Share

Bab 4

Author: Tomo
Keesokan harinya, aku kembali ke kantor untuk membereskan barang-barangku.

Begitu mendorong pintu ruang istirahat.

Kulihat Rany memakai rok pendek yang sexy dengan kedua kaki diangkat santai di atas meja kerjaku.

Barang-barang pribadinya memenuhi seluruh ruangan.

Sementara barang-barang milikku dicampakkan secara berantakan di luar koridor.

Ruang istirahat ini dulunya dibuat khusus oleh Hery untukku.

Semua orang di kantor tahu hal itu dan tak ada yang berani masuk sembarangan.

Tindakan Rany saat ini sama saja dengan menginjak harga diriku.

Aku malas basa-basi, jadi langsung mengambil ponsel dan menelepon polisi.

Di ruang mediasi, Rany terlihat agak panik.

“Aku hanya bantu Kak Hery ambil berkas dokumen, emangnya perlu sampai lapor polisi segala?”

“Itu area pribadiku, emangnya aku mengizinkanmu masuk?”

“Mengambil tanpa izin itu namanya mencuri.”

Aku menegaskan dengan tegas. Dia tak berani membantah dan matanya langsung berkaca-kaca.

Seketika, aku menyadari ada yang tak beres.

Begitu menoleh, ternyata benar Hery sudah berdiri di belakangku dengan wajah yang dingin.

“Kak Hery!” Rany langsung masuk ke pelukannya sambil terisak, “Aku benar-benar hanya mau bantu kamu ambil dokumen… Kak Stella sepertinya benci sekali denganku, sampai memfitnahku mencuri… barang-barang pemberian kamu saja sudah nggak muat ditampung di rumahku yang luasnya ratuan meter persegi, mana mungkin aku tergiur sama barang-barangnya…”

Ruangan kecil itu dulunya tempat persembunyian terindah bagiku.

Itu adalah hadiah balasan yang Hery berikan setelah aku merakitkan miniatur istana untuknya.

Kami punya terlalu banyak kenangan di sana.

Kukira ruangan itu setidaknya menjadi sisa harga diri terakhir dari cinta kami, sebuah tempat yang suci.

Namun, pada akhirnya, Hery sendiri yang merobeknya hingga hancur.

Sambil menenangkan Rany, Hery menjelaskan kepada petugas,

“Ini hanya salah paham, kami semua saling kenal. Maaf merepotkan.”

Setelah itu, Hery menatapku, berkata dengan nada yang dingin dan penuh rasa jijik,

“Stella, kok kamu jadi seperti ini? Setiap hari bersikap seperti wanita pendendam, memakai statusmu untuk menindas seorang anak magang. Itu membuatmu merasa sangat puas? Kamu benar-benar mengecewakanku.”

Sebelum sempat berbicara, Rany menyela di saat yang tepat dengan suara serak menahan tangis.

“Kak Hery, jangan salahkan Kak Stella. Ini semua salahku yang kurang hati-hati… aku rela dipenjara beberapa hari dan jadi bahan tertawaan orang. Asalkan kalian berdua jangan bertengkar gara-gara aku…”

Hery menggenggam erat tangan Rany, matanya tampak penuh rasa iba.

“Kamu itu terlalu baik, makanya selalu diinjak-injak.”

Hery kembali menatapku dengan tajam.

“Minta maaf pada Rany sekarang.”

“Dia yang masuk ke area pribadiku tanpa izin. Kamu menyuruhku minta maaf dan masih merasa dia tersudutkan?”

Begitu aku selesai bicara, isakan Rany terdengar lagi.

Hery pun tertawa sinis.

“Area pribadimu? Jangan lupa, ruang istirahat itu berada di bawah nama Grup Siren, seluruh gedung ini milikku. Kamu hanya punya hak pakai. Kalau kamu masih bersikap begini, aku nggak keberatan menuntutmu atas tuduhan palsu.”

Usai bicara, dia menggandeng Rany untuk mengurus prosedur penyelesaian.

Setiap kata yang diucapkannya bagaikan es tajam yang merobek hatiku, sangat perih.

Bertahun-tahun ini, aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk menyokong Grup Siren, mengira kami sedang membangun masa depan bersama.

Pada akhirnya, semua itu hanya dibalas dengan kalimat, “Kamu hanya punya hak pakai.”

Sebelum pergi, Hery meninggalkan peringatan terakhirnya,

“Jumlah likenya sudah 990, kalau kamu masih bersikap begini, aku benar-benar akan pergi mendaftarkan pernikahan dengan Rany.”

Aku menatap Rany yang bersembunyi di belakang tubuhnya dengan tatapan meremehkan dan akhirnya menyadari betapa malangnya diriku.

Sebenarnya cara yang dipakai wanita itu sangat dangkal, dengan kecerdasan Hery, tak mungkin dia tak bisa melihatnya.

Dia hanya memilih untuk memanjakannya.

Timbangan di dalam hatinya sudah berat sebelah sejak awal.

Semua itu tak lebih dari sandiwara yang mereka mainkan bersama untuk menyingkirkan diriku sebagai batu penghalang.

Hanya aku sendiri yang konyol karena terus-menerus memohon.

Setelah menyadarinya, sisa-sisa perasaan cinta terakhirku padanya pun padam sepenuhnya.

Selama beberapa hari bersiap-siap ke Kota Sera, selalu ada saja rekan kerja yang ingin melihatku jatuh mengirimkan pesan pribadi,

[Jumlah likenya sudah 994, lho! Kalau nggak mau mengalah juga, suamimu benar-benar hilang!]

[Tsk, sudah 997! Kelihatannya kamu bakal menyendiri seumur hidup deh, sis!]

[Wah, tahan banting sekali kali ini? Jangan-jangan karena merasa kalah saing dengan Rany, makanya takut dan kabur? Haha.]

Aku menghapus dan memblokir pesan-pesan itu satu per satu tanpa memedulikannya.

Saat jumlah like berhenti di angka 999 dan melihatku masih tak bergeming, suasana di sekitar Hery berubah menjadi sangat mencekam dan menakutkan.

Tak ada seorang pun di kantor yang berani menekan tombol like yang ke-1000.

Saat dia sedang memikirkan cara untuk memberiku ‘peringatan kedua’.

Tiba-tiba seseorang menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya dan berteriak kencang,

“Pak Hery! Like yang ke-1000… sudah tercapai!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 9

    Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.Dalam sebuah pemeriksaan kesehatan rutin, Hery didiagnosis mengidap kanker lambung stadium akhir.Dokter berterus terang bahwa depresi emosional yang berkepanjangan, pola makan tak teratur, serta kelelahan fisik yang berlebihan menjadi pemicu utamanya.Rasa sakit akibat penyakit, kondisi perusahaan yang di ambang kehancuran, ditambah penyesalan mendalam yang tak termaafkan.Semua itu benar-benar menghancurkan Hery yang dulunya begitu angkuh.Dia terbaring di atas ranjang rumah sakit yang dingin, menatap langit-langit yang putih.Bayangan yang terlintas di depan matanya, kini seluruhnya adalah kenangan tentangku dan dirinya.Fokusku saat merakit miniatur istana untuknya, kesabaran dan kelembutanku saat menghadapi sifat kekanak-kanakannya…Hingga akhirnya kenangan itu berhenti di ruang VIP…Saat tangan kirinya mendaratkan tamparan keras di wajahku demi membela Rany.Air mata mengalir tanpa suara.Sayangnya, dia baru tersadar saat semuanya sudah terlamba

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 8

    Di tengah rasa keputusasaan yang mendalam, perilakunya mulai tak terkendali.Hery nekat terbang ke Kota Sera untuk mencariku.Namun, dia ditahan dengan sopan oleh petugas keamanan di lobi hotel.“Mohon maaf, pak. Tanpa reservasi dan kartu akses, kami nggak bisa mengizinkanmu naik.”“Kamu tahu aku ini siapa? Aku itu Hery! Aku mau bertemu Stella! Bilang padanya, dia pasti mau bertemu denganku!”Hery mencoba menerobos masuk secara paksa.Petugas keamanan tak mundur sedikitpun, hanya memberikan laporan singkat melalui perangkatnya,“Bu, ada yang seorang pria bernama Pak Hery yang bersikeras mau bertemu Bu Stella… baik, siap.”Setelah itu, dia mengulanginya pada Hery,“Pak, Bu Stella dengan tegas memberi instruksi untuk nggak menerima tamu tanpa janji temu. Tolong jangan mempersulit kami.”Pada akhirnya, seluruh hadiah dan surat yang dikirimkannya dikembalikan secara utuh tanpa dibuka sama sekali.Di suatu malam yang diguyur hujan deras, Hery menirukan adegan drama dengan berdiri di bawah g

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 7

    Hari-hari berikutnya, Hery larut dalam penyesalan tanpa akhir dan mencariku gila-gilaan.Dia mengerahkan seluruh koneksi yang dimilikinya untuk mencari tahu keberadaanku.Begitu mengetahui bahwa aku berada di Kota Sera dan sedang menjalin kontak dengan putra Keluarga Siren, hatinya semakin terbakar kecemasan.Hery berkali-kali memutar nomor teleponku, tapi yang terdengar selalu nada operator yang dingin. Dia menggunakan berbagai akun untuk mengirim pesan ke nomor whatsappku.Dia mencoba menghubungi asistenku di Kota Sera, tapi pesan-pesannya bahkan tak pernah sampai ke hadapanku.Hingga akhirnya, setelah percobaan yang tak terhitung jumlahnya, teleponnya pun secara tak terduga malah tersambung.“Stella! Ini aku!”Suaranya gemetar karena sangking emosinya.“Dengarkan aku, aku tahu aku salah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Aku sudah mengusir Rany, aku nggak akan pernah berhubungan dengannya lagi! Kamu kembali, ya? Kita mulai lagi dari awal…”“Pak Stella,” potongku dengan tenang.“Hub

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 6

    Telepon langsung tersambung.“Halo, Hery.”Suara ibu Stella terdengar tenang seperti biasa, tanpa ada emosi yang terdengar.Hery menarik napas dalam-dalam, berusaha agar tak terdengar terlalu panik.“Tante, Stella… soal dia menarik investasi dan mengundurkan diri dari perusahaan, kamu tahu?”“Tahu,” jawab ibu Stella singkat.Hati Hery semakin panik.“Lalu… dia di mana sekarang? Aku nggak bisa menghubunginya. Sepertinya… dia sudah memblokir semua kontakku.”Beberapa kata terakhir itu diucapkannya dengan berat, terselip rasa kesal yang bahkan tak disadarinya.Suasana di balik telepon langsung hening beberapa detik.Saat bersuara kembali, nada bicara ibu Stella tetap tenang, tapi terdengar sangat menjaga jarak.“Hery, Stella sudah berangkat ke Kota Sera. Mengenai alasan kenapa dia melakukan itu, kurasa seharusnya kamu lebih tahu dari siapapun.”“Aku…” Hery langsung terdiam.“Pernikahan politik antara dua keluarga kita cukup sampai di sini.”Suara ibu Stella terdengar tegas dan tak bisa di

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 5

    Mendengar kabar itu, seketika wajah Hery langsung memuram. Dia menggeram bertanya, “Siapa yang menekan like yang ke-1000?”Orang yang melapor memberi penjelasan dengan panik, “Bukan aku... tadi Kak Stella mengurus pengunduran diri, lalu pakai ponselku untuk menekan likenya.”“Pengunduran diri? Siapa yang mengizinkan dia mengundurkan diri?”“Bu Stella itu pemegang saham perusahaan. Sesuai aturan, dia bebas menentukan untuk bertahan atau pergi, ini... ini aturan yang kamu buat.”“Lalu bagaimana dengan sahamnya di perusahaan?”“Bu Stella sudah menarik semua investasinya beberapa hari yang lalu.”“Menarik investasi? Nggak mungkin!”Rasa cemas menyelinap di benaknya. Sayangnya, Rany tak menyadarinya dan malah lanjut memprovokasi,“Kak Stella hanya pakai taktik untuk memaksa kamu mengalah. Ini cara jual mahal yang pasaran. Hery, kamu jangan sampai terkecoh.”Hery tak merespon, matanya hanya menatap tajam ke layar ponsel.Dia berniat mengirimkan pesan padaku, tapi baru teringat kalau diriny

  • Penyesalan Yang Dimulai Dari Sepotong Abalon   Bab 4

    Keesokan harinya, aku kembali ke kantor untuk membereskan barang-barangku.Begitu mendorong pintu ruang istirahat.Kulihat Rany memakai rok pendek yang sexy dengan kedua kaki diangkat santai di atas meja kerjaku.Barang-barang pribadinya memenuhi seluruh ruangan.Sementara barang-barang milikku dicampakkan secara berantakan di luar koridor.Ruang istirahat ini dulunya dibuat khusus oleh Hery untukku.Semua orang di kantor tahu hal itu dan tak ada yang berani masuk sembarangan.Tindakan Rany saat ini sama saja dengan menginjak harga diriku.Aku malas basa-basi, jadi langsung mengambil ponsel dan menelepon polisi.Di ruang mediasi, Rany terlihat agak panik.“Aku hanya bantu Kak Hery ambil berkas dokumen, emangnya perlu sampai lapor polisi segala?”“Itu area pribadiku, emangnya aku mengizinkanmu masuk?”“Mengambil tanpa izin itu namanya mencuri.”Aku menegaskan dengan tegas. Dia tak berani membantah dan matanya langsung berkaca-kaca.Seketika, aku menyadari ada yang tak beres.Begitu meno

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status