LOGIN"Naya, dengarkan aku baik-baik. Kamu sangat bersyukur karena aku telah menyelamatkan nyawa ayahmu dari kematian, bukan? Kamu tentu masih ingat dengan sangat jelas siapa pahlawan yang mau mengeluarkan uang ratusan juta demi operasi jantungnya setahun yang lalu, ya kan?"
Naya sedikit bingung dengan arah pembicaraan Dewa, tapi segera menjawab dengan lembut. "Tentu saja aku selalu mengingatnya. Aku sangat berterima kasih padamu atas semua itu. Aku berhutang nyawa ayahku padamu. Tapi... kenapa kamu tiba-tiba mengungkit hal masa lalu ini di saat seperti ini?" "Nggak kok, Sayang. Aku cuma lagi ingin mengingatkan ingatanmu kalau nggak ada kebaikan yang gratis di dunia ini. Dan sekarang... aku butuh kamu membalas budi besar itu padaku." "Membalas budi? Dengan cara apa, Dewa? Aku selalu setia menuruti semua keinginanmu tanpa pernah membantah. Katakan saja apa yang harus kulakukan untukmu sekarang," jawab Naya, sedikit kebingungan dengan nada bicara Dewa yang berputar-putar, beda dengan Dewa yang biasanya. Dewa menghentikan langkahnya tepat di hadapan Naya, dia mengulurkan tangan, membelai pipi istrinya yang mulus tanpa memar berkat riasan tebal, lalu tersenyum semakin lebar. "Bagus sekali. Aku memang sangat menyukai istri yang penurut kayak kamu, Naya. Nah, Sayang, kamu mau melakukan apa saja demi kelangsungan pernikahan kita, kan?" "M-maksudnya gimana, kamu nggak lagi nyuruh aku melakukan hal hal kriminal, kan?" Naya bertanya dengan waspada, setahun menikah dengan Dewa, Naya paham betul, pria ini kadang melakukan sesuatu seenaknya sendiri tak peduli dengan aturan hukum atau apapun. "Sayang, kamu mau melakukan apa saja demi kelangsungan pernikahan kita, kan?" Bukanya menjawab pertanyaan Naya, Dewa malah mengulangi pertanyaan yang sama, suaranya terdengar begitu tenang, sangat kontras dengan kilat gila di matanya. Naya menatap suaminya dengan dahi berkerut tajam. "Apa maksudmu, Dewa? Jangan berputar-putar. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" "Sederhana aja kok, Naya Sayang." Dewa melangkah mendekat, berbisik tepat di depan wajah Naya. "Aku mau malam ini juga, kamu harus menyelinap ke kamar Rekha. Kamu harus tidur dengannya, Naya. Rayu dia, lakukan apa pun yang kamu bisa, dan pastikan kamu hamil benihnya." "A-apa kamu bilang, Mas?" Mendengar ide gila suaminya, Naya hanya mematung. Matanya melebar sempurna seolah baru saja disiram air es di tengah badai salju. Udara di sekitarnya mendadak terasa lenyap. "Kamu... kamu udah gila, Mas?!" teriak Naya, suaranya pecah seketika. "Apa kamu sadar dengan apa yang baru saja kamu katakan, Dewa?!" Saking marahnya, Naya sampai memanggil nama suaminya tanpa embel-embel 'mas', sedangkan Dewa malah tampak santai santai saja, tak merasa bersalah sama sekali. "Aku sadar banget apa yang aku ucapkan, Naya. Ini satu-satunya jalan keluar yang paling logis. Kamu tidur sama Rekha, hamil anak dia, dan aku yang bakal mengakui anak itu sebagai anakku," jawabnya, yang membuat Naya tentu saja semakin marah. "Nggak masuk akal, aku nggak mau, Mas!" "Kamu nggak mau? Nggak ada jalan keluar lain, Naya! Ini satu-satunya cara!" balas Dewa, nada bicaranya mulai meninggi. "Jalan keluar?! Sadar nggak sih, kamu ini sedang memintaku melacurkan diri pada adik tirimu sendiri?! Di rumah ini lho, Mas?!" Naya melangkah mundur, menatap Dewa dengan rasa jijik yang tak bisa disembunyikan. Tubuhnya bergetar hebat. "Kamu benar-benar sudah kehilangan kewarasanmu, Mas!" "Jaga bicaramu, Naya! Kamu pikir aku suka melakukan ini?! Kamu pikir aku rela membiarkan tubuh istriku disentuh pria lain?!" Dewa menunjuk wajah Naya dengan telunjuknya yang gemetar karena marah. "Rekha itu masih satu darah sama aku! Anak yang akan kamu kandung nanti akan memiliki DNA keluarga ini, jadi ibu nggak akan curiga! Begitu bayi itu lahir, kita akan mengklaimnya sebagai anak kandung kita berdua, dan posisiku sebagai pewaris akan aman!" Meski Dewa membentak Naya dengan nada tinggi, kali ini Naya tidak patuh atau mundur, dia justru menggeleng keras. "Itu menjijikkan! Rencanamu sangat kotor dan menjijikkan, Dewa! Aku nggak akan pernah mau melakukannya! Aku bukan pelacur, Mas!" jerit Naya dengan air mata yang mulai membobol pertahanannya. Dewa merangsek maju, mengguncang badan Naya dengan keras, "Kamu harus mau! Kamu tidak punya pilihan lain selain patuh sama aku, Naya!" "Tentu saja aku punya pilihan! Aku memilih untuk mempertahankan harga diriku! Aku istrimu, Dewa, bukan barang yang bisa kau oper ke ranjang pria lain hanya demi menyelamatkan posisimu sebagai pewaris!" balas Naya, menyingkirkan tangan Dewa dari lengannya. Dewa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Naya, lalu berkata dengan sinis. "Apa?! Harga diri?! Kau bicara soal harga diri padaku?!" Dewa terus tertawa, tawanya menggema memenuhi kamar yang terkunci rapat itu. "Sejak kapan seorang pengemis kayak kamu punya harga diri, hah?! Jangan lupa, kamu sudah kubeli, Naya! Aku sudah membeli hidupmu beserta nyawa ayahmu yang penyakitan itu!" "Jangan bawa-bawa ayahku dalam kebusukanmu ini, Mas! "Oh, tentu saja aku harus membawanya! Karena kalau bukan karena uangku, ayahmu sudah membusuk di dalam tanah setahun yang lalu!" balas Dewa dengan ekspresi jumawa. "Pokoknya... lebih baik aku mati daripada harus mengandung anak dari pria yang bukan suamiku!" isak Naya, dadanya naik turun dengan cepat. "Aku menolak, Dewa! Sampai kapan pun aku nggak akan pernah sudi tidur dengan Rekha!" "Berani kamu membantahku, Naya?!" "Kalau kau memaksaku..." Naya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, mendongak menatap suaminya dengan penuh kebencian. "Aku akan berteriak! Aku akan memberitahu Ibu, Kak Karina, dan seluruh dunia tentang rahasia besarmu! Aku akan membongkar fakta kalau kamulah sebenarnya cacat! Bahwa kamulah yang impoten, Dewa! Bukan aku yang mandul!""Itu masalahnya, Tuan," Bima tertunduk, tubuhnya bergetar di bawah cengkeraman tuannya. "Setelah kami telusuri ulang... serangan siber yang Anda perintahkan ternyata diarahkan ke rekening kosong. Arga memindahkan dananya sebelum kita menyerang. Dan kami baru saja menemukan laporan bahwa ada aliran dana gelap senilai ratusan miliar masuk ke rekening Arga malam tadi..." Rekha melepaskan cengkeramannya. Tubuhnya terhuyung mundur. "Dana dari siapa?" "Dari... Nona Bianca, Tuan." Mendengar nama itu, rahang Rekha mengeras hingga berbunyi gemeretuk. Darahnya mendidih. Bianca si ular berbisa itu rupanya membalas dendam dengan cara menyokong kekuatan sang psikopat. "Dan soal radar yang mati..." Bima melanjutkan dengan suara nyaris berbisik, takut kepalanya sendiri akan dipenggal. "...log sistem menunjukkan radar itu dimatikan dari dalam ruang kontrol kita sendiri menggunakan sandi otorisasi tingkat tinggi. Tuan... ada mata-mata di dalam pasukan kita." Dunia Rekha seakan berhenti berpu
Senyum miring yang luar biasa sinis terukir di bibir Arga. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan garis-garis merah berkedip—simbol dari serangan siber besar-besaran yang sedang berusaha menghancurkan seluruh infrastruktur keuangannya. Arga sedang duduk di tepi ranjang kabin kacanya, menatap santai ke arah layar sementara di luar sana, fajar mulai menyingsing memecah sisa badai semalam. "Anjing gila itu rupanya sudah belajar menggigit pakai otak," kekeh Arga rendah, suaranya menggema pelan di dalam ruangan yang sunyi. Ia tahu persis ini ulah Rekha. Memutus aliran dana, mencekik pasokan logistik, dan membiarkannya mati kelaparan di atas gunung. Sebuah taktik brilian dari sang raja bisnis. Sayangnya, Rekha lupa satu hal mutlak: Arga adalah iblis yang lahir dari neraka pengkhianatan, dan ia tidak pernah bermain tanpa kartu as di lengan bajunya. *Bip.* Sebuah panggilan masuk ke telepon satelit terenkripsi di atas meja nakas. Arga meletakkan tabletnya, mengambil telepon itu, dan mene
Deru baling-baling helikopter senyap yang melayang tinggi di atas tebing Puncak tertelan oleh suara amukan badai salju. Di tengah suhu yang membekukan tulang, sesosok bayangan hitam meluncur turun perlahan menggunakan tali taktis, menembus pekatnya malam menuju atap kabin kaca yang tersembunyi. Rekha mendarat tanpa suara di atas atap datar tersebut. Pakaian serba hitamnya seketika diselimuti butiran salju. Dengan tangan gemetar yang bukan disebabkan oleh udara dingin—melainkan oleh adrenalin yang memuncak—sang raja bisnis membersihkan tumpukan salju tebal yang menutupi panel *skylight* kaca raksasa di bawah kakinya. Cahaya temaram dari dalam kabin perlahan menembus kaca. Jantung Rekha berpacu sekeras genderang perang. Ia mengeluarkan alat pemotong laser, bersiap memberikan aba-aba kepada Bima dan tim *Shadow* yang sudah mengepung perimeter bawah. "Bima, aku sudah di titik masuk. Bersiap untuk infiltrasi dalam hitungan tiga," bisik Rekha melalui komunikator di telinganya. Namun, se
"Jangan menangis, Rekha... tolong..." Suara Naya menggema di telinga Rekha. Berulang-ulang. Namun lambat laun, suara mekanis yang hampa itu terdistorsi, berubah menjadi dengungan statis yang memekakkan telinga. Sentuhan tangan Naya di rambutnya mendadak terasa sedingin es, lalu memudar menjadi ketiadaan. Bau masakan rumahan lenyap, digantikan oleh aroma tajam kopi hitam dan udara steril pendingin ruangan. Rekha terkesiap hebat. Matanya terbuka lebar dengan dada yang bergemuruh brutal, memompa udara seakan ia baru saja ditarik paksa dari dasar lautan. Keringat dingin membanjiri pelipis hingga lehernya. Ia tidak berada di lantai ruang makan mansionnya. Ia tidak sedang berlutut di bawah kaki Naya. Rekha mendapati dirinya duduk tersentak di kursi besi command center. Di depannya, puluhan layar monitor masih menyala terang, menampilkan citra satelit termal dari pegunungan Puncak. "Tuan Rekha? Anda baik-baik saja?" Suara panik Bima langsung menyadarkan sang raja bisnis kembali ke alam
Melihat Naya yang gemetar ketakutan, air mata Rekha akhirnya tumpah. Hatinya hancur lebur. "Sayang, hei, lihat aku..." Rekha segera berlutut di lantai, tepat di samping kursi Naya. Ia mengangkat kedua tangannya terbuka, menunjukkan bahwa ia tidak membawa ancaman. "Aku nggak akan menghukummu. Aku bersumpah demi nyawaku, aku tidak sedang mengujimu untuk marah. Aku mohon, jangan takut padaku. Jawab jujur, Sayang... apa kamu ingin menemuinya?" Naya terdiam. Dadanya naik-turun dengan cepat. Matanya yang berkaca-kaca menatap wajah Rekha dengan sangat awas, menelusuri setiap inci ekspresi pria itu, mencari tanda-tanda kebohongan atau amarah yang tersembunyi. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, bibir Naya bergetar. "Kalau... kalau kamu beneran nggak marah..." bisik Naya sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. Suaranya pecah oleh isak tangis yang selama sebulan ini ia pendam rapat-rapat. "...aku mau, Rekha. Aku mau pergi ke tempat Mas Arga." Tubuh Rekha seakan
Rekha mematung. Jantungnya berdebar kencang oleh rasa bahagia yang membuncah. Ia melangkah mendekat, menyerahkan buket bunga itu. "Untukmu, Sayang. Kata Bima, kamu hari ini pergi melukis di taman. Kamu senang?" tanya Rekha, mengusap puncak kepala Naya dengan sayang. Naya menerima bunga itu tanpa penolakan. Ia mencium aromanya sejenak, lalu meletakkannya di vas terdekat. "Iya, aku senang. Lukisannya belum selesai, tapi udaranya sangat segar. Terima kasih bunganya, Rekha. Ayo makan, makanannya nanti dingin." Naya menarik kursi untuk Rekha, lalu duduk di hadapannya. Ia mengambilkan nasi dan lauk dengan cekatan, melayani Rekha selayaknya seorang istri yang sempurna. Namun, tepat di detik itulah, rasa dingin yang aneh tiba-tiba merayap di tengkuk Rekha. Rekha menatap Naya yang sedang makan dengan tenang. Memang, wanita di depannya ini tidak lagi menangis. Ia tidak meronta. Ia tersenyum dan melayani Rekha. Tapi... ada sesuatu yang sangat, sangat salah. Gerakan Naya terlalu mek







