LOGINNovel ini bercerita tentang perjuangan seorang pria yang bernama Gema dalam menyatukan cintanya dengan seorang gadis bernama Bree. Berbagai rintangan harus dilalui Gema untuk mendapatkan cinta Bree, mulai dari permasalahn keluarga Bree sampai dengan keinginan Bree untuk kuliah diluar negeri. Akhirnya cinta mereka bersatu. Tetapi ujian Gema dan Bree untuk mempertahankan cintanya begitu besar. Berbagai badai masalah datang untuk mencoba menggoyang kekokohan cinta sepasang anak manusia itu. Apakah Gema dan Bree bisa mempertahankan cinta mereka? Atau adakah kata kata seperti anak muda sekarang, putus sambung putus sambung Yuk para reider terseyengku mampir di novelku
View MoreTHE GIRL THE ALPHAS HATE
•••**MIRA**••• "Fresh meat." I heard it before I got to the gates. I did not need to see who said it. I just kept walking with my bag on my shoulder. That's the main rule when you are the weakest thing in a yard full of predators. Don't give them a reason to look at you. Apex Moon Academy was exactly what I had imagined. Which meant it was exactly what I feared. The buildings were old. The students wore pressed uniforms and acted as if they had never been told "no." The whole place reeked of old bloodlines, money, and Real power. My scholarship letter had called this place 'an opportunity for extraordinary wolves of all backgrounds.' I gave myself forty-eight hours before someone used the word 'mutt.' Thirty seconds, as it turned out. "Is that the scholarship half-blood?" A girl with silver-blonde hair said it to her friend without lowering her voice. Her eyes moved over me the way you look at something you're deciding whether to step over or step on. "She smells like servant quarters." Her friend wrinkled her nose. I kept walking. 'Do not stop. Do not react. Find orientation and disappear into it.' The open courtyard was big and cold, full of students who all seemed to know each other and their place. I walked along the edge, looking down and moving quickly. I almost made it. Someone threw a snowball at my back, and my coat got wet right away. I heard laughing behind me, like they were just waiting to do that. "Hey," a lazy, bored male voice said. "Half-blood. I'm talking to you." I felt a sudden drop in my stomach. I turned around slowly. The courtyard changed. Students moved back, making room, like a crowd does when something scary comes near. Everyone looked down. Even a professor on the other side of the yard found something important to watch that wasn't the students. Three figures stood at the center of it all. I had seen photos before transferring. Everyone did their research before coming here. You don't walk into Apex Moon without knowing who runs it. Kael. Ronan. Lucien Ravencrest. They looked so alike it was almost weird. Same dark hair, same strong jaw, same intense eyes that flashed in the winter sun like a wild animal was watching. But even from far away, you could see they were different if you looked beyond their faces. Kael stood with his arms crossed, looking like he had already decided how this ended. Ronan was relaxed but alert, hands by his sides, ready for anything. Lucien was smiling. He was the one who had thrown the snowball, and somehow, even from twenty feet away, he was the most dangerous thing I had ever seen. The worst ones always smile. "Come here," Ronan said. He wasn't asking. He was just saying it. I walked toward them. What else was I going to do? Kael looked at me walking across the yard. He seemed to be checking for a problem. His eyes quickly scanned me, not impressed, and nothing he saw changed how he looked. "This is the scholarship student," he said. It felt like he was talking about me, but not really to me. Like I was a thing being discussed, not a person standing right there. "Mira Vale," Lucien said my name, with mild curiosity, like playing with a small thing. "Half-blood. Coldwick territory." I held still. Kael's lip pulled slightly. "Apex Moon was built for wolves with real bloodlines." His golden eyes flicked over me, cold and direct. "Not strays." Snickers moved through the crowd behind me. "Lost, maybe," someone offered helpfully. "Servant schools are the other direction," someone else said, and the laughter grew. I did not drop my eyes. Which was probably stupid. But there's only so much a person can swallow before something in them gets stubborn about it. Lucien noticed. I watched it happen – the way his head tilted a little, and his face showed something I couldn't quite figure out. It was like he noticed something unexpected and filed it away. "Careful, Kael," he murmured, almost gentle. "You might hurt her feelings." The crowd laughed harder. Ronan stepped forward. He stopped close enough that I caught his scent fully – like pine trees, cold air, and a wildness I wasn't expecting. Something changed, deep inside me. Like a tiny spark. My inner wolf woke up. My wolf hadn't awakened since I was seven years old. Whatever was inside me had been quiet for so long I had half-convinced myself there was nothing there anymore. But right now, in the cold with Ronan Ravencrest three feet in front of me —Something moved. Ronan felt it too. I watched the shift happen in his eyes before he locked it down hard behind something meaner. He shoved my shoulder. I fell back into the snow, and it was cold on my hands, knees, and the back of my coat. I heard laughter all around me. "Stay out of our way, mutt." He said it without looking at me anymore, already done, already walking away. The crowd parted around them. I stayed on the ground, not because I couldn't get up. Because something had just happened inside my chest that I didn't have words for yet. Something that had nothing to do with the cold or the laughter or the way my hands were shaking. My wolf was awake, and she wasn't scared. The triplet were heading for the doors when Lucien stopped for a second. He looked back, not at the people or his brothers. He looked at me. I couldn't tell what he was thinking. But his eyes held mine for a little too long. Then he turned away, said something low to his brothers, and all three of them disappeared through the doors. I picked myself up off the ground. Brushed the snow off my hands. My wolf pressed against my ribs like she recognized something. Like she was saying: 'I know them.' And the worst part? So do I." Sayang apa yang mau kamu katakan tadi sayang saat kamu ngomong nanti saja sayang saat kita sudah berdua saja, kamu takut nanti di bully oleh Biru dan Vira. Ada cerita apa sayang?" kata Gema saat mereka sudah berdua saja di dalam ruangan Bree."Tapi kamu janji tidak akan marahkan sayang, aku takut nanti saar kamu sudah mendengar ceritanya kamu akan marah" kata Bree sambil mengenggam tangan Gema yang berada di atas mejanya."Tenang saja sayang, aku nggak akan marah, selagi itu tidak mengganggu kamu, atau mengusik kehidupan aku dan keluargaku." kata Gema"Jadi gini sayang, saat kamu berada di luar negeri, aku masih berpenampilan seperti ini, tiba tiba suatu hari ada seorang dokter mulai mengganggu aku, dia mengatakan bahwasanya kamu bukan laki-laki yang tepat untuk diriku. Aku langsung marah marah sama dia. Aku mengatakan emang siapa menurut loe yang terbaik untuk gue." kata Bree sambil melihat ke mata Gema. Mata yang didalamnya sudah menahan kemaran yang siap me
Gema mandi terlebih dahulu sebelum dia beristirahat. Gema sangat lelah karena sudah jauh berjalan dari gerbang rumah menuju rumah utama. Gema baru sekali ini mencoba berjalan yang sejauh itu. "Gila capek juga gue jalan. Apalagi para maid ya yang melakukan perjalanan tiap hari. Belum lagi bekerja. Mereka memang strong" kata Gema. Setelah membersihkan badannya. Gema kemudian naik ke kasur untuk mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Gema benar benar letih setelah melakukan perjalanan jauh. Ditambah lagi dengan berjalan kaki sejauh tujuh ratus meter. Biru juga sama, dia juga membersihkan diri sebelum beristirahat. Dia juga sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh dan berjalan kaki. Gema dan Biru yang benar benar letih tidak mendengar ketukan pintu dari maid yang meminta mereka untuk makan malam. Tepat pukul sepuluh malam Gema baru bangun dari tidurnya. Dia langsung turun ke dapur melihat makanan, ternyata di sana sudah ada Biru yang sedang mema
Gema dan Biru yang tertidur di karpet ruangan Vira sampai tidak sadar kalau Bree dan Vira telah selesai melakukan operasi mereka untuk hari ini. Gema dan Biru tertidur dengan begitu lelapnya. Bree dan Vira yang melihat hanya bisa menggeleng gelengkan kepala mereka tanda tidak percaya. Seorang CEO dan Asisten yang terkenal di dunia bisnis karena kejelian mereka melihat peluang dan keuntungan, bisa tertidur nyenyak hanya beralaskan karpet dan berbantalkan boneka."Bree, mereka berdua bener pengusaha yang ditakutkan di dunia bisnis itu Bree?"" Gue juga ragu Vir."Kata Bree sambil melihat Gema dan Biru yang tertidur seperti mayat itu. Gema dan Biru sama sekali tidak ada melakukan pergerakan walau hanya sedikit." Vie gue keruangan bentar ya. Mau nyiapin semua barang barang gue." kata Bree sambil berlalu dari ruangan Vira.Vira yang ditinggal Bree untuk merapikan barangnya, juga langsung duduk di kursi kebesarannya. Vira juga merapikan semua barang barangny
Afdhal tiba tiba berhenti di salah satu toko bunga ternama di ibu kota negara I."Dhal kenapa berhenti?" kata Gema yang heran Afdhal main berhenti saja tanpa meminta persetujuan Gema."Tuan, walaupun saya jomblo akut, tapi saya adalah tipe pria romantis tuan.""Jadi, apa masudnya kamu main berhenti di depan toko bunga? Kamu mau membeli bunga untuk siapa?" tanya Gema"Tuan tuan, yang mau membeli bukan saya Tuan. Tapi tuan berdua. Emang tuan tidak pernah nonton drama Korea?" tanya Afdhal dengan menatap tajam Gema dan Biru.Gema dan Biru kemudian menggeleng. Pekerjaan mereka sangat banyak menyita waktu. Alasan paling penting adalah mereka laki laki untuk apa nonton drama korea."Tuan sekali sekali nonton drama Korea itu bagus, untuk mencomot contoh contoh perlakuan romantis kepada pasangan" kata Afdhal yang sangat senang dapat membully Gema dan Biru secara tak langsung."Tuan masih belum paham dengan maksud saya?" kata Afdhal.Gema kemudi
Gema terlihat sangat gelisah dalam tidurnya, terlihat keringat membasahi badannya. Gema mendadak terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk yang menghantuinya. Gema terbangun dengan napas yang memburu, itu terlihat dari dadanya yang naik turun dengan sangat cepet. Gema langsung mengambil air minu
Gema memasuki gerbang rumah mewah bergaya eropa. Jarak rumah utama dengan gerbang depan lumayan jauh. Sebelum sampai ke rumah utama, setiap mata orang yang datang bertama kerumah Gema akan melihat hamparan kebun bunga yang indah. Kebun bunga ini merupakan tempat favorit dari mommy Gema. Setelah m
Pagi yang cerah bagi dua makhluk ciptaan Tuhan yang sedang dilanda mabuk kepayang memikirkan kata-kata cinta yang belum terlontarkan dari mulut masing-masing. Meraka masih memikirkan apakah yang mereka rasakan ini cinta atau sedekar obsesi belaka. Obsesi yang hanya untuk memiliki dan diakui sebag
Rumah Gema"Pagi mi" kata Gema menyapa mami reta."Pagi, Gem" kata mami Reta, yang keheranan melihat anaknya begitu ceria pagi ini, walaupun biasanya Gema tetap ceria. Tapi hari ini keceriaan Gema agak berbeda."Gem, mami boleh tanya sesuatu nggak ke kamu?" kata mami Reta sambil






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore