แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: mr.midi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-24 13:00:13

Mendengar nama Andreas disebut, langkah Eric seketika terhenti.

Tatapannya jatuh ke jalan setapak.

Pertemuan dengan Noah, rahasia kedua orang tuanya, hingga kemunculan Keluarga Brown datang begitu cepat sampai ia baru menyadari masih ada dua orang yang belum diberinya kabar.

Beberapa detik berlalu sebelum senyum pahit muncul di wajahnya.

“Benar juga… aku belum memberi kabar kepada mereka.”

Ia kemudian menoleh kepada Xavia.

“Kalau tidak merepotkanmu, bisakah kamu menyampaikan kepadanya kalau aku baik-baik saja? Ponselku hilang sejak di rumah sakit.”

Mendengar permintaan kecil itu, Xavia mengangguk pelan.

“Tidak masalah. Nanti akan kusampaikan kepada Andreas.”

Eric mengembuskan napas lega.

“Terima kasih.”

Mereka kembali berjalan. Beberapa langkah kemudian, Eric membuka suara lagi.

“Dan terima kasih untuk semua bantuanmu.”

Xavia tampak sedikit heran. “Aku tidak merasa sudah banyak membantumu.”

“Kalau bukan karena kamu, mungkin keadaanku akan jauh lebih buruk.”

Xavia menggeleng pelan. “Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar.”

“Itu sebabnya aku berterima kasih.”

Keheningan kembali menyelimuti keduanya.

Setelah beberapa langkah, Eric melanjutkan, “Kalau suatu saat nanti kamu membutuhkan bantuanku, selama aku mampu, aku pasti akan mengusahakannya.”

Xavia melirik gips yang masih menopang lengan kanan Eric. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kamu yakin? Lenganmu saja masih seperti itu.”

Eric ikut menoleh ke arah lengannya.

“Kalau yang kanan memang sedang cuti.” Ia mengangkat tangan kirinya. “Tapi yang kiri masih bersedia bekerja.”

Xavia tak mampu menahan senyum.

“Berarti aku harus menunggu sampai yang kanan selesai cuti.”

Eric terkekeh pelan. “Itu lebih aman.”

Xavia memandangnya beberapa saat. “Kalau dipikir-pikir, hidupmu benar-benar aneh.”

Eric menoleh. “Kenapa?”

“Kemarin kamu masih mahasiswa miskin. Hari ini ternyata menjadi cucu Keluarga Brown.” Xavia menggeleng kecil. “Rasanya seperti cerita di novel.”

Eric ikut tersenyum. “Kalau orang lain yang mengalaminya, mungkin aku juga tidak akan percaya.”

Xavia terkekeh.

“Kalau sampai anak-anak kampus tahu siapa identitasmu sebenarnya, aku penasaran seperti apa wajah mereka nanti.”

Eric mengangkat bahu. “Entahlah.”

Xavia kembali memperhatikannya.

Sejak tadi, dialah yang lebih banyak berbicara. Eric hanya sesekali menjawab dengan senyum kecil yang tenang.

Untuk sesaat, Xavia mulai memahami mengapa Issabel pernah begitu sulit melepaskan pria ini.

Tak ingin suasana kembali hening, ia melanjutkan pembicaraan.

“Oh, ya. Universitas sudah menjatuhkan sanksi kepada mereka.”

Eric menoleh sekilas.

Xavia memetik sehelai daun kecil dari semak di sisi jalan, lalu memutarnya di ujung jari.

“Menurutku, skorsing dua bulan terlalu ringan. Bagaimana menurutmu?”

Eric terdiam beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Biarlah itu berlalu. Aku tidak ingin memikirkan mereka lagi. Hidupku sudah berubah terlalu banyak dalam beberapa hari terakhir.”

Xavia memandangnya sejenak. “Kalau begitu, aku mulai mengerti.”

Eric mengernyit. “Mengerti apa?”

Xavia hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”

Ia kembali melangkah, meninggalkan Eric yang masih berdiri sambil menatapnya dengan bingung.

Di ruang makan, botol anggur di atas meja hampir kosong.

Yarta menuangkan setengah gelas lagi untuk Noah, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Dasar kau. Masih saja pandai menyimpan rahasia.”

Noah hanya mengangkat gelasnya dan menyesap sedikit.

Yarta menggeleng sambil tertawa kecil.

“Kalau sejak awal kau memberitahuku bahwa Eric adalah cucumu, aku tidak akan membiarkan anak itu menjalani hidup seberat itu.”

Noah meletakkan gelasnya kembali. Tatapannya tertahan beberapa saat pada permukaan meja.

“Lalu menurutmu aku akan membiarkannya?”

Yarta terdiam.

Senyum tipis muncul di wajah Noah.

“Kalau aku tahu lebih awal, anak itu tidak akan tumbuh sendirian.”

Yarta mengembuskan napas pelan.

“Baiklah. Aku percaya.”

Ia kembali mengisi gelasnya sendiri.

“Masih ada satu hal yang belum kumengerti. Bagaimana kau bisa tahu Eric adalah cucumu?”

Noah memutar gelas di tangannya sebelum menjawab.

“Beberapa hari lalu, aku menerima pesan dari akun anonim. Di dalamnya hanya ada tautan berita tentang perundungan Eric. Orang itu mengatakan bahwa pria dalam video tersebut adalah cucuku.”

Yarta mengangkat alis.

“Aku memperhatikan wajahnya,” lanjut Noah. “Sekilas, dia mengingatkanku pada John. Karena itu, aku memerintahkan orang-orangku menyelidikinya.”

Yarta perlahan meletakkan gelasnya.

“Tunggu. Jadi Eric benar-benar anak John?”

Noah mengangguk.

Yarta menarik napas panjang.

“Bukankah dulu semua orang mengatakan John dan keluarganya sudah tidak ada?”

Noah tetap diam. Tatapannya mengarah ke gelas di depan.

Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Memang. Aku juga bingung bagaimana hal ini bisa terjadi. Biarkan aku menemukan jawabannya lebih dulu. Setelah itu, kau akan menjadi orang pertama yang kuberitahu.”

Yarta menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau sendiri yang bercerita.”

Keduanya mengangkat gelas.

Suara denting pelan terdengar saat gelas mereka beradu.

Suasana kembali menghangat. Beberapa saat kemudian, mereka mulai bertukar cerita lama dan sesekali tertawa mengenang masa muda yang telah berlalu puluhan tahun.

Tak lama kemudian, Noah bertanya, “Bagaimana kabar anak sulungmu sekarang?”

Senyum di wajah Yarta perlahan memudar.

Ia mengibaskan tangan seolah enggan mendengar nama itu.

“Jangan tanya anak sialan itu.”

Noah mengangkat sebelah alis.

Yarta mendengus.

“Sejak istrinya meninggal saat melahirkan Xavia, tidak butuh waktu lama baginya untuk membawa perempuan lain ke dalam hidupnya. Yang lebih membuatku marah, dia bahkan ingin membawa Xavia pergi.”

Noah terkekeh kecil. “Lalu?”

Yarta ikut tersenyum tipis. “Lalu kuberi dia pelajaran.”

“Seberapa keras?”

Yarta mengangkat bahu. “Cukup keras sampai hari ini dia tidak berani menginjakkan kaki di rumah.”

Noah tak mampu menahan tawanya. “Kasihan juga anakmu itu.”

“Kasihan?” Yarta mendengus. “Kalau waktu itu aku tidak menghajarnya, belum tentu Xavia tumbuh menjadi gadis seperti sekarang.”

Noah mengangguk pelan. “Soal itu, aku tidak bisa membantah.”

Yarta kembali menuangkan anggur ke dalam gelas mereka.

“Lagi pula, apa kau lupa? Gara-gara mereka, kita berdua hampir setiap minggu dibuat pusing.”

Ia mengangkat gelas. “Kalau dipikir-pikir, aneh juga kita bisa duduk semeja seperti ini.”

Noah tersenyum tipis. “Dulu setiap bertemu, kita selalu punya alasan untuk berdebat.”

“Dan tak seorang pun mau mengalah.”

“Kau tetap keras kepala.”

Yarta terkekeh. “Sepertinya kau juga tidak jauh berbeda.”

Keduanya saling berpandangan beberapa saat.

Senyum di wajah mereka perlahan memudar.

Yarta mengembuskan napas pelan.

“Untung umur membuat kita sedikit lebih bijaksana.”

Noah mengangguk.

“Kalau tidak, mungkin kita masih sibuk memperdebatkan masa lalu.”

Ruangan kembali tenang.

Beberapa detik kemudian, Noah berkata, “Sebelumnya aku sempat mengira Eric adalah anak Cole, putra bungsumu.”

Yarta mengangkat alis.

“Ternyata dia anak John.”

Noah mengangguk pelan. “Ya. Begitulah.”

Ia meneguk sisa anggur di gelasnya, lalu perlahan berdiri.

“Sepertinya satu malam tidak akan cukup untuk mengejar semua cerita yang tertinggal.”

Yarta ikut berdiri sambil tersenyum.

“Kalau begitu, lain kali giliranku yang mengundangmu.”

Noah membalas dengan senyum tipis.

Jamuan makan malam pun berakhir.

Sebelum meninggalkan Mansion Brown, Noah menyerahkan beberapa hadiah mewah kepada Xavia sebagai tanda terima kasih.

Setelah berpamitan, Yarta dan Xavia meninggalkan mansion.

Ruangan kembali tenang.

Noah menoleh kepada Eric.

“Sudah lama aku tidak bertemu Yarta. Kebetulan aku juga punya alasan untuk mengundang Nona Xavia. Sedangkan kedua temanmu, biarkan ucapan terima kasih itu keluar langsung darimu.”

Eric mengangguk hormat. “Baik, Kek.”

Noah melirik gips yang masih membalut lengan kanan Eric. “Namun jangan keluar dulu. Lenganmu belum pulih. Ajak mereka datang ke sini, lalu minta Robert menyiapkan sesuatu untuk mereka.”

Ia terdiam sejenak dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela. “Besok ada banyak hal yang harus kubereskan.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pewaris Terlupakan    Bab 20

    Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,

  • Pewaris Terlupakan    Bab 19

    Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka

  • Pewaris Terlupakan    Bab 18

    Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun

  • Pewaris Terlupakan    Bab 17

    Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b

  • Pewaris Terlupakan    Bab 16

    Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa

  • Pewaris Terlupakan    Bab 15

    Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status