LOGIN"Cinta bukan hanya tentang bahagia, tetapi ada pula duka dan air mata di dalamnya. Bahkan terkadang meninggalkan sayatan luka tak kasat mata." Dita Utami, seorang wanita muda dan cantik. Ia tidak pernah menyangka jika kepulangannya ke Indonesia setelah 4 tahun menjadi TKI di Dubai, justru telah menguak tabir kebohongan yang selama ini ditutupi dengan begitu rapat oleh suaminya. Dita harus merasakan ribuan sembilu yang menyayat hati karena sebuah pengkhianatan yang suaminya lakukan. Dita harus menerima kenyataan jika Bimo telah menikah lagi dengan wanita lain yang sudah berjalan selama satu tahun. Bahkan Bimo memiliki buah hati dari pernikahan keduanya. Akankah Dita mempertahankan pernikahannya dengan Bimo? Ataukah ia membuang semua kenangan tentang sang suami dan mencari kebahagiaan lain?
View MoreElizabeth
“Jason, are you sure you don’t prefer the blue tie over the brown one? Paris deserves your best look, you know.” I pressed the phone closer to my ear, teasing him with a smile I couldn’t contain. Just the thought of our honeymoon in two days made my heart swell.
His deep chuckle filled the line. “Elizabeth, you know I’d wear anything if you picked it. Stop worrying.”
“Don’t say that. You’ll regret it when the pictures come out,” I laughed softly, already imagining us strolling along the Seine, his arm wrapped around me.
“I’ll regret nothing,” he said smoothly, his voice carrying that charm that had once made my knees weak. “We’ll talk later, love. I have to run into a meeting.”
“All right, but don’t forget,.blue suits you better.” I ended the call reluctantly and set my phone aside.
Traffic had stalled, a sea of honking cars trapped on the city’s busy street. With a sigh, I leaned my head against the window, watching the restless movement of people outside.
That was when I saw him.
At first, my brain refused to register what my eyes were screaming. Jason. My Jason. My brand-new husband, stepping out of a glittering hotel lobby. And he wasn’t alone.
He was holding someone’s hand.
I blinked once. Twice. Convinced it was a trick of light, a mirage born of exhaustion. But no, it wasn’t. My chest tightened as my gaze locked on the woman’s face.
Jessica.
My best friend.
My lips parted, trembling. “No… no, this isn’t real.”
I fumbled for my phone, fingers shaking as I dialed his number. My heart nearly stopped when Jason paused mid-step, glanced at his buzzing phone, and then… slid it back into his pocket. He didn’t even flinch.
“Jason?” My voice cracked as tears blurred my sight.
I dialed again. This time he answered.
“I’m in a board meeting, Elizabeth. We’ll talk later,” he muttered curtly, his tone colder than the man I’d just spoken to minutes ago.
“A board meeting?” My laugh was bitter, shaky. “Jason… I can see you.”
But before I could say more, the line went dead.
I froze, staring across the traffic at him. His eyes were scanning, searching, and then… they found me. For one long, heart-wrenching second, we were caught in each other’s gaze. His expression shifted, and I couldn’t tell if it was shock, guilt, or fear.
The blaring of a horn ripped through the air. My world tilted. Metal screeched. Something slammed into the side of my car, shoving me forward violently.
Everything spun. My head hit something hard.
Yet somehow… I wasn’t inside anymore.
I was standing on the pavement, watching in disbelief as my car crumpled beneath the weight of a truck. Flames spat from the hood, smoke rising thick into the air.
“What…?” My voice trembled as I stared at the wreck. “How did I…?”
Footsteps thundered behind me. Jason. His face was pale, eyes wide with horror as he sprinted toward the wreckage.
I spun on him, rage and grief clawing at me. Tears streamed down my face. “Why?” My voice cracked. “Why are you acting worried now? Didn’t I just see you with Jessica? My best friend?”
But he wasn’t looking at me.
He ran right past me, straight toward the destroyed car.
I froze. Cold dread slid down my spine as I turned back. Jason was leaning into the wreck, his hands trembling as he reached into the mangled frame. His lips were moving, shouting words I couldn’t hear, his expression twisted in a way I had never seen before.
My fists clenched as I watched him tug at the crushed door, desperation carved across his face. He groaned and cursed, then slammed his shoulder against the metal.
Fueled by fury, I charged forward and struck his back with my palm.
A jolt shot through me like lightning. My entire arm tingled, my skin prickling as if I had plunged it into an electric storm. Jason didn’t even flinch.
My breath hitched. I stumbled backward, clutching my trembling hand. “What… what just happened?”
Jason was muttering something under his breath, his phone pressed to his ear. Then suddenly he shouted, his voice breaking, “Elizabeth! Hold on!”
My heart lurched. Hold on? What the hell was he talking about?
“Jason, I’m right here!” I screamed, my voice raw, but he didn’t so much as glance my way.
Sirens wailed, cutting through the chaos. Red and blue lights painted the street as an ambulance skidded to a halt beside me. Men in white gowns spilled out, rolling a stretcher toward the wreckage.
I stared as they swarmed my car, barking instructions I couldn’t quite catch. Jason’s fists pounded the door once more before he winced and kicked it with everything he had. With a groan of metal, the door finally fell open.
And then—
I froze.
They pulled someone out of the mangled seat.
A woman. Her face bloodied, her eyes shut, her skin ghostly pale.
My eyes widened, my lungs emptied of air. She looked exactly like me.
“What the hell…” I whispered, stumbling backward, my vision spinning.
The stretcher wheeled past me, and for a second, I could swear I smelled the faint metallic tang of my own blood.
Footsteps clicked to my side. I turned to see Jessica.
Her hand was clamped over her mouth, eyes wide as tears pooled.
Rage ripped through me. “You!” I screamed, storming toward her. My chest heaved with betrayal so sharp it burned. “How could you? With my husband? I trusted you. I took you in as my sister, and this is how you repay me? You evil, lying bitch!”
My hand lashed out, fueled by every ounce of hatred and hurt—
But it passed straight through her cheek.
I gasped, jerking back. “What the hell is going on?”
I spun wildly, crying, shouting, but nobody looked my way.
Through my blur of frustration, my gaze caught on a man in a crimson suit. He stood at the edge of the chaos, a phone pressed to his ear. Unlike the others, his eyes weren’t on the wreck.
They were on me.
And he was smiling.
Tidak selamanya manusia akan berkubang terus dalam kesedihan. Pasti akan ada masanya Tuhan memberikan tawa setelah tangis. Memang tidak berbalas seketika itu juga, tetapi pasti akan ada masanya untuk bahagia. Semua hal pahit sudah Dita lalui dan sekarang ia sedang memanen buah dari kesabaran dan keikhlasannya selama ini. Bukan berarti kesedihan dan masalah tidak akan menghampiri lagi, tetapi untuk saat ini, Dita ingin menikmati hadiah terindah tersebut.Mempunyai suami yang begitu mencintainya, mertua yang sangat menyayanginya dan dua buah hati dari cintanya bersama Daffin. Devina pun telah tumbuh menjadi gadis remaja yang pintar dan berprestasi di sekolahnya saat ini. Dia berhasil membuktikan janjinya pada papa sambungnya tersebut jika dia memang layak masuk dalam keluarga Daffin. Walaupun, Daffin tidak pernah menuntut putri sambungnya tersebut, tetapi Devina ingin membanggakan sang mama dan membuat dirinya berarti untuk orang-orang di sekitarnya. Neira juga tumbuh menjadi gadis y
Terkadang sebagai orang tua, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada anak kita. Terkadang menuntut mereka untuk mendengarkan kita, tetapi kita tidak berkaca, apakah kita juga bisa mendengarkan mereka? Menerima pemikiran mereka dan meluruskan kesalahan tanpa ego sebagai kepalanya. Devina sedang melakukan protes atas sikap Nadiya yang mulai berbeda padanya. Dan juga Bimo yang semakin sibuk bekerja dan tidak memberikan perhatian seperti dulu. Nadiya yang ikut bekerja, terkadang pulang dengan keadaan lelah dan lebih sering marah-marah. Devina merasa apa yang dia lakukan selalu salah di mata ibu sambungnya itu. Dia sudah berusaha sebisa mungkin membantu, tetapi tidak dianggap sama sekali. "Vina mau tinggal sana nenek aja, Yah." Devina pernah meminta izin ayahnya untuk kembali tinggal dengan sang nenek di desa ayahnya, tetapi dengan cepat Nadiya menolak. "Kamu mau bikin nama mama semakin jelek di mata nenekmu? Dia akan semakin berpikir kalau mama ini gak becus ngurus kamu!" sentak
Nadiya bisa menangkap sorot ketakutan di mata Dita. Wajah Dita terlihat pucat. "Ini hanya bagian dari masa lalu istriku dan tidak ada hubungannya dengan saat ini. Istriku juga tidak bertanggung jawab atas perasaanmu saat ini, Bimo!" tegas Daffin. Dita hanya diam menatap wajah suaminya. Meskipun pria itu mengulas senyum, tak lantas membuat Dita tenang. "Mas …." Dita tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Foto itu kembali mengingatkan dirinya akan sebuah kenangan buruk di masa lalu. "Itu hanya sebuah foto, Sayang. Bisa saja itu editan," imbuh Daffin. Ia menggenggam erat tangan sang istri. "Itu adalah foto asli, Daffin. Kami mendapatkan foto itu dari sumber yang akurat." Bimo menanggapi ucapan Daffin. "Lalu? Kalau foto itu asli, apa yang akan kamu lakukan pada istriku? Menuntut tanggung jawab atas sebuah pengkhianatan?" sahut Daffin. Ia memicing, menatap tegas pria yang duduk di depannya itu. "Bimo, Bimo. Bukankah ini sangat lucu? Kalian mempersalahkan kejadian di masa lalu istriku.
Waktu terus berputar tanpa ada satu manusia pun yang bisa menghentikannya. Semua sudah berjalan sesuai dengan apa yang sudah digariskan oleh sang pencipta kehidupan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya dengan kehidupan kita. Kedekatan Dita dan Nadiya, istri mantan suaminya, kini jadi merenggang karena perdebatan lewat chat antara keduanya. Semua bermula saat Nadiya mulai mengeluhkan kelakuan Devina yang terkesan susah di atur. Semenjak masuk SMA, Devina sudah ikut menetap tinggal bersama Bimo dan Nadiya di Bandung. Perdebatan itu mulai memanas manakala Nadiya mulai mengatakan kalimat yang tidak pantas yang terkesan menyalahkan Dita dan menyamakan jika sifat Devina itu menurun dari sifat sang mama."Dia udah keterlaluan, Mas. Kayaknya kita harus susul Devina, deh, Mas." Dita sedang mengadukan perihal konflik dirinya dengan Nadiya. "Minggu ini kita ke sana, ya, Sayang. Kita bicara baik-baik sama Bimo dan Nadiya. Biar Devina tinggal sama kita saja. Nanti aku minta D
Daffin dan Neira sudah siap saat Haryanto dan Silvia menjemput ke apartemen. "Cantiknya cucu oma," puji Silvia yang kemudian memangku Neira. "Sudah siap untuk pergi?" tanyanya."Sudah, Oma. Nela sudah siap temenin Papa," jawab anak itu dengan senyum yang menampakkan deretan gigi kecilnya. "Tapi Mama
“Mbak Dita, ya?” tanya wanita bergaun merah tersebut. “Iya. Maaf kamu ….” Dita tidak melanjutkan kalimatnya. “Kenalkan saya Inggrit, Mbak. Calon istri Mas Indra,” wanita itu memperkenalkan diri sembari tersipu. “Mas Indra meminta saya agar menjemput Mbak Dita dan Mbak Lastri untuk makan malam bersam
"A Bimo!""Ayah!"seru Serentak Dita dan Devina. Cukup kaget karena tidak menyangka akan bertemu Bimo di sana.'Ih, menyebalkan! Bukankah dia sudah setuju untuk kasih kesempatan aku menghabiskan waktu dengan Vina? Dasar pembohong!' Dita mengutuki Bimo di dalam hatinya. Tentu saja ia tidak tahu jika sem
“Devina mandi dan siap-siap dulu, ya. Ayah mau ngobrol dulu sama Tante Ami,” ucap Bimo. Sedangkan Devina cukup terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia pikir Bimo akan marah dan tidak mengizinkannya pergi dengan Dita. “Iya, Ayah.” Devina segera berlari menuju rumah dengan wajah senang. Setelah kepe












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews