تسجيل الدخولSumi mengulum dengan penuh semangat. Semakin lama, rasa yang di hasilkan dari kulumannya semakin nikmat. "Ahhh... mmm, sepertinya... kamu sudah sering melakukan ini, mmm... enak banget!" racau Joko dengan mata merem melek.Dia berusaha keras untuk menjaga fokusnya. Meski jalanan di sana kosong, tapi jika kehilangan fokus bisa-bisa mobilnya keluar dari jalan.Setelah beberapa menit di mainkan, Joko belum memperlihatkan tanda-tanda mencapai puncak. Para wanita itu takjub dengan ketahanan Joko."Sumi, kamu bisa gak sih? Kok dia belum keluar?" tanya Rara dengan sinis.Sumi mengeluarkan batang Joko dari mulutnya. "Jangan salahkan aku, punya dia kuat banget!" ucapnya sambil memelototi Rara."Gantian dong!" pinta Rara dengan ekspresi wajah tidak sabar.Sumi mendengus kesal, lalu dia pindah ke kursi belakang. Dia bukan mengalah, tapi dia sudah merasakan mulutnya pegal.Rara dengan penuh semangat pindah ke kursi depan. Setelah itu, dia langsung menunduk batang Joko dan meraihnya."Keras bange
Perkataan Sumi seperti sengatan listrik untuk Joko. Miliknya yang sudah mengeras, semakin mengeras sampai tercipta tonjolan di celananya. Rara bangkit dari tempat duduknya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Joko. "Asalkan... jaga rahasia, kamu boleh cicipi kita." "Kalian pasti bercanda kan?" tanya Joko. Dia tidak langsung memercayai ucapan para wanita itu. "Tadinya... kita sepakat mau berebut kamu. Tapi ternyata... kamu itu pria nakal yang punya banyak wanita. Jadi... gak ada gunanya lagi kita berebut lagi," ucap Sumi. "Kamu orang kaya. Kalau menjalin ikatan yang lebih jauh... kita pasti dapat keuntungan dari kamu. Walau bukan berupa harta, setidaknya bisa dapat bantuan kalau di masa depan punya masalah," ucap Rara. "Aku setuju. Walau aku pengen jadi wanitamu, tapi sepertinya sudah gak mungkin," ucap Sumi. Dita dan Yeni setuju dengan ucapan Sumi. Joko menyeringai tipis. "Kalian cerdik juga yah." ucapnya. "Pantas saja kalian mau di mobilku, ternyata kalian sudah punya renc
"Jo, mobilmu nyaman banget yah," ucap Sumi dengan ekspresi sedikit genit. "Tentu saja nyaman. Mobil ini gak murah!" sahut Dita dari belakang. "Hehe, senyaman apapun mobil, pasti lebih nyaman diam di rumah," canda Joko. "Kamu bisa saja," Sumi menekan pundak Joko dengan jari telunjuknya. Joko sedikit melirik wanita itu. "Hmm, wanita ini sangat aktif. Baru kenal saja sudah berani bertingkah genit." Setelah terdiam sesaat, Joko kembali berkata. "Nanti sampai di kota, kalian harus ke toilet dulu. Kalau sudah lewat kota, susah nyari toilet. Baru ada lagi toilet nanti di kalau udah sampai di Kota Awan." "Kalau kebelet di jalan, tinggal nyari hutan saja. Gak masalah, hihi," ucap Rara sambil terkikik. "Kalau gak masalah kencing di hutan, gak apa-apa," balas Joko. "Jo, kamu gak bawa camilan?" tanya Sumi. "Nggak, nanti beli di kota," balas Joko. "Nggak usah beli. Kita bawa banyak camilan kok," ucap Sumi buru-buru. "Iya. Gak bakal habis kita makan," ucap Yeni sambil memperlihatkan sat
Tak terasa hari Sabtu pun tiba...."Sayang, kalian yakin gak mau ikut?" tanya Joko sambil menatap Ayu, Lana, Sinta, dan Mona.Joko tampak sedang sibuk memasukkan semua keperluannya ke dalam koper. Keempat wanita cantik itu sibuk membantunya."Nggak ah. Kalau kita ikut liburan, pasti nanti beritanya bocor ke para warga. Para bocah itu pasti gak akan bisa tutup mulut," balas Sinta."Hmm, ya sudah. Kalian mau di bawakan apa?" tanya Joko."Terserah kamu saja. Kamu gak bawa apa-apa pun gak masalah. Yang penting, kamu pulang dengan selamat," balas Ayu dengan lembut."Hehe, aku mau liburan ~ bukan mau perang," Joko menggosok kepala Ayu. "Tetap saja kamu harus berhati-hati!" tegas Ayu dengan wajah cemberut."Oke... oke. Ya sudah, kalau nanti ada barang bagus, aku pasti bawakan buat kalian," ucap Joko.Beberapa saat kemudian, mobil Joko melaju pergi meninggalkan rumah Lana. ===Tadi malam, Rian memberi tahu Joko kalau besok akan berkumpul di depan jalan keluar kampung. Saat Joko sampai di s
Joko dan Lana tidak pulang ke rumah. Joko membawa Lana ke markas kelompok Darto. Setibanya di sana, Darto dan kelompoknya tampak sangat antusias dan langsung mengerumuni Joko dan Lana."Bang.... akhirnya kamu punya waktu datang ke sini," ucap Darto. "Ayo... duduk Bang, Nona Lana," undang Darto."Ayo kalian juga duduk lagi saja!" Joko duduk dan Lana duduk di sampingnya. Setelah semua orang duduk, Joko berbicara. "Gimana dengan latihan kalian?" tanyanya sambil menatap kelompok Darto."Hehe, kita sangat rajin Bang. Kita sekarang sepertinya sudah jauh lebih kuat!" balas Seno."Benar kata Seno. Semua yang di ajarkan Abang sudah hampir kita pelajari semuanya," tambah Darto.Dengan kemampuan sekarang, Joko bisa merasakan dengan jelas seberapa kuat kelompok Darto.Mata Joko menatap Darto. "Pendekar tahap awal," matanya beralih ke Seno. "Pendekar tahap awal. Lumayan, lumayan." Mendengar ucapan Joko, Darto dan yang lainnya termasuk Lana menjadi kebingungan."Bang, apa itu pendekar tahap awal
Keesokan harinya.Warga kampung di buat heboh saat melihat rumah Joko di bongkar oleh para pekerja konstruksi. Banyak warga berkerumun untuk melihat proses pembongkaran itu.Joko berada di sana bersama Lana. Dia ingin melihat detik-detik rumah lamanya di robohkan.Berbagai kenangan di masa lalu saat dia bersama keluarga, kini bermunculan di pikirannya. Perasaan masam memenuhi hatinya, perasaan itu membuat matanya sedikit basah."Ibu, Ayah, Kakek. Aku akan membangun kembali rumah peninggalan kalian menjadi rumah yang paling bagus di kampung ini. Kalau kalian melihatnya di atas sana, semoga kalian suka dengan rumah yang aku buat," gumamnya di dalam hati.Lana melirik Joko. Melihat sorot mata pria itu yang mengandung kesedihan, dia diam-diam memeluknya ~ untuk berusaha memberikan kenyamanan.Para warga menjadi sangat yakin kalau Lana adalah pacar Joko setelah melihat wanita itu memeluk Joko dengan eratnya.Banyak pria yang iri kepada Joko, bagaimana pun wanita yang sangat menawan seperti
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







