แชร์

Gilang, Farel, Siska, Rara

ผู้เขียน: Weena Young
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-23 22:12:01

Langkah kaki Jeeva terasa begitu ringan begitu ia melewati gerbang utama Livingston University.

Sisa-sisa rasa cemas atau takut mendengar bisikan orang-orang seketika lenyap, tersapu oleh kehangatan dan rasa aman yang ditinggalkan oleh pelukan Langit pagi tadi.

Gadis sembilan belas tahun itu mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menebar senyuman manis ke setiap penjuru koridor tanpa memperdulikan tatapan heran dari mahasiswa lain.

Tidak lama kemudian, Rara berlari kecil menghampiri Jeeva dengan n
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (14)
goodnovel comment avatar
Tyas Ratih
tetep semangat kalian jangan minder
goodnovel comment avatar
Tyas Ratih
abi mah aslinya cemburu makanya marah sama jeeva 🫠
goodnovel comment avatar
Mbak Mantan😉
Abi pasti kembali mogok masuk kuliah krna termakan dngan berita yg disebarkan Vanya , jdi penasaran sprti apa sih berita itu sampai membuat Abi kmbli ke setelan awal
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Kencan Perdana?

    “Masss… Jeeva pantes gak pakai beginian?” tanya Jeeva malu-malu, membuyarkan lamunan Langit dalam seketika.Pintu kamar utama terbuka pelan, menampilkan sosok gadis sembilan belas tahun itu yang kini sudah mengenakan gaun midi berwarna hijau sage pilihan Regie. Potongan gaun dengan panjang sebatas lutut itu membungkus tubuh mungilnya dengan sangat sempurna. Warna gaun yang lembut tampak kontras namun sangat padu dengan kulit putih bersih Jeeva. Rambut ikalnya yang setengah basah dibiarkan tergerai natural di atas bahu, membingkai wajah cantiknya yang kini dihiasi pulasan senyum manis penuh harap.Langit tertegun di tempatnya. Napas pria itu mendadak tercekat di tenggorokan. Selama hidupnya, ia sudah terbiasa dikelilingi oleh para wanita sosialita berkelas dengan balutan busana desainer papan atas yang elegan dan berdarah dingin. Namun, melihat Jeeva berdiri di hadapannya dengan gaun sederhana namun memukau itu, entah mengapa debar di dadanya bergemuruh hebat dengan cara yang sama seka

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Ganti Pakaian

    Dengan langkah lebar dan tergesa-gesa, Langit setengah berlari meninggalkan area ruang tamu, menerobos koridor, dan langsung mendorong pintu kamar utama yang tidak terkunci rapat. Kedua pegawai butik yang masih berdiri di dekat troli pakaian sontak saling melempar pandangan penuh arti, menahan senyum geli melihat bagaimana seorang CEO dingin yang biasanya sangat berwibawa bisa mendadak kehilangan ketenangannya hanya karena teriakan panik seorang gadis.Di dalam kamar mandi, pemandangan yang menyambut Langit membuatnya menghela napas panjang antara lega bercampur gemas. Jeeva berdiri membungkuk di depan wastafel dengan kedua tangan menutup wajahnya yang basah kuyup. Gadis itu terisak kecil sambil terus menggosok-gosok pelan matanya yang tampak memerah."Jeeva! Kamu ini benar-benar ya, mandi saja bisa pakai drama kena sabun," omel Langit kaku, meski langkah kakinya langsung mendekat tanpa jeda.Mendengar suara bariton yang sangat ia kenal, Jeeva langsung meraba-raba udara di depannya. "

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Mandi

    "Tunggu saja, sebentar lagi ada yang anterin. Mandi dulu kamu sana..." sambung Langit dengan nada datar yang berusaha ia buat senormal mungkin, mencoba menutupi debar di dadanya.Mata Jeeva langsung membelalak lebar. Rasa penasaran yang bercampur baur dengan ketidakpastian melonjak seketika di dalam dadanya. Dengan reaksi menggemaskan khas anak muda, ia mengerjap-ngerjap cepat, lalu mendekat dengan langkah ragu-ragu."Hah? Dianterin? Maksudnya gimana nih?" tanya Jeeva bertubi-tubi, keningnya berkerut dalam penuh tanya. "Tante Marini anterin baju ke sini, Mas? Duh, gimana kalau Tante Marini marah besar karena tahu aku nginap di sini?"Melihat kepolosan tingkat akut yang terpancar jelas di wajah gadis itu, Langit kontan menahan senyum. Pria dua puluh sembilan tahun itu buru-buru menjawab sebelum imajinasi liar Jeeva membayangkan hal-hal yang tidak-tidak."Ya bukan Mama dong yang antar. Masak Mama. Enggak mungkinlah. Bisa kena khk!" Langit memperagakan gerakan memotong leher dengan tanga

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Pujian

    Sembari bangkit dari posisi duduknya, Jeeva mengerucutkan bibirnya beberapa sentimeter, sengaja memasang ekspresi paling menyedihkan yang ia miliki agar sang CEO merasa bersalah. Namun, gadis itu akhirnya memilih patuh, meraih piring bekas spageti di hadapannya lalu melangkah ringan menuju area wastafel dapur.Suara gemercik air yang mengalir berpadu dengan bunyi piring berdenting pelan mengisi keheningan unit penthouse tersebut.Melihat Jeeva yang sibuk di depan wastafel, Langit melangkah pelan mendekati kaca balkon, mengeluarkan ponsel dari saku celananya lalu menekan nomor sahabat lamanya yang mengelola sebuah butik ternama."Halo, Gie, bisa bantu antarkan beberapa gaun beserta perlengkapan set termasuk sepatu dan tas ke apartemen?" tanya Langit to the point.Di seberang sambungan, suara Gie terdengar kaget bukan main. "Buat siapa, Langit? Lo balikan sama Fahira?""Bukan buat Fahira," sahut Langit datar."Trus buat siapa? Pacar baru? Sumpah! Demi apa, kenalin ke kita pacar baru lo!

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Kehangatan itu

    Bisikan lembut berbalut aroma vanila itu sukses membuat Langit terpaku di tempatnya. Jarak wajah mereka yang kini hanya terpaut beberapa sentimeter membuat napas hangat Jeeva menerpa permukaan kulit rahangnya secara langsung. Pria dua puluh sembilan tahun itu menahan napas sejenak, merasakan aliran darahnya berdesir hebat menghantam dinding dada.Namun, di balik gelombang debar yang nyaris meruntuhkan pertahanannya, akal sehat Langit sebagai seorang pria dewasa dan pelindung langsung mengambil alih. Tatapan matanya yang sempat melembut kini berubah menjadi sorot penuh peringatan yang tegas namun tetap memancarkan kelembutan.Dengan gerakan perlahan, Langit menahan kedua bahu mungil Jeeva menggunakan telapak tangannya, memberi jarak yang aman di antara wajah mereka. "Jeeva, stop," ucap Langit dengan nada bariton rendah yang sarat akan kendali diri.Jeeva mengerjap pelan, manik mata beningnya menatap lurus ke dalam netra hitam pekat sang CEO dengan raut tidak terima. Bibirnya mengerucut

  • Pesona Terlarang Kakak Angkatku   Telpon

    Suasana di dalam unit penthouse mewah itu mendadak terasa jauh lebih sunyi setelah pintu kaca balkon kembali tertutup rapat. Di area dapur bersih, Jeeva masih asyik menikmati spageti buatan sang CEO tanpa menyadari badai ketegangan apa yang baru saja pecah di balik punggungnya. Gadis sembilan belas tahun itu menyendok suapan terakhirnya dengan senyuman puas, sementara Langit melangkah pelan mendekati meja bar dengan raut wajah yang kembali dipoles senatural mungkin."Habis?" tanya Langit datar, menyembunyikan sisa-sisa bara amarah di balik manik mata hitamnya.Jeeva mendongak, menunjukkan piring kosong di hadapannya sambil cengengesan lebar. "Bersih! Sumpah, Mas, kalau pensiun jadi CEO, rekomendasiin diri jadi chef bintang lima aja. Enak banget parah!" puji Jeeva tulus, mengabaikan fakta bahwa ia kini terlihat belepotan di sudut bibirnya.Langit menggelengkan kepala pelan, rasa gemas seketika mengalahkan kekalutan pikirannya. Pria itu meraih selembar tisu bersih, lalu dengan telaten k

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status