan tahu-tempe-telur setiap hari. Penderitaanku akan berakhir. Aku akan melunasi hutangku pada Sera, membayar sewa apartemen yang nunggak satu bulan dan rencana-rencana tertunda lainnya yang tidak bisa aku bayangkan dulu sewaktu masih menganggur.
Kami sampai di lantai tiga tempat divisi accounting berada beberapa menit kemudian. Aku diperkenalkan dengan salah satu karyawan di sana yang kuketahui bernama Puspita. Setelah bersalaman dan memperkenalkan diri dengan Mbak Puspita, staf bagian personalia yang mengantarku yang kuketahui bernama Fatma meninggalkan aku agar bisa segera bergabung untuk bekerja.
“Gue titip ya, Pit,” ucap Mbak Fatma pada Mbak Puspita.
“Titap-titip, lo kira paket COD-an.” Mereka berdua tertawa, begitu juga dengan aku.
Setelahnya, Mbak Puspita mengajakku untuk masuk ke ruangan divisi accounting. Ruangan itu terdiri dari kubikel-kubikel yang bersekat-sekat. Kubikel-kubikel yang ada, disusun secara bergerombol menjadi tim-tim dengan jumlah anggota berbeda-beda. Di sudut ruangan, ada satu ruang tersendiri yang pintunya terbuat dari kaca. Aku membaca papan yang tertempel di depan pintu. Ternyata itu ruang manajer divisi accounting, yang artinya adalah ruangan dari bos baruku nanti.
“Mulai sekarang meja ini jadi meja kerja lo.” Mbak Puspita mengantarku ke sebuah kubikel yang akan menjadi meja kerjaku
“Makasih, Mbak Puspita.” Aku tersenyum.
Mbak Puspita tertawa. “Panggil Pita aja. Oh iya, btw gue mau ke ruangan bos dulu, lo nunggu di sini aja. Nanti bos yang bakal jelasin tugas dan tanggung jawab lo di sini. Kalo mau, lo bisa liat-liat dulu, tapi jangan sampe ganggu yang lain.”
Aku mengangguk paham dengan ucapan Mbak Pita. Alih-alih berdiam diri menunggu Mbak Pita kembali, aku memilih untuk menyapa orang yang kubikelnya berada persis di sampingku.
“Halo, Mas. Kenalin saya Anggun.”
Pria itu menoleh, kemudian tersenyum ke arahku. “Gak perlu pake Mas. Kayaknya kita seumuran, deh. Panggil aja Reno.”
Aku tersenyum canggung dan mengangguk menyetujui ucapannya. “Oke, Reno.”
“Halo, Mbak. Kenalin juga aku Rachel.” Perempuan yang kubikelnya berada tepat di depan Reno ikut menyapa.
“Salam kenal Mbak Rachel. Kenalin saya Anggun.”
Rachel mengibaskan tangannya. “Aduh, jangan panggil Mbak, aku juga anak baru di sini.”
Aku tidak terlalu terkejut dengan pengakuan yang dibeberkan Rachel. Dilihat dari wajahnya, perempuan itu memang terlihat masih muda. Mungkin saja umurnya tak jauh berbeda dengan umurku, atau bisa jadi malah lebih muda dariku.
Kami mengobrol sebentar sambil menunggu Mbak Pita kembali. Reno dan Rachel sempat menanyakan di mana aku bekerja sebelum ini. Aku menyebutkan kantor tempatku bekerja dulu dan menceritakan sedikit pengalaman kerja di kantor lamaku. Dari percakapan itu, kuketahui kalau Reno sudah bekerja di perusahaan ini selama kurang lebih tiga tahun sejak pria itu lulus kuliah sedangkan Rachel ternyata fresh graduate yang baru bergabung enam bulan lalu. Percapakan kami terhenti begitu Mbak Pita keluar dari ruangan Pak Bos dan berjalan menghampiriku. Dia menyapa Reno dan Rachel kemudian mengajakku untuk pergi menemui pak bos di ruangannya.
“Yuk, gue anter ke ruangan bos. Gue duluan ya, guys.” Mbak Pita melambai kepada Reno dan Rachel, sedangkan aku mengekorinya menuju ruangan bos. Dalam perjalanan menuju ruangan pak bos, aku gelisah bukan main. Entah mengapa jantungku tiba-tiba berdetak lebih kencang hanya memikirkan bahwa aku akan bertemu dengan bosku. Aku membayangkan bagaimana sosok bosku nanti. Bagaimana first impression-nya terhadapku. Aku berubah jadi seperti fresh graduate yang baru memulai pekerjaan pertamanya.
Seakan mengerti kegelisahaanku, Mbak Pita berucap menenangkan. “Selow aja, Nggun, Bos orangnya baik, kok. Cuma agak serem aja kalo nagih deadline. Tapi semua Bos, kan, emang nyebelin kalo lagi nagih deadline. Apalagi kalo lagi closing. Iya, kan?”
Aku mengangguk, membenarkan perkataan Mbak Pita. Itu memang tugas seorang bos untuk memaki-maki bawahannya ketika kita tidak bisa mencapai target atau belum menyelesaikan pekerjaannya sampai deadline yang ditentukan. Aku hanya perlu menghindari dua hal itu agar tidak kena ocehan panjang lebarnya, kan?
Nyatanya semua itu tak berlaku bagiku saat ini. Bullshit jika aku mengatakan akan terhindar dari omelan si bos jika menghindari dua hal yang sudah kusebutkan tadi, karena situasinya berbeda jika ternyata orang yang menjadi bosku adalah MANTANKU LIMA TAHUN LALU. Oh, jangan lupakan kenyataan bahwa kami berpisah karena aku yang mencampakkannya. See? Apakah aku akan aman jika kenyataan yang kuhadapi seberat ini? Jika ini adalah drama korea, penonton pasti akan mem-play back adegan saat di mana mataku dan mata bos bertemu saat pertama kali. Aku melotot saking terkejutnya ketika melihat mantanku duduk di kursi kebesarannya. Really? Ini bukan mimpi, kan? Baru pertama kali bekerja, aku sudah mendapatkan cobaan seberat ini. Ya Tuhan!
“Permisi Pak, ini karyawan divisi accounting yang baru. Namanya Anggun, dia orang yang akan menggantikan tugas Andre sementara sampai Andre selesai cuti.” Mbak Pita memperkenalkanku pada pak bos.
Aku sudah ketar-ketir ketika mata itu menatap ke arahku. Namun, tak kulihat reaksi berlebihan seperti apa yang ada dibayanganku di balik bola mata hitam legamnya. Justru yang kudapati adalah tatapan dan ekspresi yang datar menatapku.
“Duduk.” Pria itu menyuruhku untuk duduk yang kuturuti dengan segera. Setelahnya Mbak Pita izin keluar dan membiarkan kami berada dalam ruangan itu hanya berdua saja.
Pak bos berdeham kemudian mulai bertanya. “Nama kamu siapa?”
“Perkenalkan saya Anggun, Pak. Mohon bantuannya.” Walaupun sedikit heran, tetapi aku tetap menjawab pertanyaannya. Apa dia tidak mengenaliku? Atau aku salah orang?
Setelahnya, pria itu malah sibuk mengetikkan sesuatu di keyboard-nya dan mengabaikan. Sambil menyelam minum air, aku mencari-cari sesuatu yang bisa menguatkan dugaanku soal pria yang ada di depanku. Ketika melihat papan nama yang tergeletak di kabinet belakang kursinya aku membaca nama Mahesa Bagaswara tertulis di sana. Jadi dia benar Mahesa mantanku lima tahun lalu yang aku campakkan? Kenapa dia tidak mengenaliku.
“Maaf, maaf. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan dulu tadi. Oh iya, nama kamu siapa tadi?”
“Nama saya Anggun, Pak. Anggun Prasesti,” ulangku, menyebut nama lengkapku.
Pria di depanku mengangguk-angguk kemudian matanya kembali bertemu dengan mataku. “Oke, Anggun, perkenalkan saya Mahesa, manajer divisi accounting. Nantinya kamu bakal bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaanmu kepada saya. Jadi pertama-tama saya mau jelasin dulu, kalau di divisi accounting ini ada tiga sub bagian. Pertama ada bagian akuntansi, yang kedua bagian pajak, dan yang ketiga bagian cost. Jadi tugas kamu sekarang menggantikan tugas Andre yang sekarang lagi cuti.”
“Baik, Pak.”
“Sebelum ini kamu kerja di mana?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menyebutkan perusahaan tempatku bekerja dulu yang direspon dengan anggukan olehnya.
“Saya cuma berharap kalau kamu bisa bekerja dengan baik di kantor ini. Karena saya bukan tipikal orang yang mau bekerja dengan orang yang tidak becus dalam bekerja.”
Aku begitu tertohok mendengar perkataannya, tetapi tidak tersinggung. Yang dikatakan Pak Mahesa memang benar. Siapa pula yang ingin bekerja dengan orang yang tidak becus dalam menyelesaikan pekerjaan? Bukannya selesai malah pekerjaan akan bertambah lebih banyak.
Pak Mahesa berjalan ke arah meja yang berada di seberangnya, kemudian mengambil tumpukkan dokumen faktur dan menyerahkan kepadaku. “Ini dokumen-dokumen yang harus kamu kerjakan. Tolong jurnal dan kirim ke saya siang ini. Bisa?”
Aku mengangguk. “Baik, Pak.”
“Ada yang mau kamu tanyakan?”
Aku menggeleng. Sudah paham dengan apa yang diinstrusikan kepadaku. “Untuk saat ini belum, Pak.”
“Oke. Kalau gak ada yang mau kamu tanyakan. Kamu boleh kembali ke meja kamu.”
Aku permisi pamit keluar dari ruangannya. Walaupun merasa lega karena mungkin saja Pak Mahesa tidak mengenaliku, entah kenapa di sisi lain aku juga merasa kecewa. Egoku tersentil mengetahui bahwa hanya aku yang masih mengingat pria itu, tidak sebaliknya. Dimana-mana kan, orang yang dicampakkan lebih mengingat wajah orang yang mencampakkannya. Ini kenapa terbalik, sih?
Aku memutuskan untuk kembali ke meja kerjaku dan mulai mengerjakan apa yang diperintahkan Pak Mahesa.
“Gimana, Nggun? Bos orangnya baik, kan?” Mbak Pita bertanya padaku sekembalinya aku dari ruangan Pak Bos.
“Euummm, belum tahu sih, Mbak. Kan, baru ketemu sekali.”
“Pak Mahesa itu bos paling baik yang pernah gue temuin. Lo beruntung dapetin bos kayak dia. Cuma ya gitu, kalo lagi closingan, si bos berubah jadi ada serem-seremnya dikit. Tapi, wajar kan, namanya juga diteken deadline, pasti semua bos juga bakal lebih tegas sama anak buahnya.” Aku mendengarkan saja apa kata Reno. Semoga apa yang dikatakan Reno benar. Asalkan Pak Mahesa tidak pernah mengenaliku pasti kehidupanku di kantor akan sempurna.
Yah, semoga saja Pak Mahesa tidak akan pernah mengenali siapa diriku sebenarnya. Semoga.
***
Bentakan diiringi tatapan nyalang menyambut kedatangan Naima di rumah masa kecilnya itu. Asmita berkacak pinggang, menghalangi langkah Naima yang hendak memasuki rumah."Ma, bisa izinkan aku masuk dulu? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama dan juga Papa."Asmita menggeleng. "Mahesa sedang ke luar kota. Sebentar lagi saya juga harus pergi arisan."Naima melirik penunjuk waktu yang ada di layar ponselnya, tertera angka 17.15 di sana. Arisan apa yang diadakan sore menjelang malam? Naima menghela napas panjang, dia tahu Asmita berbohong karena tidak ingin dirinya berlama-lama di rumah itu."Hanya sebentar, Ma."Asmita berdecak kesal. "Sebenarnya kamu itu mau bicarain apa sih? Harus sekarang juga? Merepotkan!" Dia masuk, lalu duduk di kursi tamu. "Buruan sini, ngapain buang-buang waktu dengan bengong di situ?"Mengabaikan sikap jutek ibu angkatnya itu, Naima pun menyusul masuk, lalu duduk berhadapan dengan Asmita."Begini, Ma. Aku cuma mau kasih tau kalau mulai hari ini aku keluar dari
"Aku paling benci dengan orang yang menggunakan kekerasan, apalagi jika itu dilakukan di perusahaan ku!" Sena menatap tajam pada Gala yang wajahnya seketika memucat. Bagaimana Gala tak akan pucat jika dirinya tertangkap basah oleh sang direktur perusahaan tempat ia mencari nafkah. Gala jadi khawatir dengan apa yang Sena pikirkan tentang dirinya. Susah payah dia membangun citra positif sebagai karyawan baik selama ini, bisa hancur jika Sena sampai berpikir dirinya adalah pria bar-bar yang melakukan kekerasan pada perempuan."I-ini ti-tidak seperti yang Bapak pikirkan kok, Pak," jawab Gala dengan suara terbata. "Saya hanya sedang berusaha untuk ... mendisiplinkan istri saya." Sena menatap Naima, beberapa saat mengernyitkan kening karena merasa mengenali Naima. 'Oh, iya. Dia karyawan toko Mama yang waktu itu,' gumam Sena di dalam hati. Jawaban Gala membuat Sena ingin segera menarik diri, tetapi ia kembali teringat pada momen di saat mobilnya menyenggol Naima waktu itu. Bagaimana lusuh
"Mas Gala!"Gala yang sedang terlena dengan permainan lidah itu pun spontan melepaskan pagutannya. Raut wajahnya berubah saat melihat Naima berdiri hanya terpaut beberapa langkah darinya."Ngapain kamu di sini?" sergah Gala penuh amarah."Siapa wanita ini, Sayang?" tanya Sandra sambil bergelayut manja di lengan Gala."Bukan siapa-siapa. Kamu tunggu di mobil, ya, biar aku bicara dulu dengannya." Suara Gala terdengar sangat lembut di telinga Naima. Naima menggigit bibir, hatinya perih melihat perbedaan sikap Gala terhadap wanita yang Naima yakini merupakan pacar sang suami. Tanpa sadar Naima keterusan memandangi Sandra yang berjalan menjauh, sehingga ia terkejut sekali ketika tiba-tiba Gala menarik tangannya, menyeret Naima menjauh."Cepat katakan ... kenapa kamu sampai berada di sini?" tanya Gala dengan mata membesar."Aku ada urusan pekerjaan di sini. Mumpung masih jam makan siang, aku mau mengajak kamu makan bareng, eh ... nggak tahunya kamu udah kenyang makan yang lain," sindir Nai
Pukul lima pagi, alarm ponsel Naima berdering. Ia segera mematikan alarm itu agar Gala tidak terganggu. Beringsut turun dari ranjang, Naima pun memulai rutinitasnya seperti biasa."Kamu mau bikin apa, Nai?" tanya Madina saat melihat Naima membuka kulkas."Nasi goreng, Mbak."Madina berdecak kecewa. Reaksinya selalu begitu setiap kali Naima memasak nasi goreng dan mie goreng. Katanya terlalu berminyak, ia lebih suka makan sandwich atau roti dengan selai kacang."Emangnya nggak ada roti?""Roti habis, Mbak. Saya lupa beli kemarin."Madina mendengus kesal. "Tugas kamu itu cuma belanja lho, Nai! Bukannya mencari uang. Tugas sepele aja nggak bisa. Nggak becus amat sih jadi orang."Naima menghela napas panjang, tetapi tidak membalas perkataan Madina. Wanita itu selalu punya perbendaharaan kata yang banyak untuk memojokkan dirinya. "Ada apa sih, ribut-ribut?" Gilang ke luar dari kamar, langsung duduk di samping istrinya."Ini, Mas. Naima. Dia udah tahu aku nggak suka makanan yang berminyak
"Nama suaminya?"Maharani mengangguk. "Iya. Mama merasa cukup familiar dengan nama lelaki itu, tetapi bisa-bisanya lupa."Sena menghela napas sambil tertawa kecil. "Mending besok Mama tanya sama Naima langsung, dari pada repot-repot begini."."Ih, buat apaaaa? Naima pasti bingung kalau Mama sampai nany
Naima menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, setelah itu pergi ke toko Qishan Furniture. Tidak ingin menarik perhatian, sesampai di toko ia langsung menghubungi Maharani. Maharani yang memahami situasi Naima, menunjuk asistennya untuk menjemput Naima di showroom, langsung membawa Naima ke ruangan
Pernikahan mereka memang tidak dilandasi cinta. Gala sendiri tidak memperlakukan Naima dengan baik, sebagaimana perlakuan suami pada umumnya. Akan tetapi, ketika mendengar Naima dilecehkan oleh saudara kandungnya sendiri, hatinya turut merasa sakit. Harga dirinya sebagai lelaki sangat terusik."Kuran
"Malam ini juga, di depan kedua orang tuamu dan keluargaku ...." Gala menjeda kalimatnya beberapa saat.'Kamu aku talak!'Ingin sekali Gala mengatakan itu di depan wajah Naima, tetapi sebuah ide tiba-tiba terbersit di kepalanya. Sebuah ide yang ia yakini akan menguntungkan dirinya dan juga keluarganya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore