ANMELDENZea mendongak dengan raut wajah yang dipenuhi kegelisahan. Kedua matanya menyiratkan kecemasan yang amat pekat saat menatap lurus ke dalam netra hitam Marco.“Mama ... minta pulang duluan, Marco,” bisik Zea parau, suaranya mengalun pelan di tengah keheningan ruang tengah penthouse. “Katanya nggak enak badan.”Zea terdiam sejenak, jemarinya meremas ujung gaun tanpa sadar. “Tapi, aku merasa sikap Mama tadi aneh banget,” gumamnya dengan dahi berkerut. “Habis ziarah, aku sama Kak Zavian sempat diwawancarai wartawan yang ternyata mengikuti kami.” “Tapi begitu wawancaranya selesai, Mama tiba-tiba datangi kami dengan muka pucat dan minta langsung pergi.”Marco membisu. Sorot matanya menajam, mencerna setiap detail kalimat kekasihnya. “Tante Donna sakit?”Zea menggeleng pelan. Sorot matanya memancarkan keraguan yang amat besar. “Entah, Marco ... Mama bilang sih cuma nggak enak badan. Tapi perasaanku nggak enak. Aku merasa Mama seperti lagi menutup-nutupi sesuatu dari aku dan Kakak.”Mel
“Ma, udah gapapa … kita udah di jalan, ya. Mama jangan takut …” Zea berbisik lembut sambil mengusap bahu Donna yang masih gemetar tipis. Di kursi belakang mobil privat keluarga Yozefa yang melaju tenang membelah jalanan kota, Zea memeluk ibunya erat-erat sambil meresapi napas Donna yang masih memburu kaku.Sejak ditarik paksa masuk ke dalam mobil di pelataran parkir pemakaman usai wawancara singkat tadi, Donna tampak sangat berbeda. Wajah wanita paruh baya itu terlihat pucat, tatapannya kosong menatap keluar jendela, dan jemarinya saling meremas kaku seolah baru saja menyaksikan hal mengerikan yang merenggut seluruh ketenangannya.Zavian yang duduk di kursi depan samping Adrian menolehkan kepalanya. Dahi sang kepala pelatih berkerut rapat, memancarkan rasa heran dan cemas yang amat sangat.“Ma …” panggil Zavian dengan suara rendah dan berbobot. “Tadi Mama sebenarnya habis lihat siapa sampai ketakutan begitu? Kalau ada masalah, cerita saja sama kami, Ma.”Donna tidak langsung m
“Ya ampun, orang lagi berziarah malah ribut begini.” “Benar. Seharusnya mereka tahu diri dan menjaga suara di tempat seperti ini.” Beberapa peziarah yang melintas di pelataran parkir menoleh dan berbisik-bisik tegang melihat keributan kecil di dekat barisan mobil hitam itu. Wajah orang-orang di sekitar menunjukkan rasa kurang nyaman atas suasana bising yang ditimbulkan. Zavian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapan tidak nyaman para peziarah lain membuat dadanya terasa sesak. Ia menghembuskan napas berat saat teringat pada peringatan Marco sebelum mereka berangkat tadi. Ternyata, kekhawatiran calon adik iparnya benar-benar terjadi. Ia baru menyadari betapa liarnya awak media mengejar mereka. Jika bukan karena barikade ketat tim pengamanan keluarga Yozefa, kondisi emosional dan fisik Zea yang begitu rentan bisa kembali drop akibat kejaran kamera yang tak bertata krama ini. Zea berjalan mendekati kakaknya dengan tatapan khawatir. “Kak, mending Kakak datangi dulu wartawan it
Zavian menatap nama Coach Bima yang terukir di nisan marmer hitam. Dengan tangan terkepal pelan, ia mulai mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya. “Coach Bima ... maafkan saya,” ucap Zavian lirih. Suaranya sedikit parau, tetapi tetap terdengar mantap. “Saya sudah berusaha membimbing Vincent, tapi saya nggak pernah menyangka dia akan bertindak sejauh ini. Saya gagal menyadari kalau ada yang salah dengan dia sampai semuanya terlambat.” Zavian terdiam sejenak, menahan beratnya perasaan yang mengendap di dada. “Demi keadilan dan keselamatan Zea, saya harus memastikan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya, Coach. Meski itu berarti saya sendiri yang harus menyerahkan putra Coach kepada pihak berwajib.” Zea yang berdiri di samping Donna terdiam. Ia memejamkan mata sesaat, meresapi kesedihan dan penyesalan yang tersirat dalam suara kakaknya. Sementara angin sejuk menyapu lembut helai-helai rambutnya. “Tapi Coach tidak perlu khawatir,” lanjut Zavian, mengadahkan kepalan
Keheningan seketika menyelimuti meja makan penthouse. Zea terdiam di tempatnya, menatap wajah kakaknya dengan sorot mata yang dipenuhi campur aduk antara terkejut dan keharuan yang mendalam. Ia tahu betul betapa besar rasa hormat Zavian kepada mendiang pelatihnya. Zea menoleh ke arah Marco, tangannya mengusap paha pria itu dengan lembut sebelum membujuknya pelan. “Marco, aku boleh ikut pergi sama Kakak dan Mama, kan?”Marco melirik Zea sekilas, lalu meletakkan segelas air dengan tangan kiri. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan kepada Zavian. Ekspresinya tetap tenang, seolah memahami alasan di balik keinginan pria itu mengajak Zea berziarah.“Boleh,” jawab Marco singkat. Tatapannya kembali tertuju pada Zea. “Temani Kakakmu dan Tante Donna, Sayang.”Zavian menoleh dan menatap calon adik iparnya itu dengan alis yang terangkat tipis.Namun sebelum Zavian sempat mengucapkan terima kasih, Marco kembali menyambung penjelasannya dengan suara bariton yang dingin dan sarat akan perintah
Donna membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. "Astagaaa ...!” Di sampingnya, Zavian langsung menegang. Wajah sang kepala pelatih memerah hingga ke ujung telinga saat menyadari penampilan adiknya pagi itu. Bukan karena marah, tapi karena rasa malu dan canggung yang mendadak menyerbunya. Sebagai kakak, ia sama sekali tidak siap menghadapi pemandangan seperti ini! Dengan gerakan refleks, Zavian buru-buru membalikkan badan, memunggungi Zea sambil menutupi matanya dengan sebelah tangan. “Zea!” serunya gugup. “K-kamu ... habis diapain sama Marco?! Pakai baju yang bener dulu sana!” Zea sontak membeku. Ia menunduk, lalu seketika menyadari bahwa dirinya hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Marco tanpa celana pendek maupun bra! Wajahnya langsung memanas hingga ke telinga. Dengan panik, ia merapatkan kedua tangan di depan dada, berusaha menutupi tubuhnya. “M-Ma ... Kak Zav ... maaf! Aku lupa!” pekiknya malu. “Aku balik ke kamar dulu buat







