เข้าสู่ระบบPagi Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama hari ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Perubahan pada tubuh Ryan Pendragon belum berhenti.Di seberang sana, guratan totem di sekujur tubuh Magnus Terran menyala semakin terang. Cahaya putih membungkus seluruh badannya, membuat sosoknya tampak seperti binatang purba yang baru keluar dari medan perang kuno.Di telapak tangan kirinya yang masih tersisa, energi spiritual memadat dengan gila. Bola cahaya menyilaukan terbentuk di sana, seperti bintang yang sedang meledak namun dipaksa mengecil ke dalam satu genggaman.Dengan seluruh kekuatan yang tidak lagi menyisakan apa pun, Magnus menghantamkan tinju itu ke arah Ryan.Ryan menatap pukulan yang datang.Matanya justru berbinar.Ia memang menikmati pertarungan. Bahkan bisa dikatakan, ia menyukai pertarungan. Namun ada syaratnya. Lawan yang berdiri di hadapannya harus cukup kuat untuk membuat darahnya berdesir.Magnus Terran yang sekarang akhirnya memenuhi syarat itu.Ryan mem
Pada saat itu, tubuh Ryan Pendragon mulai berubah.Sesosok bayangan binatang bermutasi muncul di belakang punggungnya. Wujudnya menyerupai harimau putih bersurai emas, tetapi di bawah bulunya tampak kilau sisik sewarna giok. Tekanan yang memancar dari bayangan itu membuat tanah di sekeliling Ryan berdesir turun beberapa jari.Tubuh Ryan sendiri ikut memanjang dan membesar.Energi iblis serta Energi Gao membungkus permukaan kulitnya, saling melilit tanpa saling menghancurkan. Dua kekuatan yang seharusnya bertabrakan itu justru bergerak seimbang, seperti dua arus berbeda yang dipaksa mengalir dalam satu sungai.Mata Kellan Cook dan Cedric Ember langsung menyipit.Bayangan binatang itu saja sudah cukup membuat mereka merasakan bahaya. Namun ternyata, perubahan Ryan belum berhenti di sana.Guratan-guratan ungu mulai muncul di sekujur tubuhnya. Garis-garis itu menjalar dari punggung tangan hingg
“Aaakh!” Kekuatan Magnus Terran melonjak beberapa kali lipat. Energi spiritual yang pekat berkumpul di tinju kiri yang masih utuh. Guratan totem di sekujur tubuhnya menyala putih menyilaukan, seolah setiap garis ukiran di kulitnya dipaksa terbakar oleh energi yang berputar dengan kecepatan gila. Dentuman keras pecah di udara. Tinju berbalut cahaya putih itu menghantam rune emas yang dilepaskan Kellan Cook. Rune emas tersebut tidak langsung hancur. Sebaliknya, rune itu justru menekan balik. Cahaya keemasannya membentang menjadi jaring tipis, membungkus lengan Magnus, lalu mulai menggerus maju sedikit demi sedikit. Telapak kaki Magnus terseret mundur, mengukir dua alur panjang di tanah berbatu. Urat-urat menonjol di dahi dan pelipisnya. Jelas, menahan rune itu sama sekali bukan perkara mudah. Ia terus meraung. Otot-otot di lengannya menggembung lalu berdenyut keras. Kulitnya robek di beberapa tempat, dan darah menyembur keluar, membasahi tanah di bawah kakinya. Namun Magnu
Wajah Kellan Cook mengeras. Secara kultivasi, ia memang satu tingkat di atas Magnus Terran. Namun menghadapi Magnus yang sudah kehilangan akal adalah perkara berbeda. Ia sama sekali tidak yakin bisa menaklukkan pria itu dengan mudah, apalagi tanpa membuat luka yang tidak bisa diperbaiki. Yang lebih merepotkan, ia tidak boleh benar-benar membunuh Magnus. Peraturan Akademi Heavenly Flame jelas mengikat tangannya. Setiap serangan harus ia tahan setengah jalan. Ia harus cukup kuat untuk menghentikan Magnus, tetapi tidak boleh sampai merenggut nyawanya. Sementara itu, Magnus yang sedang mengamuk tidak terikat apa pun. Menghadapi lawan seperti itu, bahkan dengan bantuan Cedric Ember, Kellan tidak berani memastikan berapa lama mereka bisa bertahan. Aura berwibawa perlahan membentang keluar dari tubuh Kellan. Di belakang punggungnya, sesosok bayangan samar muncul. Sosok itu mengenakan jubah cendekiawan kuno dan menggenggam kitab tebal di tangannya. Meski bentuknya tidak sepenu
Kellan Cook dan Cedric Ember menatap Ryan Pendragon dengan bola mata yang bergetar. Apa yang barusan terjadi? Pikiran keduanya seolah berhenti bekerja. Ryan mengalahkan Magnus Terran? Bukan hanya mengalahkannya. Pemuda itu menang dalam adu kekuatan tubuh secara langsung, bidang yang selama ini menjadi kebanggaan Magnus. Yang lebih sulit dipercaya, Ryan hanya memakai satu serangan. Padahal tingkat kultivasinya tampak baru berada di Ranah Creation. Saat ini, telapak Magnus berlumuran darah. Tulang-tulang di dalamnya hancur berkeping-keping, dan jemarinya terkulai ke arah yang tidak wajar. Tangan besar yang tadi terlihat seperti dicetak dari besi kini menggantung lemas di sisi tubuhnya. Magnus mengerang rendah. Mata Ryan sedikit berkilat. Harus diakui, bakat tubuh lelaki ini memang luar biasa. Ketahanannya jauh melampaui Lucian Zeth. Tenaga yang Ryan pakai barusan tidak jauh berbeda dari tenaga yang ia gunakan untuk menumbangkan Lucian di kantin. Namun hasilnya sama sekali
Kellan Cook memasang wajah seperti orang yang sedang menikmati pertunjukan menarik. Persis seperti dugaannya, begitu dipancing sedikit, lelaki dari tanah tandus itu langsung bersungguh-sungguh. Magnus Terran memang mudah terbakar, tetapi justru karena itulah ia berguna pada saat seperti ini. Kali ini, sehebat apa pun keberuntungan Ryan Pendragon, mustahil pemuda itu bisa menahan telapak Magnus. Namun Cedric Ember justru menyipitkan mata. Ia menangkap sesuatu yang terasa janggal. Ketika Magnus menyerang untuk kedua kalinya dengan tenaga yang jauh lebih besar, wajah Ryan sama sekali tidak berubah. Tidak ada ketakutan, tidak ada ketegangan, bahkan tidak ada niat untuk menghindar. Pemuda itu malah tersenyum tipis, dan di matanya ada kilatan bersemangat yang sulit disembunyikan. ‘Ada apa dengan bocah ini?’ Kultivator Ranah Creation biasa seharusnya sudah gemetar hanya karena merasakan tekanan serangan itu. Telapak Magnus bukan sekadar serangan fisik. Di dalamnya tersimpan kek







