เข้าสู่ระบบSudut bibir kedua pria itu perlahan terangkat.
Tak ada tanda keterkejutan di wajah mereka, seolah sejak awal memang telah menunggu Eric membuka mata. Pria yang lebih muda menggeleng pelan. “Akhirnya bosan juga berpura-pura tidur?” Eric tidak menjawab. Tatapannya bergantian berpindah dari pria itu kepada lelaki tua di sampingnya. Ruangan kembali hening. Lelaki tua itu berdiri lebih dulu. “Namaku Noah Brown. Usiaku tujuh puluh dua tahun.” Ia kemudian menoleh ke samping. “Dan dia Liam Baker.” Liam menganggukkan kepala tipis. “Senang akhirnya bisa bertemu denganmu.” Eric hanya membalas dengan anggukan kecil. Setelah beberapa detik, ia kembali mengajukan pertanyaan yang sama. “Siapa sebenarnya kalian?” Noah tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan menuju jendela dan memandang deretan gedung di luar. Tangannya meraih tongkat yang sejak tadi bersandar di sisi kursi, lalu jemarinya mengetuk gagangnya dua kali. Baru setelah itu ia berbalik. “Kau lapar?” Pertanyaan tersebut membuat Eric terdiam. Noah melirik Liam. “Tolong minta mereka menyiapkan sesuatu yang hangat. Dia baru bangun.” “Baik.” Liam segera keluar dan menutup pintu di belakangnya. Kini hanya tersisa Noah dan Eric di dalam ruangan. Noah menarik kursinya sedikit lebih dekat. Tidak terlalu dekat, hanya cukup agar suaranya terdengar jelas. “Aku tahu kau memiliki banyak pertanyaan. Namun tidak semuanya harus dijawab hari ini.” Tatapannya jatuh pada gips di lengan kanan Eric. Tangan Noah bergerak seolah hendak menyentuhnya, tetapi berhenti di tengah jalan. Ia akhirnya hanya merapikan ujung selimut yang sedikit terlipat. “Aku hanya berharap kau mau mendengarkan sampai aku selesai.” Eric masih menatapnya. “Aku akan mulai dari awal. Bukan tentang dirimu, melainkan tentang seorang anak laki-laki yang dua puluh dua tahun lalu memilih meninggalkan rumah.” Eric memandang Noah dengan ekspresi serius. Ibu jari Noah terus mengusap kepala tongkat menunjukkan bahwa ketenangannya tidak sepenuhnya nyata. Tak lama kemudian, Liam kembali membawa secangkir teh hangat dan semangkuk sup. Ia meletakkan teh di hadapan Noah, lalu menaruh sup di atas meja kecil di sisi ranjang Eric. Tak ada yang langsung menyentuhnya. Noah mengangkat cangkir lebih dulu. Uap tipis mengepul di antara mereka. Ia menatap Eric cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Ayahmu keras kepala. Sejak kecil sudah begitu. Kalau dia memutuskan sesuatu, tak ada seorang pun yang mampu mengubah pikirannya.” Ia diam sejenak, lalu melanjutkan, “Sifat itu masih belum berubah sampai hari terakhir aku bertemu dengannya.” Liam mengangguk. “Dia memilih jalannya sendiri.” Eric dapat merasakan keseriusan keduanya. Noah sempat mengangkat cangkirnya, tetapi belum sempat meminum isinya, cangkir itu kembali ia letakkan di atas meja. “Sejak hari itu, kami tidak pernah benar-benar berbicara lagi. Beberapa keputusan memang terlalu mahal untuk dibayar.” Liam menatap Noah sekilas, tetapi tidak menyela. Eric akhirnya bertanya, “Kalau begitu, Anda mengenal ayah saya?” “Iya. Sudah sangat lama.” “Dan ibu saya?” Noah mengangguk pelan. “Aku juga mengenalnya.” Eric menatapnya semakin tajam. “Kalau memang begitu, kenapa Anda tidak pernah datang menemui kami?” Ruangan kembali sunyi. Noah memandang keluar jendela. Cahaya sore terpantul pada deretan gedung tinggi di kejauhan. Beberapa saat kemudian, ia menjawab pelan, “Aku mencarinya, tetapi sudah terlambat.” Liam menundukkan pandangan. Tak seorang pun menambahkan penjelasan. Eric mengamati keduanya bergantian. Noah mengetahui terlalu banyak tentang ayah dan ibunya. Bukan seperti seseorang yang hanya pernah mengenal mereka, melainkan seperti orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Tatapan Eric kembali berhenti pada wajah Noah. “Nama keluarga Anda Brown.” Noah mengangguk. Eric menurunkan pandangannya pada tangan Noah yang masih menggenggam cangkir teh, lalu kembali menatap wajah lelaki tua itu. “Anda mencari ayah saya, mengenal ibu saya, dan menggunakan nama keluarga Brown.” Tak ada yang menyela. Liam hanya duduk diam. Eric menarik napas pendek. “Jadi Anda… keluarga ayah saya?” Noah tidak langsung menjawab. Ia hanya meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja dengan sangat pelan. Eric menatapnya beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui. Lalu satu kata itu akhirnya keluar. “Kakek?” Untuk pertama kalinya, Noah menutup mata sesaat. Tak sampai satu detik. Ketika membukanya kembali, wajahnya tetap setenang sebelumnya. Ia hanya mengangguk satu kali. Tidak lebih. Tangannya perlahan terangkat dan berhenti beberapa senti dari bahu Eric. Jemarinya tampak sedikit bergetar, tetapi pada akhirnya ia kembali memilih merapikan lipatan selimut di sisi ranjang. “Maaf.” Tak ada pembelaan. Tak ada alasan. Hanya satu kata itu. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Tak seorang pun tahu harus memulai dari mana. Liam akhirnya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Kalau kita terus diam seperti ini, dia bisa mengira kita datang untuk menagih utang.” Sudut bibir Noah bergerak tipis. Eric pun tanpa sadar mengembuskan napas kecil. Suasana kaku yang sejak tadi menyelimuti ruangan perlahan mulai mengendur. Liam kemudian menoleh kepadanya. “Kurasa Paman Noah memperkenalkanku terlalu singkat. Namaku Liam Baker, teman ayahmu. Dulu ayahmu sering menyeretku ke dalam masalah.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sendiri. “Kalau dipikir-pikir sekarang, lebih banyak dia menyusahkanku daripada membantuku.” Noah meliriknya sekilas, “Liam, kau juga tidak kalah sering menyusahkannya.” Liam tertawa pelan. Ia kembali memandang Eric. “Kalau tidak keberatan, panggil saja aku Paman Liam. Rasanya lebih enak didengar.” Eric mengangguk kecil. “Baik, Paman Liam.” Untuk sesaat, Liam hanya memandangi wajah Eric. Tatapannya bertahan beberapa detik lebih lama sebelum ia menepuk lututnya sendiri dan berdiri. “Mulai hari ini, kalau ada sesuatu yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, cari aku. Jangan sungkan. Kalau Paman Noah sedang sibuk, datang saja kepadaku.” Eric menatap Liam. Noah yang sejak tadi diam kembali mengangkat cangkir tehnya. Ia tidak berkomentar ataupun membantah. Sikap diamnya justru seperti membenarkan setiap kata Liam. ⸻ Dua hari berlalu. Berkat perawatan terbaik yang diterimanya, hampir seluruh luka di tubuh Eric telah pulih. Hanya lengan kanannya yang masih terbungkus gips dan membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar sembuh. Pagi itu, Noah mengajaknya meninggalkan Trinity Hospital. Mobil yang mereka tumpangi melaju menuju City Lord, kawasan hunian elite di ibu kota Oriville. Semakin jauh mereka masuk, suasana di sekitar semakin sunyi. Di balik gerbang-gerbang tinggi berdiri deretan mansion megah dengan taman luas dan penjagaan ketat. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah mansion bergaya kontemporer yang berdiri di atas lahan hampir seribu lima ratus meter persegi. Eric terdiam. Tatapannya perlahan menyapu bangunan megah di hadapannya. Bahkan tanpa memahami dunia properti, ia tahu harga mansion itu pasti mencapai puluhan juta dolar. Keluarga Brown sekaya ini? Noah turun lebih dulu dari mobil. Eric ikut melangkah keluar, lalu kembali mengamati sekeliling. Setiap sudut tempat itu terasa asing baginya. Ia ingin menanyakan banyak hal tentang Keluarga Brown. Namun setiap kali hendak membuka mulut, ia selalu mengurungkannya kembali. Ia sendiri tidak tahu harus memulai dari mana. ⸻ Sore harinya, setelah berkeliling mansion ditemani beberapa pelayan, Eric kembali menuju kamarnya. Noah yang sedang duduk di ruang tengah menutup buku di tangannya. “Beristirahatlah. Malam ini kita akan kedatangan tamu penting.” Hanya itu yang ia katakan sebelum kembali membuka bukunya. Eric sempat ingin bertanya, tetapi akhirnya hanya mengangguk lalu berjalan menuju lantai dua. Sepanjang perjalanan ke kamar, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Tamu penting? Anggota Keluarga Brown? Atau teman ayahnya yang lain? Tak satu pun bisa ia pastikan. Sementara itu, Liam telah kembali ke Kravania sejak pagi. ⸻ Di tempat lain, seorang pria paruh baya sedang memangkas ranting bonsai di halaman rumahnya ketika seorang asisten berjalan mendekat dan berhenti beberapa langkah di belakang. “Tuan.” Pria itu tidak menoleh. “Ada apa?” Asisten tersebut menyerahkan sebuah amplop. “Undangan makan malam atas nama Noah Brown.” Untuk pertama kalinya, gunting di tangan pria itu berhenti bergerak. Ia menerima amplop tersebut, membukanya perlahan, lalu membaca isinya hingga selesai. Beberapa detik kemudian, tawa kecil lolos dari bibirnya. “Noah… aku hampir mengira kau sudah lupa cara menghubungi orang.” Ia melipat kembali surat itu. Sudut bibirnya masih menyisakan senyum tipis. “Hampir tiga puluh tahun, baru sekarang dia mengajakku bertemu.” Asistennya tetap berdiri diam, tidak memahami apapun. “Ada satu pesan lagi, Tuan.” Yarta mengangkat pandangan. “Tuan Noah berharap Nona Xavia ikut menghadiri jamuan malam ini. Beliau juga ingin menyampaikan terima kasih secara langsung kepadanya.” Yarta terdiam sejenak. “Berterima kasih?” Jemarinya melipat kembali surat itu perlahan. “Menarik.” Ia tidak bertanya lebih jauh. “Beri tahu Xavia. Katakan Kakek mengajaknya menghadiri jamuan makan malam.” “Baik, Tuan.” Yarta kembali mengangkat guntingnya, tetapi kali ini ia tidak langsung memotong ranting di depannya. Tatapannya tertahan beberapa saat pada bonsai tersebut. “Noah… setelah hampir tiga puluh tahun, akhirnya kau membuka pintu itu lagi.”Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







