Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 53. Part 9 (Cemeti Laut Selatan)

Share

53. Part 9 (Cemeti Laut Selatan)

last update publish date: 2025-10-28 01:01:34

"Aneh," Bisiknya.

"Aku benar-benar masih hidup...."

Dicobanya bangkit. Baru saja dia berusaha menggerakkan tubuh lebih jauh, mulutnya mengeluh. Tulang pangkal lengan di bahunya terasa demikian sakit. Pasti ada yang patah. Sambil mendekap bahu yang direjam nyeri, Tresnasari meneruskan niat. Sebelum dia benar-benar berdiri, dia dikejutkan oleh sesuatu selama ini ditumpanginya.

"Apa ini?" Tanyanya heran, mengurungkan niat untuk bangkit. Kabut tebal kira-kira setinggi lutut d

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   271. Part 17

    Melihat kepala pengawal begitu tegang, wajah pucat mata mendelik seperti baru melihat setan, sang patih jadi tidak sabar lalu cepat-cepat ajukan pertanyaan."Apa yang kau lihat?"Dengan suara terbata Gondang Ageng menjawab."Mayat-mayat, gusti patih. Mayat-mayat penduduk desa. Rasanya mereka belum lama menemui ajal, tapi tubuh mereka meleleh seperti bubur.""Hoek!" Gondang Ageng kembali keluarkan suara mau muntah. Dan kali ini dari mulutnya menyembur cairan dan makanan."Manusia jorok. Lekas kembali ke kuda dan kita lanjutkan perjalanan!"Perintah patih Tubagus Aria Kusuma jijik juga marah. Terbungkuk-bungkuk Gondang Ageng kembal ke kudanya.Semua prajurit tak ada yang berani membuka mulut walau sebenarnya mereka merasa geli melihat Gondang Ageng kena didamprat karena muntah. Setelah lewat tengah malam, udara dingin terasa tambah mencucuk.Jalan yang mereka lewati dipenuhi bebatuan licin berlumut. Iringan-iringan rombongan berk

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   270. Part 16

    "Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria terheran-heran."Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo," Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya."Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa." Sahut Manyun Pambayo.Penujum Aneh menoleh pada sang patih."Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran.""Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh." Kata patih Aria Kusuma bingung"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadika

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   269. Part 15

    "Itu artinya semua orang bakal menuai celaka.""Bencana tidak akan terjadi bila kita dapat mencegahnya." Kata pemuda itu."Ha ha ha. Kalau kau menyebut kita, berarti engkau dan aku. Aku tidak mau ikut campur.""Kalau begitu aku akan menghadapi pangeran Gila itu seorang diri." Tegas Pendekar Sinting tanpa keraguan."Kau.... ha ha ha! Kau mau menghadapi manusia sakti luar biasa itu seorang diri? Manusia sombong! Kau mengira dirimu siapa?" Hardik Dewa Mabok dengan mata mendelik.Pendekar Sinting tersenyum. Enak saja dia menjawab. "Aku adalah aku, bukan dirimu apalagi mbahmu. Ha ha ha!""Orang Gila. Kau sungguh keterlaluan. Kalau begitu aku sudah selayaknya mengujimu!" Teriak si kakek lantang.Keputusan Dewa Mabok sudah tentu membuat Pendekar Sinting terkejut. Namun dia tidak merasa takut. Malah kemudian dia menjawab, sengaja memanasi hati si kakek."Kusangka kau seorang dewa sungguhan. Tidak tahunya hanya seorang kakek renta yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   268. Part 14

    "Angon Luwak, nama apa itu? Nama yang aneh. Ha ha ha."Angon Luwak hanya bisa geleng kepala. Namun kemudian cepat-cepat berkata. "Aku senang-senang saja. Tapi aku juga ingin tau siapa dirimu ini. Apakah kau orang yang ku cari atau sebaliknya.""Memangnya siapa yang kau cari?""Aku mencari seseorang?""Seseorang itu apakah kunyuk atau mungkin dia punya nama yang lebih bagus dari namamu?" Kata si kakek,Walau merasa kesal, namun Pendekar Sinting tetap menjawab juga pertanyaan si kakek"Namanya aku tidak tahu. Mungkin juga dia bernama Si Monyet tua. Tapi aku diberi tahu oleh seseorang. Orang yang kucari itu biasa disebut Dewa Mabok."Sikakek berjingkrat kaget. Dia menatap Pendekar Sinting sekaligus memperhatikan pedang berangka aneh yang terbuat dari emas"Kau mencari Dewa Mabok?""Apakah kau mengenalnya orang tua?" Angon Luwak balik bertanya."Mungkin saja aku mengenalnya. Memangnya kau punya kepentingan apa ingin m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   267. Part 13

    "Hus, tahu apa kau. Diam sajalah, bukankah sejak tadi aku memintamu diam?" Kata Pendekar Sinting sambil bersungut-sungut."Terserah paduka. Hamba cuma memberi saran, diterima syukur tidak diterima keterlaluan.""Dasar Pedang Laut Selatan. Kau dan diriku tak jauh berbeda." Gerutu Pendekar Sinting."Persamaan watak itulah yang membuat kita dapat berdampingan. Kita pasangan yang serasi.""Serasi gundulmu!" Sambut Pendekar Sinting."Ah paduka lupa. Hamba dan Pedang Laut Selatan sama sekali tidak gundul. Yang gundul biasanya ada disebelah bawah.He he he."Walau merasa geli Angon Luwak tetap unjukkan wajah cemberut. Kemudian tanpa bicara apa-apa lagi pemuda ini menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Dua tangan saling menggosok, mulut berkemak kemik. Tangan didekatkan ke mulut, bibir dimonyongkan ke depan lalu mulut Pendekar Sinting meniup.Puuh!Asap mengepul berwarna putih kelabu.Kedua tangan itu kini berubah bentuknya men

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   266. Part 12

    "Orang satu ini gilanya lebih parah dibandingkan diriku. Orang gila harus kulayani secara gila pula!"Berkata begitu Pendekar Sinting segera meliukkan tubuhnya. Tangan kanan diacungkannya ke atas seakan telunjuk tangan kiri menunjuk-nunjuk ke bawah.Lalu...Wuuues!Serta merta Pendekar Sinting hilang raib tak meninggalkan bekas. Sementara di tempatnya berdiri tadi, tanah dan pasir bermuncratan di udara. Daun-daun dikobari api, pepohonan dipenuhi lubang tertembus cairan tuak yang di semburkan orang."Orang gila kesasar itu bisa menghilang? Rupanya dia bisa berubah seperti kentut. Lumayan hebat tapi dia belum kenal aku ya. Ha ha ha...!" kata orang yang semburkan tuak disertai gelak tawa.Pendekar Sinting yang baru saja selamatkan diri dari semburan tuak keras dan menyala setelah bergesekan dengan udara, kini nampak duduk nangkring di atas cabang pohon. Sambil mengusap dadanya yang berdebar kencang, bersungut sungut pemuda itu menatap ke bawah.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 1 (Kembar Jelita)

    KERATON Demak di penghujung dini hari. Kekacauan baru saja pupus, berkawal kokok ayam jantan pertama di pagi buta, Seluruh prajurit Keraton Demak berkumpul di luar, di Taman Sari dekat dengan ruang peristirahatan raja. Raden Fatah berdiri di antara mereka, mengawasi kejadian di samping satu tiang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   69. Part 21 (Dendam Nini Jonggrang)

    Lagi-lagi Angon Luwak cengar-cengir lugu. Dalam hati, Angon Luwak merasa tak pantas mendapat pujian dari orang besar dan mulia seperti Raden Patah yang sudah berusia cukup lanjut. Kalau mengingat bagaimana masa-masa muda gemilang pendiri Kerajaan Demak itu yang sering didengarnya dari cerita-ceri

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   10. Prahara pun berlangsung!

    Setelah membereskan ketiga prajurit penjaga, pasukan Dirgasura bergerak kembali mendekati tepi rawa. Gerakan mereka kali ini tak lagi lambat. Seperti sekawanan anjing lapar yang melihat tumpukan tulang di depan mata, mereka memburu ke tepi. Meski begitu, tak ada keributan berarti mereka ciptakan.D

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   9. Laskar Lawa Merah

    Banyak buaya liar berkeliaran. Selain itu, pasukan yang mencoba menerobos ke sana harus menempuh perjalanan tanpa kendaraan menembus rawa setinggi pusar selama satu malam. Lebatnya hutan bakau tak memungkinkan untuk menggunakan perahu. Besar kemungkinan selama merambah bentangan rawa, mereka akan d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status