MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu dan Kak Om De atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) karena jumlah koin belum mencapai target, maka ini adalah bab terakhir. Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
Mira Yin menatapnya dengan sorot yang mempertanyakan apakah ia salah mendengar. "Keuntungan? Bertarung saja perlu keuntungan?" Orang ini benar-benar terlihat materialistis. Apa sebenarnya yang dilihat Brentley Holt dan kakeknya dari pemuda ini? Tapi ia tidak menyerah. Tangan Mira Yin bergerak dan sebilah belati kecil muncul di telapaknya. Ia membalikkan belati itu sekali di udara sebelum menahannya datar. "Belati ini adalah artefak ruang-waktu. Kalau kamu menang, aku berikan ini. Cukup?" Ryan memandang belati itu sebentar, kemudian menggeleng. "Aku tidak butuh benda-benda itu." Sudut bibirnya bergerak naik sedikit. "Yang aku mau..." Ia menatap topeng hitam yang menutupi seluruh wajah Mira Yin dengan tenang. "Yang aku mau adalah melihat wajahmu. Aku tidak tertarik bertarung dengan seseorang yang tidak berani memperlihatkan wajah aslinya." Kalimat itu keluar dengan ringan, tanpa beban yang sama sekali ia bayangkan akan menyusulnya. Diam seketika jatuh di dermaga itu. Bukan han
Kapal terbang mereka akhirnya mendaratkan diri di Kota Spirevale setelah perjalanan yang cukup panjang. Udara di kota perbatasan itu terasa lebih dingin dari Sekte Moon Flower, dengan aroma asap dan logam yang khas dari kota yang ramai oleh pendatang dari berbagai sekte. Kaki mereka baru menyentuh dermaga pendaratan ketika Mira Yin sudah bergerak lebih dulu. Gadis bertopeng hitam itu memutar posisinya dan berdiri tepat di hadapan Ryan, menghalangi jalan. "Baiklah, kita sudah turun." Suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan alasan terakhir yang bisa dipakai. "Bisakah kita bertarung sekarang? Atau kamu memang pengecut yang takut menghadapi perempuan?" Ryan memandang ekspresi serius di balik topeng itu dan menghela napas kecil dalam hati. Selama perjalanan dari Sekte Moon Flower, gadis ini sudah mengganggunya minimal dua puluh kali untuk meminta duel. Setiap kali Ryan memberikan alasan, Mira Yin menemukan celah untuk membantahnya. Setiap kali ia mengalihk
Beberapa saat kemudian, Eren Carster memimpin Ryan dan Mira Yin keluar dari aula utama.Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar, Eren sesekali melirik Ryan dengan tatapan yang penuh pikiran. Sesuatu masih mengganjal di benaknya.Ia sudah cukup lama menjadi Ketua Sekte untuk tahu bahwa esensi darah Unicorn Naga yang diolah tidak akan menghasilkan suara raungan sekeras dan seancaman itu.Tapi Brentley Holt sudah berbicara. Dan Tetua Agung Brentley Holt bukan orang yang perkataannya bisa dipertanyakan begitu saja.Saat mereka melangkah keluar dari batas Sekte Moon Flower, satu firasat menggelitik Eren tanpa bisa diabaikan. Keikutsertaan Ryan di Kompetisi Rising Dragon kali ini mungkin akan menggemparkan seluruh Benua Valorisia.Dari Sekte Moon Flower, ketiganya menuju Kota Phoenix Api. Di dermaga udara kota itu, sebuah kapal terbang sudah menunggu, siap membawa mereka menuju sebuah kota kecil di perbatasan Benu
Ryan menatap sosok yang berdiri di sudut aula itu.Mira Yin juga hadir? Ia tidak menyangkanya. Yang lebih mengejutkan adalah aura Mira Yin yang terasa berbeda dari terakhir kali mereka bertemu.Lebih padat. Lebih tajam.Rupanya gadis itu sudah bertumbuh cukup signifikan dalam waktu yang tidak lama. Terakhir kali Ryan melihatnya, aura itu belum setajam ini. Ada yang berubah.'Berarti dia salah satu peserta kompetisi kali ini.'Eren Carster menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. "Baiklah, semua sudah hadir. Kita bersiap untuk berangkat."Ryan sedikit mengerutkan dahi. "Bukankah ada tiga slot?"Jessica Neuro tersenyum tipis. "Xavier Dragvine tidak berhasil menjadi murid rahasia.""Tapi ia lulus Ujian Darah Roh, jadi Tetua Agung Yordan sudah membawanya ke klan asing dan meminta para kultivator di sana untuk merekomendasikannya ikut kompetisi melalui jalur itu."Ia melanjutkan sebelum R
Brentley Holt tidak langsung menjawab. Pandangannya lama menatap kamar itu dari luar, seolah membaca sesuatu yang tidak terlihat oleh yang lain. Kemudian ia melangkah masuk tanpa berkata sepatah kata pun kepada siapa pun. Di dalam, ia merasakan sisa-sisa kekacauan energi yang sudah mulai mereda. Alisnya yang putih terangkat sedikit. Formasi biasa tidak akan meninggalkan sisa energi seperti ini. Dia menelusuri dengan persepsinya jauh ke dalam, melewati lapisan demi lapisan kekacauan yang masih tersisa. Dalam satu momen, ia melihat sepasang mata. Mata binatang iblis kuno. Ia tidak asing dengan kekuatan semacam itu. Meski belum matang dan masih dalam kondisi lemah, binatang itu akan menyerang siapa pun yang mendekatinya tanpa memperhitungkan kondisinya sendiri, demi satu alasan sederhana, melindungi tuannya. Brentley Holt kembali ke luar. Murid yang ia pilih ternyata bukan orang biasa. Dia melambaikan tangannya kepada semua orang. "Pergi. Ryan baik-baik saja. Beri dia ru
Demi bisa bertarung bersama Tuannya lagi. Itulah alasan Sphinx. Itulah segalanya. Mata Ryan memanas. Ia menancapkan Pedang Iblis Darah ke dalam es di depannya, kemudian mendorong tubuhnya maju selangkah. Darah terus mengalir dari kulitnya, meresap ke dalam jubahnya yang sudah basah sepenuhnya. Satu langkah. "Sphinx, tunggu aku!" Sphinx sudah tidak sadarkan diri. Ryan tidak tahu apakah makhluk itu masih hidup atau sudah tidak ada. Lima meter jarak yang biasanya bisa ia tempuh dalam sekejap. Sekarang terasa seperti perjalanan melintasi dunia. Ia tidak berhenti. Satu langkah lagi. Darah mengalir. Satu langkah lagi. Kulitnya sudah tidak bisa membedakan antara dingin dan nyeri. Keduanya menjadi satu hal yang sama. Setelah waktu yang terasa sangat panjang, Ryan akhirnya tiba di sisi Sphinx. Seluruh jubahnya sudah tidak bisa dibedakan warnanya lagi. Tenaganya habis. Ia roboh. Tangannya mengulur dan memeluk Sphinx yang kaku terbalut es, mencoba memberikan sedikit kehangatan d
Sudah berakhir, semuanya sudah berakhir!' pikir Lidya, dan ia yakin bukan hanya dirinya yang berpikir demikian. Angelica dan semua orang yang hadir juga memandang Ryan dengan tatapan simpati, yakin bahwa nasib pemuda itu telah ditentukan. Ethan Zein memasukkan tangannya ke dalam saku dan berkata
Yun Jing telah tewas! Tidak seorang pun menduga hal-hal akan berkembang seperti ini. Keberadaan yang agung dan perkasa—seorang grandmaster yang pernah menduduki peringkat 400 besar di Nexopolis—dihancurkan dan dibunuh oleh seorang pemuda yang bahkan belum genap seperempat abad! Keheningan mence
Mike kembali menatap Ryan dengan mata melotot. "Lepaskan kakak seniorku dan berlutut di depanku! Cepat!" "Kau ingin aku berlutut?" Suara Ryan terdengar geli, seolah baru mendengar lelucon yang sangat lucu. "Kau yakin?" Belum sempat Mike West membalas, Ryan telah bergerak. Dalam sekejap mata, tan
Eriel Wealth tertawa paling keras di antara semuanya. Dia menunjuk ke arah Gawain Wealth dengan sikap mengejek. "Gawain Wealth, bahkan jika Nexopolis hancur, Keluarga Wealth tidak akan pernah memintamu untuk kembali!" "Enyahlah sekarang!" bentaknya kasar. Ryan melirik Gawain Wealth dan menggelen







