로그인Viktor yang melihat perubahan ekspresi di wajah sahabatnya langsung mendekat dan mengintip layar ponsel Adrian. “Wah, siapa tuh yang nge-chat? Buset, namanya Mbak Rika Seksi? Ckckck, beruntung banget hidup lo, Yan, diincer cewek-cewek hits!” celetuk Viktor heboh sambil menaik-naikkan alisnya.“Sst, apaan sih lo, Tor! Jangan aneh-aneh!” balas Adrian salah tingkah, buru-buru mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.Viktor menatap Adrian dengan dahi berkerut dalam, rasa penasarannya membuncah lantaran ia sama sekali tidak tahu siapa sosok yang dimaksud. “Eh, sebentar-sebentar. Siapa sih Mbak Rika Seksi itu? Kok gue gak kenal sama sekali? Perasaan teman-teman lo anak kuliahan, gak ada yang namanya sekeren itu,” cecar Viktor penasaran sambil mencolek-colek lengan Adrian.Adrian mendengus pelan, berusaha memasang wajah sesantai mungkin meski jantungnya masih berdegup sedikit cepat akibat pesan tak terduga itu. “Mana lo kenal. Itu teman sekantornya Kak Siska yang ke
Adrian langsung meruntuki dirinya sendiri begitu menyadari dirinya keceplosan. Dalam hatinya ia meruntuk, “Duh, gawat! Kenapa malah lidah gue yang bocor? Kalo Kak Clara sampe tau soal hubungan gue sama Kak Siska, bisa-bisa panjang urusannya!”“E-eh, maksudnya... ya rahasia kakak-adik biasa lah, Kak! Gak ada apa-apa lagi kok,” elak Adrian cepat, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyuman lebar.Clara menyipitkan mata, menatap Adrian dengan selidik yang belum sepenuhnya reda. “Biasa gimana? Lo gak usah coba-coba nutupin sesuatu dari gue, ya, Adrian! Lo tadi jelas-jelas bilang ada hal lain yang bikin kalian berdua makin akur.”Adrian berdehem pelan, memutar otak secepat kilat untuk mencari alibi yang masuk akal agar Clara tidak mengorek masalah lain. “Dih, kepo banget sih jadi kakak! Rahasia dapur lah, masa semuanya harus dibongkar ke lo?”“Yee, dibilangin malah nyolot! Gue curiga lo sama Kak Siska lagi nyembunyiin sesuatu dari gue. Awas ya kalo kalian main rahasia berdua doang di bel
Adrian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal, sebuah gestur kikuk yang langsung terbaca sebagai tanda-tanda kecurigaan besar. Melihat gelagat salah tingkah dan ekspresi canggung di wajah sang adik tiri, Clara justru semakin yakin seratus persen dengan tuduhannya yang mendalam.“Ngaku lo? Iya, kan? Lo pasti udah sering banget ngintipin mereka, kan?” sentak Clara dengan nada penuh selidik, menatap tajam ke arah Adrian tanpa memberi celah untuk mengelak.“Yeee! Gak gitu, Kak! Sumpah, tuduhan lo kejauhan!” bantah Adrian cepat, mencoba mempertahankan harga dirinya meski rona merah masih jelas tertinggal di kedua pipinya.Clara semakin mengerutkan dahinya, sorot matanya menuntut jawaban yang lebih masuk akal. “Gak gitu gimana? Hm? Muka lo tuh udah pucet ketahuan banget bohongnya, Adrian!”Adrian mendengus pelan, sebuah ide terlintas di kepalanya untuk membawa Siska sebagai tameng pembelaan. “Tanya aja sama Kak Siska kalo gak percaya!” ucap Adrian
Jantung Adrian serasa meloncat keluar dari dadanya, hampir copot karena terkejut setengah mati. Rasanya seluruh organ dalamnya mendadak berhenti berfungsi. Tubuhnya kaku bak patung, dan darah di sekujur tubuhnya seolah berhenti mengalir seketika.Dengan gerakan kaku sambil menahan panik, Adrian perlahan memutar kepalanya ke belakang dalam kegelapan koridor.Sesosok tubuh wanita berdiri amat dekat di belakangnya, bahkan kehangatan napasnya bisa dirasakan di ceruk leher Adrian. Di bawah bias cahaya remang-remang koridor, terbias raut wajah Clara yang sedang menatapnya.Alis Clara tampak mengerut, dan bibir tipisnya tersenyum misterius yang amat mengintimidasi sekaligus menggoda.“Lagi ngapain lo di sini, Yan?” bisik Clara tepat di samping telinga Adrian.Suaranya yang amat pelan itu sukses membuat sekujur tubuh Adrian meremang hebat. Tertangkap basah di depan pintu kamar orang tua mereka sendiri.Adrian cepat-cepat menaruh jari telunjuknya di depan bibir, “Sstt!” bisiknya sangat pelan,
“A-ampun, Kak Siska! Sumpah, tangan gue reflek aja tadi, gak sengaja!” ucap Adrian setengah panik sambil menarik tangannya kembali dan melangkah mundur.Siska tidak langsung menyahut. Ia bertolak pinggang di anak tangga teratas, memutar tubuhnya penuh dan menatap Adrian dengan pandangan tajam yang menghujam.Namun alih-alih hanya mengomeli Adrian, pandangan Siska bergulir menatap ke arah Clara yang berdiri persis di samping pemuda itu. Clara sendiri sedang bersedekap dengan mata melotot, menatap Adrian seolah ingin menelannya hidup-hidup.“Kak, ini adek tiri kita makin lama makin cabul gak, sih? Gimana kalo kita kasih hukuman aja?” ujar Clara, mengadu dengan suara ditahan dan penuh penekanan.Siska tersenyum tipis, “Setuju, Clar! Ade cabul emang harus kita kasih hukuman, kita potong aja kali ya anunya? Hm?” sahut Siska sambil melangkah turun satu tingkat mendekati Adrian.Mendengar kata potong, seketika sensasi dingin menjalar di selangkangan Adrian. Wajahnya pucat pasi melihat kedua
Maya tersenyum tipis, mencoba mencairkan keheningan yang mendadak tercipta di meja makan. “Ya... kan Papa kenal banyak orang penting di luar sana, Siska. Kalo atasan kamu atau rekan kerja kamu ada yang berani macam-macam atau bikin kamu stres, tinggal ngomong aja ke Papa. Biar diselesaikan sama Papa.”Clara yang duduk di sebelah Adrian melirik sekilas ke arah sang kakak tertua, lalu mencolek pelan paha Adrian di bawah meja sambil melempar senyum penuh arti. Mereka berdua tahu betul betapa protektifnya Budi terhadap anak-anaknya, dan jika sampai Budi tahu ulah Rangga di kantor, nasib pria itu dipastikan tidak akan baik.“Ah, Mama ada-ada aja. Aku baik-baik aja kok, Mah. Namanya juga kerjaan kantor, pasti ada pasang surutnya. Gak perlu sampe ngadu ke Papa, aku bisa tangani sendiri,” balas Siska cepat, mencoba menepis kekhawatiran ibunya meski dalam hatinya ia sedikit tersentuh.“Betul tuh, Mah! Kak Siska kan wanita karir yang mandiri. Lagian kalo dikit-dikit ngadu ke Papa, nanti Kak Sis







