공유

Bab 8

작가: mr.midi
last update 게시일: 2026-07-24 13:00:13

Malam semakin larut.

Eric berbaring di atas ranjang yang jauh lebih luas daripada tempat tidur mana pun yang pernah dimilikinya.

Langit-langit kamar dihiasi lampu kristal bergaya klasik. Di sisi kanan, jendela setinggi hampir tiga meter menghadap langsung ke taman belakang mansion.

Namun kenyamanan kamar itu justru tidak membuatnya mudah terlelap.

Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat.

Minggu lalu, ia masih seorang mahasiswa miskin.

Malam ini, ia tidur sebagai cucu Keluarga Brown.

Eric mengembuskan napas pelan sebelum mengangkat tangan kirinya.

“Legacy Intelligence.”

Ding!

Sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya.

Eric menatap layar itu beberapa saat.

“Apa yang kau tahu tentang Keluarga Brown? Seberapa kaya mereka?”

Tampilan layar segera berubah.

[Kepala Keluarga Brown: Cole Brown]

[Negara: Kravania]

[Total kekayaan: USD 20.000.000.000]

Mata Eric langsung membelalak.

“Dua puluh miliar dolar?”

Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut.

“Tunggu. Kepala keluarganya Cole Brown? Bukankah Kakek Noah?”

Layar kembali menampilkan tulisan.

[Cole Brown.]

[Putra bungsu Noah Brown.]

[Kepala Keluarga Brown saat ini.]

Eric mengangguk pelan. “Pantas saja. Kakek sudah terlalu tua untuk memimpin keluarga.”

Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan lain tentang Keluarga Brown, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya.

“Kalau begitu, bisakah kau menyembuhkan lenganku?”

Beberapa saat berlalu sebelum tulisan baru muncul.

[Kemampuan tersebut berada di luar fungsi Legacy Intelligence.]

Eric sedikit kecewa. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, tulisan berikutnya kembali tampil.

[Legacy Intelligence dapat menyediakan resep obat untuk mempercepat proses penyembuhan.]

Eric langsung kembali menatap layar.

“Resep obat?”

[Resep dapat disediakan.]

[Resep dapat diracik menjadi pil pemulihan.]

Mata Eric berbinar. “Kalau begitu, tunjukkan resepnya.”

Tampilan layar segera berubah.

Satu demi satu nama bahan bermunculan, diikuti takaran, urutan pencampuran, suhu pemanasan, hingga setiap tahap pembuatannya.

Eric membaca semuanya dengan saksama. Semakin lama, dahinya semakin berkerut. Tak satu pun nama bahan itu pernah ia dengar, apalagi cara meraciknya.

“Sepertinya aku harus mencari seseorang yang benar-benar ahli dalam bidang farmasi.”

Eric mengambil buku catatan dan pena dari meja di samping ranjang, lalu mulai menyalin resep tersebut.

Nama bahan, takaran, hingga setiap tahap pembuatannya ia catat dengan teliti.

Setelah memastikan tidak ada yang terlewat, Eric menutup buku catatan itu.

Tatapannya kembali pada layar transparan di hadapannya.

Sejak Legacy Intelligence muncul, ia baru mulai menyadari bahwa kemampuan yang tersimpan di dalam cincin itu mungkin jauh lebih besar daripada yang semula ia bayangkan.

⸻

Keesokan paginya, setelah sarapan, beberapa pelayan memasuki ruang tamu sambil membawa belasan kantong belanja dari berbagai merek ternama.

Pakaian, sepatu, jam tangan, ponsel terbaru, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari telah dipersiapkan tanpa ada yang terlewat.

Tak lama kemudian, Robert menyerahkan sebuah kartu bank berwarna hitam kepada Eric.

“Mulai bulan ini, satu juta dolar akan ditransfer ke rekening Tuan Muda setiap bulan. Jika jumlah itu masih kurang, saya akan segera menambahnya.”

Eric menatap kartu tersebut beberapa saat sebelum menerimanya.

“Apa jumlah ini tidak terlalu banyak?”

Robert hanya tersenyum sambil menggeleng pelan.

“Tuan Muda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”

Eric mengangguk. Saat hendak menyimpan kartu tersebut, ia teringat pada resep yang ditulisnya semalam.

“Robert, bisakah kau bantu aku melakukan sesuatu?”

“Tentu, Tuan Muda.”

Eric mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat rapi, lalu menyerahkannya.

Robert membuka kertas tersebut. Tatapannya menyusuri deretan nama bahan dan langkah peracikan yang tertulis di sana.

“Aku membutuhkan obat ini secepat mungkin. Resep dan cara meraciknya sudah kutulis di sana.”

Robert mengangguk. “Baik. Saya akan segera mencari ahli yang mampu meraciknya.”

⸻

Setelah mendapatkan ponsel baru, Eric langsung menghubungi Andreas.

Ia mengirimkan alamat Mansion Brown dan meminta Andreas datang bersama Dominic. Ada terlalu banyak hal yang harus dijelaskan, sehingga Eric memilih membicarakannya secara langsung.

Kurang dari tiga jam kemudian, sebuah sedan putih berhenti di depan gerbang Mansion Brown.

Andreas dan Dominic turun dari mobil. Tatapan mereka langsung tertuju pada mansion megah di hadapan mereka.

Keduanya sempat saling berpandangan sebelum akhirnya melihat seseorang melambaikan tangan dari halaman depan.

Eric.

Andreas dan Dominic segera menghampirinya.

Begitu bertemu, Andreas langsung membombardir Eric dengan berbagai pertanyaan.

Eric hanya tersenyum, lalu menepuk bahunya dengan tangan kiri.

“Masuk dulu. Kita bicara sambil makan.”

“Semalam Xavia cuma bilang kau baik-baik saja. Saat kutanya lebih lanjut, dia malah menyuruhku menunggu penjelasan darimu.”

Eric mengangguk.

Sementara itu, Dominic bahkan belum sempat membuka mulut. Tatapannya masih sibuk menyapu sekeliling mansion.

Percakapan mereka berlanjut di meja makan. Namun sejak awal, Andreas lebih sibuk bertanya daripada menyentuh makanannya.

Eric akhirnya menceritakan semuanya, mulai dari bagaimana dirinya dibawa dari rumah sakit hingga mengetahui bahwa ia adalah cucu Keluarga Brown.

Andreas terdiam beberapa saat sebelum menepuk bahu Eric.

“Berarti sekarang teman miskinku tinggal satu.”

Ia melirik Dominic.

Dominic yang masih mengunyah perlahan mengangkat kepala.

“Loh, kenapa aku?”

Andreas menunjuk Eric.

“Yang satu ini sudah naik kasta. Sekarang tinggal kau.”

Dominic mengangguk serius.

“Oh. Jadi mulai sekarang, kalau jalan bersama kalian, aku yang paling miskin?”

Andreas langsung tertawa.

“Baru sadar?”

Dominic menghela napas.

“Kalau begitu, mulai besok jangan berjalan terlalu dekat denganku.”

Eric mengangkat alis. “Kenapa?”

“Takut orang salah paham. Dua orang kaya kok berteman dengan pekerja pabrik.”

Andreas tertawa sambil menepuk bahu Dominic.

“Justru karena itu kami berteman denganmu. Kalau suatu hari kami jatuh miskin, kau bisa mencarikan kami pekerjaan di pabrik.”

Eric tak bisa menahan diri dan ikut tertawa.

Obrolan mereka terus berlanjut hingga Andreas tiba-tiba teringat sesuatu.

“Oh, ya. Aku hampir lupa. Ada kabar menarik. Tadi pagi keluargaku baru memberitahuku.”

Eric mengangkat alis. “Kabar apa?”

Andreas menyeringai. “Issabel sedang mendapat masalah besar.”

Eric sedikit memajukan tubuhnya.

“Jangan bicara setengah-setengah. Ceritakan semuanya.”

Andreas terkekeh.

“Baiklah. Tadi malam Issabel mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak Catrine Rothwell. Untungnya, gadis itu hanya mengalami luka ringan.”

Eric mengernyit. “Itu yang kau sebut menarik?”

“Aku belum selesai.” Senyum Andreas semakin lebar. “Bagian menariknya justru terjadi setelah itu. Tadi malam Jason dirampok dan dihajar habis-habisan. Lengan kanannya patah, begitu juga kaki kirinya.”

Eric terdiam.

Patah?

Tatapannya turun pada gips yang membungkus lengan kanannya.

Bahkan Dominic yang sejak tadi sibuk makan ikut mengangkat kepala.

Andreas melanjutkan, “Belum ada yang tahu siapa pelakunya. Keluarga Smith sedang menyelidikinya, tapi menurutku kemungkinan besar Keluarga Rothwell. Mereka pasti tidak terima Catrine ditabrak begitu saja.”

Eric tersenyum sambil bersandar ke kursi. Kalau memang benar begitu, Jason benar-benar sedang menerima karmanya.

Namun ada hal yang mengganggu pikirannya.

Catrine Rothwell hanya mengalami luka ringan. Keluarga Rothwell seharusnya tidak perlu bertindak sejauh itu.

Dan yang paling aneh… Mengapa harus lengan kanan Jason juga dipatahkan?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status