Compartilhar

Bab 2

Autor: Tomo
Setelah dengungan di telingaku hilang, terdengar pengumuman nyaring dan tegas dari Hery,

“Mulai hari ini, silakan berikan like pada foto kebersamaanku dengan Rany. Kalau sudah terkumpul seribu like, aku akan membatalkan pernikahan politik ini dan pergi menikah dengan Rany.”

Usai bicara, dia langsung menggandeng Rany dan pergi tanpa menoleh.

Saat melewatiku, Rany memberiku tatapan penuh kemenangan tanpa ditutup-tutupi.

Setibanya mereka pergi, orang-orang di dalam ruang VIP segera membubarkan diri.

Ada yang mencibir penuh kemenangan, “Sok berjiwa besar, sekarang kena batunya? Mau menyesal juga sudah terlambat.”

Ada pula rekan kerja yang cukup dekat berbisik menasihatiku,

“Rany, harga diri itu nggak ada harganya. Cepat pergi minta maaf. Kamu tega melihat Pak Hery mengambil keputusan hanya karena terbawa emosi....”

Aku tentu tahu, dia sedang memaksaku menundukkan kepala padanya.

Hanya saja kali ini, aku tak mau mengalah lagi.

Sampai mati pun aku tak mau.

Ruang VIP yang tadinya berisik, langsung menjadi sepi, hanya menyisakan diriku seorang.

Aku meraih sisa minuman keras di atas meja, lalu meneguknya dalam satu tarikan napas. Tenggorokan dan perutku terasa terbakar, sementara sudut mataku mulai memanas.

Ikatan yang terjalin selama hampir dua puluh tahun, ternyata saat diputuskan akan berakhir begitu saja.

Baguslah kalau begitu. Aku akan mengikuti pengaturan keluarga untuk menikah dengan keluarga di Kota Sera, kota yang berjarak ribuan kilometer dari sini, sekaligus menjalankan kerja sama baru.

Dengan adanya jarak, Hery tak akan bisa menemukanku lagi.

Tanpa kusadari, wajahku kembali terlihat dingin.

Setibanya di rumah, aku membuka koper dan mulai mengemas barang-barang.

Aku dan Hery adalah teman sejak kecil. Dalam hidupku yang belum terlalu panjang ini, sebagian besar waktuku saling terikat dengannya.

Barang yang ditinggalkannya terlalu banyak dan setiap barang itu mengenang kenangan lama.

Bunga kertas merah yang sudah memudar ini adalah hadiah kecil pertama yang didapatkannya saat di taman kanak-kanak.

Dengan kaki mungilnya, Hery berlari ke hadapanku, lalu meletakkannya dengan sungguh-sungguh di telapak tanganku.

“Kak Stella, barang yang paling bagus harus diberikan untukmu!”

Foto yang menguning itu mengabadikan wajahnya yang memerah saat mengalami mimpi basah untuk pertama kalinya.

Waktu itu dia tak mendengarkan pelajaran biologi dengan baik. Dia mengira usianya tak akan lama lagi, lalu berlari padaku untuk menyampaikan ‘pesan terakhir’, memintaku mencari pacar yang tak lebih tampan darinya kelak.

Aku tak tahu harus tertawa atau menangis. Setelah paham masalah sebenarnya, aku pergi ke warung untuk membelikan celana dalam pengganti dan sebuah buku panduan kesehatan. Aku menemaninya membaca instruksi untuk mempelajari cara mengatasinya.

Aku mengejeknya karena suka melamun di kelas dan karena kesal, dia menggigit lenganku cukup keras.

Anehnya, itu sama sekali tak terasa sakit, malah timbul sedikit rasa manis yang tersembunyi di dalam hati.

Kemudian, kami pun berpacaran.

Masuk ke universitas yang berbeda membuat kami harus menjalani hubungan jarak jauh selama empat tahun.

Selama tahun-tahun itu, aku mengumpulkan segepok tiket perjalanan yang mencatat perjalanan sejauh 193.700 kilometer demi bisa saling menemui.

Saat itu, seluruh hatinya hanya tertuju padaku. Menyeberangi gunung dan lautan, dia tak pernah sekalipun mengeluh lelah.

Jariku menyentuh sebuah kotak kecil yang keras. Di dalamnya terletak sepasang cincin polos yang dulu kami buat bersama.

Demi dirinya, aku tanpa ragu sedikitpun untuk kembali ke kota ini setelah lulus.

Hari itu, dia mengajakku untuk membuat sepasang cincin ini bersama.

Sambil menyematkan cincin itu ke jariku, dia tersenyum dan berkata,

“Stella, begitu memakai cincin ini, kamu sudah terikat seumur hidup denganku. Jangan pernah berpikir untuk kabur lagi.”

Kala itu, kami berdua mengira ketulusan pada momen tulus itu adalah sesuatu yang abadi.

Tak ada yang menyangka bahwa orang yang pertama kali melepaskan genggaman malah dirinya.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 9

    Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.Dalam sebuah pemeriksaan kesehatan rutin, Hery didiagnosis mengidap kanker lambung stadium akhir.Dokter berterus terang bahwa depresi emosional yang berkepanjangan, pola makan tak teratur, serta kelelahan fisik yang berlebihan menjadi pemicu utamanya.Rasa sakit akibat penyakit, kondisi perusahaan yang di ambang kehancuran, ditambah penyesalan mendalam yang tak termaafkan.Semua itu benar-benar menghancurkan Hery yang dulunya begitu angkuh.Dia terbaring di atas ranjang rumah sakit yang dingin, menatap langit-langit yang putih.Bayangan yang terlintas di depan matanya, kini seluruhnya adalah kenangan tentangku dan dirinya.Fokusku saat merakit miniatur istana untuknya, kesabaran dan kelembutanku saat menghadapi sifat kekanak-kanakannya…Hingga akhirnya kenangan itu berhenti di ruang VIP…Saat tangan kirinya mendaratkan tamparan keras di wajahku demi membela Rany.Air mata mengalir tanpa suara.Sayangnya, dia baru tersadar saat semuanya sudah terlamba

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 8

    Di tengah rasa keputusasaan yang mendalam, perilakunya mulai tak terkendali.Hery nekat terbang ke Kota Sera untuk mencariku.Namun, dia ditahan dengan sopan oleh petugas keamanan di lobi hotel.“Mohon maaf, pak. Tanpa reservasi dan kartu akses, kami nggak bisa mengizinkanmu naik.”“Kamu tahu aku ini siapa? Aku itu Hery! Aku mau bertemu Stella! Bilang padanya, dia pasti mau bertemu denganku!”Hery mencoba menerobos masuk secara paksa.Petugas keamanan tak mundur sedikitpun, hanya memberikan laporan singkat melalui perangkatnya,“Bu, ada yang seorang pria bernama Pak Hery yang bersikeras mau bertemu Bu Stella… baik, siap.”Setelah itu, dia mengulanginya pada Hery,“Pak, Bu Stella dengan tegas memberi instruksi untuk nggak menerima tamu tanpa janji temu. Tolong jangan mempersulit kami.”Pada akhirnya, seluruh hadiah dan surat yang dikirimkannya dikembalikan secara utuh tanpa dibuka sama sekali.Di suatu malam yang diguyur hujan deras, Hery menirukan adegan drama dengan berdiri di bawah g

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 7

    Hari-hari berikutnya, Hery larut dalam penyesalan tanpa akhir dan mencariku gila-gilaan.Dia mengerahkan seluruh koneksi yang dimilikinya untuk mencari tahu keberadaanku.Begitu mengetahui bahwa aku berada di Kota Sera dan sedang menjalin kontak dengan putra Keluarga Siren, hatinya semakin terbakar kecemasan.Hery berkali-kali memutar nomor teleponku, tapi yang terdengar selalu nada operator yang dingin. Dia menggunakan berbagai akun untuk mengirim pesan ke nomor whatsappku.Dia mencoba menghubungi asistenku di Kota Sera, tapi pesan-pesannya bahkan tak pernah sampai ke hadapanku.Hingga akhirnya, setelah percobaan yang tak terhitung jumlahnya, teleponnya pun secara tak terduga malah tersambung.“Stella! Ini aku!”Suaranya gemetar karena sangking emosinya.“Dengarkan aku, aku tahu aku salah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Aku sudah mengusir Rany, aku nggak akan pernah berhubungan dengannya lagi! Kamu kembali, ya? Kita mulai lagi dari awal…”“Pak Stella,” potongku dengan tenang.“Hub

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 6

    Telepon langsung tersambung.“Halo, Hery.”Suara ibu Stella terdengar tenang seperti biasa, tanpa ada emosi yang terdengar.Hery menarik napas dalam-dalam, berusaha agar tak terdengar terlalu panik.“Tante, Stella… soal dia menarik investasi dan mengundurkan diri dari perusahaan, kamu tahu?”“Tahu,” jawab ibu Stella singkat.Hati Hery semakin panik.“Lalu… dia di mana sekarang? Aku nggak bisa menghubunginya. Sepertinya… dia sudah memblokir semua kontakku.”Beberapa kata terakhir itu diucapkannya dengan berat, terselip rasa kesal yang bahkan tak disadarinya.Suasana di balik telepon langsung hening beberapa detik.Saat bersuara kembali, nada bicara ibu Stella tetap tenang, tapi terdengar sangat menjaga jarak.“Hery, Stella sudah berangkat ke Kota Sera. Mengenai alasan kenapa dia melakukan itu, kurasa seharusnya kamu lebih tahu dari siapapun.”“Aku…” Hery langsung terdiam.“Pernikahan politik antara dua keluarga kita cukup sampai di sini.”Suara ibu Stella terdengar tegas dan tak bisa di

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 5

    Mendengar kabar itu, seketika wajah Hery langsung memuram. Dia menggeram bertanya, “Siapa yang menekan like yang ke-1000?”Orang yang melapor memberi penjelasan dengan panik, “Bukan aku... tadi Kak Stella mengurus pengunduran diri, lalu pakai ponselku untuk menekan likenya.”“Pengunduran diri? Siapa yang mengizinkan dia mengundurkan diri?”“Bu Stella itu pemegang saham perusahaan. Sesuai aturan, dia bebas menentukan untuk bertahan atau pergi, ini... ini aturan yang kamu buat.”“Lalu bagaimana dengan sahamnya di perusahaan?”“Bu Stella sudah menarik semua investasinya beberapa hari yang lalu.”“Menarik investasi? Nggak mungkin!”Rasa cemas menyelinap di benaknya. Sayangnya, Rany tak menyadarinya dan malah lanjut memprovokasi,“Kak Stella hanya pakai taktik untuk memaksa kamu mengalah. Ini cara jual mahal yang pasaran. Hery, kamu jangan sampai terkecoh.”Hery tak merespon, matanya hanya menatap tajam ke layar ponsel.Dia berniat mengirimkan pesan padaku, tapi baru teringat kalau diriny

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 4

    Keesokan harinya, aku kembali ke kantor untuk membereskan barang-barangku.Begitu mendorong pintu ruang istirahat.Kulihat Rany memakai rok pendek yang sexy dengan kedua kaki diangkat santai di atas meja kerjaku.Barang-barang pribadinya memenuhi seluruh ruangan.Sementara barang-barang milikku dicampakkan secara berantakan di luar koridor.Ruang istirahat ini dulunya dibuat khusus oleh Hery untukku.Semua orang di kantor tahu hal itu dan tak ada yang berani masuk sembarangan.Tindakan Rany saat ini sama saja dengan menginjak harga diriku.Aku malas basa-basi, jadi langsung mengambil ponsel dan menelepon polisi.Di ruang mediasi, Rany terlihat agak panik.“Aku hanya bantu Kak Hery ambil berkas dokumen, emangnya perlu sampai lapor polisi segala?”“Itu area pribadiku, emangnya aku mengizinkanmu masuk?”“Mengambil tanpa izin itu namanya mencuri.”Aku menegaskan dengan tegas. Dia tak berani membantah dan matanya langsung berkaca-kaca.Seketika, aku menyadari ada yang tak beres.Begitu meno

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status