MasukDi bagian hutan yang lebih tinggi, di mana lereng berbatu berbatasan langsung dengan tebing curam, Johan Dawson mendadak menghentikan pelariannya.Napasnya memburu, menyemburkan uap putih tebal ke udara malam yang membeku. Dada bidangnya naik turun dengan tidak beraturan; setiap tarikan napas terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk langsung ke paru-parunya.Ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa posisi dirinya kini sudah berada cukup jauh dari Kael yang sedang sekarat di bawah pohon perkemahan utama.Jarak ini sudah lebih dari cukup untuk menjamin bahwa jeritan atau benturan pertempuran di sini tidak akan mengganggu "agenda" penting yang sedang berjalan di bawah sana.Lampu suar mekanis dari zirah uap para prajurit kavaleri yang mengejarnya kini berkedip-kedip agresif di antara kerapatan pohon pinus, membelah kabut malam yang mulai turun.Cahaya kemerahan dan kekuningan dari lampu-lampu suar itu memantul di atas permukaan salju, menciptakan siluet distopia yang mengerikan di ten
Mendengar suara teriakan pertempuran Johan dan desis senapan uap yang kian menjauh ke arah timur hutan, Emily tahu bahwa kesempatan emas yang dibayar oleh darah kakaknya telah tiba. Jantungnya bergemuruh hebat, berkejaran dengan deru angin malam yang mulai mereda."Ini saatnya," bisik Emily pada dirinya sendiri.Dengan tubuh bergetar antara rasa takut yang mencekam dan tekad yang membara di dalam dada, Emily keluar dari balik pohon persembunyiannya.Ia melangkah perlahan namun pasti, membelah tumpukan salju tebal, mendekati tenda Kael yang kini sudah tidak dijaga oleh satu pun prajurit kavaleri besi. Setiap langkahnya terasa begitu berat, seolah takdir seluruh keluarganya sedang dipertaruhkan malam ini.Di dalam tenda yang diterangi oleh pendar lampu suar pemanas, kondisi Kael benar-benar mengenaskan. Sang Duke sedang terduduk lemas di atas peti kayu logistik sembari memegangi lutut kirinya yang berdarah dan membengkak.Napasnya tersengal-sengal, keluar sebagai uap panas yang memburu
Rencana pengalihan yang dilakukan Johan berjalan dengan sangat sempurna. Provokasi beringasnya berhasil memancing amarah buta semua prajurit, hingga mereka bergerak massal dalam formasi buru, meninggalkan area tenda dalam gemuruh langkah besi yang menjauh.Kael kini benar-benar berada seorang diri di dalam tendanya tanpa perlindungan kavaleri satu pun.Namun, harga yang harus dibayar Johan untuk taktik nekat ini sangatlah mahal. Sesaat setelah dia melompat ke pohon berikutnya, rentetan anak panah militer dan tembakan uap bertekanan tinggi terus menyerang posisinya dari bawah dengan sangat gencar.JEDAS! JEDAS! STREEEK!"Sialan! Mereka benar-benar menembak untuk membunuh!" umpat Johan, suaranya tenggelam di antara dahan pinus yang hancur berantakan terkena proyektil uap.Hantaman energi mekanis itu merobek mantel bulunya menjadi serpihan, membuat Johan harus melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan bersusah payah demi menghindari maut yang mengintai di setiap jengkal udara.Napasn
Tanpa membuang waktu lagi, Johan bergerak dengan ketangkasan luar biasa yang hanya dimiliki oleh seorang ksatria terlatih perbatasan utara.Tubuh kekarnya merayap cepat, memanfaatkan tonjolan kulit pohon, lalu langsung memanjat naik ke atas dahan pohon pinus tinggi yang berada tepat di jalur luar perkemahan kavaleri. Angin badai yang mulai mereda membuat siluetnya terlihat samar namun pasti di antara dedaunan yang membeku.Dari atas sana, Johan menarik napas dalam-dalam, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. Ia berteriak lantang memanggil nama Kael dengan nada mengejek yang sangat menggema, memecah kesunyian lembah berbatu tersebut."Hei, Kael Ravenshire! Serigala pincang dari utara!" seru Johan, suaranya menggelegar bergaung di antara tebing-tebing granit. "Apakah zirah uap buatan kekaisaranmu itu hanya hiasan meja sampai-sampai kau tidak bisa mengejar seorang ksatria tua di halaman rumahnya sendiri?!"Tindakan provokasi yang luar biasa nekat itu seketika membuat semua
Dari balik bayang-bayang batang pohon pinus raksasa yang berselimut es, Emily dan Johan berdiri membeku. Dari celah semak-semak, mereka berdua bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana kondisi Kael yang sangat mengenaskan di dalam tenda darurat yang kain depannya sengaja dibuka setengah untuk sirkulasi udara uap pemanas."Lihat itu, Kak," bisik Emily, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang nyaris pecah. "Tubuhnya menggigil sampai seburuk itu. Dia sekarat karena infeksi panahmu."Johan menyipitkan mata, memperhatikan gerak-gerik Panglima Juan dan para prajurit yang sibuk di sekitar tenda. Ia basahi ujung jarinya, mengangkatnya ke udara untuk memeriksa arah mata angin yang berembus di antara celah tebing batu."Sial, ini buruk," gumam Johan, wajahnya mendadak berubah sangat serius. Ia lalu menoleh ke arah adiknya dengan tatapan memperingatkan."Emily, dengerkan aku baik-baik. Angin malam ini berembus tepat ke arah tenda Kael. Jika Kael yang sedang demam tinggi ekstrem itu sam
Panglima Juan akhirnya terpaksa menghentikan barisan kavaleri besi tepat di tengah lembah yang terlindung dinding batu raksasa.Ia melompat dari kudanya dengan beringas begitu melihat Kael sudah terlihat sangat sekarat, tubuh kekarnya limbung dan hampir jatuh terjerembab dari atas kudanya ke atas tumpukan salju yang membeku."Hentikan barisan! Dirikan tenda darurat sekarang juga!" teriak Juan, suaranya menggelegar mengalahkan deru angin badai. "Bawa lampu pemanas mekanis ke dalam! Cepat!"Para prajurit bergerak cekatan, memicu kompresor uap pada zirah mereka untuk menegakkan tiang-tiang tenda militer tebal dalam hitungan menit.Dua prajurit kavaleri lapis baja bergegas membopong Kael masuk ke dalam tenda, membaringkannya di atas dipan lipat darurat.Juan segera membuka wadah logistik medis, mengeluarkan sebuah botol kaca berisi cairan pekat berwarna perak kehitaman."Yang Mulia, Anda harus meminum ini. Ini adalah ramuan obat penurun demam militer dosis tinggi. Setidaknya, cairan ini b
Emily terpaku dalam keheningan yang panjang, merespons rencana Johan hanya dengan tatapan kosong ke depan. Jemarinya yang kaku saling bertautan di balik mantel wol kebesaran itu.Entah kenapa, ada beban yang teramat berat merayap di dalam hatinya jika harus melangkah pergi, melintasi samudra, dan m
Emily menatap kakaknya dengan pancaran mata yang teramat serius. Sisa kehangatan dari bara tungku menerangi separuh wajahnya yang tegang. Ia melangkah lebih dekat, menaruh tangannya di atas lengan Johan yang masih gemetar oleh sisa amarah."Pikirkan baik-baik, Kak. Apakah kau tahu di mana sebenarny
Emily berjalan dengan sangat lambat, menekan bobot tubuhnya pada setiap pijakan salju agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia mengendap-endap di antara pohon-pohon pinus raksasa yang batangnya sewarna jelaga, hingga akhirnya ia tiba di depan sebuah gubuk reot yang hampir roboh di tengah hu
Emily menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang sedingin es, membiarkan gemuruh air terjun meredam suara napasnya yang masih memburu.Air jernih yang tadi ia teguk dari aliran sungai memang sedikit mengurangi rasa dahaga, dan sisa rasa manis-getir dari buah beri liar di lidahnya perlahan meng







