INICIAR SESIÓN"Kalian tahu, tidak? Soal pria yang menguntit Nadine?" Genta membuka obrolan di meja yang berjejer panjang. Mungkin berisi sekitar duapuluhan orang. Para petugas penyidik dari berbagai macam divisi itu sontak menoleh penasaran, tak terkecuali Nadine yang namanya disebut.Meski sejujurnya, perempuan itu terus melirik pria di meja seberang dari ekor mata. "Tentu saja tahu. Dia di rutan kejaksaan, kan?" Seorang pria yang Nadine bahkan tidak ingat pernah melihatnya sontak menyahut cepat."Iya! Ibunya tiba-tiba datang tadi pagi. Dia mengamuk dan memaki-maki kamdal yang sedang berjaga."Nadine bahkan tidak begitu tertarik dengan ucapan heboh rekan kerjanya. Karena perempuan itu terlalu sibuk menghindar saat Lingga balik menatapnya lurus dari meja para jaksa."Aku mendengar soal itu juga! Dia bilang anaknya tidak mungkin melakukan itu. Dia terlalu sibuk dan bermartabat untuk melakukan hal tercela," timpal penyidik lain sambil terkekeh meremehkan."Tapi sejujurnya--terlepas dari maling yang
"Kenapa Pak Lingga ke sini?!" Nadine memekik panik sambil bergerak mundur. Membuat dua staff hotel yang berjaga di balik meja resepsionis tak ayal menoleh penasaran."Aku hanya ingin bicara sebentar. Sekalian kita berangkat ke kantor." Lingga menyampaikan lugas.Namun, Nadine malah mempererat pegangannya pada tali tas dan terus bergerak mundur. Kentara sekali jika perempuan itu tengah menghindari sang jaksa."Aku tidak mau berangkat bersamamu ...." Nadine menolak pelan."Lalu kamu mau naik apa?" Pria dalam balutan jas hitam rapi itu bertanya heran."Ada bus stop dekat sini. Aku akan naik bus," sahut Nadine cepat."Baiklah. Jangan lupa makan sarapanmu sebelum berangkat." Setelah beberapa lama terlihat berpikir, Lingga menyahut kelewat pasrah.Pria itu bahkan berbalik dan keluar dari lobi. Tanpa mengatakan apapun lagi. Hingga Nadine yang tidak terbiasa dengan sang jaksa yang biasanya memaksa hanya bisa melongo takjub."Dia pergi begitu saja...?" Nadine menatap kepergian pria itu yang
Nadine terjaga sampai pagi.Setelah apa yang terjadi semalam, jelas saja perempuan itu tidak bisa tidur. Dan sekarang, ia benar-benar menyesal karena tidak memanfaatkan waktu istirahatnya dengan baik.Masalah baru sudah menunggunya di depan mata; dengan kondisi mengantuk berat dan mental yang masih terguncang, ia harus berangkat kerja.Nadine harus tetap bertemu Lingga."Apa aku sebaiknya mengambil cuti...?"Pilihan yang jelas tidak tepat. Karena perempuan itu sudah banyak libur akhir-akhir ini. Pekerjaan yang belum ia rampungkan saat cuti sebelumnya bahkan masih banyak.Kringgg!Nadine berjengit terkejut karena dering telepon kabel di atas nakas sisi ranjang. Perempuan itu pun mendengkus meski tak ayal buru-buru mengangkat panggilan."Selamat pagi, Ibu Nadine. Mohon maaf mengganggu waktunya, ya, Ibu ...." Suara ramah nan manis dari petugas hotel menyapa telinga."Pagi, Mbak." Nadine merespon sekenanya."Di lobi ada titipan barang untuk Anda. Mau kami antarkan ke kamar atau Ibu ambil
"Nadine ... kenapa pintunya dikunci?!"Perempuan dengan piyama terkancing asal itu bersandar di luar pintu kamar Lingga. Napasnya memburu keras, bibirnya terasa membengkak.Sedangkan pria di dalam sana sibuk menggedor pintu. Mungkin terkejut karena Nadine tiba-tiba mengunci pintu. Mungkin marah karena Nadine tiba-tiba berlari kabur setelah menendang selangkangannya."Apa yang sudah kulakukan...?" Mengabaikan panggilan Lingga, perempuan itu terduduk lemas di lantai. Telapak Nadine menangkup pipi tembamnya sendiri sambil sesekali menampar keras.Perempuan itu berusaha menyadarkan diri.Dan sialnya, kesadaran itu baru muncul saat merasakan Lingga berusaha menanggalkan celananya. Kesadaran itu baru ada saat tangan sang jaksa sudah bergerak terlalu jauh. Bagaimana bisa mereka melakukan hal tersebut? Kenapa mereka bertindak terlalu berani? Ada apa dengan keduanya malam ini?"Nadine! Kamu tidak ke mana-mana, kan? Buka pintunya!" Panggilan panik Lingga kembali menyadarkan perempuan itu dari
Suara decapan basah di ruang gelap itu bersahutan dengan guruh di langit. Sedang sepasang muda-mudi itu mungkin terlalu sibuk saling memagut.Hingga Nadine tidak menyadari. Entah sejak kapan Lingga bangkit dan menaungi tubuhnya. Lengan kekar sang jaksa bahkan bergerak menahan pergelangan kiri Nadine yang terkulai di sisi kepala."P-pak--hmmh ...."Entah sudah berapa kali Nadine berusaha bicara acapkali pagutan mereka terlepas. Namun, perempuan itu hanya punya sedikit waktu untuk mengambil napas. Sebelum kemudian bibir semi tebal sang jaksa membungkamnya lagi.Memagut begitu buas dan rakus. Lidah bertekstur kasar itu bahkan menyusup liar, menerobos geliginya yang kecil dan rapi, kemudian membelit lidah Nadine yang ikut bergerak ragu.Dan sebut saja ia bodoh dan mudah terlena. Karena bukannya berusaha lebih keras untuk melepaskan diri, tangan kanannya yang terbebas dari cengkeraman justru bergerak menuju tengkuk Lingga.Menyusup di antara sela rambut sang jaksa. Kemudian meremas di sana
"Pak ... ini serius?"Nadine berdiri menempel dengan kusen pintu berlapis kayu jati. Sedangkan pria di dalam kamar sana tengah sibuk membersihkan permukaan kasur."Apa aku terlihat bercanda?" tanya Lingga sambil sejenak menoleh padanya.Nadine hanya terdiam kaku sambil mempererat genggaman pada ponsel sang jaksa. Satu-satunya pencahayaan yang saat ini mereka punya."Saya bisa tidur di ruang tengah, Pak." Nadine berucap gelagapan. Lingga hanya melepaskan sepatu beserta kaus kemudian naik ke sisi ranjang. "Kamu bisa tidur di kamarmu. Buka tirainya supaya cahaya masuk," sahut Lingga santai sambil bersandar di kepala ranjang."Tapi saya juga takut petir, Pak ...." Nadine pada akhirnya mengaku."Tapi di ruang tengah sangat gelap." Lingga menimpali cepat.Nadine membenarkan dalam hati. Hingga perempuan itu hanya bisa menunduk lesu sambil mencebik cemberut.Apa tidak ada pilihan lain kecuali tidur di kamar Lingga? Kenapa juga pria itu tidak berinisiatif keluar untuk membeli lilin?"Tidurla







