LOGINAku terpaksa menikah dengan preman atas desakan warga. Ibuku yang seorang NPD marah besar dan tak terima. Aku hanya alat keluarga untuk mendapatkan uang terutama seserahan pernikahan. Namun, di balik suami preman yang mereka anggap sampah masyarakat ternyata suamiku ....
View MoreToday, Serena Collins and her boyfriend, Ethan, had plans to meet. Serena arrived at Ethan's apartment with a happy heart.
There was nothing particularly special about the occasion, but Serena was the kind of girl who could always find a reason to be happy. Maybe it was because Ethan rarely had free time, so every date felt like a small celebration. At first, Serena walked cheerfully, full of excitement despite the lingering drizzle that had nearly ruined her freshly blow-dried hair. Her hand held a small umbrella, now folded shut, while her heart bloomed with joy. However, the moment she arrived at apartment 3B and noticed the door was not fully closed, an uneasy feeling crept over her. "Ethan is never this careless. Could it be that he doesn't realize his door is still unlocked?" Serena murmured. She reached out to knock, but something stopped her. Her heart was suddenly restless. Frowning, she carefully pushed the door open. She stepped cautiously into the dim living room. Only a corner lamp was on, casting the shadows of decorative plants across the walls. The sofa was in disarray, and a man's shirt lay draped over its backrest. Serena's heartbeat began to pound strangely. That wasn't all. She also noticed a woman's dress and undergarments scattered in front of the bedroom door. "Ethan?" she called softly. No answer came. She moved farther inside. The atmosphere in the apartment made her chest tighten, and just as she neared the bedroom door, she heard voices. "Ahh... deeper, Ethan. Don't stop!" a woman's voice cried out, breathy and filled with pleasure. Serena's body instantly froze. Then a man's voice followed, one she would recognize anywhere. "You're crazy, Marissa. Your body is addictive." Serena stood rooted to the spot, her head throbbing. The bed creaked, followed by alternating breaths and moans. "Ah, Ethan, faster. I'm almost..." "Quiet. Let me be the one controlling you tonight." Serena clamped a hand over her mouth to keep her breathing silent. She took a cautious step forward until she could peer through the narrow gap in the bedroom door, which was open only a few inches. And there, every certainty she had ever held shattered. Marissa, her stepsister, lay sprawled across the bed with her hair tangled across the pillow. Her unclothed body and intoxicated expression radiated pleasure. Ethan, the man she was engaged to, was kissing her stepsister with reckless hunger. Serena stood motionless. Tears fell from her eyes, yet her face remained rigid. She was not the kind of girl who would scream and cry outside a bedroom door. She simply stood there, swallowing the bitter reality that stabbed through her heart. Her hands trembled, but Serena kept her back straight, refusing to let herself collapse. She would not fall apart in front of them. With the last of her strength, she stepped away from the door. Their voices continued to slice through her ears, but Serena chose to leave. Her heart was broken, yet her thoughts were even more chaotic. She didn't know what to do about her relationship with Ethan. Their engagement was not merely a matter of love. It was an agreement between two influential families. If she called it off, her stepmother could persuade her father to withdraw all financial support for her biological mother's medical treatment. Her mother was currently receiving intensive care in the hospital. But if she went through with the marriage, it would feel like stabbing herself with the very same knife. Serena pressed a hand against her chest, torn between wanting to scream and wanting to faint. Every path before her seemed to lead toward destruction. She ran out of the apartment, her mind spinning. She shoved the door open in haste. Her breathing was ragged, and tears streamed down her face. Serena hurried down the hallway. That was when she nearly collided with a tall man dressed in an immaculate suit. She looked up. The man studied her intently. His dark eyes were calculating as they rested on the young woman before him. Meanwhile, Serena lowered her gaze again and walked past him without a word. The man was Steave Alexander Whitmore, Ethan's uncle. Steave watched the young woman wander away aimlessly, tears still visible on her cheeks. Suspicion immediately stirred within him. He walked toward Ethan's apartment and opened the door without hesitation. His instincts proved correct. Moans, gasps, and the rhythmic creaking of a bed echoed from inside. One glance was all it took for him to understand exactly what was happening. A faint smirk appeared on his lips. He pulled his phone from his pocket and raised it to his ear. "Paul," he said flatly. "We're moving up the timeline. Prepare everything."Lelaki itupun pergi dari Gala. Setelah lelaki tadi pergi. Gala memperhatikan bukti yang di bawanya. Mata Gala melebar melihat ada photo yang dikenalnya. Ternyata benar, dia biang kerok semua ini. Gala juga melihat ada lelaki yang familiar di kenalnya. Di lihat lebih teliti lagi ternyata dia Doni, pacarnya Tisa yang di banggakan mertuanya juga terlibat dalam proyek ini. Mereka semua satu komplotan. Gala akan susun rencana lebih matang.Gala pergi dari pasar malam itu. Dia naik ke salah satu mobil. Di dalam mobil sudah ada Bastian. Gala berbicara padanya."Pak, bagaimana kabar anda? Anda banyak sekali berubah," katanya."Yah, keadaan yang mengubahku. Aku harus cari tahu lebih lanjut siapa dalang yang membuat Pabrik dan usaha turun temurun keluargaku nyaris bangkrut. Bagaimana denganmu?" tanya Gala dengan sorot matanya yang tajam."Saya sudah menjalankan semua yang Bapak perintahkan. Sepertinya memang mengarah ke orang yang Bapak curigai. Dialah dalangnya yang membuat masalah. Saya berha
SUAMIKU YANG DIHINA BUKAN PREMAN SEMBARANGAN 21**Setelah berpamitan pada Maya malam itu, Gala melangkah keluar menuju motornya. Mesin dinyalakan dengan satu tarikan keras, dan dalam beberapa menit, Gala sudah melaju menuju markasnya, yang terletak di pinggir kota.Ketika Gala tiba, suasana di markasnya terasa mencekam. Beberapa anak buahnya tampak sibuk merawat luka akibat bentrokan dengan Genk Kelewang. Di tengah ruangan, seorang pemuda dari Genk Kelewang terlihat duduk di lantai, kedua tangannya terikat ke belakang dengan tali, wajahnya babak belur.Gala mendekat dengan langkah tenang namun penuh ancaman. "Siapa namamu?" tanyanya, suaranya rendah namun tegas.Pemuda itu menatap Gala dengan tatapan kosong, tak mengucapkan sepatah kata pun. Darah segar masih mengalir dari sudut bibirnya.Gala jongkok di depannya, menatapnya tajam. "Kenapa kalian menyerang kami? Apa yang kalian cari? Bukankah sudah ada tempat masing-masing. Jangan saling serang, Bodoh!"Lagi-lagi, tak ada jawaban. An
“Saya ucapkan terima kasih atas bantuannya tadi, tapi jangan berpikir bahwa hal ini mengubah apapun,” kata Bu Retno dengan dingin. "Kamu tetap tidak cocok untuk Yuda. Dia akan segera menikah dengan wanita pilihanku, seorang PNS juga. Kamu tidak punya tempat di hidupnya."Maya terdiam, hatinya seolah dicubit oleh kata-kata itu. Meski ia sudah menduganya, mendengar langsung dari mulut Bu Retno membuat semuanya terasa lebih nyata. Bagaimanapun, ia tidak bisa memaksakan perasaannya pada Yuda, apalagi jika keluarga Yuda menolaknya begitu keras.Kenapa ada manusia sampai bisa begitu meremehkan orang lain. Maya bersyukur di situasi ini dia sudah punya suami."Saya mengerti, Bu, Ibu tahu kalau saya juga sudah menikah," jawab Maya pelan. Tak ada gunanya membela diri atau memperpanjang perdebatan. Semua sudah jelas. Yuda akan segera menikah, dan bukan dengan dirinya. Kehidupan kini sudah berbeda. Maya juga sudah ikhlas dia tak bisa bersama Yuda. Tapi, kenapa hubungan ini malah di perburuk."Oh
SUAMIKU YANG DIHIN4 BUKAN PR3MAN SEMB4RANGAN 20.Maya meraih dompet itu dengan tangan gemetar. Sejenak, ia terpaku melihat dompet yang tadinya ada di tangan copet kini berada di genggamannya. Suara riuh kejar-kejaran di belakangnya semakin menjauh ketika si copet lari kencang dikejar warga. Maya menarik napas lega. Setidaknya, ia berhasil mendapatkan dompet itu kembali.Ia segera berbalik dan mencari pemilik dompet tersebut. Di keramaian pasar yang sibuk, mata Maya tertumbuk pada seorang wanita paruh baya yang tampak gelisah. Wanita itu tampak cemas, sesekali meraba-raba tas di pinggangnya, seolah memastikan sesuatu. Maya mendekat dengan langkah cepat, hati-hati agar tidak terjatuh di jalanan berbatu.“Bu, ini dompetnya, kan?” Maya menyodorkan dompet itu kepada wanita tersebut.Wanita itu mengangkat wajah, matanya membulat terkejut saat melihat Maya. Maya pun merasakan hal yang sama. Wajah itu terlalu familiar untuk diabaikan. Wajah yang pernah ia lihat dalam beberapa kesempatan di ru
SUAMIKU YANG DIHINA BUKAN PREMAN SEMBARANGAN 13.**Maya benar-benar senang kala naik motor bersama Gala. Beberapa kali dia di bonceng Leo adiknya saja. Pernah juga sekali dia di bonceng Yuda dan ketahuan Ibunya Yuda. Langsung sumpah serapah yang Maya dapatkan.Sekarang, sudah ada Gala sang suami j
Yuda sendiri juga tak tahu perasaannya ke Maya. Mereka hanya dekat saja. Yuda sedikit kaget saat tau Maya menaruh rasa padanya. Dia dengar dari tetangga kalau Maya suka padanya. Entah bagaimana berita itu sampai ke telinga Ibunya.Ibu Yuda marah besar dan menganggap Maya tak pantas dengannya. Yuda
SUAMIKU YANG DIHINA BUKAN PREMAN SEMBARANGAN 7.**"Mana May cincin kamu itu?" tanya Ibunya.Maya kaget saat Ibunya berkata demikian. Bisa-bisanya saat suaminya sakit, Ibunya malah bertanya masalah cincin."Maksud Ibu?""Tisa cerita kalau dia ngasih kamu cincin waktu akad seadanya di kantor balai d
SUAMIKU YANG DIHINA BUKAN PREMAN SEMBARANGAN 6.**"Kamu mau bayar pake apa? Ha. Mampu kamu memberi 50 juta bahkan lebih seperti juragan Harsa!" kata Farida menunjuk Gala.Suara Farida keras menunjukkan kekesalannya tak terima dengan apa yang terjadi."Bu, sudah ini musibah. Maya juga sudah menikah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews