Share

Bab 6

Author: mr.midi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-24 12:54:03

Dua hari berlalu.

Berkat perawatan terbaik yang diterimanya, hampir seluruh luka di tubuh Eric telah pulih. Hanya lengan kanannya yang masih terbungkus gips dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar sembuh.

Pagi itu, Noah mengajaknya meninggalkan Trinity Hospital.

Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju City Lord, kawasan hunian elite di ibu kota Oriville.

Semakin jauh mereka masuk, suasana di sekitar semakin sunyi. Di balik gerbang-gerbang tinggi berdiri deretan mansion megah dengan taman luas dan penjagaan ketat.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya kontemporer yang berdiri di atas lahan hampir seribu meter persegi.

Eric terdiam.

Tatapannya perlahan menyapu bangunan megah di hadapannya. Bahkan tanpa memahami dunia properti, ia tahu harga mansion itu pasti mencapai puluhan juta dolar.

Keluarga Brown sekaya ini?

Noah turun lebih dulu dari mobil.

Eric ikut melangkah keluar dan mengamati sekeliling. Setiap sudut tempat itu masih terasa asing baginya.

Ada banyak hal tentang Keluarga Brown yang ingin ia tanyakan. Namun melihat Noah yang tidak banyak bicara, Eric memilih menahannya.

Noah menatapnya sekilas. “Beristirahatlah. Malam ini kita akan kedatangan tamu penting.”

Eric yang hendak melangkah berhenti sesaat.

“Tamu penting?”

Noah tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan langkahnya.

Sementara itu, Liam telah kembali ke Kravania sejak pagi.

—

Di tempat lain, seorang pria paruh baya sedang memangkas ranting bonsai di halaman rumahnya ketika seorang asisten berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah di belakang.

“Tuan.”

Pria itu tidak menoleh. “Ada apa?”

Asisten tersebut menyerahkan sebuah amplop. “Undangan makan malam atas nama Noah Brown.”

Gunting di tangan pria itu berhenti bergerak.

Ia menerima amplop tersebut, membukanya perlahan, lalu membaca isinya hingga selesai.

Beberapa detik kemudian, tawa kecil lolos dari bibirnya.

“Noah… aku hampir mengira kau sudah mati.”

Sudut bibirnya masih menyisakan senyum tipis.

“Hampir tiga puluh tahun, baru sekarang kau mengajakku bertemu lagi.”

“Ada satu pesan lagi, Tuan.”

Yarta mengangkat pandangan.

“Tuan Noah berharap Nona Xavia ikut menghadiri jamuan malam ini. Beliau juga ingin menyampaikan terima kasih secara langsung kepadanya.”

Yarta terdiam sejenak.

“Berterima kasih pada Xavia?”

Jemarinya melipat kembali surat itu perlahan.

“Menarik.”

Ia tidak bertanya lebih jauh.

“Beri tahu Xavia. Katakan Kakek mengajaknya menghadiri jamuan makan malam.”

“Baik, Tuan.”

Yarta kembali mengangkat guntingnya, tetapi kali ini ia tidak langsung memotong ranting di depannya.

Tatapannya tertahan beberapa saat pada bonsai tersebut.

“Tiga puluh tahun…” Ia menggeleng kecil. “Ternyata kau masih ingat aku.”

—

Malam perlahan menyelimuti ibu kota Oriville.

Di ruang makan utama Mansion Brown, meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat.

Setelah seluruh hidangan selesai ditata, para pelayan membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan.

Hanya tersisa Noah dan Eric.

Noah duduk di sisi kiri meja, sementara Eric berada tepat di sampingnya. Dua kursi di seberang mereka masih kosong.

Tak ada yang menyentuh makanan.

Noah sesekali melirik jam dinding, lalu merapikan posisi sendok di hadapannya, meski sebenarnya peralatan makan itu sudah tersusun sempurna.

Eric memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya beberapa kali beralih dari Noah kepada dua kursi kosong di seberang meja.

Ia ingin bertanya, tetapi memilih menunggu.

Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari halaman mansion.

Gerakan tangan Noah langsung berhenti.

Ia menoleh ke arah pintu.

“Sepertinya mereka sudah datang.”

Beberapa saat kemudian, pintu ruang makan perlahan terbuka.

Dua pelayan melangkah lebih dulu, lalu memberi jalan kepada dua orang tamu di belakang mereka.

Seorang pria tua memasuki ruangan dengan langkah mantap. Usianya telah menginjak enam puluh delapan tahun, tetapi punggungnya masih tegap.

Begitu pandangannya menemukan Noah di ujung meja, sudut bibirnya langsung terangkat. Langkahnya tanpa sadar menjadi lebih cepat.

“Noah…” Ia menggeleng pelan sambil tertawa kecil. “Akhirnya kau ingat juga kalau masih punya teman.”

Noah yang sejak tadi duduk perlahan berdiri.

“Yarta.”

Eric ikut menoleh ke arah pintu.

Tatapannya mula-mula berhenti pada Yarta, lalu bergeser kepada sosok yang berjalan setengah langkah di belakangnya.

Ia langsung terdiam.

“Xavia?”

Xavia yang sejak memasuki ruangan memperhatikan Noah segera menoleh mengikuti arah suara itu.

Langkahnya terhenti.

Tatapannya terpaku pada Eric yang duduk di sisi Noah.

“Eric?”

Keterkejutan di wajahnya hanya bertahan sesaat sebelum ia kembali melangkah mendekati meja.

“Selamat malam.”

Noah membalas dengan anggukan tipis.

Lengan kanan Eric masih terbungkus gips dan disangga kain penyangga di depan dada. Ia perlahan berdiri, lalu lebih dulu membungkukkan badan kepada Yarta.

“Selamat malam.”

Yarta membalas dengan anggukan kecil. Tatapannya singgah sesaat pada Eric sebelum kembali kepada Noah.

Eric kemudian mengangguk kepada Xavia.

Xavia menarik kursinya. Sebelum duduk, pandangannya sempat turun pada gips di lengan kanan Eric.

Yarta mengangkat telunjuk ke arah Eric sambil tetap menatap Noah.

“Dia…?”

Noah mengangkat telapak tangannya.

“Duduklah dulu. Nanti akan kujelaskan.”

Yarta tidak bertanya lagi. Ia menarik kursinya dan duduk di samping Xavia.

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Noah meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Suara porselen yang menyentuh permukaan kayu terdengar jelas di tengah kesunyian.

Tatapannya bergantian menyapu Yarta dan Xavia sebelum akhirnya berhenti pada Eric.

“Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkannya.”

Tak ada yang menyela.

“Eric Brown,” lanjut Noah setelah jeda singkat. “Cucuku.”

Jari Yarta yang baru hendak menyentuh cangkir teh berhenti di udara.

Ia menatap Noah beberapa saat sebelum kembali memandang Eric.

Di sampingnya, Xavia menatap Eric tanpa berkedip. Kemudian ia menoleh kepada Noah, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar.

Tak satu pun pertanyaan keluar dari bibirnya.

Noah membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat sebelum menoleh kepada Eric.

“Eric, ini Yarta Jones, sahabat lamaku.”

Yarta menganggukkan kepala kepada Eric.

Noah kemudian mengalihkan pandangan kepada Xavia.

“Sedangkan Nona Xavia… kurasa kalian sudah saling mengenal.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status