Share

4. Rencana Licik!

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-07-06 18:37:37

"Tentu saja itu palsu, bodoh! Aku yang menyuruhmu memalsukannya untuk menutupi kelemahanku! Kalau Ibu sampai tahu akulah yang sebenarnya impoten dan tidak bisa membuahi wanita mana pun, tamat sudah riwayatku!"

"Lalu apa rencana Bapak sekarang? Kondisi medis Bapak sejujurnya memang tidak ada kemajuan. Pengobatan dan terapi luar negeri sejauh ini sama sekali tidak berhasil mengatasi disfungsi Bapak."

"Kamu pikir aku nggak tahu?! Bangsat! Aku tahu aku nggak mungkin bisa menghamili Naya! Tapi anak itu harus ada. Harus ada benih di dalam rahim Naya sebelum batas waktu tiga bulan ini habis!"

"Kalau begitu... apakah Bapak mempertimbangkan untuk mengadopsi bayi secara diam-diam? Atau mungkin menggunakan donor sperma anonim dari luar negeri?" tanya Andi, menawarkan jalan keluar untuk Dewa, tapi Dewa langsung menggeleng.

"Nggak mungkin! Ibu nggak sebodoh itu. Dia wanita yang licik, Andi. Dia pasti akan menuntut tes DNA kalo bayi itu lahir untuk memastikan garis keturunannya. Aku butuh seseorang yang DNA-nya masih satu garis keturunan denganku. Seseorang dari keluarga ini... Tunggu sebentar."

Dewa tiba-tiba berhenti bicara, sehingga Andi di seberang, bertanya dengan hati-hati. "Pak Dewa? Anda memikirkan apa?"

"Rekha... Ya, Rekha," gumam Dewa, matanya membelalak menyadari celah emas di tengah keputusasaannya.

"Maksud Bapak? Mas Rekha? Apa hubungannya beliau dengan—"

"Tadi pagi di meja makan, dan saat makan malam beberapa hari lalu... aku memperhatikan cara Rekha menatap Naya. Sorot matanya berbeda. Sangat mengintimidasi, tapi dipenuhi hasrat. Pria brengsek itu pasti diam-diam tertarik pada istriku," ucap Dewa, tersenyum licik.

"Ehm, Bapak tidak bermaksud untuk... menyerahkan Nyonya Naya padanya, kan?" Andi kembali bertanya dengan hati-hati.

"Pikirkan baik-baik, Andi! Kalau Naya hamil anak Rekha, DNA anak itu akan tetap terdeteksi sebagai bagian dari keluarga kandung ini! Kromosom Y-nya tidak akan jauh berbeda dariku! Ibu tidak akan curiga jika wajah atau ciri fisiknya mirip dengan pihak keluarga kita. Jika anak itu lahir, aku bisa dengan mudah mengklaimnya sebagai darah dagingku sendiri!"

"Tapi Pak, itu rencana yang sangat ekstrem dan gila! Apakah Nyonya Naya akan bersedia melakukan hal sekotor itu?"

Andi tampak ragu, tapi Dewa langsung menjawab dengan suara arogan.

"Dia nggak punya pilihan! Naya hanyalah bonekaku di rumah ini. Jangan lupa, nyawa ayahnya sepenuhnya ada di tanganku karena aku yang membayar semua biaya operasinya. Wanita miskin itu terlalu penakut, dia nggak akan berani menolak perintahku sekecil apa pun."

Andi terdiam sebentar saat mendengar ucapan Dewa, lalu berujar dengan suara pelan. "Bapak benar-benar yakin dengan rencana ini? Risikonya terlalu besar."

"Aku sudah yakin banget, Andi. Ini satu-satunya cara jitu untuk menyelamatkan posisiku sebagai pewaris tunggal. Tutup mulutmu, hapus semua catatan panggilanku, dan jangan ikut campur lagi. Biar aku yang mengurus istri penurutku itu."

Andi hanya bisa menjawab 'iya' dan Dewa meyelesaikan panggilan teleponnya dengan senyum licik dan puas.

"Rekha, kamu naksir istriku, kan? Aku akan berbaik hati membagi tubuhnya untukmu, Kakakku yang baik," bisiknya dengan ekspresi muak.

Tiap memikirkan Rekha, yang diingat Dewa selalu tentang betapa seringnya dia dibandingkan dengan anak pelayan yang 'sempurna' itu, membuat dia sangat jijik, tapi tak sanggup melakukan apa pun, karena memang, dia selalu kalah dengan Rekha.

Memikirkan untuk pertama kalinya dia bisa mengalahkan Rekha, Dewa tersenyum lebar.

"Hah! Rasakan kamu, Rekha!"

***

Terdengar bunyi klik ganda saat Dewa memutar kunci pintu kamarnya dari dalam, Naya yang tadi sedang duduk, segera berdiri untuk menyambut suaminya.

"Dewa? Kamu sudah pulang? Tumben sekali jam segini sudah di rumah, Sayang?," sapa Naya yang sedikit terkejut dengan kehadiran suaminya.

Dia belum mandi dan berdandan memakai gaun tipis, seperti yang selalu diperintahkan Dewa untuk menyambut dirinya pulang, Naya takut ditampar lagi.

Dia reflek mundur untuk menghindari tamparan, tapi anehnya, Dewa hari ini tidak terlihat marah sama sekali.

"Iya, Sayang. Pekerjaanku di sana sudah selesai lebih cepat dari perkiraan," jawab Dewa sambil tersenyum lebar, senyum yang entah mengapa terlihat sangat janggal di mata Naya.

"Kenapa pintunya dikunci berlapis kayak gitu?" tanya Naya, bingung.

"Memangnya kenapa? Aku cuma nggak pengen ada pelayan bodoh yang tiba-tiba masuk dan mengganggu waktu berharga kita berdua. Bukankah wajar kalau seorang suami ingin berduaan dengan istri cantiknya tanpa ada gangguan dari siapa pun?"

"Tentu... tapi kamu terlihat aneh banget malam ini, Dewa. Apa ... aku melakukan kesalahan? Maaf aku belum mandi dan..."

"Nggak masalah, Sayang. Ohya, aku tadi berbincang-bincang dengan ibu tentang masa depan keluarga kita yang luar biasa ini, Sayang," potong Dewa, berjalan mendekat ke arah Naya dan memeluk pinggangnya dengan lembut.

"Masa depan keluarga? Apa Ibu menuntut soal keturunan lagi padamu?" tebak Naya, memandang wajah suaminya dengan hati-hati takut Dewa tiba-tiba marah, tapi Dewa malah tersenyum dan mengangguk.

"Tepat sekali tebakanmu. Ibu sangat menantikan kehadiran seorang cucu kecil berlarian di rumah ini. Kamu sangat tahu kan betapa pentingnya hal itu bagi posisiku di perusahaan keluarga?"

Dewa masih menjawab dengan suara lembut, yang membuat Naya semakin waspada dan khawatir.

"E-ehm, aku tahu betul hal itu, Dewa. Maafkan aku... aku juga bingung kenapa sampai sekarang Tuhan belum juga memberikan kita kepercayaan untuk—"

"Ssttt... nggak perlu meminta maaf, Sayang," potong Dewa lembut, melangkah perlahan mendekati Naya. "Aku sudah punya solusi yang sangat cemerlang untuk mengatasi semua masalah kita," lanjutnya sambil tersenyum lebar.

"Solusi? Apa kita akhirnya akan ikut program bayi tabung di Singapura seperti yang kau bicarakan bulan lalu?" tanya Naya dengan antusias, dia juga sudah sangat lelah terus menerus ditekan untuk hamil pewaris keluarga ini.

"Lebih cepat, lebih murah, dan lebih pasti dari itu, Sayang. Sesuatu yang jauh lebih rahasia dan istimewa," jawab Dewa, tersenyum misterius, yang membuat Naya semakin bingung.

"Aku benar-benar nggak mengerti jalan pikiranmu, Dewa. Rahasia apa yang sedang kamu maksudkan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tamat.

    Malam pengantin yang sesungguhnya akhirnya menyambut mereka setelah semua badai, darah, dan air mata tersapu bersih dari dunia mereka. Di dalam kamar utama *mansion* Adhitama yang kini sepenuhnya aman, tirai beludru tebal ditarik rapat, meredam bisingnya kota Jakarta di luar sana. Hanya ada pendar cahaya kuning temaram dari lampu tidur dan kehangatan dari perapian yang menyala pelan. Rekha membaringkan Naya di atas tempat tidur berseprai sutra putih dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria itu menangkup wajah istrinya, menelusuri setiap inci garis rahang Naya yang kini terlihat begitu damai, tanpa sisa-sisa bayangan teror atau ketakutan. "Mulai hari ini, dunia kita hanya milik kita berdua, Naya," bisik Rekha serak. Bibirnya turun, mendaratkan kecupan penuh pemujaan di kening, lalu turun ke kelopak mata, hidung, hingga berhenti di bibir Naya. Naya menyambut ciuman itu dengan desahan penuh cinta. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rekha, menarik pria itu semakin rapat.

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Harus Mati!

    Dewa menyeringai, sebuah seringai cacat yang mengerikan. Dari balik saku seragamnya, pria itu mengeluarkan sebilah pisau bedah medis yang sangat tajam dan berkilat. "Uang selalu bisa membeli pengkhianat, Naya," desis Dewa, suaranya sengau dan berantakan. "Kau pikir Bianca akan membiarkanku membusuk sendirian sementara jalang kecil ini menikah dengan pria yang membuangnya? Wanita itu mengatur segalanya dari luar. Menyelundupkanku lewat jalur pembuangan limbah tepat ke kamarmu." Dewa melangkah maju perlahan, menyeret kakinya yang cacat, namun pisau bedah di tangannya terarah lurus. Matanya yang merah menyala oleh kegilaan dan obsesi yang tak lagi bisa diselamatkan. "Kau terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu... lagi, Istriku," Dewa terkekeh getir, menatap Naya dari atas hingga ke bawah dengan pandangan penuh gairah yang sakit. "Tapi sayang, gaun putih itu terlalu bersih. Kurasa... warna merah darah akan jauh lebih cocok untuk menyambut pahlawanmu saat dia kembali ke

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menikahlah Denganku.

    Satu bulan berlalu sejak malam di mana seluruh rantai penderitaan Naya dihancurkan. Dan seperti janji yang dibisikkan Rekha di antara penyatuan napas mereka, sang kaisar bisnis benar-benar meletakkan dunia di bawah telapak kaki Naya. Pesta pernikahan itu digelar dengan kemegahan yang melampaui akal sehat. Seluruh lantai utama dan *ballroom* hotel bintang tujuh tertinggi di Jakarta disewa secara eksklusif. Ribuan mawar putih murni didatangkan langsung dari Belanda, menghiasi setiap pilar dan langit-langit ruangan. Rekha mengerahkan ratusan personel *Shadow Team* di setiap titik buta, menyulap hotel tersebut menjadi benteng tak tertembus. Hari ini, Rekha Adhitama akan memproklamirkan pada dunia bahwa wanita yang dulu dibuang dan dihina oleh keluarganya, kini berdiri sebagai Ratu tunggal pewaris takhta Adhitama. Di dalam *Bridal Suite*—ruang rias pengantin yang sangat luas dan mewah—Naya berdiri menghadap cermin raksasa. Ia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Gaun

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Kangen

    Naya menatap sepasang mata Rekha yang berkilat oleh kerinduan dan cinta yang tak tertahankan. Lima tahun memendam perasaan, berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan manipulasi mematikan, kini mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tidak ada lagi Dewa. Tidak ada lagi Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mengikat kakinya. Naya mengangkat kedua tangannya, merengkuh rahang kokoh Rekha. Jemarinya membelai pelan raut lelah pria itu. "Aku sudah pulang, Mas. Aku di sini. Dan aku... aku sepenuhnya milikmu sekarang." Mendengar penyerahan diri yang diucapkan dengan penuh kerelaan itu, sisa-sisa pertahanan kewarasan Rekha akhirnya runtuh tak bersisa. Rekha menunduk dan meraup bibir Naya dalam sebuah ciuman yang meledak oleh gairah dan keputusasaan yang telah lama ia pendam. Ciuman itu tidak lembut, melainkan menuntut, rakus, dan luar biasa dalam. Rekha mencium Naya seolah wanita itu adalah oksigen terakhir di bumi, melahap bibir Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya seketika l

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dewa Dihukum

    Naya melemparkan dokumen itu tepat ke wajah Dewa hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai. "...kau yang mandul, Dewa! Rahimku sehat sempurna. Tapi karena gaya hidupmu yang hancur karena alkohol dan obat-obatan, kau kehilangan kemampuanmu untuk memberikan ahli waris. Dan untuk menutupi kecacatanmu, kau menyiksaku. Kau bahkan dengan teganya mendorongku ke kamar adik kandungmu sendiri agar aku hamil dan menutupi aibmu!" Suara Naya menggelegar, membongkar kebusukan paling menjijikkan dari seorang Dewa Adhitama. Para tetua terkesiap ngeri. Beberapa bibi Naya menutup mulut mereka, tak percaya dengan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Naya sendirian. Dewa terdiam. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun kebohongan yang bisa ia rangkai lagi. Bukti-bukti itu terlalu absolut. Kebusukannya telah dikuliti habis-habisan di bawah terangnya lampu gantung kristal. Naya menarik napas panjang, melepaskan beban berton-ton yang selama lima tahun menghancurkan pundaknya. Ia merogoh

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan!

    Rekha berjongkok. Dengan tangan yang masih berlumuran darah Dewa, ia tidak berani menyentuh Naya. Ia takut mengotori wanita itu. "Kita pulang sekarang, Sayang. Semuanya sudah selesai," bisik Rekha lembut, air mata menggenang di pelupuk mata sang kaisar bisnis. Naya tidak peduli pada darah di tangan pria itu. Wanita itu justru menerjang ke depan, mengalungkan kedua lengannya ke leher Rekha, memeluk pria itu dengan sangat erat. Tangisannya pecah—tangisan kelegaan, rasa aman, dan cinta yang akhirnya menemukan tempatnya bernaung. "Terima kasih... terima kasih udah nemuin aku, Mas..." isak Naya di ceruk leher Rekha. "Aku nggak mau lari lagi... aku cuma mau sama Mas Rekha..." Mendengar kalimat itu, pertahanan Rekha runtuh. Ia membalas pelukan Naya tak kalah eratnya, membenamkan wajahnya di bahu wanita yang terbungkus jaket kebesarannya itu. "Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi, Naya. Aku bersumpah demi nyawaku, mulai detik ini, akulah yang akan menjadi perisaimu," bisik Rekha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status