로그인"Cinta bukan hanya tentang bahagia, tetapi ada pula duka dan air mata di dalamnya. Bahkan terkadang meninggalkan sayatan luka tak kasat mata." Dita Utami, seorang wanita muda dan cantik. Ia tidak pernah menyangka jika kepulangannya ke Indonesia setelah 4 tahun menjadi TKI di Dubai, justru telah menguak tabir kebohongan yang selama ini ditutupi dengan begitu rapat oleh suaminya. Dita harus merasakan ribuan sembilu yang menyayat hati karena sebuah pengkhianatan yang suaminya lakukan. Dita harus menerima kenyataan jika Bimo telah menikah lagi dengan wanita lain yang sudah berjalan selama satu tahun. Bahkan Bimo memiliki buah hati dari pernikahan keduanya. Akankah Dita mempertahankan pernikahannya dengan Bimo? Ataukah ia membuang semua kenangan tentang sang suami dan mencari kebahagiaan lain?
더 보기(Nathan's POV)
I stepped into Professor Hale's office after hours of waiting, the door clicking shut behind me like a secret sealed. The room smelled of old books and his cologne. He sat behind his desk, sleeves rolled up to reveal a veined, tattooed forearm. His dark hair tousled, those piercing hazel eyes locking onto me. “Nathaniel Laurent, lock the door,” he said, voice low and gravelly, sending a shiver down my spine. I obeyed, heart pounding. I'd fantasized about this for months… his broad shoulders, the way his shirts hugged his chest, that authoritative presence that made my cock twitch in class. He stood up, suddenly towering over me, and circled like a predator. “You've been staring,” he murmured, fingers tilting my chin up. “Want to taste what you've been dreaming about?” My mouth went dry, but I nodded, dropping to my knees on the worn carpet. He unzipped his pants, pulling out his thick cock; veined, heavy, already half-hard and leaking at the tip. I leaned in, lips parting to wrap around the head, tongue swirling over the salty slit. He groaned, hand fisting my hair, guiding me deeper. “Suck it, boy,” he ordered, hips bucking slightly. I hollowed my cheeks, taking more of him, the girth stretching my jaw. Saliva dripped down my chin as I bobbed, tongue pressing along the underside, tracing every ridge. His cock throbbed against my palate, growing fully erect, filling my mouth until I gagged softly. He didn't let up, thrusting shallowly, fucking my face with controlled power. “Good. Take it all. Show me how much you want this grade... or is it me you want?” I moaned around him, the vibration making him curse, his free hand gripping the desk edge. I worked him faster, one hand stroking the base while my lips slid up and down, sucking hard on the upstroke. I've never sucked dick before. I've had mine sucked multiple times, it's like a daily routine for me, there's always a girl or a guy to suck me off. I'm the school’s most loved fuck boy. I get to fuck, not get fucked. But for professor Hale? I'm willing to become the hole instead of the peg. Precum coated my tongue, saltily bitter and addictive. He praised me between grunts— “Fuck, your mouth is perfect, you're so eager.” My own cock strained against my jeans, aching, but I focused on him, hollowing deeper, nose brushing his trimmed pubes as I deepthroated. He held me there, balls tight against my chin, before pulling back, strings of spit connecting us. “Up,” he commanded, hauling me to my feet. My legs wobbled as he spun me around, bending me over the desk. Papers scattered, but neither of us cared, his hands yanked my pants down, exposing my ass. Cool air hit my skin, then his fingers spread my cheeks. “Look at you, hole clenching for me.” He spat on it, rubbing the wetness in before pressing a finger inside. I gasped, pushing back as he added a second, scissoring roughly, prepping me with no mercy. “Please, Professor, fuck me,” I begged, voice muffled against the wooden desk. He chuckled, withdrawing to line up his slick cock. The head nudged my rim, then he thrust in… raw, burning stretch that made me cry out. Inch by inch, he buried himself, balls-deep in one go, filling me completely. “Tight as hell,” he growled, hands gripping my hips hard enough to bruise. He pulled out slowly, then slammed back, setting a brutal rhythm. The desk creaked under us, my body jolting with each pound. His cock dragged over my prostate, sparks exploding behind my eyes. I moaned loudly, fisting the desk edges as he railed me; deep, punishing strokes that slapped skin on skin. “Take it, your slutty ass was made for this.” Sweat slicked our bodies; he leaned over, chest to my back, one hand snaking around to jerk my cock in time with his thrusts. Pleasure built fast, coiling tight in my gut. “I'm gonna cum… fill you up,” he panted, pace faltering. But he pulled out suddenly, pulling me down from the desk and spinning me to my knees again. “Open,” he rasped. I did, tongue out, as he stroked himself furiously. Hot ropes of cum splattered my face; across my cheeks, lips, dripping into my mouth. Salty, thick, marking me as his cum slut… Suddenly, cold water hit my face like a slap. I jolted awake, sputtering, sheets tangled around my legs. My roommate, Kelly, stood over me with an empty glass, grinning sheepishly. “Dude, you were moaning in your sleep. I thought you were dying or something. Bad dream?” I wiped my face, cheeks burning, my cock rock hard under the blanket. “Yeah... something like that.” Professor Hale's taste weirdly remained on my tongue. The image of the office faded, but the ache lingered… I can feel my hole fluttering. Aching for my Professor. It felt so real the way he was pounding me silly. I want that. I want him fucking me into oblivion. I'm horny and I want my Professor to fill me up. “Get up, Nathan, we're gonna be late. You know your favorite professor schedules his classes early, I hate him.” Kelly said, ranting on and on about how professor Hale's class sucks and shouldn't be set early all the damn time. Personally, I hate attending any class at all. But professor Hale's class is mainly sex Ed, and something else he teaches but I don't pay attention to, I love his sex Ed class. I get to ask questions and tease him even though his stoic ass won't let him respond. “Are you getting up, or hangover has you beat?” Kelly asked, waving his hands over my face like I can't see. “Hangover got nothing on me, get off my face.” I grunted as I sat up. “Why do you have a boner?” Kelly teased, “the fuck boy gets laid even in his dream?” I rolled my eyes, “people with functioning dicks get morning erection but you wouldn't know that because your thing is not functioning.” “What did you just say to me? I function very well.” “Kelly, get out of my room.” “Fine, I'll go. But hurry up and get ready,” Kelly said, stepping away with backward steps. “You know coming in late to professor Hale's class is hell. I'd rather miss than come in late.” I know. But I love coming in late. Because that's the only way to get him to stare at me with those hazel eyes, and demand reasons for coming in late with that thick voice.Tidak selamanya manusia akan berkubang terus dalam kesedihan. Pasti akan ada masanya Tuhan memberikan tawa setelah tangis. Memang tidak berbalas seketika itu juga, tetapi pasti akan ada masanya untuk bahagia. Semua hal pahit sudah Dita lalui dan sekarang ia sedang memanen buah dari kesabaran dan keikhlasannya selama ini. Bukan berarti kesedihan dan masalah tidak akan menghampiri lagi, tetapi untuk saat ini, Dita ingin menikmati hadiah terindah tersebut.Mempunyai suami yang begitu mencintainya, mertua yang sangat menyayanginya dan dua buah hati dari cintanya bersama Daffin. Devina pun telah tumbuh menjadi gadis remaja yang pintar dan berprestasi di sekolahnya saat ini. Dia berhasil membuktikan janjinya pada papa sambungnya tersebut jika dia memang layak masuk dalam keluarga Daffin. Walaupun, Daffin tidak pernah menuntut putri sambungnya tersebut, tetapi Devina ingin membanggakan sang mama dan membuat dirinya berarti untuk orang-orang di sekitarnya. Neira juga tumbuh menjadi gadis y
Terkadang sebagai orang tua, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada anak kita. Terkadang menuntut mereka untuk mendengarkan kita, tetapi kita tidak berkaca, apakah kita juga bisa mendengarkan mereka? Menerima pemikiran mereka dan meluruskan kesalahan tanpa ego sebagai kepalanya. Devina sedang melakukan protes atas sikap Nadiya yang mulai berbeda padanya. Dan juga Bimo yang semakin sibuk bekerja dan tidak memberikan perhatian seperti dulu. Nadiya yang ikut bekerja, terkadang pulang dengan keadaan lelah dan lebih sering marah-marah. Devina merasa apa yang dia lakukan selalu salah di mata ibu sambungnya itu. Dia sudah berusaha sebisa mungkin membantu, tetapi tidak dianggap sama sekali. "Vina mau tinggal sana nenek aja, Yah." Devina pernah meminta izin ayahnya untuk kembali tinggal dengan sang nenek di desa ayahnya, tetapi dengan cepat Nadiya menolak. "Kamu mau bikin nama mama semakin jelek di mata nenekmu? Dia akan semakin berpikir kalau mama ini gak becus ngurus kamu!" sentak
Nadiya bisa menangkap sorot ketakutan di mata Dita. Wajah Dita terlihat pucat. "Ini hanya bagian dari masa lalu istriku dan tidak ada hubungannya dengan saat ini. Istriku juga tidak bertanggung jawab atas perasaanmu saat ini, Bimo!" tegas Daffin. Dita hanya diam menatap wajah suaminya. Meskipun pria itu mengulas senyum, tak lantas membuat Dita tenang. "Mas …." Dita tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Foto itu kembali mengingatkan dirinya akan sebuah kenangan buruk di masa lalu. "Itu hanya sebuah foto, Sayang. Bisa saja itu editan," imbuh Daffin. Ia menggenggam erat tangan sang istri. "Itu adalah foto asli, Daffin. Kami mendapatkan foto itu dari sumber yang akurat." Bimo menanggapi ucapan Daffin. "Lalu? Kalau foto itu asli, apa yang akan kamu lakukan pada istriku? Menuntut tanggung jawab atas sebuah pengkhianatan?" sahut Daffin. Ia memicing, menatap tegas pria yang duduk di depannya itu. "Bimo, Bimo. Bukankah ini sangat lucu? Kalian mempersalahkan kejadian di masa lalu istriku.
Waktu terus berputar tanpa ada satu manusia pun yang bisa menghentikannya. Semua sudah berjalan sesuai dengan apa yang sudah digariskan oleh sang pencipta kehidupan. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya dengan kehidupan kita. Kedekatan Dita dan Nadiya, istri mantan suaminya, kini jadi merenggang karena perdebatan lewat chat antara keduanya. Semua bermula saat Nadiya mulai mengeluhkan kelakuan Devina yang terkesan susah di atur. Semenjak masuk SMA, Devina sudah ikut menetap tinggal bersama Bimo dan Nadiya di Bandung. Perdebatan itu mulai memanas manakala Nadiya mulai mengatakan kalimat yang tidak pantas yang terkesan menyalahkan Dita dan menyamakan jika sifat Devina itu menurun dari sifat sang mama."Dia udah keterlaluan, Mas. Kayaknya kita harus susul Devina, deh, Mas." Dita sedang mengadukan perihal konflik dirinya dengan Nadiya. "Minggu ini kita ke sana, ya, Sayang. Kita bicara baik-baik sama Bimo dan Nadiya. Biar Devina tinggal sama kita saja. Nanti aku minta D
Daffin dan Neira sudah siap saat Haryanto dan Silvia menjemput ke apartemen. "Cantiknya cucu oma," puji Silvia yang kemudian memangku Neira. "Sudah siap untuk pergi?" tanyanya."Sudah, Oma. Nela sudah siap temenin Papa," jawab anak itu dengan senyum yang menampakkan deretan gigi kecilnya. "Tapi Mama
“Mbak Dita, ya?” tanya wanita bergaun merah tersebut. “Iya. Maaf kamu ….” Dita tidak melanjutkan kalimatnya. “Kenalkan saya Inggrit, Mbak. Calon istri Mas Indra,” wanita itu memperkenalkan diri sembari tersipu. “Mas Indra meminta saya agar menjemput Mbak Dita dan Mbak Lastri untuk makan malam bersam
"A Bimo!""Ayah!"seru Serentak Dita dan Devina. Cukup kaget karena tidak menyangka akan bertemu Bimo di sana.'Ih, menyebalkan! Bukankah dia sudah setuju untuk kasih kesempatan aku menghabiskan waktu dengan Vina? Dasar pembohong!' Dita mengutuki Bimo di dalam hatinya. Tentu saja ia tidak tahu jika sem
“Devina mandi dan siap-siap dulu, ya. Ayah mau ngobrol dulu sama Tante Ami,” ucap Bimo. Sedangkan Devina cukup terkejut mendengar ucapan ayahnya. Ia pikir Bimo akan marah dan tidak mengizinkannya pergi dengan Dita. “Iya, Ayah.” Devina segera berlari menuju rumah dengan wajah senang. Setelah kepe
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰