Share

Bab 9

Penulis: mr.midi
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 13:02:59

Semakin Eric memikirkannya, semakin jelas jawaban yang muncul di benaknya.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Ia mengangkat cangkir tehnya dan bergumam dalam hati.

‘Kakek… rupanya Anda sudah melangkah lebih dulu.’

Obrolan mereka terus berlanjut hingga sore.

Menjelang kepulangan Andreas dan Dominic, Robert datang membawa beberapa kotak hadiah yang telah dipersiapkan.

Keduanya sempat saling berpandangan sebelum menerima hadiah tersebut.

“Kalau setiap datang selalu diberi hadiah begini, kami jadi tidak enak untuk sering-sering berkunjung,” ujar Andreas sambil tertawa.

Dominic langsung memeluk kotak hadiahnya erat-erat.

“Kalau kau tidak enak, biar aku saja yang sering datang.”

Ketiganya pun tertawa.

Tak lama kemudian, Andreas dan Dominic berpamitan.

Setelah mengantar mereka sampai ke depan mansion, Eric langsung menuju ruang kerja Robert.

Pria paruh baya itu segera berdiri begitu melihat Eric masuk.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”

Eric duduk di kursi.

“Ke mana Kakek? Sejak pagi aku belum melihatnya.”

“Tuan Brown sedang mengunjungi beberapa keluarga,” jawab Robert. “Sepertinya ada tiga atau empat keluarga yang akan beliau temui, termasuk Keluarga Rothwell dan Keluarga Woller.”

Eric mengangguk. “Untuk apa Kakek menemui mereka?”

“Mungkin Tuan Brown ingin mempererat hubungan dengan keluarga-keluarga tersebut. Dengan begitu, kehidupan Tuan Muda di negara ini akan jauh lebih aman ke depannya.”

Eric terdiam sejenak.

Rupanya Noah bukan hanya membalas apa yang telah dilakukan Jason.

Eric kemudian mengalihkan pembicaraan.

“Bagaimana dengan obat yang kuminta?”

“Paling cepat selesai dalam tiga hari.”

Dahi Eric sedikit berkerut.

“Tidak bisakah dipercepat? Kalau masalahnya biaya, gunakan saja uang bulananku. Dua bulan ke depan tidak perlu ditransfer kepadaku.”

Robert langsung menggeleng.

“Saya tidak berani menggunakan uang Tuan Muda untuk keperluan seperti itu. Namun jika obatnya memang harus selesai secepat mungkin, saya akan mengusahakan agar besok siang sudah jadi.”

Raut wajah Eric sedikit melunak.

“Kalau begitu, terima kasih.”

Robert membungkukkan badan tipis. “Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan Muda.”

Eric menanyakan beberapa hal lain sebelum kembali ke kamarnya.

Ia duduk di tepi ranjang sebelum mengangkat tangan kirinya.

“Legacy Intelligence.”

Ding!

Layar holografis biru muncul di hadapannya.

Eric menatapnya beberapa saat sebelum bertanya, “Aku ingin mencari bukti kejahatan yang pernah dilakukan Jason Smith. Bisakah kau menemukannya?”

Beberapa detik kemudian, deretan tulisan mulai bermunculan.

[Silakan pilih.]

[Penggelapan dana nasabah.]

[Manipulasi laporan keuangan.]

[Penyuapan pejabat.]

[Hubungan terlarang dengan ibu tiri.]

Tatapan Eric yang semula bergerak dari satu pilihan ke pilihan lain tiba-tiba berhenti.

“Hubungan terlarang dengan ibu tirinya?”

Tanpa ragu, ia langsung memilih pilihan tersebut.

Ding!

Empat berkas video muncul di layar. Eric membuka salah satunya.

Rekaman CCTV berdurasi lima belas detik itu memperlihatkan Jason dan seorang wanita memasuki kamar hotel secara bergantian.

Wanita tersebut tak lain adalah ibu tirinya sendiri.

Alis Eric perlahan terangkat.

Ia membuka video kedua, lalu beralih ke video ketiga dan keempat. Lokasinya berbeda-beda, tetapi orang-orang di dalamnya tetap sama.

Jason dan ibu tirinya.

Eric mengusap dahinya.

“Gila…”

Awalnya, ia hanya ingin menguji kemampuan Legacy Intelligence. Namun sistem itu benar-benar memberikan apa yang dimintanya.

Eric kembali menatap layar.

Kemampuan Legacy Intelligence mungkin jauh lebih besar daripada yang semula ia bayangkan.

Sisa hari itu dihabiskannya untuk menelusuri berbagai informasi melalui sistem.

Tanpa terasa, malam berganti pagi.

Meski hari telah berganti, Noah masih belum juga kembali.

Eric sempat berniat menanyakan keberadaannya kepada Robert. Namun sebelum sempat mencarinya, pria itu muncul dari pintu masuk sambil membawa sebuah kotak kayu kecil.

“Tuan Muda.”

Robert menghampiri Eric dan menyerahkan kotak tersebut dengan kedua tangan.

“Resep yang Tuan Muda berikan sudah berhasil diracik menjadi pil. Beberapa ahli farmasi bekerja sepanjang malam, dan tim laboratorium juga telah melakukan berbagai pengujian. Hasilnya, tidak ditemukan zat berbahaya di dalamnya.”

Ia berhenti sejenak.

“Hanya saja, mereka semua merasa penasaran. Tak seorang pun berhasil mengetahui fungsi pil ini.”

Eric menatap Robert beberapa saat.

“Maaf. Aku sudah banyak merepotkanmu.”

Robert segera menggeleng. “Tidak sama sekali, Tuan Muda. Totalnya ada tiga puluh butir. Jika nanti habis, beri tahu saya.”

Eric mengangguk lalu membuka kotak tersebut.

Di dalamnya tersusun tiga puluh pil berwarna kuning pucat, masing-masing sebesar ujung jari.

Tanpa ragu, ia mengambil satu butir dan menelannya.

Robert tanpa sadar menahan napas.

Tak sampai satu menit kemudian, tubuh Eric mendadak menegang. Napasnya memburu.

Keringat dingin mulai membasahi dahinya, sementara wajahnya memerah seolah panas menyebar dari dalam tubuh.

Eric mengepalkan tangan.

“Aneh…”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, suara retakan pelan terdengar dari balik gips.

Krek…

Robert sontak menoleh.

Eric segera melepaskan kain penyangga di lehernya, lalu membuka gips yang membungkus lengan kanan.

Keduanya membeku.

Eric menatap lengannya beberapa saat sebelum perlahan mengepalkan tangan.

Sekali.

Dua kali.

Tak ada rasa sakit.

Ia kemudian melayangkan pukulan ke udara.

Whoosh!

Eric kembali melayangkan beberapa pukulan, kali ini semakin cepat.

Sudut bibirnya perlahan terangkat.

Di hadapannya, Robert masih terpaku. Tatapannya bergantian antara lengan Eric dan kotak pil di atas meja.

“Tuan Muda, ini—”

Eric segera mengangkat telunjuk.

Robert terdiam.

Beberapa detik berlalu sebelum ia membungkukkan badan.

“Saya mengerti, Tuan Muda.”

Eric mengangguk lalu menutup kembali kotak pil tersebut.

“Ada beberapa hal yang belum bisa kukatakan kepadamu sekarang. Jika waktunya tiba, aku akan menjelaskannya. Untuk sementara, jangan ceritakan hal ini kepada siapa pun.”

“Baik, Tuan Muda.”

Eric kemudian membawa kotak pil tersebut kembali ke kamarnya.

Begitu pintu tertutup, ia kembali memanggil Legacy Intelligence.

Ia harus memastikan bahwa apa yang baru saja terjadi memang berasal dari pil tersebut.

⸻

Waktu terus berlalu.

Matahari perlahan naik tepat di atas kepala.

Setelah berganti pakaian, Eric turun ke lantai bawah.

Robert yang sedang memberikan arahan kepada beberapa pelayan segera menghampirinya.

“Tuan Muda hendak keluar?”

Eric mengangguk. “Aku ingin menjenguk seorang teman.”

Robert sempat membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu. Tatapannya sekilas jatuh pada lengan kanan Eric yang telah pulih.

Namun pada akhirnya, ia hanya menundukkan kepala.

“Baik. Saya akan segera menyiapkan mobil.”

Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam telah menunggu di depan Mansion Brown.

Eric masuk ke dalam mobil, sementara sopir pribadi Keluarga Brown membawanya meninggalkan mansion.

Sebelum menuju Rumah Sakit Ibu Kota, Eric singgah untuk membeli sebuket bunga.

Kali ini, ia datang untuk mengembalikan kunjungan.

Sedan hitam itu akhirnya berhenti di depan rumah sakit.

Eric turun dari mobil, lalu langsung menuju ruang perawatan Jason.

Berkat informasi dari Legacy Intelligence sebelumnya, ia tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan kamar tersebut.

Sesampainya di depan pintu, Eric berhenti sejenak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status