MasukJessica mau tak mau ikut duduk karena sungguh aneh kalau dia berdiri sendirian.
“Ke-kenal, dulu pernah bertemu,” jawab Adrian sambil terbatuk kecil dan mengalihkan perhatiannya dari Jessica ke piringnya. Miranda mengangkat bahunya lalu menatap Jessica dengan tatapan merendahkan.
“Kami sedang survey lokasi, dan Miranda m
Ryan sedang duduk dan makan chips di meja dokter saat Jessica datang. Pria itu tersenyum lebar melihat kedatangan Jessica. Sejak kejadian waktu itu, Jessica dan Louise tidak pernah meremehkan Ryan lagi. Bahkan sekarang pria itu seakan ketua dari mereka dibandingkan Joe.“Torakosentesis-nya Ben sudah dilakukan,” ucapnya seakan laporan. Ben memiliki riwayat yang sama seperti Nico pasien Jessica, sehingga Jessica menjadi lebih nyaman mengawasinya.“Oh, baguslah,” jawab Jessica sambil menaruh tasnya.“Dapat 20ml doang tapi,” ucap Ryan sambil kembali mengambil chips dan memasukkannya ke dalam mulut.“Yah dia baru 3 tahun.” Jessica mengingat-ingat kasus Nico di dalam k
Jason segera mendekati Miranda. Dia sudah menemani Miranda untuk mempersiapkan syuting hari ini. Jadi dia tahu wanita itu bisa mengamuk kalau tiba- tiba syuting dibatalkan. Miranda juga sudah sengaja memundurkan jadwal syuting iklannya, agar hari ini bisa syuting film.“Ada kesalahan dalam script yang harus diperiksa, pengambilan gambar yang kemarin- kemarin juga harus di cek, untung aja Dokter Jessica di sini, mau kasih tau aku, makasi ya dok!” ucap Bob sambil menepuk pundak Jessica dengan hangat.Miranda menatap Jessica dengan tatapan jijik. “Wanita ini lagi, kenapa sih semua cowok tergila-gila sama dia!” pikir Miranda dengan kesal. Dia menatap Jason dengan penuh arti agar pria itu memihaknya.
Dulu, Jessica berpikir membuat film adalah seperti jalannya cerita, tapi ternyata sepotong demi sepotong sesuai dengan ketersediaan aktor dan lingkungannya. Jadi walau mengawasi film, Jessica tidak bisa mendapati kisah utuh dari film tersebut. Jadi seperti syuting hari ini, tiba- tiba saja Adrian menangisi salah satu aktor muda, sepertinya sih anak muda itu ternyata sakit parah, dan Adrian gagal menyembuhkannya, Jessica tidak tahu pasti karena dia enggan bertanya. Cuma ada yang aneh, kalau sudah meninggal tak akan bisa lagi pakai alat kejut, Jessica mengerutkan keningnya karena merasa kewajibannya untuk memberitahu. “Maaf, menggunakan alat pacu kejut saat monitor jantung menunjukkan garis datar (asistol). Padahal kejut listrik hanya untuk irama jantung tertentu seperti ventrikel fibrilasi,” ucap Jessica sambil mendekati sutradara yang sedang mengawasi Adrian.“Eh…” Pria itu menoleh dan memperhatikan Jessica dengan tatapan tengganggu. “Siapa dia?” tanya Robert Vlack dengan kasar
Sesuai dengan perjanjian. Syuting dimulai pada jam 8 pagi dan berakhir di jam 6 sore, kecuali harus ada syuting waktu gelap. Hari ini semua berjalan lancar dan Jessica bisa pulang saat syuting selesai. Rasanya aneh karena langit masih cerah saat Jessica masuk ke dalam komplek apartemen.Jessica menatap apartemen yang sudah diisi ulang oleh Adrian kembali. Semuanya baru dan hangat bercirikan Adrian, tapi terasa kosong karena memang Adriannya yang membuat suasana hangat.Jessica mendesah pelan sambil mengusap sofa putih barunya. Karena Jessica tak menuntut kepolisian tak banyak bertanya, apalagi karena Jessica yang mengatakan kalau semua itu kelalaiannya.Jessica malah mendapatkan bukti pembayaran denda karena pemadam otomatis yang menghancurkan properti apartemen.
Jessica mau tak mau ikut duduk karena sungguh aneh kalau dia berdiri sendirian.“Ke-kenal, dulu pernah bertemu,” jawab Adrian sambil terbatuk kecil dan mengalihkan perhatiannya dari Jessica ke piringnya. Miranda mengangkat bahunya lalu menatap Jessica dengan tatapan merendahkan.“Kami sedang survey lokasi, dan Miranda merasa lapar, dan jadi…” Adrian tak menyelesaikan ucapannya dan menyendok saladnya.“Iya dong, sebagai aktris yang sibuk, sarapan adalah salah satu nutrisi terpenting dalam satu hari, aku tadi nggak sempat sarapan soalnya ada syuting iklan pagi,” ucap Miranda menyombong. Dia adalah wanita pintar yang bisa memanfaatkan situasi canggung ini untuk promosi. Dia menggenggam botol sisipan iklan dengan senang.
Jessica melirik ke arah sahabatnya.“Ugh… itu,-” Tenggorokan Louise tercekat lalu wanita itu menunduk kalah.“Maaf, itu memang salah saya,” erangnya dengan penuh penyesalan.“Tapi mereka salah juga Dok, saya kan memang ditunjuk dari pusat. Saya difitnah, jadi Louise hanya mengatakan kenyataannya.” Jessica segera membela sahabatnya.“Saya cuma tanya, bukan menuduh atau mau membela, saya mau kejadiannya gimana?” tanya Dokter Poppy sambil menatap mereka berdua. Louise mendesah pelan.“Dari awalnya Dokter Rita dan Dokter Cassey saling bergosip, mereka mengatakan kalau Jessica menggunakan koneksi untuk
Jessica segera menarik tangannya dan Adrian tertawa.“Latihan, kita harus ada skinship dikit,” kekeh pria itu sambil menepis poninya. Pria itu kembali mendengus geli saat Jessica mencibir."Dia artis pendatang baru, aku sih curiga emang semua ini agensinya yang atur, jadi dia numpang popularitasku,
"Pacar Adrian?" tanya Jessica bingung sambil menatap Adrian. "Kenapa, apakah harus...?" tanya dokter itu lagi kali ini sambil menggeleng, hati Adrian sedikit kesal karena Jessica menolak. "Sepertinya dalam kasus seperti ini, pers tidak akan melepaskan Anda sampai ada kejelasan antara hubungan and
Jessica mengikat rambut panjangnya menjadi satu lalu berlari keluar dari lobi apartemen. Sudah menjadi jadwalnya tiap pagi untuk berlari sekeliling halaman apartemen, namun baru pintu apartemen terbuka, rombongan wartawan langsung mengelilinginya. "Bagaimana tanggapan anda terhadap tuduhan Miranda
"Mobilmu yang mana?" tanya Adrian sambil memakai ulang kaca mata hitam, masker dan topi. Karena memang dia sangat tampan dan tinggi, Jessica sempat terdiam terpesona."Itu!" jawab Jessica setelah menggigit bibirnya agar dia sadar diri lalu membuka kunci pintu mobil, namun terkejut saat Adrian menuj







