LOGINHatinya sakit saat tunangannya berselingkuh, sementara itu perusahaan papanya juga terancam bangkrut, hidupnya langsung berbalik 180 derajat. Demi mempertahankan perusahaan Asrina terpaksa menandatangani perjanjian dengan pengusaha terkaya di kota itu. "Aku ingin seratus miliar. Bisakah kamu memberikannya?" Asrina mengungkapkan nominal bayaran yang diinginkannya. "Berapapun yang kamu mau." Arbian langsung setuju. "Apakah tidur bersama juga harus dipenuhi? Bukankah hanya untuk bertindak di depan orang luar saja?" "100 miliar, menurutmu itu daun jatuh yang bisa langsung dipungut?" Sebuah perjanjian yang saling menguntungkan membuat keduanya terikat selamanya.
View More“거참, 더럽게 을씨년스럽네.”
대문 앞, 가죽 장갑을 고쳐 낀 도세준. 그가 담벼락을 넘는 건 순간이었다.
오늘은 유독 기분이 좆같았다. 이딴 귀찮은 일에 직접 움직인 건 꽤 오랜만이었으니까. 그동안은 분명 아랫것들이 대신하던 일이었다.
짜증을 내면서도 직접 움직인 이유는 단 하나. 여태 지불한 정산금만 해도 17억에 육박하는 VIP 강 회장. 그가 이번 타깃을 전하며 이렇게 말했다.
“이번엔 직접 움직여주게.”
“회장님. 부하들도 믿을만한 놈들입니다.” “알고 있네. 하지만 이번엔 그 어떤 여지도 남겨선 안 돼.” “손이 굳어서 말이죠.” “페이는 3억.”평소의 세 배였다. 세준은 눈동자를 내려 타깃의 정보를 바라보았다. 테이블 위에 펼쳐진 파일 안, 생글 맞게 웃고 있는 여자의 사진과 ‘강리아’라는 이름.
문제는 그 옆에 적힌 나이가 너무 어렸다. 고작 스무 살.
앞길이 창창한 것들은 늘 께름칙하던데. 하지만 단박에 거절하기엔 이미 제대로 엮여버린 사이였다. 그래서 처음으로 물었다.
“질문에 답해주시면 움직이겠습니다.”
“뭐지.” “제거 목적이 뭡니까.”가죽소파 팔걸이에 걸쳐진 손가락이 미세하게 떨렸다. 그런 모습은 처음이었다. 강 회장은 마른 헛기침을 한 번 하고는, 평소보다 무거운 목소리로 입을 열었다.
“지연이 딸일세.”
부가 설명은 필요 없었다. 강지연. 강 회장의 하나뿐인 외동딸, 이미 슬하에 남매를 둔 사실을 알고 있었다.
그렇다면 답은 하나. 재벌가 외동딸의 알려지지 않은 핏줄. 알려져선 안되는 존재. 그게 바로 이번 타깃이구나.
“강지연 이사님은 알고 계십니까. 이 아이의 존재를.”
“오늘따라 질문이 많네.” “오늘따라 다른 부탁을 하시니까요.”세준은 평소답지 않았고, 강 회장 역시 마찬가지였다. 질문과 긴장. 그건 두 사람 사이에 한 번도 존재하지 못한 감정이었다.
“모르네. 그게 이유네.”
존재도 모르는 사생아를 굳이? 왜? 이상하게 이번 일은 구미가 당기지 않았다. 본능이 그렇게 말해주고 있었다.
강 회장의 목소리가 다시 들려왔다.
“엄마를 찾기 시작했어. SNS에 배냇저고리랑 담요를 올렸더군.”
"배냇저고리랑 담요. 그 여지를 남기신 게 회장님 실수셨군요.” “인정하지. 허나, 그렇게 경고했는데 듣지 않은 건 결국 그 아이야.”시선이 다시 파일로 향했다. 아무것도 모르는 얼굴로 해맑게 웃는 얼굴. 강리아.
결국 킬러를 고용해 죽일 거면서, 성은 또 강 씨다? 웃기는 노릇이었다. 하지만 티를 낼 수 없어 그저 혀를 찼다.
“SNS가 널 죽음으로 안내했네.”
“도세준.” “직접 처리하죠.”그게 이 거지 같은 집 담벼락을 넘은 이유다. 도시와는 동떨어진 전원주택. 말이 좋아 전원주택이지, 마당은 잡초들이 무성했다.
돈이 썩어나는 엄마의 존재를 알았다면, 이 마당은 조금 더 볼만했을까. 아니, 이제 와서 그게 무슨 소용이야. 어차피 넌 저승의 문턱을 넘을 텐데.
익숙하게 도어락에 장치를 갖다 대자, 소리 없이 현관문이 열렸다. 거실은 어두웠다. 대신, 굳게 닫힌 방 쪽에서 희미한 불빛이 새어 나왔다.
“깨어 있으면 곤란하지.”
발소리를 완전히 죽였다. 그리고 방문에 귀를 붙였다.
다행히 아무 소리도 들리지 않았다. 사실 들린다 해도 상관없었다. 이까짓 어린 계집애쯤 제압하는 건 일이라는 축에도 못 꼈으니까.
끼익- 방문이 천천히 열렸다.
‘씨발. 깜짝이야.’
속으로 욕을 삼켰다. 생각지도 못한 모습이 그를 맞이했다.
무드등 하나를 켜둔 채 잠이 든 강리아는 제 몸보다 큰 커다란 바디필로우를 꼭 끌어안고 있었다.
문제는 파자마 원피스는 허리까지 말려 올라갔고, 한쪽 다리를 기역 자로 올린 탓에 씨발! 그 새하얀 허벅지와 핑크색 팬티가 적나라하게 보인다는 것. 엉덩이에 하트는 또 뭔데. 애새끼도 아니고.
조심스레 걸음을 옮겨 침대 가까이 다가갔다. 여자애 방이라 그런지, 향기가 가득했다. 살결은 또 왜 이렇게 하얀지 꼭 인형 같은데, 팬티 사이 골짜기의 실루엣이 앙증맞았다.
이런 미친, 내가 지금 무슨 생각을 하는 거지. 고개를 흔들어 정신을 차리고, 재킷 안주머니에 손을 넣었다.
주사기를 꺼내 들고, 익숙하게 공기 방울을 빼내며 마음속으로 마지막 인사를 건넸다.
‘다음 생엔 평범한 집에서 태어나.’
그 순간,
“으응... 응..”
갑작스런 뒤척임에 손이 멈췄다. 그리고... 끝내 그 얼굴을 보고야 말았다.
사진은 거짓이었다. 아니, 비교 따위가 불가능했다. 잠이 든 모습이 이토록 예쁜 인간은 난생처음이었다. 무방비함마저 더해져서 그런가. 처음으로 타깃이란 단어를 잊어버린 순간이었다.
“정신 차리자. 씨발, 이러다 내가 먼저 뒤지지.”
도무지 자신과 어울리지 않는 감정. 그대로 강리아의 입을 틀어막았다.
“....?”
두 눈을 부릅떠야 했다. 두려움이 가득한 눈동자를 보여줘야 했다. 숨이 막히는 소리가 나야 정상이었다.
근데 얜 뭐지? 발버둥은커녕 천천히 눈을 떴다. 뭐지. 뭐길래 이딴 반응을 보이는 거지. 왜 자꾸 당황하게 만드는 거지.
이를 악물고 손에 힘을 더 줬다. 경동맥을 누르기엔 아직 일렀다.
손가락 하나 움직이지 않고 스르륵 눈을 감는 걸 보니, 꼭 자신의 상황을 알고 그대로 받아들이는 모습이었다.
“이것 봐라?”
Pagi itu, suasana di kantor pusat Roxis berubah tegang. Setiap kepala departemen dipanggil satu per satu ke ruang rapat utama oleh Nino, tangan kanan Arbian. Mereka tahu ini bukan pertemuan biasa.Arbian duduk di kursi utama, mengenakan jas hitam dengan dasi gelap. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tajam. Di hadapannya, proyektor menampilkan tangkapan layar berita gosip yang dua hari terakhir mengacak-acak nama baiknya."Aku tidak peduli siapa yang membaca ini dengan diam atau pura-pura tidak tahu," ujarnya dingin. "Mulai hari ini, kita tidak bertahan. Kita serang balik."Nino menggeser tablet ke tengah meja. "Kami sudah menemukan sumber penyebaran pertama. Berhubungan dengan jaringan media kecil milik mantan klien Andreas Corp.""Evan," gumam Arbian Rajendra dengan ekspresi mengeras.“Siapkan pernyataan resmi. Tegaskan kita akan mengambil jalur hukum,” lanjutnya. “Dan satu lagi, siapkan video klarifikasi dari Rafael.”Rafael, mantan karyawan yang disebut-sebut dalam gosip itu, kini
Satu jam kemudian, Evan duduk di sebuah lounge pribadi yang biasa digunakan oleh para eksekutif muda untuk bertukar koneksi. Di seberangnya, duduk seorang pria kurus berkacamata, mengenakan kemeja lusuh dan membawa tas penuh dokumen.“Masih bekerja di media gosip online?” tanya Evan sambil menyeruput kopinya.Pria itu mengangguk cepat. “Ya, Tuan Evan. Kami sekarang pegang banyak channel. Instagram, TikTok, bahkan satu forum gelap. Kalau ada berita sensasional, kami bisa viralkan dalam semalam.”Evan menyodorkan selembar foto dari ponselnya. “Ini targetnya. Arbian Gautama. Saya ingin semua orang mulai meragukan reputasinya.”Si pria menyipitkan mata. “Itu susah. Dia bersih. Jarang muncul di pesta. Tidak punya catatan skandal.”Evan mencondongkan tubuhnya. “Makanya kau harus menciptakannya.”“Rekayasa berita?”“Kamu sudah pernah lakukan itu sebelumnya.”Pria itu mengangguk perlahan. “Apa jenis skandal yang Anda mau?”Evan memikirkan sejenak. “Tuding dia pernah menjalin hubungan terlaran
Bella berdiri di depan kaca besar dalam ruang ganti butik kecil milik temannya, mengenakan blouse putih sederhana dan celana bahan krem. Tidak ada kesan mewah, tidak ada riasan berlebihan. Hari ini, ia ingin tampil ‘bersahabat’. Sederhana. Supaya tidak menimbulkan pertahanan dari seseorang yang ingin ia dekati—Asrina.Ia sudah tahu kebiasaan baru Asrina sejak beberapa hari lalu, berkat seorang pegawai toko yang dikenalnya secara pribadi. Hari ini, dia tahu Asrina akan datang ke butik Hilya untuk menyesuaikan ukuran kebaya resepsi.Dan seperti rencana yang sudah ia siapkan, Bella lebih dulu sampai di sana.Saat Asrina memasuki butik dengan membawa map kecil di tangan, langkahnya terhenti ketika melihat sosok Bella yang duduk tenang di pojok ruangan.“Bella?” gumam Asrina dengan nada datar, kaget namun tidak menunjukkan keterbukaan.Bella langsung berdiri dan menyambut dengan senyum sopan, seolah-olah pertemuan ini sepenuhnya kebetulan.“Asrina... kebetulan sekali,” ucap Bella dengan na
Di dalam studio foto ternama di pusat kota Jampu, suasana pagi itu penuh persiapan. Fotografer, asisten, dan penata rias sibuk berlalu-lalang, menyiapkan set latar, properti, dan gaun pengantin yang digantung rapi di rak kaca. Cahaya matahari menerobos jendela besar, membuat ruangan terasa hangat dan hidup.Asrina duduk di depan cermin rias besar, mengenakan dressing gown putih satin, rambutnya setengah dikeriting oleh tangan terampil seorang penata rambut. Wajahnya yang memang sudah cantik kini ditata lebih anggun, membuatnya tampak seperti calon pengantin dari negeri dongeng."Aku masih tidak percaya ini terjadi," gumam Asrina pelan, lebih kepada dirinya sendiri."Apa, Nona?" tanya si makeup artist, mendongak dari palet eyeshadow.Asrina tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."Di ruang ganti sebelah, Arbian berdiri mengenakan kemeja putih dan jas hitam yang disesuaikan khusus oleh desainer internasional. Penata gaya sedang memperbaiki dasinya dan memastikan potongan rambutnya pas di kamer
Malam hari, meja makan. Duduk di meja makan Asrina menatap sekeliling mencoba mencari keberadaan Arbian. Setelah beberapa saat dia tidak melihat orang itu datang. "Bi, apa Arbian belum pulang?" tanya Asrina pada Bi Yupi. "Belum, Nona. Hari ini Tuan ada makan malam dengan klien jadi pulangnya lar
Kembali ke rumah kecilnya, Asrina mengepak beberapa pakaian dan yang lainnya ke dalam koper. Selesai berkemas Asrina menarik kopernya keluar dan bertemu dengan mamanya yang baru saja pulang dari pasar. "Kamu mau kemana bawa koper segala sayang?" tanya Bu Kinanti menatap koper di belakang putrinya
Di pagi hari berikutnya, Asrina bangun pagi-pagi dan berpakaian rapi. "Selamat pagi, Papa, Mama," sapa Asrina duduk di meja makan. "Selamat pagi, Sayang," balas Pak Morael. "Tumben kamu bangun pagi? Biasanya kamu masih tidur jam segini," tanya Bu Kinanti sambil menyendok nasi goreng ke dalam pir
Hilya membawa Arbian dan Asrina berjalan-jalan hingga ke depan tempat perjamuan saat tiba-tiba seorang wanita paruh baya mengahapiri Hilya. "Hilya, kemana saja kamu? Mama sudah mencarimu sejak tadi. Ayo ikut Mama," kata wanita itu menarik tangan Hilya. Hilya melirik Arbian dan Asrina meminta maaf


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.