LOGIN"Cinta bukan hanya tentang bahagia, tetapi ada pula duka dan air mata di dalamnya. Bahkan terkadang meninggalkan sayatan luka tak kasat mata." Dita Utami, seorang wanita muda dan cantik. Ia tidak pernah menyangka jika kepulangannya ke Indonesia setelah 4 tahun menjadi TKI di Dubai, justru telah menguak tabir kebohongan yang selama ini ditutupi dengan begitu rapat oleh suaminya. Dita harus merasakan ribuan sembilu yang menyayat hati karena sebuah pengkhianatan yang suaminya lakukan. Dita harus menerima kenyataan jika Bimo telah menikah lagi dengan wanita lain yang sudah berjalan selama satu tahun. Bahkan Bimo memiliki buah hati dari pernikahan keduanya. Akankah Dita mempertahankan pernikahannya dengan Bimo? Ataukah ia membuang semua kenangan tentang sang suami dan mencari kebahagiaan lain?
View MoreJUNE’S POV
Results week decides who gets a future and who gets left behind.
I didn’t need luck to get into Westbridge.
I needed access.
I overheard a few students talking about their results.
“My dad knows someone on the admissions board. As long as I didn’t get any Cs, I’m in.” One of them explained.
I wish they knew how lucky they were to have such advantages. To not have to worry about the difference between an A* and an A.
Life was so much easier for them. If not easier, they had smoother lives. They had the luxury of being carefree, easy, relaxed.
Their futures were already secured, signed and sealed by family surnames and connections.
“June!” I heard Jules loud voice from across the hallway, snapping me out of my thoughts. She was running towards me with papers in hand.
“Calm down, what’s going on?” I held her shoulders to steady her as she caught her breath.
“Our mock results are out.” She said and my eyes went straight to the papers in her hands.
“Here’s yours. I didn’t check it in case you wanted to see them first.” She handed the crisp paper over to me.
In one slow motion, I flipped it to see my exam results.
“How are they?” She started. “Why am I even bothered, its literally you. I’m sure you did exceptionally well.”
I focused on the paper in my hand.
One A instead of an A-star. That was the difference between getting in and not even being considered.
Jules leaned forward. “Well??”
“I didn’t fail.”
She blinked. “That’s all you have to say? Kindly expatiate.”
“It’s good.” I paused. The words felt wrong even as I said them. Because good doesn’t get you chosen.
“Just not the kind of good that gets you into Westbridge.” I completed.
Jules snatched the paper from my hand.
“June, this is brilliant. Any university would be lucky to have you!” She beamed.
“If these were real exams, I’d be in trouble.” I replied and pulled out my books from my locker.
“But they’re not.” She responded.
“Exactly!”
She frowned. “That doesn’t even make sense.”
It did. Mock exams weren’t just practice, they were a warning. And mine was clear, almost.
“You’re overthinking it,” she started. “I’m so proud of you and you should be too.” She pulled me into a comforting hug.
“Yeah maybe.” I responded and hugged her back.
In the back of my mind, I knew somewhere out there. Someone would have perfect scores. Someone always did.
Those were the poeple universities noticed. What my best friend didn’t understand was it wasn’t just about passing, it was about being selected.
I had to be one of them.
No matter what it took.
She pulled away from the hug and exhaled slightly.
“How was yours?” I asked her.
“Fantastic, two As and one B.” She said, clearly proud of herself.
“That’s amazing! I’m so happy for you. Cambridge doesn’t know what’s coming for them.” I teased.
“Thank you.” She replied.
The bell rang, cutting us off.
“I’ll see you at lunch, yeah?” She spoke before walking away. I nodded and waved her goodbye.
I begun walking to my class but I was soon trapped in my thoughts again.
If I wanted to get into Westbridge, I had to make connections soon.
I pulled out my phone to check the admission requirements and the board.
“Ugh.” I groaned. I was trying to click the link but my phone started hanging.
I looked up and ran straight into Lori Cross.
“Watch it, June. These are limited edition.” She glanced down at her shoes like I’d committed a crime.
I didn’t even know what brand they were. I also didn’t care.
She opened her mouth to continue but someone spoke.
“There’s no stain Lori. It was obviously an accident.” The voice was effortless, so calm.
“We can’t keep Mrs Cook waiting.” He added.
I didn’t turn around, I didn’t need to.
People like Adrien didn’t blend in.
They shifted the room.
I just walked away.
By the time lunch break came around, the day had already drained me.
Jules was by my side, complaining about the problems of the press club.
“The writing is tragic.” She said. Jules could be dramatic but she was also the best writer I knew.
Amidst her rampant complains, her voice has already faded into the background.
“Do you think I’ll get into Westbridge?” The question slipped out before I could stop it.
“Of course. You’re the smartest person I know, they’d be insane not to take you.” She responded.
“Sometimes, smart isn’t enough.” I replied, looking away.
She paused.
“They’re not the only university in London, you know.”
I nodded, but that wasn’t the point.
I didn’t just want any university, I wanted that one.
I grabbed a sandwich and sat down, barely paying attention to the chatter around me. Until something on my phone caught my attention.
It was the admission link I’d been trying to open.
A familiar name popped up, a professor was on the board. Not just any professor, the father of the school’s football star.
Professor Hayes, father of Adrien Hayes.
A bright idea popped in my mind. It was clean, sharp. The kind peoples called a lightbulb moment.
Just then, an applause broke out around me and Adrien was the center of it.
“They won yesterday, a last minute header,” Jules said. “He’s everywhere right now, the man of the moment.”
I watched for a second.
Not him, what surrounded him.
Attention, influence, reach.
“Why are you staring at him like that?” Jules asked, eyeing me suspiciously.
“No reason.” I answered.
“You look like you’re planning something.” She added before picking up her drink.
I stayed quiet, because she wasn’t wrong.
This wasn’t just a thought anymore, it was a solution.
Suddenly, Adrien Hayes wasn’t just a person anymore, he was a door.
One I was willing to use.
The problem was, he didn’t even know I existed.
I needed to change that.
Fast.
Tidak selamanya manusia akan berkubang terus dalam kesedihan. Pasti akan ada masanya Tuhan memberikan tawa setelah tangis. Memang tidak berbalas seketika itu juga, tetapi pasti akan ada masanya untuk bahagia. Semua hal pahit sudah Dita lalui dan sekarang ia sedang memanen buah dari kesabaran dan keikhlasannya selama ini. Bukan berarti kesedihan dan masalah tidak akan menghampiri lagi, tetapi untuk saat ini, Dita ingin menikmati hadiah terindah tersebut.Mempunyai suami yang begitu mencintainya, mertua yang sangat menyayanginya dan dua buah hati dari cintanya bersama Daffin. Devina pun telah tumbuh menjadi gadis remaja yang pintar dan berprestasi di sekolahnya saat ini. Dia berhasil membuktikan janjinya pada papa sambungnya tersebut jika dia memang layak masuk dalam keluarga Daffin. Walaupun, Daffin tidak pernah menuntut putri sambungnya tersebut, tetapi Devina ingin membanggakan sang mama dan membuat dirinya berarti untuk orang-orang di sekitarnya. Neira juga tumbuh menjadi gadis y
Terkadang sebagai orang tua, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada anak kita. Terkadang menuntut mereka untuk mendengarkan kita, tetapi kita tidak berkaca, apakah kita juga bisa mendengarkan mereka? Menerima pemikiran mereka dan meluruskan kesalahan tanpa ego sebagai kepalanya. Devina sedang melakukan protes atas sikap Nadiya yang mulai berbeda padanya. Dan juga Bimo yang semakin sibuk bekerja dan tidak memberikan perhatian seperti dulu. Nadiya yang ikut bekerja, terkadang pulang dengan keadaan lelah dan lebih sering marah-marah. Devina merasa apa yang dia lakukan selalu salah di mata ibu sambungnya itu. Dia sudah berusaha sebisa mungkin membantu, tetapi tidak dianggap sama sekali. "Vina mau tinggal sana nenek aja, Yah." Devina pernah meminta izin ayahnya untuk kembali tinggal dengan sang nenek di desa ayahnya, tetapi dengan cepat Nadiya menolak. "Kamu mau bikin nama mama semakin jelek di mata nenekmu? Dia akan semakin berpikir kalau mama ini gak becus ngurus kamu!" sentak
Nadiya bisa menangkap sorot ketakutan di mata Dita. Wajah Dita terlihat pucat. "Ini hanya bagian dari masa lalu istriku dan tidak ada hubungannya dengan saat ini. Istriku juga tidak bertanggung jawab atas perasaanmu saat ini, Bimo!" tegas Daffin. Dita hanya diam menatap wajah suaminya. Meskipun pria itu mengulas senyum, tak lantas membuat Dita tenang. "Mas …." Dita tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Foto itu kembali mengingatkan dirinya akan sebuah kenangan buruk di masa lalu. "Itu hanya sebuah foto, Sayang. Bisa saja itu editan," imbuh Daffin. Ia menggenggam erat tangan sang istri. "Itu adalah foto asli, Daffin. Kami mendapatkan foto itu dari sumber yang akurat." Bimo menanggapi ucapan Daffin. "Lalu? Kalau foto itu asli, apa yang akan kamu lakukan pada istriku? Menuntut tanggung jawab atas sebuah pengkhianatan?" sahut Daffin. Ia memicing, menatap tegas pria yang duduk di depannya itu. "Bimo, Bimo. Bukankah ini sangat lucu? Kalian mempersalahkan kejadian di masa lalu istriku.
Waktu terus berputar tanpa ada satu manusia pun yang bisa menghentikannya. Semua sudah berjalan sesuai dengan apa yang sudah digariskan oleh sang pencipta kehidupan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya dengan kehidupan kita. Kedekatan Dita dan Nadiya, istri mantan suaminya, kini jadi merenggang karena perdebatan lewat chat antara keduanya. Semua bermula saat Nadiya mulai mengeluhkan kelakuan Devina yang terkesan susah di atur. Semenjak masuk SMA, Devina sudah ikut menetap tinggal bersama Bimo dan Nadiya di Bandung. Perdebatan itu mulai memanas manakala Nadiya mulai mengatakan kalimat yang tidak pantas yang terkesan menyalahkan Dita dan menyamakan jika sifat Devina itu menurun dari sifat sang mama."Dia udah keterlaluan, Mas. Kayaknya kita harus susul Devina, deh, Mas." Dita sedang mengadukan perihal konflik dirinya dengan Nadiya. "Minggu ini kita ke sana, ya, Sayang. Kita bicara baik-baik sama Bimo dan Nadiya. Biar Devina tinggal sama kita saja. Nanti aku minta D
Dita mematung dengan mata berkaca-kaca saat mendapati anak perempuan yang berusia 5 tahun tengah berdiri satu meter di depannya. Seketika otot kakinya rapuh dan bibirnya kelu, tidak bisa berkata apa pun. 'Mama?' Sedetik kemudian air mata itu luruh.“Teteh baik-baik aja?” Pertanyaan Nadiya berhasil
Seorang wanita cantik, berkulit putih dengan postur tubuh dan besar ideal tengah berdiri di halaman sebuah rumah. Wanita itu tersenyum menatap bangunan di depannya. Rumah itu tidak mewah, tetapi cukup mencolok dan terlihat paling bagus diantara bangunan lain di sekitarnya. Wanita cantik itu berna
“Devina mandi dan siap-siap dulu, ya. Ayah mau ngobrol dulu sama Tante Ami,” ucap Bimo. Sedangkan Devina cukup terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia pikir Bimo akan marah dan tidak mengizinkannya pergi dengan Dita. “Iya, Ayah.” Devina segera berlari menuju rumah dengan wajah senang. Setelah kepe
Dita diam mematung mendengar ucapan ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu tersenyum puas mendengar keputusan putranya. Cairan bening sudah menggenang di pelupuk mata. Sekali kedip saja, maka kristal bening itu akan jatuh tanpa izin.Dita menatap orang-orang yang ada di sana, Bimo bahkan tidak mau m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews