Share

Bab 7

Author: mr.midi
last update publish date: 2026-07-24 12:57:25

Tatapan Eric dan Xavia kembali bertemu.

Keduanya hanya mengangguk kecil.

Noah memandang Xavia.

“Nona Xavia, aku berutang satu ucapan terima kasih kepadamu karena telah banyak membantu Eric.”

Xavia terdiam sesaat sebelum menggeleng.

“Saya tidak melakukan banyak hal.”

Noah tidak membantah. Ia hanya mengangguk sekali sebelum mengangkat cangkir tehnya.

“Baiklah. Kita akhiri dulu rasa penasaran ini. Makanlah. Setelah itu, kita masih memiliki waktu semalaman untuk berbicara.”

Yarta mengangguk lebih dulu.

Eric kembali duduk, sementara Xavia perlahan menarik pandangannya dari wajahnya.

Baru setelah Noah mengambil sendok, yang lain mulai mengikuti.

Beberapa saat kemudian, jamuan makan malam berakhir dalam suasana yang jauh lebih tenang.

Para pelayan mulai membereskan meja, sementara Noah meletakkan serbetnya di samping piring.

Tak seorang pun langsung berdiri.

Yarta beberapa kali melirik Noah, seolah menunggu sahabat lamanya itu kembali membuka pembicaraan. Namun Noah justru menoleh kepada Eric.

“Eric, ajak Nona Xavia berkeliling mansion. Masih banyak tempat yang belum kau lihat.”

Eric mengangguk.

“Baik, Kek.”

Xavia sempat menoleh kepada kakeknya.

Yarta hanya menganggukkan kepala.

“Pergilah. Sisakan malam ini untuk dua orang tua yang sudah terlalu lama menunda percakapan.”

Barulah Xavia berdiri.

Eric ikut bangkit, kemudian berjalan bersamanya meninggalkan ruang makan.

Setelah pintu tertutup, Yarta akhirnya menatap Noah.

“Kalau begitu, sekarang giliranku bertanya.”

Sudut bibir Noah terangkat tipis.

—

Eric dan Xavia berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak di sisi taman.

Tak ada yang langsung berbicara.

Cahaya lampu taman memanjang di antara rerumputan, sementara suara langkah kaki mereka terdengar pelan di tengah suasana malam yang tenang.

Setelah beberapa saat, Xavia akhirnya memecah keheningan.

“Jadi, selama ini aku mencari orang yang salah.”

Eric menoleh kepadanya.

Senyum tipis muncul di wajah Xavia.

“Rupanya Tuan Muda Brown memang sulit ditemukan.”

Eric mengembuskan napas pelan. “Semua ini juga berada di luar dugaanku.”

Pandangan Xavia turun pada gips di lengan kanannya.

“Aku sempat mengira kamu benar-benar menghilang.”

Eric tersenyum kecil. “Kenyataannya, aku sendiri baru tahu ke mana mereka membawaku.”

“Kamu mungkin baru tahu, tapi Andreas tidak.” Xavia menoleh kepadanya. “Setidaknya, beri dia kabar kalau kamu baik-baik saja.”

Mendengar nama Andreas, langkah Eric terhenti.

Pertemuan dengan Noah dan segala hal tentang Keluarga Brown datang begitu cepat hingga ia baru menyadari masih ada dua orang yang belum diberinya kabar.

Eric mengembuskan napas pelan.

“Benar juga… aku belum memberi kabar kepada mereka.”

Ia kemudian menoleh kepada Xavia.

“Kalau tidak merepotkanmu, bisakah kamu menyampaikan kepadanya kalau aku baik-baik saja? Ponselku hilang sejak di rumah sakit.”

Xavia mengangguk.

“Tidak masalah. Nanti akan kusampaikan kepada Andreas.”

“Terima kasih.”

Keduanya kembali berjalan. Beberapa langkah kemudian, Eric membuka suara lagi.

“Dan terima kasih untuk semua bantuanmu.”

Xavia tampak sedikit heran. “Aku tidak merasa sudah banyak membantumu.”

“Kalau bukan karena kamu, mungkin keadaanku akan jauh lebih buruk.”

Xavia mengangguk dan tersenyum.

Setelah beberapa langkah, Eric melanjutkan, “Kalau suatu saat kamu membutuhkan bantuanku, selama aku mampu, aku pasti akan mengusahakannya.”

Xavia melirik lengan kanan Eric yang masih terbungkus gips. Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kamu yakin? Lenganmu saja masih seperti itu.”

Eric ikut menoleh ke arah lengannya.

“Kalau yang kanan memang sedang cuti.” Ia mengangkat tangan kirinya. “Tapi yang kiri masih bersedia bekerja.”

Xavia tak mampu menahan senyum.

“Berarti aku harus menunggu sampai yang kanan selesai cuti.”

Eric terkekeh. “Itu lebih aman.”

Xavia memandangnya beberapa saat. “Kalau dipikir-pikir, hidupmu benar-benar aneh.”

Eric menoleh. “Kenapa?”

“Kemarin kamu masih mahasiswa miskin. Hari ini ternyata menjadi cucu Keluarga Brown.” Xavia menggeleng kecil. “Rasanya seperti cerita di novel.”

Eric ikut tersenyum. “Kalau orang lain yang mengalaminya, mungkin aku juga tidak akan percaya.”

Xavia terkekeh.

“Kalau sampai anak-anak kampus tahu siapa identitasmu sebenarnya, aku penasaran seperti apa wajah mereka nanti.”

Eric mengangkat bahu. “Entahlah.”

Xavia kembali memperhatikannya beberapa saat.

“Oh, ya. Universitas sudah menjatuhkan sanksi kepada mereka.”

Eric menoleh sekilas.

“Menurutku, skorsing dua bulan terlalu ringan. Bagaimana menurutmu?”

Eric terdiam beberapa saat sebelum tersenyum tipis. “Biarkan saja. Aku tidak ingin memikirkan mereka lagi. Hidupku sudah berubah terlalu banyak dalam beberapa hari terakhir.”

Mendengar itu, Xavia mengangguk.

Sejak tadi, rasanya hanya dirinya yang terus mencari topik untuk dibicarakan.

Ia memandang Eric sejenak.

Apa pemuda seperti ini yang membuat Issabel belum bisa move on meski sudah bertahun-tahun?

“Kalau begitu, aku mulai mengerti.”

Eric mengernyit. “Mengerti apa?”

Xavia hanya menggeleng kecil. “Tidak apa-apa.”

Ia kembali melangkah, meninggalkan Eric yang masih berdiri sambil menatapnya dengan bingung.

Di ruang makan, botol anggur di atas meja hampir kosong.

Yarta menuangkan setengah gelas lagi untuk Noah, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Dasar kau. Masih saja pandai menyimpan rahasia.”

Noah hanya mengangkat gelasnya dan menyesap sedikit.

Yarta menggeleng sambil tertawa kecil.

“Kalau sejak awal kau memberitahuku bahwa Eric adalah cucumu, aku tidak akan membiarkan anak itu menjalani hidup seberat itu.”

Noah meletakkan gelasnya.

“Lalu menurutmu aku akan membiarkannya?”

Yarta terdiam.

“Kalau aku tahu lebih awal, anak itu tidak akan tumbuh sendirian.”

Yarta mengembuskan napas pelan.

“Baiklah. Aku percaya.”

Ia kembali mengisi gelasnya sendiri.

“Masih ada satu hal yang belum kumengerti. Bagaimana kau bisa tahu Eric adalah cucumu?”

“Beberapa hari lalu, aku menerima pesan dari akun anonim. Di dalamnya hanya ada tautan berita tentang perundungan Eric. Orang itu mengatakan bahwa pria dalam video tersebut adalah cucuku.”

Yarta mengangkat alis.

“Aku memperhatikan wajahnya,” lanjut Noah. “Sekilas, dia mengingatkanku pada John. Karena itu, aku memerintahkan orang-orangku menyelidikinya.”

Yarta perlahan meletakkan gelasnya.

“Tunggu. Jadi Eric benar-benar anak John?”

Noah mengangguk.

Yarta menarik napas panjang.

“Bukankah dulu semua orang mengatakan John dan keluarganya sudah tidak ada?”

Noah terdiam sesaat.

“Memang. Aku juga belum mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Biarkan aku menemukan jawabannya lebih dulu. Setelah itu, kau akan menjadi orang pertama yang kuberitahu.”

Yarta menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

“Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau sendiri yang bercerita.”

Keduanya mengangkat gelas. Denting pelan terdengar saat gelas mereka beradu.

Percakapan kemudian beralih pada berbagai cerita lama yang telah mereka tinggalkan hampir tiga puluh tahun lalu.

Tak lama kemudian, Noah bertanya, “Bagaimana kabar anak sulungmu sekarang?”

Senyum di wajah Yarta langsung memudar.

“Jangan tanya anak sialan itu.”

Noah mengangkat sebelah alis.

“Sejak istrinya meninggal saat melahirkan Xavia, tidak butuh waktu lama baginya untuk membawa perempuan lain ke dalam hidupnya. Yang lebih membuatku marah, dia bahkan ingin membawa Xavia pergi.”

Noah terkekeh kecil. “Lalu?”

Yarta tersenyum tipis. “Lalu kuberi dia pelajaran.”

“Seberapa keras?”

Yarta mengangkat bahu. “Cukup keras sampai hari ini dia tidak berani menginjakkan kaki di rumah.”

Noah tak mampu menahan tawanya. “Kasihan juga anakmu itu.”

“Kasihan?” Yarta mendengus. “Kalau waktu itu aku tidak menghajarnya, belum tentu Xavia tumbuh menjadi gadis seperti sekarang.”

Yarta kembali menuangkan anggur ke dalam gelas mereka.

“Lagi pula, apa kau lupa? Gara-gara mereka, kita berdua hampir setiap minggu dibuat pusing.”

Ia mengangkat gelasnya.

“Kalau dipikir-pikir, aneh juga kita bisa duduk semeja seperti ini.”

Noah tersenyum tipis. “Dulu setiap bertemu, kita selalu punya alasan untuk berdebat.”

Yarta mengembuskan napas pelan.

“Untung umur membuat kita sedikit lebih bijaksana.”

Noah mengangguk.

“Kalau tidak, mungkin kita masih sibuk memperdebatkan masa lalu.”

Beberapa saat berlalu sebelum Yarta kembali membuka suara. “Sebelumnya aku sempat mengira Eric adalah anak Cole.”

Noah mengangkat alis.

“Ternyata dia anak John.”

Noah mengangguk pelan. “Ya. Begitulah.”

Yarta meneguk sisa anggur di gelasnya, lalu perlahan berdiri. “Sepertinya satu malam tidak akan cukup untuk mengejar semua cerita yang tertinggal.”

Noah ikut berdiri sambil tersenyum.

“Kalau begitu, lain kali giliranmu yang mengundangku.”

Yarta mengedipkan mata sambil meletakkan gelas ke meja.

Sebelum Yarta pulang, Noah menyerahkan beberapa hadiah kepada Xavia sebagai ucapan terima kasih.

Setelah keduanya pergi, Noah kembali menoleh kepada Eric.

“Sudah lama aku tidak bertemu Yarta. Kebetulan aku juga punya alasan untuk mengundang Nona Xavia.” Ia berhenti sejenak. “Sedangkan kedua temanmu, biarkan kau sendiri yang berterima kasih kepada mereka.”

Eric mengangguk. “Baik, Kek.”

Pandangan Noah turun pada gips yang masih membalut lengan kanan Eric.

“Tapi jangan keluar dulu. Lenganmu belum pulih. Ajak mereka datang ke sini, lalu minta Robert menyiapkan sesuatu untuk mereka.”

“Baik.”

Noah mengangguk kecil.

“Besok ada banyak hal yang harus kubereskan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Terlupakan    Bab 76

    Robert melirik pesan yang masih terbuka di layar ponselnya. “Robert? Memangnya apa yang sedang terjadi?” “Tidak ada.” Ia tidak berniat membuat istrinya ikut memikirkan masalah tersebut. “Aku hanya ingin memastikan.” “Baiklah.” Percakapan mereka sempat terdiam beberapa saat. “Bersabarlah sedikit lagi,” ucap Robert. “Setelah Nadine menyelesaikan SMP-nya, aku akan mengurus semuanya. Kalian pindah ke Velora dan kita akan tinggal bersama.” Hening sesaat terdengar dari seberang. “Kau serius?” “Aku sudah mempertimbangkannya.” Suara wanita itu terdengar lebih cerah. “Baiklah. Aku akan menunggu.” Robert tersenyum kecil. “Kau juga jangan terlalu memaksakan diri di sana,” lanjut wanita itu. “Pekerjaanmu memang penting, tapi jangan sampai lupa beristirahat.” “Aku tahu.” “Kau selalu mengatakan itu. Awas saja jika aku mendapat kabar kau sakit lagi.” Robert tertawa pelan. “Baiklah. Aku akan lebih memperhatikannya.” “Bagus.” Keduanya kembali berbicara sebentar sebelum a

  • Pewaris Terlupakan    Bab 75

    Eric menatapnya beberapa saat.“Memangnya setiap hubungan harus dimulai dengan mengungkapkan perasaan?”“Harus. Itu sudah menjadi hukum mutlak.”“Kenapa harus?”Andreas mengernyit seolah pertanyaan itu terdengar aneh. “Karena kalau tidak ada yang mengatakannya, bagaimana kalian tahu hubungan kalian sudah sampai mana?”“Bukankah sikap seseorang sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya?”“Itu berbeda.” Andreas menggeleng. “Kau bisa memperlakukannya dengan baik, dia juga bisa melakukan hal yang sama kepadamu. Tapi selama tidak ada yang mengatakannya, kalian tetap tidak punya hubungan apa-apa.”Eric terdiam sejenak.“Jadi menurutmu, setelah mengungkapkan perasaan, hubungan itu otomatis menjadi resmi?”“Kalau dia menerimamu, tentu saja.” Andreas menatapnya heran. “Memangnya selama ini kau pikir orang-orang mulai berpacaran bagaimana?”Eric tertawa kecil. “Aku hanya bertanya.”Andreas menggelengkan kepala tak berdaya.“Duduk, duduk.”Eric menarik kursi dan duduk.Andreas memasang wajah ser

  • Pewaris Terlupakan    Bab 74

    Dominic terdiam.Tiga pasang mata menatapnya, menunggu jawaban. Namun, alih-alih menjawab pertanyaan Eric, Dominic justru menghela napas.“Jangan melempar pertanyaan seperti itu. Bagaimana aku bisa meninggalkan pekerjaanku yang sekarang? Sumber penghasilanku cuma dari sana.”“Memangnya berapa gajimu sekarang?”“Seribu lima ratus dolar.” Dominic berhenti sejenak. “Baru-baru ini naik seratus dolar. Katanya performa kerjaku cukup baik.”Eric merapikan sendok di samping piringnya.“Apa kau ingin berkuliah atau tidak?”Dominic mengerutkan kening. “Kau menanyakan itu terus. Memangnya kau mau membiayai kuliahku?”“Kenapa tidak?”Dominic terdiam.Ia mengira Eric hanya sedang menggodanya. Namun, ekspresi Eric tidak menunjukkan sedikit pun tanda sedang bercanda.“Jangan bercanda seperti ini. Nanti aku benar-benar menganggapnya serius.”“Aku memang serius.” Eric tersenyum kecil. “Bagaimana kalau seperti ini? Kau akan mendapat beasiswa dari perusahaanku. Sebagai gantinya, setelah lulus nanti, kau

  • Pewaris Terlupakan    Bab 73

    Setelah berbicara dengan beberapa tamu, Eric akhirnya memiliki sedikit waktu untuk bernapas.Namun, belum sempat ia meninggalkan tempatnya, seseorang sudah berjalan menghampirinya.“Akhirnya kerja kerasmu selama ini terbayar lunas.”Eric menoleh.Xavia berdiri di hadapannya dengan senyum kecil.“Selamat.”“Terima kasih.”Tatapan Xavia sempat turun ke bahu Eric. Ia kemudian membuka tas kecilnya dan mengeluarkan sapu tangan.“Ada noda kecil di jasmu.”Eric mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari noda tersebut.“Oh, untung kau melihatnya.” Ia menerima sapu tangan itu dan membersihkan noda di jasnya.Xavia hanya tersenyum melihatnya.“Terima kasih.” Eric mengembalikan sapu tangan tersebut.Xavia mengangguk kecil lalu memasukkannya kembali ke dalam tas.Tidak jauh dari sana, Andreas dan Dominic yang melihat keduanya mulai berbicara pelan sambil sesekali tertawa.Xavia kembali menatap Eric.“Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu mulai sekarang? Tuan Brown, Tuan Eric, atau Tuan Muda?”

  • Pewaris Terlupakan    Bab 72

    Tidak lama setelah Eric mengambil tempat di barisan depan, acara peresmian akhirnya dimulai.Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dan menyambut seluruh tamu yang hadir. Setelah beberapa kata pembuka, Wali Kota Oxfield mendapat kesempatan memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya giliran Robert dipanggil.Tepuk tangan kembali terdengar.Robert berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung.Sebagai Presiden Direktur, dialah yang selama satu bulan terakhir menangani hampir seluruh proses pembangunan perusahaan. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, lalu menjelaskan secara singkat arah perusahaan dan rencana mereka setelah mulai beroperasi.Namun, tidak semua perhatian tertuju kepadanya.Sesekali, beberapa pasang mata beralih ke barisan depan.Eric duduk tenang bersama para pemegang saham lainnya.Di antara para pengusaha, pejabat, dan orang-orang dari industri farmasi yang memenuhi tempat itu, usianya terlihat sangat muda.“Dia Eric Brown?”“Y

  • Pewaris Terlupakan    Bab 71

    Satu bulan berlalu.Dalam waktu sesingkat itu, banyak hal telah berubah.Perusahaan farmasi yang sebulan lalu masih berupa rencana di atas meja kini telah berdiri.Kantor pusat di Oriville mulai beroperasi dua minggu lalu. Alih-alih membangun dari nol, mereka membeli sebuah gedung yang sudah berdiri dan merenovasinya sesuai kebutuhan. Sebagian besar urusan administrasi dan manajemen perusahaan kini ditangani dari sana, sementara fasilitas produksi utama berada di Oxfield.Robert menepati perkataannya.Dengan bantuan dua belas keluarga, berbagai hal yang seharusnya membutuhkan waktu berbulan-bulan berhasil diselesaikan jauh lebih cepat. Tenaga ahli didatangkan, jaringan pemasok dibentuk, jalur distribusi dipersiapkan, sementara fasilitas yang mereka dapatkan di Oxfield direnovasi dan disesuaikan dengan kebutuhan produksi.Eric sendiri tidak banyak terlibat dalam urusan tersebut.Selama satu bulan terakhir, sebagian besar waktunya digunakan untuk menyempurnakan formula dua produk pertam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status