Home / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 53. Part 9 (Cemeti Laut Selatan)

Share

53. Part 9 (Cemeti Laut Selatan)

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-28 01:01:34

"Aneh," Bisiknya.

"Aku benar-benar masih hidup...."

Dicobanya bangkit. Baru saja dia berusaha menggerakkan tubuh lebih jauh, mulutnya mengeluh. Tulang pangkal lengan di bahunya terasa demikian sakit. Pasti ada yang patah. Sambil mendekap bahu yang direjam nyeri, Tresnasari meneruskan niat. Sebelum dia benar-benar berdiri, dia dikejutkan oleh sesuatu selama ini ditumpanginya.

"Apa ini?" Tanyanya heran, mengurungkan niat untuk bangkit. Kabut tebal kira-kira setinggi lutut d

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   304. Part 5

    Mendengar ucapan sang jiwa, Pendekar Sinting jadi berpikir apakah mungkin segala yang dikatakan mahluk penghuni hulu pedang itu benar adanya? Apakah benar sang anjing bisa bicara atau setidaknya mengerti setiap kata yang diucapkannya.Terdorong oleh rasa ingin tahu sambil menekan bagian bawah perut tangan kiri. Pendekar Sinting palingkan kepala dan menatap ke arah anjing besar. Dengan hati diliputi keraguan akhirnya dia berucap."Wahai mahluk hitam. Aku tidak tahu apakah kau mahluk sungguhan ataukah cuma anjing jejadian. Apa pun yang membuatmu hadir di tempat ini. Kuharap kau tidak membawa maksud tertentu yang membuatku jadi repot. Aku membutuhkan seperangkat pakaian yang pantas saat ini. Dan menurut sahabatku yang tidak pernah menunjukkan diri di dalam gua ada pakaian yang kubutuhkan. Aku ingin mengambilnya. Tapi jika kau ternyata penjaga sekaligus pelindung pakaian itu aku berharap kemurahan hatimu untuk memberikan pakaian itu padaku!"Setelah berkata begitu,

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   303. Part 4

    "Aku tidak mengerti mengapa ada orang yang begitu berbaik hati menyimpan pakaian di tempat seperti ini?""Wah itu saya tidak tahu. Saya melihat di dalam gua ada kerangka manusia dalam keadaan duduk bersila selayaknya orang yang sedang bertapa.""Heh, apa?" Sentak Pendekar Sinting sambil berjingkrak kaget."Kau melihat orang bertapa sampai mati. Gila sekali.""Saya tidak mengatakan orang itu tengah bertapa. saya hanya menemukan tengkorak sedang duduk bersila....""Jadi kau menganjurkan aku memakai pakaian orang yang sudah mati?" Kata Pendekar Sinting. Matanya mendelik menunjukkan rasa tidak senang.Buru-buru sang jiwa menjawab."Jangan berpikir buruk dulu. Pakaian itu sama sekali bukan pakaian yang melekat di tubuh kerangka tengkorak. Saya melihat seperangkat pakaian bagus di dalam sebuah peti hitam tak jauh di samping kerangka bersemedi.""Begitu? Hmm, apakah kau mau mengambilkan pakaian itu untukku?" Tanya Pendekar Sinting sam

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   302. Part 3

    "Yang mulia Paduka Raja." Lagilagi sang Jiwa yang bersemayam dalam hulu pedang memberi bisikan."Di neraka dan emperannya saya yakin paduka dengan mudah bisa menemukan gadis-gadis yang cantik""Bagaimana kau bisa berkata begitu wahai jiwa sahabatku?" Tanya Pendekar Sinting tak mengerti."Iya... Soalnya semasa di dunia kebanyakan yang suka menukar diri dengan sejumlah harta benda adalah gadis cantik, Kalau gadisnya jelek mana ada laki-laki yang mau.""Hus... Jangan bicara sembarangan. Lebih baik kau ikut memikirkan diriku yang malang ini. Aku tak mungkin bisa keluar dari hutan ini bila aku tidak bisa mendapatkan seperangkat pakaian sebagai pengganti pakaianku yang hancur ""Paduka, bukankah saya telah katakan. Paduka berjalan saja lurus ke depan. Nanti pakaian bisa paduka dapatkan.""Aku tahu pulau es udaranya sepuluh kali lipat lebih dingin dari udara disini. Tapi lihatlah tiupan angin begini kencang, pandangan mataku tak kuasa menembus kepe

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   301. Part 2

    "Hmm, jadi si keparat itu masih keturunan raja tapi mengapa bertingkah seperti orang kurang waras?" Geram Pangeran Durjana.Sang Mata terdiam tidak menjawab. Pangeran Durjana yang penasaran lanjutkan ucapan."Dia membunuh Bocah Bocah Iblis dan kau tahu anak-anak itu tak lain darah dagingku sendiri. Aku ingin menyingkirkannya serta merebut pedang dari tangannya.”"Pangeran! Menurut hematku, jika pangeran terus menerus berada di Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta rasanya sulit untuk melenyapkan semua musuh pangeran, apalagi untuk merampas pedang milik Pendekar Sinting juga tidak mudah. Pedang itu hanya tunduk dan patuh pada Pendekar Sinting... Dan perlu kiranya pangeran ketahui bahwa pedang di tangan pemuda itu memiliki jiwa. Karena pedang mempunyai jiwa yang bersemayam pada bagian hulunya maka dengan sendirinya bila Pendekar Sinting terdesak sang pedang segera memberikan bantuan," Terang Mata Setan.Pangeran Durjana tertegun. Hatinya diliputi rasa her

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   300. BANJIR DARAH DI ISTANA MALINGPING

    PANGERAN DURJANA menjadi sangat murka ketika tahu bahwa Bocah Bocah Iblis telah menjadi korban senjata pusaka Pendekar Sinting. Sedikitpun dia tidak menyangka bahwa senjata pemuda itu aneh dan dapat menyerang dengan sendirinya. Benar-benar merupakan senjata pamungkas paling hebat yang belum pernah dia lihat seumur hidupnya. Dengan segala kemarahan Pangeran Durjana yang saat itu berada di dalam bangunan aneh berbentuk sarang lebah yang diberinya nama Istana Kekuasaan dan Hasrat Cinta."Keparat gila itu datang dari sebuah negeri antah berantah. Kehadirannya membuat semua yang telah kurencanakan tidak dapat berjalan mulus. Aku benci kegagalan. Keinginan menjadi penguasa dari seluruh manusia yang ada di dunia ini tidak mungkin bisa menjadi kenyataan bila tidak dapat menyingkirkan pemuda sinting itu secepatnya!" Geram sang pangeran dengan tangan terkepal dan geraham bergemeletukan.Pemuda berpakaian hitam berwajah tampan dan dapat merubah-rubah penampilannya sehendak hati i

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   299. Part 22

    Sementara pada kesempatan itu, tiba-tiba saja Pendekar Sinting mendengar suara ngiangan datang dari hulu pedang yang tergantung di punggungnya."Sahabatku yang mulia Pendekar Sinting. Keadaanmu sungguh memalukan.”"Sudah tahu mengapa kau tidak memberi aku pakaian?" Dengus Pendekar Sinting acuh."Maafkan aku paduka, mana mungkin aku memberi pakaian untukmu. Sebagai Jiwa aku sendiri selalu kedinginan karena hampir tak berpakaian. Lebih baik kau perintahkan aku untuk melakukan yang lain.” kata Jiwa dalam Pedang Laut Selatan."Puah. Sejak tadi aku sudah repot. Kau diam saja. Sekarang kuperintahkan padamu. Singkirkan bocah-bocah iblis itu dariku!" Seru Pendekar Sinting."Perintah paduka Pendekar Sinting dengan senang hati saya lakukan.” Sahut jiwa yang bersemayam di hulu Pedang Laut Selatan.Trek! Wuut!Terdengar suara berkerotakan dibagian rangka pedang yang disusul dengan menderunya angin disertai berkiblatnya cahaya ku

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   8. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu

    Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   7. Siapa sebenarnya Ki Kusumo?

    Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   6. Bertemu Kembali

    Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   5. Ki Kusumo

    TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status