FAZER LOGINAgra dan Doni sama-sama meragukan apa yang sudah mereka dengar.Setelah menyadari apa yang telah terjadi, mereka berdua masih sulit untuk percaya.Namun, reaksi Richard tidak tampak seperti bercanda.Lagipula, dengan kepribadian Richard, mereka tahu dia bukan tipe orang yang suka bercanda seperti itu.Agra menelan ludah dan berkata, "Jadi, kau ...."Orang itu sudah menikah! Apa yang bisa dia lakukan? Apakah … dia akan benar-benar menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang lain?Meskipun dia merasa bahwa dengan kualitas yang dimiliki Richard, sangat mudah baginya untuk merebut istri orang lain jika dia mau, tetapi ....Richard berkata, "Dia akan segera bercerai." Melihat reaksi mereka, khawatir kalau mereka akan salah paham, dia lalu segera menambahkan, "Mereka memang sudah dalam proses perceraian."Agra dan Doni tentu saja memercayai penjelasan Richard, akhirnya mereka menghela napas lega.Setelah perasaannya lebih santai, Agra mulai bergosip lagi, "Siapa dia?" Dia belum pernah melih
Setelah menyapa mereka dengan sopan, Edward masuk ke mobilnya dan pergi.Melihat mobilnya menghilang di kejauhan, Agra akhirnya tersadar dari lamunannya, dia menatap Doni dengan ekspresi kaget sekaligus antusias. "Jadi, Edward selingkuh sama Clara … Astaga, ini baru yang namanya berita!"Doni tidak berkata apa-apa.Dia sudah lama tidak melihat Edward dan Clara berinteraksi secara pribadi.Dia sempat mengira perselingkuhan mereka sudah berakhir, tetapi ternyata ....Doni pun berbalik dan masuk ke mobilnya, wajahnya tampak muram.Agra segera menyusul. Baru pada saat itulah dia menyadari bahwa Doni tidak tampak terkejut seperti dirinya mengenai kedekatan Edward dan Clara.Dia langsung bereaksi, "Sial, jangan-jangan kau sudah tahu soal ini ya?"Doni tetap tidak berkata apa-apa.Agra masuk ke mobil dan bertanya, "Dari kapan? Urusan seheboh ini, kenapa nggak cerita, malah diam saja?"Wajah Doni sangat muram, dia masih tidak mengatakan apa pun. Agra bahkan belum duduk dengan benar, dia sudah
Setelah pertemuan terakhir Edward dan Vanessa, mereka awalnya mengira akan mudah bagi Vanessa untuk merebut kembali hati Edward. Namun, kenyataan membuktikan sebaliknya. Empat atau lima hari telah berlalu sejak makan bersama mereka, dan Edward masih belum ada inisiatif untuk menghubungi Vanessa.Bahkan ketika Vanessa pergi ke Anggasta Group untuk mencari Edward, dia selalu gagal menemuinya.Mereka tidak percaya pada alasan bahwa Edward terlalu sibuk.Bahkan, orang yang paling sibuk pun, pasti tetap punya waktu untuk makan dan minum.Jika seseorang memang peduli pada pasangannya, dia akan mengirim beberapa pesan untuk saling berbagi kabar pada saat makan atau bahkan saat sedang rapat sekalipun.Oleh karena itu, dengan fakta Edward yang sudah tidak ada inisatif dan Vanessa yang berulang kali gagal untuk menemuinya, membuat mereka menyadari secara tersirat bahwa Edward memang sengaja menghindari Vanessa.Tetapi mereka tidak menyangka bahwa Edward bukan hanya menghindari Vanessa, namun sek
Langkah kaki Clara terhenti sejenak.Elsa mendongak, melihat ibunya yang tiba-tiba berhenti. "Ma?"Mereka hanya menemani Elsa jalan-jalan dan bermain, karena Edward merasa tidak masalah, maka dia pun tentu tak masalah.Clara tidak mengatakan apa-apa lagi.Clara datang dengan mengendarai mobilnya sendiri. Saat keluar dan hendak masuk ke mobilnya, dia mendengar Edward berkata, "Biar aku saja yang menyetir."Sebelum Clara sempat merespon, Edward sudah berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu sisi pengemudi.Clara tertegun.Namun, melihat Elsa tampak begitu senang hati masuk ke mobil, dia tidak mengatakan apa pun.Elsa ingin berbelanja, jadi mereka pergi ke pusat perbelanjaan.Meskipun mereka bertiga akhir-akhir ini sudah lebih sering pergi bersama demi menemani Elsa.Namun sebelumnya, mereka kebanyakan pergi ke vila atau resor pribadi, hanya sesekali makan di restoran yang ramai.Itu adalah pertama kalinya dalam dua tahun terakhir mereka datang bersama ke pusat perbelanjaan yang ramai s
Meskipun Rio tidak mengatakan apa pun, Vanessa dapat mengetahui dari ekspresinya bahwa Edward pasti telah melakukan sesuatu yang tidak dia ketahui demi Clara.Vanessa tidak terkejut.Dia bahkan sudah menyiapkan diri secara mental.Namun, hatinya tidak setenang yang dia bayangkan sebelumnya.Meskipun begitu, dia tidak mengungkapkan perasaan sebenarnya, senyumnya tetap mengembang, dia lalu berkata kepada Rio, "Aku mengerti, terima kasih sudah mengingatkanku."Rio terdiam menatap senyumnya.Vanessa tidak mengatakan apa pun lagi, dia berbalik dan pergi....Dalam sekejap mata, hari Minggu pun tiba.Sejak Nenek Hermosa sakit serius terakhir kali, Nenek Anggasta sangat perhatian dengan kondisi tubuh neneknya, dan telah mengirimkan banyak hadiah berharga kepadanya.Pagi itu, makanan khas lokal yang dikirim oleh kerabat dan kenalan Nenek Hermosa di Kota Lagan telah tiba. Melihat Clara sedang senggang, Nenek Hermosa memintanya untuk mengantarkan sebagian kepada Nenek Anggasta.Clara tiba di rum
Dylan terkejut. Mereka memang sudah janjian sebelumnya, tetapi sekarang orang yang datang ke Morti Group sudah berganti Edward. Tentu saja, dia pasti akan berubah pikiran, bukan?Dylan terkekeh dan berkata, "Ada urusan mendadak. Mohon maaf, Pak Edward."Edward juga tersenyum, tetapi tidak mendesak lebih lanjut tentang makan siang itu. Dia lalu berdiri dan berkata, "Baik, kalau gitu, lain kali saja."Setelah berjabat tangan dengan Dylan, dia mengulurkan tangannya kepada Clara.Clara terdiam sejenak sebelum menjabat tangannya, lalu berkata dengan tenang, "Hati-hati di jalan."Edward mengangguk, melirik Gery, lalu meninggalkan Morti Group bersama Rio.Selama dua hari berikutnya, Clara pergi ke kantor Anggasta Group karena kerja sama mereka, dia ditemani oleh Gery.Selama dua hari itu pula, Edward akan duduk di ruang rapat mereka setiap pagi untuk mendengarkan.Namun, dia jarang tinggal lama, biasanya pergi setelah sekitar setengah jam.Sekarang, Pak Yovi dan beberapa orang lainnya pada d







