LOGIN"Aneh," Bisiknya.
"Aku benar-benar masih hidup...."
Dicobanya bangkit. Baru saja dia berusaha menggerakkan tubuh lebih jauh, mulutnya mengeluh. Tulang pangkal lengan di bahunya terasa demikian sakit. Pasti ada yang patah. Sambil mendekap bahu yang direjam nyeri, Tresnasari meneruskan niat. Sebelum dia benar-benar berdiri, dia dikejutkan oleh sesuatu selama ini ditumpanginya.
"Apa ini?" Tanyanya heran, mengurungkan niat untuk bangkit. Kabut tebal kira-kira setinggi lutut d
KAKEK berpakaian hitam yang menyelubungi rambut panjangnya dengan sorban duduk tenang di dalam ruangan besar di istana Malingping. Duduk didepan kakek berjenggot putih panjang menjulai seorang laki-laki tegap berpakaian selempang putih berambut panjang digelung ke atas. Tak jauh di samping sebelah kiri kakek itu di atas sebuah kursi kebesaran duduk seorang lakilaki berpakaian kuning sutera bermahkota emas berpenampilan rapi. Dialah prabu Tubagus Kasatama, pemimpin kerajaan Malingping dan penguasa wilayah tanah Dwipa disebelah barat.Adapun kakek berjenggot panjang menjulai tak lain adalah sahabat dekat prabu Tubagus Kasatama. Seperti telah diketahui kakek tua ini bernama Anjengan Giriswara atau juga dikenal dengan julukan penujum Aneh juru Obat Delapan Penjuru. Adapun laki-laki tegak berpakaian selempang putih tak lain adalah patih Tubagus Aria Kusuma paman dari sang prabu sendiri. Disamping mereka di tempat itu berkumpul beberapa pejabat penting kerajaan lainnya."Men
"Menurutmu apa yang mengganggu pikiranku? Apakah kau tidak tahu sudah lama pikiranku mengalami gangguan?!""Ah, paduka Saka Buana. Tidak ada yang salah dengan pikiranmu, otak paduka Raja kulihat masih lempang-lempang saja. Mungkin paduka agak terusik dengan kehadiran kedua gadis cantik tadi?"Mendengar ucapan jiwa yang bersemayam di dalam hulu Pedang Laut Selatan. Pendekar Sinting pun tertawa tergelak-gelak."Kau sok tahu, jiwa yang bersemayan dalam hulu pedang, aku tidak memikirkan mereka. Untuk apa?" ujar Pendekar Sinting sambil terus melangkah."Jangan terlalu menutup diri. Tidak perlu malu-malu padaku paduka. Puteri berlengsung pipit itu jelas sangat tertarik padamu. Tapi jangan lupa kakaknya yang bernama Arum Senggini itu diam diam sebenarnya sudah jatuh hati pada paduka!"Terang jiwa yang bersemayam di hulu pedang.Kening Pendekar Sinting berkernyit"Apa kau bilang? Jangan bicara sembarangan. Arum Senggini jelas-jelas menunjukka
"Tak usah pikirkan diriku. Aku sudah terlalu karatan untuk hidup lebih lama lagi. Usiaku lebih lebih dari seribu tahun!" Terang si kakek membuat ketiga orang disampingnya tercengang tak percaya. Tanpa menghiraukan orang-orang itu Ki Lara melanjutkan."Aku sudah habis. Aku akan mati. Karena itu tolong ambilkan pelita itu. Letakan di dadaku"Arum Senggini cepat ambil pelita yang terletak di samping kepala Ki Lara lalu buru-buru menyerahkannya pada orang tua itu.Setelah menerima pelita, sambil menggenggamnya dengan sepuluh jemari tangan. Ki Lara letakan pelita itu di atas dada. Kedua matanya kemudian meredup. Sementara dari mulut terdengar ucapan."Wahai maut bebaskan aku dari nestapa. Lepaskan aku dari derita usia panjang. Duhai pelita alam Arwah. Bimbinglah aku menuju dunia kehidupan paling abadi. Aku telah siap untuk dibawa pergi... Selamat tinggal yang masih hidup. Semoga selamat pula buat orang yang bernama Selamat"Begitu Ki Lara Saru Saru sele
Ucapan Pendekar Sinting seakan memberikan tantangan tersendiri bagi Nila Agung. Akhirnya tanpa keraguan gadis ini segera mencium pipi Ki Lara kanan kiri. Setelah itu dengan wajah merah sambil terus memperhatikan si kakek Nila Agung beringsut menjauh. Arum Senggini hendak tertawa tapi urung saat melihat adiknya tersipu malu.Akhirnya dia terdiam dan ikut memperhatikan Pendekar Sinting ternyata tidak berdusta karena sesaat setelah pipinya dicium oleh Nila Agung, Ki Lara Saru Saru memang segera sadarkan diri.Setelah sadar mata si kakek berkedap-kedip. Mulut ternganga sambil memperhatikan sekelilingnya."Bagus kek. kau sudah sadar. Walau kau menderita cidera begini hebat namun peruntunganmu lebih bagus dibandingkan diriku. Kau mendapat ciuman dari seorang puteri. Sedangkan aku belum pernah dicium. Jangankan ciuman seorang puteri. Di cium Kuntilanak atau dedemit liang kuburpun belum pernah. Ha ha ha...." celetuk Pendekar Sinting diringi gelak tawa.Mendengar
Pendekar Sinting tersenyum lalu cepat gelengkan kepala.”Oh tentu saja tidak. Keadaannya tidak memungkinkan untuk ditolong. Jangankan aku, kurasa dewa obat sekalipun tak mungkin bisa memulihkan keadaannya.""Jadi apa gunanya pisang ini kau bawah kemari?" Tanya Nila Agung dengan kening berkerut penuh rasa ingin tahu.Pertanyaan sang puteri berlesung pipit ini membuat senyum Pendekar Sinting makin melebar. Dengan enteng dia menjawab.”Aku yakin gusti puteri berdua lapar. Dimalam dingin begini membuat orang mudah lapar. Lagipula bukankah banyak sekali wanita yang suka pisang?!""Heh apa maksud ucapanmu itu?" Hardik Arum Senggini sambil delikkan matanya"Eh iya. Apa maksud ucapanmu itu? Lagipula mengapa kau masih juga memanggil kami gusti padahal kau putera seorang raja pula?" Kata Nila Agung."Aku tidak punya maksud apa-apa. Tentang bagaimana aku memanggil kalian jangan dipikirkan. Aku mudah lupa. Aku juga sering lupa diriku ini putera seora
Para gadis yang berada dalam pengaruh sirap saling berbisik. Sesekali mereka menggeliat dan meliuk-liukkan pinggulnya. Mulut berdesis, mata setengah terpejam sementara bibir mereka yang merah nampak menganga. Melihat semua itu Pangeran Durjana hentikan tawa."Mengajak semua gadis itu bercinta sepanjang malam ini akan sangat melelahkan. Tapi demi sebuah kehendak semua itu tidak mengapa" Membatin sang pangeran di dalam hati.Lalu pada gadis-gadis itu dia berkata,”Wahai para kekasihku. Sudah waktunya kita pergi ke istana cinta. Tapi sebelum itu aku ingin memperlihatkan diriku yang sebenarnya pada kalian.""Wahai junjungan. Wahai pangeran yang kami damba. Kami semua sudah tidak sabar melihat rupa ujudmu yang sebenarnya. Tunjukanlah sekarang, perlihatkanlah diri pangeran." Kata salah seorang gadis berpakaian kuning berpinggul indah berkulit putih."Kami sudah tidak sabar menerima belaianmu Bawalah kami ke surga yang indah itu. Jangan biarkan kami kedingi
Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki
Seorang bocah bau kencur telah melabrak kehormatan dan harga dirinya! Setelah berjumpalitan gesit beberapa kali menghindari kucuran serangan Pendekar Sinting yang tak terputus. Perempuan Pengumpul Bangkai mencapai jarak aman. Dia berdiri terbungkuk. Mengeram. Matanya menghujam tajam. Kemurkaannya
Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus
HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p







