공유

Pelayan untuk Nyonya Kesepian
Pelayan untuk Nyonya Kesepian
작가: Gali Pratama

Bab 1

작가: Gali Pratama
last update 게시일: 2026-07-31 11:50:21

Siang ini, Raka baru saja membuka pintu ruang kerja sang bos di perusahaan besar fashion dan make up tempatnya bekerja, dan ia tak sengaja mendengar suara-suara aneh dari dalam.

“Ma-mas, kamu tega sama aku? Kamu biarin batinku tersiksa? Kamu tidak pernah memberiku nafkah batin lagi semenjak kamu dekat dengan perempuan itu?”

Raka yang tidak sengaja berada di sana, matanya seketika terbuka lebar.

Di atas sofa kulit berwarna hitam yang membentang di tengah ruangan, Clara—pemilik perusahaan sekaligus bos besarnya sedang merebah dengan posisi kemeja putih yang sudah terbuka berantakan.

Tubuh wanita 29 tahun itu berguncang pelan, tenggelam dalam pusaran kenikmatan yang dibuatnya sendiri.

“Tega kamu biarin aku bermain sendiri? Tega? Tega sekali dirimu!”

Sebagai pria normal berusia 24 tahun, pemandangan liar di sore hari menuju malam ini benar-benar menghantam pertahanan dirinya sampai hancur berkeping-keping.

‘Gila. I-ini beneran Bu Clara?’ ucap Raka dalam hati.

Setelah mengumpat dalam hati, Raka bermaksud mundur perlahan dan berpura-pura tidak pernah melihat pemandangan terlarang ini. Ia sadar, dirinya hanya seorang OB dan tidak sepantasnya memergoki majikannya berada dalam situasi absurd.

Namun, fokusnya yang terpecah dan tangannya yang gemetaran justru memicu petaka. Tangan Raka menyenggol gagang alat pel yang bersandar di bahunya.

PRANG!

Gagang besi alat pel itu pun jatuh dan menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga.

Wanita itu menoleh dengan napas terputus-putus, dan matanya langsung membola sempurna saat mendapati seorang pria berseragam OB berdiri tak jauh dari pintu.

"Kamu?!" pekik Clara.

Suaranya langsung melengking tinggi, bercampur antara terkejut, malu, dan amarah yang mendadak meluap.

Dengan gerakan cepat yang panik, Clara menarik kain kemejanya untuk menutupi dadanya, lalu membetulkan posisi duduknya meski tubuhnya masih gemetar sisa kenikmatan yang belum tuntas.

Wajahnya yang memerah paduan antara gairah dan amarah menatap Raka dengan tajam.

"Se-sejak kapan kamu berdiri di situ? Kamu ngintip saya, ya?" tembak Clara panik.

Mendengar teriakan sang bos besar, Raka jadi makin panik. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.

Kemudian dengan cepat dia membungkukkan badan berkali-kali secara refleks, dengan raut wajah yang mulai pucat pasi menahan diri.

"Maaf, Bu! Demi Tuhan saya nggak sengaja, Bu! Saya pikir ruangan Ibu sudah kosong karena karyawan yang lain sudah pada pulang semua. Makanya saya masuk mau bersihin ruangan," jawab Raka dengan suara gemetar, bahkan matanya tak berani menatap langsung wajah bosnya.

"Nggak sengaja, hm?" Clara langsung berdiri dari sofa sembari merapikan kemejanya berantakan tadi. 

"Tapi, tatapan kamu tadi bukan tatapan orang yang 'nggak sengaja'," bisik Clara saat jarak mereka tersisa satu langkah. 

Matanya kini menatap bibir Raka sejenak sebelum naik menatap matanya. "Kamu menikmati setiap detik pemandangan tadi, kan?" 

Raka langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Ng-nggak kok, Bu! Saya benar-benar nggak ada niat begitu. Pintu tadi nggak terkunci rapat, jadi saya langsung masuk. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Bu. Tolong jangan pecat saya." Raka memelas habis-habisan.

Bayangan masa depannya yang kelam langsung melesat menghantam kepalanya. Jika dia dipecat hari ini tanpa pesangon, habis sudah riwayatnya. 

Uang tabungannya tinggal beberapa lembar di dompet. 

Lusa adalah tenggat pembayaran tunggakan kosan yang sudah menunggak seminggu dan ibu kosnya bukan tipe orang yang mau mendengar alasan. 

Token listrik di kamarnya pun meminta diisi, dan persediaan mie instan di dalam kardusnya tinggal hitungan hari. 

Di kota metropolitan yang kejam ini, jangankan untuk bernapas tenang, sekadar air minum pun harus dibeli dengan uang. 

Jika sampai terdepak dari sini, Raka benar-benar akan menjadi gelandangan berijazah SMA. 

“Hmm, alesan mulu kamu ini,” ucap Clara sambil melipat tangan di dadanya. “Mau jujur atau dipecat, Raka?” ancam Clara kemudian. 

Raka semakin panik dibuatnya.

Rasa takut kehilangan pekerjaan mengalahkan rasa malunya. Pemuda itu lantas maju satu langkah dengan wajah memohon, dengan menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

"Jangan dong, Bu. Tolong kasihanin saya. Saya janji nggak bakal kejadian lagi hal kayak gini. Saya lupa ketuk pintu tadi. Tolong jangan dipecat ya, Bu. Saya harus bayar uang kosan akhir minggu ini. Belum lagi biaya hidup dan kirim uang buat di kampung," tutur Raka dengan raut wajah yang benar-benar memelas.

Clara menyilangkan kedua tangannya di depan dada, untuk menutupi area pribadinya yang sempat terekspos.

Matanya kian menyipit, mengamati sosok Raka dari atas sampai bawah.

Pemuda di hadapannya ini memiliki postur tubuh yang tinggi, dada yang lumayan tegap di balik seragam OB-nya, serta wajah yang sebenarnya cukup tampan dan bersih untuk ukuran seorang pekerja pembersih.

"Ganteng-ganteng kok mau jadi OB," gumam Clara dengan pelan.

"Kamu OB baru di sini, ya?" tanyanya ketus.

Raka dengan cepat mengangguk-angguk.

"Iya, Bu. Saya baru kerja dua bulan di sini. Makanya jangan dipecat ya, Bu. Saya beneran butuh uangnya buat bayar kosan. Kalau saya dipecat sekarang, terus diusir dari kosan karena nggak bisa bayar, saya mau tinggal di mana, Bu?" rayu Raka dengan nada suara serendah mungkin.

“Kamu pikir saya peduli?”

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 14

    Di pagi harinya, Raka mengayunkan gagang pel dengan ritme yang teratur, sesekali bersiul kecil mengikuti irama lagu yang terngiang di kepalanya.Rasa lelah sama sekali tidak terasa di tubuhnya. Otot-otot lengannya yang kekar bergerak santai, sementara pikirannya masih sesekali melayang pada kenikmatan terlarang yang ia reguk sebelumnya.Semangatnya pagi ini sedang berada di puncak.Tak lama kemudian, suara langkah kaki berhak tinggi itu terdengar di telinga Raka."Selamat pagi, Raka," sapanya setelah tiba di hadapan Raka.Raka akhirnya menoleh, lalu menghentikan gerakan pelnya sejenak.Maya—staf administrasi bernasib baik yang selalu tampil rapi sedang berdiri di sana dengan senyum manisnya.Raka kemudian mengulas senyum tipis dan mengangguk dengan gestur sopan yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang staf kebersihan."Selamat pagi juga, Mbak Maya," balas Raka ramah sebelum kembali memegang gagang pel.Raka menduga Maya akan langsung berjalan menuju kubikel kerjanya, menyalakan kompute

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 13

    Clara menatap tonjolan tebal di balik celana Raka dengan binar mata liar.Tanpa ragu, jemari lentik dengan kuku berpoles cat merah itu membuka kancing dan Ritsleting celana Raka, lalu meluncurkan celana kain dan celana dalam pria itu ke bawah lutut.Anggota tubuh Raka yang besar, tebal, dan tegang keras melompat bebas. Urat-urat menonjol melingkari batangnya yang hangat.Clara menarik napas pendek. Meski sudah beberapa kali melihatnya, ukuran milik staf OB-nya ini selalu berhasil memancing rasa takjub sekaligus gairah murninya."Punya kamu selalu sebesar ini, Raka. Benar-benar gila," gumam Clara sambil memegang batang tebal itu dengan satu tangannya."Ini semua karena merekam keindahan tubuh Bu Clara," balas Raka jujur, suaranya makin berat saat jemari Clara mulai mengusap bagian kepalanya yang basah oleh cairan pra-ejakulasi.Clara membungkukkan tubuh cantiknya di tepi meja mahoni.Dengan bibir indahnya yang merekah, ia mulai melingkupi ujung kepala milik Raka, memasukkannya perlahan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 12

    Jemari Raka bergerak terampil meraih kepala ritsleting di bagian belakang rok pensil ketat milik bosnya.Dengan satu tarikan mantap, ritsleting besi itu bergeser turun, membelah kain ketat yang membungkus panggul berlekuk indah tersebut.Raka menuntun rok itu meluncur melewati paha mulus yang padat dan berisi, membiarkannya jatuh menumpuk di lantai marmer yang dingin.Kini, penglihatannya dimanjakan oleh pemandangan yang sanggup melipatgandakan gairah di dalam dadanya.Clara hanya mengenakan celana dalam renda tipis berwarna hitam yang teramat transparan.Di bagian tengah kain tipis itu, bercak basah berdiameter lebar sudah mencetak jelas, membuktikan betapa tubuh CEO wanita itu sangat responsif terhadap sentuhannya.Bau harum parfum vanila bercampur aroma alami tubuh wanita yang bangkit gairahnya memenuhi udara di sekitar Raka.Tanpa membuang waktu, Raka mengambil posisi berlutut tepat di antara kedua paha mulus Clara yang terkuak lebar di tepi meja mahoni.Dengan kedua tangannya yan

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 11

    “Selamat pagi, Bu Clara,” sapa Raka saat tiba di depan pintu ruang kerja sang bos.“Pagi,” jawab Clara. "Tutup pintunya dan kunci dari dalam, Raka," perintah Clara. Suaranya rendah, penuh penekanan yang tak bisa dibantah."Baik, Bu Clara," jawab Raka patuh, lalu melangkah ke arah pintu utama, memutar kait kunci besi hingga terdengar bunyi klik yang bergema di ruangan hening itu.Ia pun kembali melangkah mendekati Clara, lalu berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita berkulit putih mulus itu.Clara melepaskan blazer mewahnya dan melemparkannya begitu saja ke atas kursi kerja.Tatapan mata tajam sang CEO wanita berumur tiga puluh tahun itu mengunci wajah Raka. Ada gairah liar yang tersirat jelas di balik tatapan dominan itu.Clara menyandarkan pinggulnya pada tepi meja mahoni. Kakinya yang berbalut rok pensil ketat bersilangan rapi."Kamu tahu persis apa tugas tambahanmu pagi ini, kan?" Suara Clara rendah, terkontrol, namun menyimpan getaran halus yang menembus hening ruangan."Saya

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 10

    Raka memacu sepeda motor tuanya menembus padatnya lalu lintas jalanan kota.Kebisingan klakson dan deretan lampu merah tak dihiraukannya; pikirannya sepenuhnya tertuju pada jarum jam yang terus berputar cepat.Angin malam menghantam dada tegapnya, tetapi rasa dingin tak terasa sama sekali karena darahnya berdesir hebat oleh ketegangan."Sedikit lagi, Raka, sedikit lagi!" gumamnya seraya memutar gas motor makin dalam.Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 19.52 WIB. Ia hanya punya waktu delapan menit sebelum Pak RT mewujudkan ancamannya.Setiap detik terasa begitu berharga, berpacu keras melawan keputusasaan yang hampir menenggelamkannya beberapa jam lalu.Sementara itu, di lorong kontrakan lantai dua, Pak RT sudah berdiri kaku di depan pintu kamar Raka. Raut wajah pria paruh baya itu sangat gusar.Di tangan kanannya tergenggam gembok besi besar yang masih baru, sedangkan tangan kirinya memegang dua kantong plastik sampah berukuran besar.Pak RT beberapa kali melirik jam

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 9

    Clara menarik napas panjang sembari membenarkan ikatan bathrobe sutranya, lalu memutar kunci dan membuka pintu apartemen.Di ambang pintu, berdiri dua sahabat sosialitanya: Fiona dan Sheila.Keduanya tampil memikat dengan gaun malam yang modis dan riasan sempurna, masing-masing memegang botol minuman mahal."Akhirnya dibuka juga! Kita pikir kamu lagi pingsan di dalam, Ra," cerocos Fiona seraya melangkah masuk tanpa diundang, disikuti Sheila yang tertawa renyah."Nggak ngabarin dulu kalau mau datang?" tanya Clara sambil berusaha menutupi kepanikannya dengan nada dingin yang biasa ia perlihatkan."Surprise, dong! Kita tahu kamu lagi butuh hiburan," balas Sheila santai.Namun, langkah Fiona dan Sheila terhenti mendadak begitu melewati lorong kecil menuju ruang tengah.Raka, yang tidak sempat bersembunyi penuh di kamar mandi karena panik dan bingung, justru keluar dari area kamar utama sambil merapikan kancing kemejanya yang belum sepenuhnya terpasang rapi.Pemuda bertubuh tegap dan berwa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status