เข้าสู่ระบบMalam semakin larut.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup serba pas-pasan, Eric berbaring di atas ranjang yang begitu luas hingga tubuhnya terasa tenggelam di dalamnya. Langit-langit kamar dihiasi lampu kristal bergaya klasik. Di sisi kanan, jendela setinggi hampir tiga meter menghadap langsung ke taman belakang mansion. Setiap sudut ruangan memancarkan kemewahan yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun semakin mewah kamar itu, semakin sulit pula matanya terpejam. Eric mengembuskan napas pelan. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat. Minggu lalu, ia masih seorang mahasiswa miskin. Malam ini, ia tidur sebagai cucu Keluarga Brown. Perubahan itu terasa begitu tidak nyata. Beberapa saat kemudian, Eric mengangkat tangan kirinya. “Legacy Intelligence.” Ding! Sebuah layar biru transparan perlahan muncul di hadapannya. Eric menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya bertanya, “Seberapa kaya Keluarga Brown?” Beberapa saat kemudian, tampilan layar berubah. [Kepala Keluarga Brown: Cole Brown] [Negara: Kravania] [Total kekayaan: USD 20.000.000.000] Mata Eric langsung membelalak. “Dua puluh miliar dolar?” Napasnya sempat tertahan. Namun beberapa detik kemudian, dahinya perlahan mengernyit. “Tunggu. Kepala keluarganya Cole Brown? Bukankah Kakek Noah?” Layar kembali menampilkan tulisan. [Cole Brown.] [Putra bungsu Noah Brown.] [Kepala Keluarga Brown saat ini.] Eric mengangguk pelan. “Pantas saja. Kakek sudah terlalu tua untuk memimpin keluarga.” Ia kembali menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan ringan yang sebagian besar hanya dijawab singkat oleh Legacy Intelligence, sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya. “Kalau begitu, bisakah kau menyembuhkan lenganku?” Beberapa saat berlalu tanpa jawaban. Kemudian tulisan baru perlahan muncul. [Kemampuan tersebut berada di luar fungsi Legacy Intelligence.] Kekecewaan tipis muncul di wajah Eric. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, tulisan berikutnya kembali tampil. [Legacy Intelligence dapat menyediakan resep obat untuk mempercepat proses penyembuhan.] Tatapan Eric kembali berbinar. “Resep obat?” [Resep dapat disediakan.] [Resep dapat diracik menjadi pil pemulihan.] Eric perlahan tersenyum. “Kalau begitu, tunjukkan resepnya.” Tulisan di layar segera berubah. Satu demi satu nama bahan bermunculan, diikuti takaran, urutan pencampuran, suhu pemanasan, hingga setiap tahap pembuatannya. Eric membaca semuanya dengan saksama. Semakin lama, dahinya semakin berkerut. Tak satu pun nama bahan itu pernah ia dengar, apalagi cara meraciknya. “Sepertinya aku harus mencari seseorang yang benar-benar ahli dalam bidang farmasi.” Tanpa membuang waktu, Eric mengambil buku catatan dan pena dari meja di samping ranjang. Ia menyalin setiap nama bahan, setiap angka, hingga seluruh tahapan pembuatan dengan sangat teliti. Tak satu pun bagian ia lewatkan. Setelah memastikan semua resep tercatat lengkap, Eric menutup buku catatan itu perlahan. Sejak kemunculan Keluarga Brown, ia semakin yakin bahwa cincin sistem tersebut menyimpan kemampuan yang jauh melampaui apa pun yang dapat dibayangkannya. ⸻ Keesokan paginya, setelah sarapan, beberapa pelayan memasuki ruang tamu sambil membawa belasan kantong belanja dari berbagai merek ternama. Pakaian, sepatu, jam tangan, ponsel terbaru, hingga berbagai kebutuhan sehari-hari telah dipersiapkan tanpa ada yang terlewat. Tak lama kemudian, Robert menyerahkan sebuah kartu bank berwarna hitam kepada Eric. “Mulai bulan ini, satu juta dolar akan ditransfer ke rekening Tuan Muda setiap bulan. Jika jumlah itu masih kurang, saya akan segera menambahnya.” Eric menatap kartu itu beberapa saat sebelum menerimanya. Sesaat ia mengira dirinya salah dengar. Namun ketika teringat kekayaan Keluarga Brown, nominal itu perlahan terasa masuk akal. “Jumlah ini saja sudah jauh lebih banyak daripada yang bisa kuhabiskan.” Robert hanya membungkukkan kepala tipis. Eric tiba-tiba teringat sesuatu. “Boleh bantu aku melakukan sesuatu?” “Ya, Tuan Muda?” Eric mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat rapi sejak semalam, lalu menyerahkannya. “Aku ingin meminta bantuanmu.” Robert menerima kertas itu dan membukanya perlahan. Tatapannya menyapu deretan nama bahan dan langkah peracikan yang tertulis di sana. “Aku membutuhkan obat ini secepat mungkin.” Robert mengangguk. “Baik. Saya akan segera mencari ahli yang mampu meraciknya.” ⸻ Setelah mendapatkan ponsel baru, Eric langsung menghubungi Andreas. Ia mengirimkan alamat Mansion Brown dan meminta Andreas datang bersama Dominic. Ada terlalu banyak hal yang sulit dijelaskan melalui telepon, sehingga ia memilih menjelaskannya secara langsung. Kurang dari tiga jam kemudian, sebuah sedan putih berhenti di depan gerbang Mansion Brown. Andreas dan Dominic segera turun dari dalam mobil. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada mansion megah yang menjulang di hadapan mereka. Tak satu pun langsung melangkah masuk. Mereka saling berpandangan, seolah masih ingin memastikan bahwa alamat yang dikirim Eric memang benar. Namun sesosok pria yang mereka kenal tiba-tiba melambaikan tangan dari halaman depan. Eric. Andreas dan Dominic kembali saling berpandangan sebelum bergegas menghampirinya. Begitu bertemu, Andreas langsung membombardir Eric dengan berbagai pertanyaan. Eric hanya tersenyum tipis, lalu menepuk bahunya dengan tangan kiri. “Masuk dulu. Kita bicara sambil makan.” Andreas masih tampak gelisah. “Semalam Xavia cuma bilang kau baik-baik saja. Saat kutanya lebih lanjut, dia malah menyuruhku menunggu penjelasan darimu.” Eric mengangguk pelan. Sementara itu, Dominic bahkan belum sempat membuka mulut. Tatapannya sibuk menyapu kemegahan mansion, lalu berhenti pada meja makan yang dipenuhi hidangan mewah. Tanpa sadar, ia menelan ludah. Percakapan mereka berlanjut di sela-sela makan. Namun sejak awal, Andreas lebih sibuk bertanya daripada menyentuh makanannya. Eric akhirnya menceritakan semuanya dari awal, mulai dari perpindahannya dari rumah sakit hingga identitasnya sebagai cucu Keluarga Brown. Ruangan mendadak hening. Andreas menatap Eric beberapa detik, lalu menepuk pelan bahu sahabatnya. “Berarti sekarang teman miskinku tinggal satu.” Ia melirik Dominic. Dominic yang masih mengunyah perlahan mengangkat kepala. “Loh, kenapa aku?” Andreas menunjuk Eric. “Yang satu ini sudah naik kasta. Sekarang tinggal kau.” Dominic mengangguk serius. “Oh. Jadi mulai sekarang, kalau jalan bersama kalian, aku yang paling miskin?” Andreas langsung tertawa. “Baru sadar?” Dominic menghela napas. “Kalau begitu, mulai besok jangan berjalan terlalu dekat denganku.” Eric mengangkat alis. “Kenapa?” “Takut orang salah paham. Dua orang kaya kok berteman dengan pekerja pabrik.” Andreas tertawa sambil menepuk bahu Dominic. “Justru karena itu kami berteman denganmu. Kalau suatu hari kami jatuh miskin, kau bisa mencarikan kami pekerjaan di pabrik.” Eric akhirnya tak mampu menahan tawanya. Obrolan mereka terus berlanjut hingga Andreas tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh, ya. Aku hampir lupa. Ada kabar menarik. Tadi pagi keluargaku baru memberitahuku.” Eric mengangkat alis. “Kabar apa?” Andreas menyeringai. “Issabel sedang mendapat masalah besar.” Eric sedikit memajukan tubuhnya. “Jangan bicara setengah-setengah. Ceritakan semuanya.” Andreas terkekeh kecil. “Baiklah. Tadi malam Issabel mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak Catrine Rothwell. Untungnya, gadis itu hanya mengalami luka ringan.” Eric mengernyit. “Itu yang kau sebut menarik?” “Aku belum selesai.” Senyum Andreas semakin lebar. “Bagian menariknya justru terjadi setelah itu. Tadi malam Jason dirampok dan dihajar habis-habisan. Lengan kanannya patah, begitu juga kaki kirinya.” Eric langsung terdiam. Patah? Tatapannya tanpa sadar turun pada gips yang membungkus lengan kanannya. Bahkan Dominic yang sejak tadi sibuk makan ikut mengangkat kepala. Andreas melanjutkan, “Belum ada yang tahu siapa pelakunya. Keluarga Smith sedang menyelidikinya, tapi menurutku kemungkinan besar Keluarga Rothwell. Mereka pasti tidak terima cucunya ditabrak begitu saja.” Eric bersandar ke kursi sambil mengangkat bahu. Kalau memang benar begitu, Jason benar-benar sedang menerima karmanya. Namun beberapa detik kemudian, senyum tipis di wajah Eric perlahan memudar. ‘Catrine Rothwell hanya mengalami luka ringan. Keluarga Rothwell seharusnya tidak perlu bertindak sejauh itu. Dan yang paling aneh…Mengapa lengan kanan Jason juga dipatahkan?’Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







