แชร์

Bab 119

ผู้เขียน: Gali Pratama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-05 15:52:40

Malam ini, lantai griya tawang atau penthouse milik keluarga Sheila menjadi tuan rumah pesta eksklusif yang dihadiri oleh deretan anak muda kelas atas, model papan atas, hingga para pewaris takhta bisnis ibu kota.

Raka mematikan mesin, lalu turun lebih dulu dengan gerakan yang tenang namun sigap. Ia memutari kap mobil dan membukakan pintu samping belakang untuk Clara.

Dalam balutan jas hitam berpotongan slim-fit buatan penjahit ternama yang melekat sempurna di tubuh kekatnya, Raka memancarkan a
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 130

    Suasana di lantai operasional sudah jauh lebih sepi. Kabar pemecatan tidak hormat terhadap Maya akibat kasus pemalsuan dokumen dan peretasan server telah menyebar kilat ke seluruh sudut gedung.Karyawan lain memilih menunduk dan berpura-pura sibuk dengan kubikel masing-masing, tak ada yang berani mendekati kubikel khusus sekretaris di depan ruangan presdir.Maya berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya bergetar menahan malu dan amarah saat memasukkan barang-barang pribadinya, beberapa bingkai foto, kosmetik, dan catatan kerja, ke dalam kotak kardus cokelat.Matanya sembap, namun sisa-sisa tatapan benci masih memancar kuat dari balik kelopak matanya yang memerah.Langkah kaki yang tenang dan berat terdengar mendekat. Maya menegang, refleks menoleh.Raka berdiri di sana. Pria itu menyandarkan sebelah bahunya di kening pintu kubikel, bersedekah tangan dengan wajah santai tanpa ekspresi penderitaan sedikit pun.Jas hitamnya masih terpasang rapi, mempertegas posisinya yang baru saja memena

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 129

    Pukul sembilan pagi tepat, ruang rapat utama di lantai tertinggi gedung perkantoran itu sudah terisi penuh.Suasana di dalam ruangan berdinding kaca es tersebut terasa dingin dan formal. Jajaran direksi, kepala divisi, hingga jajaran manajemen senior duduk melingkari meja oval berkayu mahoni mengilap.Clara duduk di kursi utama selaku Direktur Utama, menampilkan gestur anggun dan tak tersentuh.Di sisi kiri belakangnya, Raka berdiri tegap memegang tablet kerja dengan raut wajah yang amat tenang.Sementara itu, Maya duduk di barisan Sekretariat dan Manajemen Operasional, menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri."Baik, agenda pertama rapat evaluasi pagi ini adalah peninjauan efisiensi anggaran operasional kuartal ini," buka Clara dengan suara lantang dan jernih, memotong keheningan ruangan."Apakah ada divisi yang memiliki isu khusus sebelum kita masuk ke pemaparan utama?"Maya dengan sigap menegakkan punggungnya, lalu mengangkat tangan seraya mengibaskan sedikit blazer merahnya.

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 128

    Begitu Maya keluar, Clara menekan pinggiran map cokelat tebal dengan cukup keras hingga kuku berhias cat beningnya memutih. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Raka yang berdiri beberapa langkah di hadapannya."Raka," panggil Clara dengan nada datar, berat, dan dipenuhi oleh artikulasi kepemimpinan yang dingin. "Duduk."Raka melangkah tanpa ragu. Ia menarik kursi kayu jati berbalut kulit hitam di depan meja kerja Clara, lalu duduk dengan postur tegap.Tidak ada gestur panik, gelisah, atau ketakutan sedikit pun pada raut wajahnya. Tatapan matanya jernih dan terkontrol sempurna.Clara membuka kembali map dokumen pemberian Maya. Ia membalik lembaran kertas bernomor seri resmi perusahaan, lalu menunjuk laporan arus kas di lembar ketiga."Maya mungkin keterlaluan karena menerobos masuk dan bersikap lancang," ujar Clara seraya menatap Raka lurus-lurus."Tapi angka di sini nyata, Raka. Pembengkakan dana operasional PA sebesar tiga ratus persen dalam satu bulan terakhir. Jelaskan ke saya

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 127

    Sedan hitam mewah yang dikemudikan Raka berhenti presisi di pelataran parkir khusus eksekutif.Pagi itu, aura di antara Raka dan Clara terasa sangat berbeda.Kehangatan yang terjalin sejak di apartemen masih tersisa, menciptakan keharmonisan yang jarang terlihat di antara seorang Direktur Utama dan asisten pribadinya.Raka turun lebih dulu, membukakan pintu belakang untuk Clara dengan gerakan yang sigap.Clara melangkah keluar dengan gaun kerja berwarna biru dongker yang elegan.Rambutnya terurai rapi, dan raut wajahnya tampak segar tanpa menyisakan sisa-sisa pusing dari pesta semalam."Jadwal saya pagi ini apa aja, Raka?" tanya Clara halus sambil merapikan blazer-nya.Raka berjalan beriringan di samping Clara menuju lift VIP, menjaga jarak yang pas namun tetap memberikan kesan protektif."Jam sembilan ada rapat evaluasi mingguan dengan tim divisi keuangan, Bu. Setelah itu, penandatanganan berkas kerja sama proyek baru."Clara mengangguk puas. "Bagus. Pastikan dokumennya sudah siap di

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 126

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal kamar utama penthouse, membiaskan pendar hangat di atas tempat tidur.Clara menggerakkan tubuhnya perlahan, menyenggol sprei sutra yang kusut.Kepalanya masih terasa agak berat dan pening akibat sisa alkohol semalam, namun rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat gejolak pusing itu terasa jauh lebih samar.Clara meraba sisi ranjang di sampingnya.Kosong.Ia membuka mata pelan-pelan, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi.Bau harum aroma kopi hitam segar bercampur gurihnya mentega yang dilelehkan merayap masuk dari arah dapur bersih.Clara menarik selimut, merapikan piyama satinnya, lalu melangkah keluar kamar dengan kaki bertelanjang.Di dapur bersih bertatanan marmer serba hitam, Raka berdiri tegap membelakanginya.Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot.Dengan telaten, Raka membalikkan pancake di atas teflon,

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 125

    Langkah kaki Raka bergaung halus di sepanjang koridor pualam menuju penthouse pribadi milik Clara.Di dalam dekapannya, tubuh Clara terasa pasrah.Kepala sang direktur tersebut bersandar di dada bidang Raka, sementara kedua lengannya masih melingkar di leher pria itu, seolah takut dilepaskan karena pengaruh alkohol yang masih kuat.Raka menempelkan kartu akses pada panel sensor pintu utama.Beep.Pintu berbobot berat itu terbuka tanpa suara, menyambut mereka dengan keheningan eksklusif apartemen mewah tersebut.Dengan gerakan tangkas, Raka membawa Clara masuk melintasi ruang tengah yang temaram, langsung menuju kamar tidur utama. Pria itu menurunkan tubuh Clara secara perlahan ke atas kasur berukuran king-size.Raka hendak menarik tangannya dan menegakkan tubuh untuk melepas jas serta merapikan selimut, tetapi cengkeraman tangan Clara di kerah kemejanya mendadak mengencang."Raka, mau ke mana?" gumam Clara melantur. Matanya yang redup dan setengah terpejam menatap wajah Raka di atasny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status