مشاركة

Bab 60

مؤلف: Leona Valeska
last update تاريخ النشر: 2026-04-24 23:22:24

“Tuan Duke! Ada laporan dari perbatasan pelabuhan. Mereka menemukan jejak yang diduga milik buronan Johan Dawson di dekat gudang timur!”

Perhatian Kael seketika teralihkan. Tangannya yang terulur ditarik kembali. “Jejak? Kenapa kalian baru melapor sekarang?”

Kael tidak menunggu jawaban. Ia menyambar jubahnya dari sandaran kursi dan melangkah lebar keluar ruangan, mengabaikan Emily dan apel di sakunya.

Emily mengembuskan napas panjang yang tertahan, nyaris terjatuh karena lututnya yang lemas. Ia
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 85

    Sudah larut malam dan Emily masih berada di dalam sana. Dia sedang berdiri mematung, menatap kegelapan hutan Ravenshire yang tampak seperti lautan tinta tanpa ujung.Tidak ada bintang yang berani menampakkan diri malam ini, seolah langit pun ikut berduka atau mungkin malu menyaksikan sandiwara yang sedang ia mainkan.“Sampai kapan, Elian?” bisik Emily pada pantulan wajahnya yang samar di kaca jendela. “Atau harus kupanggil kau Emily? Gadis yang bahkan tidak berani mengenakan gaunnya sendiri.”Ia menyentuh kerah kasar kemeja pelayannya, merasakan betapa kain itu telah mencekik identitasnya selama berbulan-bulan.Menjadi Elian berarti harus menelan harga diri, berjalan dengan bahu merosot, dan menunduk di hadapan pria yang paling ia benci di muka bumi ini.Namun, menjadi Emily berarti kematian atau yang lebih buruk, menjadi pion di bawah kaki Duke Kael yang tanpa ampun.“Kael bukan sekadar pria,” batinnya sambil mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.“Dia adalah hukum di sini.

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 84

    Kesunyian yang ditinggalkan Ben terasa lebih menyesakkan daripada kepanikan saat bersembunyi tadi. Emily kemudian merangkak keluar dari bawah meja dengan gerakan lambat, tulang-tulangnya terasa kaku akibat ketegangan yang luar biasa.Begitu punggungnya menyentuh deretan lemari buku mahoni yang menjulang hingga ke langit-langit, pertahanannya runtuh. Ia merosot jatuh, terduduk di atas lantai marmer yang dingin, lalu memeluk lututnya erat-erat.Di ruangan yang megah ini, di tengah simbol kekuasaan pria yang membenci darah dagingnya, Emily merasa seperti debu yang tak berarti. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah, meski ia berusaha meredamnya dengan menggigit punggung tangannya sendiri.“Kenapa begitu rapi?” rintihnya pelan, air matanya jatuh membasahi kerah seragam pelayan pria yang terasa mencekik. “Kenapa tidak ada satu pun celah? Ayah... apakah kebenaran memang sengaja dikubur sedalam ini?”Suara isakannya memantul di dinding-dinding tinggi, terdengar menyedihkan di antara

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 83

    Emily yang mulai lelah setelah pencarian yang belum menemukan hasil. Ia membolak-balik lembar demi lembar perkamen tebal dengan jemari yang terasa kaku.Setiap dokumen audit tambang, setiap kuitansi pengapalan batubara, hingga rincian pajak wilayah tahun 1900-an itu disusun dengan presisi yang mengerikan. Tidak ada coretan yang tidak perlu, tidak ada stempel yang miring.“Ini mustahil,” gumam Emily, suaranya nyaris hilang di antara tumpukan kertas. “Bagaimana mungkin sebuah kejahatan besar bisa terlihat sebersih ini? Seolah-olah Ayah memang seorang pengkhianat yang sempurna, atau...”“Atau Kael jauh lebih rapi dalam menyusun kebohongan ini daripada yang aku duga,” ia melanjutkan monolognya sendiri, napasnya memburu.Ia memeriksa sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi daftar aset Dawson. Jemarinya meraba stempel resmi kerajaan di atasnya.Ia mencari anomali, mungkin perbedaan ukuran huruf atau jenis tinta yang digunakan pada era tersebut, namun semuanya tampak asli. Keputusa

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 82

    Emily berdiri di balik pilar koridor, untuk memastikan bayangan kereta uap Kael benar-benar telah tertelan kabut lembah. Begitu sunyi kembali menguasai pelataran, ia bergegas menuju dapur, tempat Lucian sedang berpura-pura sibuk menghitung persediaan perak.“Dia sudah pergi, Lucian,” bisik Emily, suaranya tajam karena adrenalin.Lucian meletakkan sendok peraknya dengan tangan gemetar. “Kau tidak dengar peringatannya tadi? Sayap barat, Emily! Dia menyebutnya secara spesifik di depan semua orang. Itu jebakan!” ucap Lucian tampak kesal karena Emily bersikeras ingin pergi ke sana.“Justru karena dia menyebutnya, aku yakin ada sesuatu yang dia sembunyikan di sana atau di ruang kerjanya,” balas Emily keras kepala.“Kael memang cerdas, tapi dia juga arogan. Dia pikir peringatannya akan melumpuhkanku. Aku butuh kunci cadangan yang ada di ruang jaga bawah. Aku tahu kau punya akses ke sana.”“Ini bunuh diri,” rintih Lucian, namun ia tetap merogoh saku celemeknya dan menyerahkan seuntai kunci ku

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 81

    Uap dingin menyelimuti pelataran Ravenshire saat fajar menyingsing, menyamarkan langkah kaki para pelayan yang berlarian menyiapkan kebutuhan Duke.Emily sedang berdiri di depan lemari besar berbahan mahoni, tangannya gemetar saat menyentuh setelan wol tebal berwarna biru tua yang kaku.Tidak ada aroma darah atau debu mesiu pada pakaian ini, melainkan wangi lavender dan kayu cendana yang mahal.“Seragam formal?” bisik Emily pada dirinya sendiri. “Ini bukan untuk berburu pengkhianat.”Ia membawa pakaian itu ke kamar utama dengan langkah hati-hati. Kael sudah berdiri di depan cermin besar, mengenakan kemeja putih sutra yang belum dikancingkan sepenuhnya.Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela, mempertegas bekas luka kecil di bahunya yang lebar, sebuah pemandangan yang membuat Emily segera menunduk, takut akan tatapan tajam pria itu.“Siapkan lencana emasnya, Elian,” perintah Kael tanpa berbalik. Suaranya serak khas orang yang tidak tidur semalaman.Emily mendekat, jemarinya yan

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 80

    Di balik pintu ek oak yang tebal, suara Kael terdengar berat dan tajam, menembus celah udara yang sempit. Emily menempelkan telinganya ke kayu dingin itu, menahan napas seolah detak jantungnya sendiri bisa mengkhianati keberadaannya.“Kau bilang ada yang masuk ke dalam?” suara Kael meninggi, penuh dengan nada tidak percaya sekaligus amarah. “Siapa orang gila yang berani menerobos gedung yang sudah menjadi tungku neraka seperti itu, Vane?”“Saya masih menyelidikinya, Tuan Duke,” sahut Vane dari dalam. Suaranya terdengar frustrasi.“Laporannya baru saja dikonfirmasi oleh pengawal di sisi timur. Bayangan itu bergerak sangat lincah, masuk melalui jendela atas tepat sebelum lantai kedua runtuh. Kami menyisir puing-puingnya setelah api mereda, namun tidak menemukan mayat ataupun jejak orang tersebut. Dia seolah lenyap ditelan asap.”Emily tersentak, tangannya refleks menutup mulutnya sendiri untuk meredam pekikan kecil. Vane melihatnya. Dia melihat penyelamatku.“Lalu apa kau pikir dia kelu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status