MasukIni adalah bab pertama sore ini di bab berikutnya, akan ada pengganggu, wkwkwkwk Bab Bonus: 4/6 Bab Bab Reguler: 1/1 Bab (komplit)
Serangan daya jiwa dari formasi Barlow Steen dan keempat bawahannya melesat menuju Dark Ray. Tidak ada cahaya ataupun suara yang menyertai serangan itu. Namun kekuatannya cukup untuk mengguncang jiwa Binatang Spiritual yang sedang berlari di lintasan.Dark Ray memang mutan kuno dengan garis darah luar biasa, tetapi usianya masih muda dan pengalaman bertarungnya terbatas. Jika serangan tersebut benar-benar mengenai jiwanya, gerakannya pasti terganggu. Bahkan bukan mustahil binatang itu langsung roboh sebelum mencapai garis akhir.Barlow dan para penjaga menatap Ryan dengan senyum mengejek. Mereka sudah membayangkan Dark Ray tersungkur, disusul perubahan wajah pemuda yang tadi begitu yakin akan menang.Namun sebelum serangan itu mencapai sasarannya, mata Ryan berkilat.Daya Jiwa Primordialnya bergerak dan membentuk Pedang Jiwa. Tanpa mengubah posisi duduknya, Ryan mengayunkan senjata tak kasatmata itu ke arah kekuatan yang dilepaskan formasi.Serangan para penjaga langsung terbela
"Baiklah, kita lakukan seperti katamu," jawab Ryan setelah mempertimbangkannya sejenak.Ia sudah memahami maksud Barlow Steen. Jenderal itu tidak rela kehilangan taruhan pertama dan kini mencari kesempatan untuk merebut kembali Batu Saint miliknya. Namun selama Ryan ingin memasuki Wilayah Selatan tanpa menarik perhatian, ia masih harus mengikuti permainan mereka.Ryan memutar cawan arak di tangannya, lalu melirik Dark Ray yang berdiri di ujung lintasan. Binatang hitam itu mengibaskan ekornya sekali dan kembali diam, sama sekali tidak peduli pada orang-orang yang terus memperhatikannya.Barlow dan keempat bawahannya saling berpandangan. Senyum puas kembali muncul di wajah mereka.Kekalahan sebelumnya memang mengejutkan, tetapi mereka menganggapnya sebagai akibat kelengahan sendiri. Mereka tidak menyangka Dark Ray merupakan mutan kuno, sehingga membiarkannya berlomba tanpa mengambil tindakan pencegahan.Sekarang mereka sudah tahu seberapa cepat binatang itu bisa berlari. Mereka tida
Barlow Steen dan para penjaganya masih sulit menerima hasil perlombaan. Dark Ray yang mereka anggap tidak berguna ternyata memiliki garis darah kuno, sesuatu yang sama sekali luput dari pengamatan mereka.Sebenarnya, ketidaktahuan itu tidak terlalu memalukan. Mutan kuno hampir tidak memiliki perbedaan fisik dari Binatang Spiritual lain dalam ras yang sama. Bahkan penjinak binatang berpengalaman belum tentu mampu mengenalinya. Biasanya, hanya penjinak terbaik yang dapat menemukan garis darah tersembunyi seperti itu.Lalu bagaimana dengan Ryan?Apakah pemuda itu memiliki kemampuan setara penjinak binatang tingkat atas? Atau ia sekadar beruntung memilih satu dari ribuan Binatang Spiritual?Barlow segera menolak kemungkinan kedua. Keberuntungan seperti itu terlalu sulit dipercaya. Apalagi Ryan memilih Dark Ray tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun, bahkan setelah semua orang memperingatkan bahwa binatang itu hanya tunggangan pacu kelas tiga.Di lintasan, Dark Ray sudah kembali berbar
Barlow Steen melihat isyarat dari anak buahnya, tetapi tidak langsung memberikan jawaban.Ia kembali memandang lintasan, terutama Dark Ray yang masih tertinggal jauh di belakang.Mereka memang memiliki cara rahasia untuk memastikan kemenangan. Namun menjalankannya membutuhkan persiapan, sedangkan keadaan sekarang sama sekali tidak terlihat mengkhawatirkan.Dengan jarak sejauh itu, bagaimana mungkin Dark Ray mengejar Saint Spirit?'Bahkan Binatang Spiritual legendaris milik Keluarga Dragvine mungkin tidak sanggup mengejar dari posisi seperti itu.'Barlow akhirnya menggeleng pelan. Para penjaga segera memahami keputusannya dan kembali duduk santai. Di mata mereka, selisih jarak sudah terlalu besar. Dark Ray bahkan masih berlari dengan petir hitam yang berkedip redup di punggungnya. Tidak seorang pun merasa perlu membuang tenaga menggunakan kartu truf mereka.Ryan menangkap pertukaran isyarat itu dari sudut mata. Ia hanya tersenyum kecil, lalu mengambil sepotong daging panggang dan me
Niat membunuh mulai memancar dari para penjaga yang mengelilingi Ryan.Aura mereka semakin kuat, menekan pemuda itu dari berbagai arah setelah melihat seratus Batu Saint tergeletak di atas meja.Namun sebelum seorang pun sempat bertindak, sebuah bentakan mengguncang panggung."Cukup!" Suara itu menggelegar seperti petir. Cawan-cawan arak bergetar, dan para prajurit langsung terdiam. Mereka buru-buru menarik kembali aura masing-masing lalu menoleh kepada orang yang baru saja membentak.Ternyata Barlow Steen sendiri.Barlow memandang Ryan cukup lama. Ekspresinya berubah beberapa kali sebelum akhirnya ia kembali tersenyum."Adik Ryan, sepertinya kami memang sudah meremehkanmu. Baiklah, kita lanjutkan taruhan ini!"Setelah berkata begitu, Barlow melirik tajam para bawahannya. Tatapan itu membuat mereka menggigil dan segera menunduk.Barlow bukan tidak tergoda melihat kekayaan Ryan. Namun ia sudah bertahun-tahun menjaga perbatasan dan tahu kapan harus menahan keserakahan.Seratus Batu Sai
Barlow Steen dan para penjaganya terpaku mendengar pertanyaan Ryan. Mereka mengira pemuda itu akan meminta mengganti Binatang Spiritual setelah mengetahui kelas Dark Ray, tetapi ia justru lebih dulu menanyakan taruhan.Ryan tetap terlihat tenang. Tidak ada kegugupan ataupun penyesalan di wajahnya, seolah memilih binatang yang dianggap paling lemah merupakan keputusan yang wajar.'Apa dia benar-benar bodoh? Atau hartanya terlalu banyak sampai tidak peduli kalah?' pikir Barlow.Perasaan janggal kembali muncul di hatinya. Selama bertahun-tahun mempersulit pendatang di gerbang perbatasan, Barlow belum pernah bertemu orang yang bersikap sesantai ini setelah masuk perangkap mereka. Biasanya, korban akan gugup, meminta kelonggaran, atau mencari alasan untuk menghindari taruhan. Ryan justru seolah menantang mereka terlebih dahulu.Namun keraguan itu segera disingkirkannya. Dark Ray pilihan Ryan masih berdiri lesu di lintasan, dengan tubuh kurus dan aura yang hampir tidak terasa.'Biarpun di






