เข้าสู่ระบบMalam perlahan menyelimuti ibu kota Velora.
Di ruang makan utama Mansion Brown, meja panjang telah dipenuhi berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat. Tak seorang pun pelayan berbicara. Setelah seluruh hidangan selesai ditata, mereka serempak membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan satu per satu. Tak lama kemudian, hanya tersisa Noah dan Eric. Noah duduk di sisi kiri meja, sementara Eric berada tepat di sampingnya. Dua kursi di seberang mereka masih kosong. Tak ada yang menyentuh makanan. Noah sesekali melirik jam dinding, lalu merapikan posisi sendok di hadapannya, meski sebenarnya peralatan makan itu sudah tersusun sempurna. Eric memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya beberapa kali beralih kepada dua kursi kosong di seberang meja, lalu kembali kepada Noah. Ia sempat ingin bertanya, tetapi akhirnya mengurungkan niatnya. Jemarinya hanya bergerak pelan di atas sandaran kursi, menunggu kedatangan orang-orang yang bahkan belum dikenalnya. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari halaman mansion. Gerakan tangan Noah langsung berhenti. Ia menoleh ke arah pintu. “Sepertinya mereka sudah datang.” Beberapa saat kemudian, pintu ruang makan perlahan terbuka. Dua pelayan melangkah lebih dulu, lalu memberi jalan kepada dua orang tamu di belakang mereka. Seorang pria paruh baya memasuki ruangan dengan langkah mantap. Usianya telah menginjak enam puluh delapan tahun, tetapi punggungnya masih tegap. Begitu pandangannya menemukan Noah di ujung meja, sudut bibirnya langsung terangkat. Langkahnya tanpa sadar menjadi lebih cepat. “Noah…” Ia menggeleng pelan sambil tertawa kecil. “Akhirnya kau ingat juga kalau masih punya teman.” Noah yang sejak tadi duduk perlahan berdiri. “Yarta.” Hanya satu nama, tetapi cukup untuk membuat jarak puluhan tahun di antara mereka seolah memendek dalam sekejap. Eric ikut menoleh ke arah pintu. Tatapannya mula-mula berhenti pada Yarta, lalu bergeser kepada sosok yang berjalan setengah langkah di belakangnya. Ia langsung terdiam. “Xavia?” Xavia yang sejak memasuki ruangan terus memperhatikan Noah segera mengalihkan pandangan mengikuti arah suara itu. Langkahnya seketika terhenti. Tatapannya terpaku pada Eric yang duduk di sisi Noah. Ia menatapnya cukup lama, seolah sedang memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang mempermainkannya. Keterkejutan sempat terlihat di matanya, tetapi ia segera menata kembali ekspresinya dan melangkah mendekati meja. “Selamat malam.” Noah membalas dengan anggukan tipis. Baru setelah itu, Xavia kembali menatap Eric. “Eric?” nada suaranya terdengar lebih seperti memastikan daripada bertanya. Lengan kanan Eric masih terbungkus gips dan disangga kain penyangga di depan dada. Melihat Xavia berhenti, ia perlahan berdiri dari kursinya meski gerakannya masih sedikit kaku. Eric lebih dulu membungkukkan badan kepada Yarta. “Selamat malam.” Yarta membalas dengan anggukan kecil. Tatapannya singgah sesaat pada wajah Eric sebelum kembali kepada Noah. Eric kemudian menoleh kepada Xavia dan hanya mengangguk pelan. Xavia masih belum mengalihkan pandangan. Matanya turun pada gips di lengan kanan Eric, lalu kembali menatap wajahnya. Baru setelah yakin bahwa Eric benar-benar berada di hadapannya, ia menarik kursi dan duduk. Meski begitu, pandangannya masih beberapa kali kembali kepada pemuda itu. Yarta mengangkat telunjuk ke arah Eric sambil tetap menatap Noah. “Dia…?” Noah mengangkat telapak tangannya. “Duduklah dulu. Nanti akan kujelaskan.” Yarta tidak bertanya lagi. Ia menarik kursinya dan duduk di samping Xavia. Keheningan kembali memenuhi ruangan. Noah meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Suara porselen yang menyentuh permukaan kayu terdengar jelas di tengah kesunyian. Tatapannya bergantian menyapu Yarta dan Xavia sebelum akhirnya berhenti pada Eric. “Kalau begitu, izinkan aku memperkenalkannya.” Tak ada yang menyela. “Eric Brown,” lanjut Noah setelah jeda singkat. “Cucuku.” Jari Yarta yang baru hendak menyentuh cangkir teh langsung berhenti di udara. Yarta menatap Noah beberapa saat sebelum kembali memandang Eric. Tatapannya perlahan berubah, seolah banyak potongan teka-teki akhirnya menyatu. Di sampingnya, Xavia menatap Eric tanpa berkedip. Kemudian ia menoleh kepada Noah, seolah mencoba memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar. Tak satu pun pertanyaan keluar dari bibirnya. Namun perubahan kecil pada tatapannya sudah cukup menunjukkan bahwa berbagai kejadian yang selama beberapa hari terakhir tidak ia pahami mulai menemukan jawabannya. Meski begitu, jawaban tersebut masih belum menjelaskan semuanya. Noah membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat sebelum menoleh kepada Eric. “Eric, ini Yarta Jones, sahabat lamaku.” Yarta menganggukkan kepala kepada Eric. Noah kemudian mengalihkan pandangan kepada Xavia. “Sedangkan Nona Xavia… kurasa kalian sudah saling mengenal.” Nada bicaranya tetap tenang, tetapi senyum tipis di wajahnya membuat suasana yang semula kaku sedikit mencair. Tatapan Eric dan Xavia tanpa sadar kembali bertemu. Keduanya hanya mengangguk kecil, seolah sama-sama mengakui bahwa pertemuan malam itu berada jauh di luar dugaan mereka. Noah memandang Xavia. “Nona Xavia, aku berutang satu ucapan terima kasih kepadamu karena telah membantu Eric.” Xavia sedikit terdiam sebelum menggeleng. “Saya tidak melakukan banyak hal.” Noah tidak membantah. Ia hanya mengangguk sekali, lalu memandang mereka bergantian. Tak ada lagi yang membuka suara. Noah mengangkat cangkir tehnya, menyesapnya pelan, kemudian meletakkannya kembali. “Baiklah. Kita akhiri dulu rasa penasaran ini. Makanlah. Setelah itu, kita masih memiliki waktu semalaman untuk berbicara.” Yarta mengangguk lebih dulu. Eric kembali duduk, sementara Xavia perlahan menarik pandangannya dari wajahnya. Baru setelah Noah mengambil sendok, yang lain mulai mengikuti. Ruangan yang semula dipenuhi keheningan perlahan berganti dengan suara pelan peralatan makan yang saling bersentuhan. ⸻ Jamuan makan malam berakhir dalam suasana yang jauh lebih tenang. Para pelayan mulai membereskan meja, sementara Noah meletakkan serbetnya di samping piring. Tak seorang pun langsung berdiri. Yarta beberapa kali melirik Noah, seolah menunggu sahabat lamanya itu kembali membuka pembicaraan. Namun Noah justru menoleh kepada Eric. “Eric, ajak Nona Xavia berkeliling mansion. Masih banyak tempat yang belum kau lihat.” Eric mengangguk. “Baik, Kek.” Xavia sempat menoleh kepada kakeknya. Yarta hanya menganggukkan kepala. “Pergilah. Sisakan malam ini untuk dua orang tua yang sudah terlalu lama menunda percakapan.” Barulah Xavia berdiri. Eric ikut bangkit, kemudian berjalan bersamanya meninggalkan ruang makan. Setelah pintu tertutup, suasana ruangan mendadak terasa jauh lebih lengang. Yarta mengembuskan napas pelan sambil memutar cangkir teh kosong di hadapannya. Tatapannya akhirnya berhenti pada Noah. “Kalau begitu, sekarang giliranku bertanya.” Sudut bibir Noah terangkat tipis, seolah ia memang telah menunggu kalimat itu sejak awal. ⸻ Eric dan Xavia berjalan berdampingan menyusuri jalan setapak di sisi taman. Tak ada yang langsung berbicara. Cahaya lampu taman memanjang di antara rerumputan, sementara suara langkah kaki mereka terdengar pelan di tengah suasana malam yang tenang. Setelah beberapa saat, Xavia akhirnya memecah keheningan. “Jadi, selama ini aku mencari orang yang salah.” Eric menoleh kepadanya. Senyum tipis muncul di wajah Xavia. “Rupanya Tuan Muda Brown memang sulit ditemukan.” Eric mengembuskan napas pelan. “Semua ini juga berada di luar dugaanku.” Xavia memperhatikan wajahnya beberapa saat, lalu mengalihkan pandangan kepada gips yang masih menopang lengan kanannya. “Aku sempat mengira kamu benar-benar menghilang.” Eric tersenyum kecil. “Kenyataannya, aku sendiri baru tahu ke mana mereka membawaku.” Langkah keduanya sedikit melambat. Xavia memandang hamparan taman di depan mereka sebelum membuka suara. “Kamu mungkin baru tahu, tapi Andreas tidak.” Xavia menoleh kepadanya. “Setidaknya, beri dia kabar kalau kamu baik-baik saja.”Setelah keluar dari ruang rawat Vincent, Eric menyapa singkat anggota keluarga Rothwell di sana sebelum berpamitan. Tak lama kemudian, sedan hitamnya meninggalkan halaman Rumah Sakit Trinity.—Di dalam ruang rawat, Vincent masih berdiri terpaku.Ia mengepalkan kedua tangannya berulang kali, lalu menggerakkan bahu dan memutar tubuhnya.Tak ada rasa sakit. Tak ada rasa pegal. Tubuhnya benar-benar telah pulih.“Hahaha…!” tawa puas tiba-tiba memenuhi ruangan.“Luar biasa…” gumamnya pelan.Ia berusaha menenangkan diri. Namun, setiap kali merasakan tubuhnya yang telah pulih sepenuhnya, senyum di wajahnya justru semakin sulit disembunyikan.Tepat saat itu, pintu ruang rawat terbuka.Beberapa anggota keluarga Rothwell bergegas masuk setelah mendengar suara tawanya.Vincent buru-buru berdeham pelan, berusaha kembali memasang wajah tenang.“Ada apa?” tanya salah seorang dari mereka.Vincent sedikit terkejut melihat beberapa orang masuk bersamaan ke dalam ruangannya. Ia menarik napas panjang,
Terdengar keheningan beberapa saat dari seberang telepon.“Aku benar-benar sembuh. Lukaku perlahan membaik. Kau tidak akan percaya sampai kau melihatnya sendiri.”Mendengar itu, sudut bibir Eric perlahan terangkat.Benar saja. Resep obat dari Legacy Intelligence memang tidak perlu diragukan lagi.“Bagus kalau begitu,” ucap Eric singkat.Vincent langsung melanjutkan, “Kau dapat pil itu dari mana? Apa benar itu warisan keluargamu? Kenapa efeknya bisa secepat itu?”“Ya.” Eric hanya menjawab satu kata.Ia sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih jauh. “Jadi kapan kau keluar dari rumah sakit? Bukankah kau bilang ingin meminta penjelasan dariku?”Vincent langsung tertawa kecil. “Ah, lupakan saja soal itu. Lagipula meski luka di wajahku mulai sembuh, tubuhku masih terasa pegal.”Nada suaranya perlahan berubah penuh semangat. “Nanti setelah aku keluar dari rumah sakit, temani aku memberi pelajaran pada mereka.”“Tentu.” Eric mengangguk pelan. “Nanti siang, setelah kuliahku selesai, aku aka
Tak terasa, sedan hitam itu akhirnya memasuki halaman kediaman Keluarga Jones.Eric menghentikan mobil tepat di depan gerbang. “Sudah sampai,” ucapnya pelan.“Ayo masuk dulu. Kita makan malam, baru setelah itu kamu pulang,” ajak Xavia.Eric terdiam beberapa saat. Ia tidak tahu harus menerima atau menolak. “Ini…”Melihat keraguan di wajah Eric, Xavia kembali berkata, “Ini permintaan Kakekku.”“Permintaan Tuan Jones?” tanya Eric memastikan.Xavia mengangguk pelan.Eric mengembuskan napas. “Baiklah.”Sedan hitam itu pun perlahan bergerak memasuki halaman Kediaman Keluarga Jones.Tak lama kemudian, mereka berdua turun dari mobil. Eric berjalan mengikuti Xavia menuju pintu utama.Beberapa pelayan yang melihat pemandangan itu saling bertukar pandang. Meski tak seorang pun berani berkomentar, raut wajah mereka jelas menunjukkan keterkejutan.Bagaimanapun, baru kali ini mereka melihat Xavia pulang bersama seorang pria.Sesampainya di ruang jamuan, ternyata belum ada seorang pun di sana. Namun
Melihat pesan dari Xavia, sudut bibir Eric perlahan terangkat. “Kau bawa mobil sendiri atau kujemput?”balasnya.“Jemput.”“Baiklah. Kirimkan lokasimu.”Tak lama kemudian, sebuah titik lokasi masuk ke ponselnya.Eric segera mengambil kunci sedan hitam di atas meja, lalu meninggalkan Mansion Brown.Bukan tanpa alasan ia mengajak Xavia.Jika nanti pembicaraan dengan Keluarga Rothwell berkembang ke arah yang tidak diinginkan, kehadiran Xavia setidaknya dapat sedikit mencairkan suasana. Bagaimanapun, gadis itu masih memiliki hubungan dengan keluarga tersebut. ⸻Pada saat yang sama, Xavia telah selesai bersiap.Penampilannya tampak sedikit lebih rapi dibanding biasanya.Kurang dari tiga puluh menit kemudian, seorang pelayan menghampirinya.“Nona Xavia, ada seseorang yang mencari Anda di depan gerbang.” Xavia mengangguk pelan, lalu berjalan keluar.Sesampainya di gerbang, ia langsung melihat sedan hitam milik Eric terparkir di sana. Pemuda itu sedang berbincang santai dengan satpam yang b
Sementara itu, entah bagaimana, Danny, Zaki, dan Joshua juga berakhir di rumah sakit malam itu.Kondisi mereka bahkan jauh lebih parah dibanding Vincent. Beberapa tulang di tubuh mereka patah, sementara wajah mereka nyaris tak bisa dikenali.Orang tua ketiganya tentu murka melihat kondisi anak-anak mereka. Namun setelah mengetahui seluruh kronologi kejadian, amarah itu perlahan berubah menjadi keputusasaan.Mereka tahu anak-anak merekalah yang lebih dulu memulai semua ini. Terlebih lagi, pihak yang mereka hadapi adalah Keluarga Rothwell.Tak seorang pun dari mereka berani membawa masalah itu ke jalur hukum. Mereka hanya bisa menelan kepahitan sambil berharap amarah Keluarga Rothwell berhenti sampai di situ.Sementara itu, Eric dan Andreas memilih meninggalkan rumah sakit setelah memastikan Vincent telah mendapatkan penanganan dari dokter.Mereka kembali ke bar untuk mengambil mobil, lalu pulang ke mansion.Semakin malam, semakin banyak anggota Keluarga Rothwell berdatangan ke rumah sa
Tanpa sadar, bongkahan bata di tangan Danny terlepas dan jatuh ke aspal.Wajah Zaki seketika memucat. “Sial… itu mobilnya. Habislah kita.”Joshua mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?”Zaki menelan ludah. “Dia mahasiswa baru, Vincent Rothwell.”Danny dan Zaki memang sudah mengetahui identitas Vincent sejak awal.Begitu Joshua mendengar nama itu, wajahnya ikut memucat.Vincent melangkah mendekati Danny.Tatapannya dingin. “Apa yang kau lakukan dengan mobilku?”Danny buru-buru mengangkat kedua tangannya. “Tenang dulu. Aku akan mengganti semuanya.”Vincent mendengus. “Kau kira aku kekurangan uang? Aku bertanya, kenapa kau merusak mobilku?”Belum sempat Danny menjawab… Empat pria bertubuh kekar tiba-tiba muncul dari arah belakang.Tanpa aba-aba…Brak!Salah seorang dari mereka langsung menerjang Vincent hingga tubuhnya terhempas ke aspal.Belum sempat Vincent bangkit…Buk!Sebuah pukulan keras kembali menghantam wajahnya. Disusul tendangan demi tendangan yang menghujani tubuhnya.Dann







