MasukDua jam telah berlalu sejak pesta pernikahan mereka berakhir. Setelah mengantar para tamu penting, berpamitan dengan keluarga dan sahabat-sahabat mereka, Dirga akhirnya membawa Mia pulang ke rumah yang kini resmi menjadi tempat mereka memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Kelelahan jelas terlihat di wajah keduanya, namun senyum bahagia tak pernah benar-benar hilang. Mia bahkan masih sesekali melirik cincin di jari manisnya seolah belum percaya bahwa hari yang selama ini hanya ada dalam mimpi akhirnya benar-benar terjadi.Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah. Dirga turun lebih dulu lalu berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Mia. Jemarinya langsung menggenggam tangan sang istri saat mereka berjalan berdampingan menuju pintu utama. Namun langkah mereka terhenti ketika sebuah kotak besar berlapis kertas hadiah berwarna krem terlihat tergeletak tepat di depan pintu rumah.Kening Dirga langsung berkerut. Instingnya sebagai pria yang terbiasa men
Aula utama Hotel Daisy siang itu berubah menjadi lautan cahaya yang begitu memukau. Langit-langit tinggi dihiasi ribuan kristal yang menggantung bak bintang-bintang, memantulkan kilauan lampu ke seluruh ruangan. Hamparan bunga mawar putih, peony, dan anggrek memenuhi setiap sudut aula, menciptakan suasana yang elegan sekaligus hangat. Para tamu undangan dari kalangan pebisnis, sahabat, hingga keluarga memenuhi kursi-kursi yang telah disusun rapi menghadap altar megah yang berdiri di ujung ruangan.Di balik pintu khusus pengantin, Mia berdiri terpaku di depan cermin besar. Gaun pernikahan yang membalut tubuhnya tampak begitu sempurna. Gaun itu didesain dengan potongan off-shoulder yang memperlihatkan leher jenjangnya dengan anggun. Ribuan kristal Swarovski dijahit tangan memenuhi bagian dada hingga menjuntai ke rok panjang berlapis tulle yang mengembang megah. Ekor gaunnya membentang beberapa meter di belakangnya, sementara veil transparan bertabur mutiara halus menutupi sebagian ram
Mia mengikuti kemana maminya Dirga pergi. Dan wanita itu melangkah menuju kolam berenang samping rumah."Tante.." panggil Mia membuat maminya Dirga terkejut.Wanita itu langsung memutar tubuhnya dan menatap Mia tajam."Mau apa anda ke sini." Tanyanya geram.Mia belum mau menjawab. Ia menatap wanita itu dengan seksama.Ia menghela napas panjang."Pada dasarnya, tak ada seorangpun manusia yang ingin dilahirkan jika hanya untuk menjadi permainan dunia." Ucap Mia memulai."Aku tahu masa laluku tak membuat siapapun suka. Tapi itu bukan salahku. Lahir dari rahim seorang pelacur bukan keinginanku. Jika aku bisa meminta pada Tuhan, aku ingin lahir dari rahim mu, tante. Karena aku bisa melihat se sayang apa Tante sama Dirga."Suasana hening seketika. "Aku hanya seorang anak yang menjadi korban jahatnya orang tua. Aku juga nggak mau hidup seperti ini. Aku bahkan sudah beberapa kali bunuh diri namun tetap tak mati. Dari situ aku tahu kalau Tuhan memang ingin aku bertahan."Mia melangkah semakin
Setelah melamar Mia, Maminya Dirga mendengar kabar itu dan ia bertengkar hebat dengan Dirga.Satu bulan berlalu sejak pertemuan terakhir yang penuh ketegangan itu. Selama satu bulan pula, Dirga tak pernah berhenti mendatangi mamanya. Lima kali pria itu datang dengan tujuan yang sama, meminta restu untuk menikahi Mia. Namun lima kali pula ia pulang dengan jawaban yang sama; penolakan.Akan tetapi, Dirga bukan lagi pria yang mudah goyah oleh penolakan. Ia sudah terlalu lama hidup mengikuti keinginan orang lain. Kali ini berbeda. Restu memang ia harapkan, tetapi bukan sesuatu yang akan menentukan langkahnya. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin memberitahukan kepada mamanya bahwa wanita yang dicintainya akan segera menjadi istrinya.Di sisi lain, segala sesuatu berjalan jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Rasya berdiri di belakangnya tanpa ragu. Bahkan pria itu ikut membantu mencari keberadaan ayah Mia yang selama bertahun-tahun sulit ditemukan. Ketika akhirnya pertemuan itu terjadi,
Dirga mengecup keningnya lama.Seakan ingin menyampaikan semua perasaan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Mia merasa begitu tenang.Bukan karena hidup mereka akan selalu mudah.Bukan karena tak akan ada masalah di masa depan.Melainkan karena ia tahu, mulai hari ini dan seterusnya, mereka akan menghadapinya bersama.*****Dirga menggenggam tangan Mia saat keduanya melangkah keluar dari kamar.Setelah 'mandi' dan berganti pakaian, mereka terlihat jauh lebih segar. Aroma sabun dan parfum masih melekat kuat di tubuh masing-masing. Rambut mereka yang masih sedikit basah menjadi bukti bahwa keduanya baru saja selesai membersihkan diri.Mia bahkan masih sibuk mengeringkan ujung rambutnya dengan jemari.Namun satu hal yang sama sekali terlupakan oleh mereka berdua...Rumah kaca tepi pantai itu tidak hanya dihuni mereka. Dirga dan Mia benar-benar lupa jika di rumaah itu ada kelima sahabat mereka.Begitu mereka keluar kamar menuju ruang tenga
Acara lamaran itu berlangsung khidmat. Bahkan papinya Dirga juga ikut larut dalam harunya acara tersebut. Ia menyelamati Mia sebagai calon menantunya. Walaupun saat itu tidak ada maminya Dirga, namun kehadiran papinya Dirga membuat Mia benar-benar bahagia.Setelah ini ia berjanji tak butuh apa-apa lagi. Ia hanya ingin ada Dirga di sisinya. Dan malam itu acara berlalu dengan meriahnya. Acara lamaran yang Mia sendiri tak menyangka akan berakhir seindah ini.Tak terlalu banyak tamu yang ada di rumah kaca tapi Pantai itu, namun ia benar-benar bahagia.Dan malam itu acara berlangsung dengan meriah dan penuh kebahagiaan. Semua sahabat Dirga memutuskan untuk menginap di rumah kaca itu. Sementara papinya Dirga pulang ke rumah.Dirga terbangun pagi-pagi buta. Ia melirik Mia yang tidur di pelukannya. Dengan lembut ia mengecup wajah Mia mulai dari kening, pipi dan berakhir pada bibir.Saat bagian bibir, Dirga melumatnya lembur. Mia yang terbangun bukannya marah, malah membalas ciuman tersebut. S







