Mag-log inSejak subuh buta, Rey sudah bergerak dalam senyap. Beberapa setel pakaian terbaiknya dan berkas-berkas penting yang ia butuhkan sudah tertata rapi di dalam koper yang kini tersimpan di bagasi mobil. Keputusannya sudah bulat. Ia akan keluar dari rumah terkutuk ini dan menetap di apartemen pribadi yang selama ini ia beli diam-diam dari hasil kerja kerasnya sendiri, sebuah tempat yang tidak tersentuh oleh pengaruh kekuasaan ayahnya.Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Rey turun ke ruang makan. Ia sengaja bersikap biasa saja, bersiap menghadapi sarapan terakhir bersama kedua orang tuanya.Suasana di meja makan begitu sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Keheningan itu pecah saat Sena meletakkan cangkir kopinya, menatap sang putra mahkota dengan pandangan menuntut."Kamu sudah memikirkan ucapan Papa semalam, kan, Rey? Masalah jodoh, jangan naif. Dengan posisimu sekarang, perempuan mana pun pasti bisa kamu dapatkan dengan mudah!"Rima
"Kevin, kamu nggak bisa memutuskan semuanya secara sepihak! Mau ditaruh dimana muka Mama?!"Suara Wike meninggi, memecah keheningan ruang keluarga malam itu. Napasnya memburu, matanya menatap tajam ke arah Kevin. Di sebelahnya, Indra, sang suami, hanya bisa memijat pelipisnya perlahan, sementara Lita, si anak sulung, melipat tangan di dada sambil menyimak ketegangan yang terjadi.Kevin mengepalkan tangan di dalam saku celananya, berusaha menahan emosi. "Ma, dari awal aku sudah bilang kalau aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Aku sudah mencoba jalani, mencoba untuk mencintai Olivia, tapi tetap nggak bisa. Tolong pahami itu.""Omong kosong dengan cinta!" Wike mengibaskan tangannya di udara, meremehkan. "Cinta itu bisa datang belakangan setelah menikah, Kevin! Yang penting itu bibit, bebet, bobotnya!""Sudahlah, Ma. Jangan memaksa Kevin. Pernikahan itu dia yang menjalani, biarkan dia memilih jodohnya sendiri." Indra akhirnya membuka suara, mencoba menjadi penengah sebelum tensi ruan
Aisha baru saja hendak membuka mulut untuk membalas ucapan Rima dengan sopan, namun suara dehaman berat dari ujung meja seketika membekukan kata-kata di tenggorokannya.Sena, yang sedari tadi hanya diam menyimak sambil membaca berkas di tabletnya, kini meletakkan gawai tersebut ke atas meja kaca. Pria paruh baya itu memperbaiki posisi duduknya, memancarkan aura otoriter yang kuat, aura yang sama persis dengan yang dimiliki Rey di kantor, namun jauh lebih matang dan berpengalaman.Sena menatap Aisha lurus-lurus. Tidak ada senyum kepalsuan seperti Rima, hanya ada tatapan sedatar dinding batu."Sudah berapa lama kamu bekerja di perusahaan saya, Aisha?" tanya Sena. Suaranya berat, tidak meninggi, namun entah mengapa terdengar begitu menekan."Sudah jalan tiga tahun, Bapak," jawab Aisha, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar."Tiga tahun." Sena mengangguk pelan sekali. "Berarti kamu sudah cukup tahu bagaimana cara perusahaan kami bergerak. Kamu tahu seberapa besar energi, koneksi,
Rey tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terkesan bersimpati namun sebenarnya penuh racun. "Aku yakin, mamamu tidak akan pernah menyukai perempuan seperti Rosa.""Aku tidak peduli, Rey!" potong Kevin cepat, suaranya meninggi, menolak fakta yang baru saja diucapkan Rey."Aku tidak butuh persetujuan siapa pun. Yang aku inginkan di hidupku hanya Rosa!"Rey tidak mendebat. Ia justru berjalan memutari Kevin, seolah sedang mengurung cowok itu dalam ruang intonasinya yang tenang."Oke, kamu tidak peduli pada mamamu. Tapi, bagaimana kalau tiba-tiba Oliv datang dan mengaku hamil anakmu? Persis seperti drama yang dilakukan Bima pada Rosa kemarin?"Rey menatap Kevin tepat di manik mata. Pertanyaan itu seperti hantaman telak. Dada Kevin naik turun, napasnya memburu menahan gejolak amarah sekaligus kepanikan yang mendadak menyergap."Nggak mungkin! Oliv tidak mungkin hamil anakku! Aku tidak pernah menyentuhnya! Kami tidak pernah melakukan hal sejauh itu!” sentak Kevin, suaranya agak bergetar me
"Selama ini Papa selalu mendidik Rey untuk menilai seseorang dari loyalitas dan integritasnya. Dan Aisha sudah membuktikan hal itu, bahkan di titik terendah keluarga kita." lanjut Rey, memanfaatkan keheningan yang sempat tercipta. Rima menatap suaminya, mencari celah di wajah Sena yang mulai melunak, meski rahang pria paruh baya itu masih mengeras. Trauma dikhianati oleh Bima memang membuat Sena menjadi pria yang penuh curiga.Sena mendengus, lalu berjalan kembali ke sofanya. Ia duduk dengan punggung tegap, menatap Rey seolah sedang menguji bawahannya di ruang rapat."Loyalitas sebagai karyawan itu berbeda dengan kesetiaan sebagai istri, Rey," ucap Sena, suaranya kini merendah namun tetap berat. "Di kantor, dia tunduk karena kamu atasannya. Tapi di dalam rumah tangga, ego kalian yang akan berbicara. Apa kamu yakin dia bisa mengimbangi posisimu? Kamu itu calon penerus tunggal perusahaan, relasi yang akan kamu hadapi nanti berbeda kelas dengan dunianya.""Aisha perempuan yang cerdas,
"Kevin! Kamu keterlaluan!" Wike berdiri dari kursinya hingga benda itu bergeser kasar dan menimbulkan suara berdecit yang nyaring. Wajahnya merah padam, menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. "Jaga bicaramu! Ada Oliv di sini!"Sementara itu, Olivia hanya bisa terpaku. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang dipoles riasan mahal. Ia menatap Kevin dengan pandangan tidak percaya."K-Kev... kamu bercanda, kan?" suara Olivia bergetar hebat. Ia mencoba meraih tangan Kevin di atas meja, namun Kevin dengan cepat menarik tangannya menjauh. "Kita sudah bicarakan ini, Kevin. Keluarga kita sudah setuju. Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini?""Ini tidak tiba-tiba, Oliv," jawab Kevin, suaranya tetap rendah dan stabil, kontras dengan kepanikan dua wanita di hadapannya. "Sejak awal, aku sudah bilang sama Mama kalau aku menolak perjodohan ini. Dan aku juga pernah bilang sama kamu, hubungan kita dipaksakan.""Kevin! Diam!" bentak Wike lagi, dadanya kembang kempis.







