แชร์

Bab 60: Malam Jihan

ผู้เขียน: fazaa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-25 20:08:20
"Apakah Selir akan membahas pelayan pribadi itu lagi malam ini?" tanya sang dayang dengan nada suara yang berbisik lirih seraya merapikan untaian gaun malam milik majikannya.

Jihan tersenyum sangat tipis merespons pertanyaan pelayan kepercayaannya tersebut.

Ia menatap pantulan bayangan dirinya di depan cermin besar, mengagumi keindahan lekuk tubuhnya yang terbalut kain sutra merah marun yang sangat pas.

Gaun malam itu tampak begitu sederhana, namun potongan rendah di dada dan belahan tinggi di p
fazaa

AHAHAHA BUND, RUNGKAD PART II! Selir Jihan udah goda seksi abis pake gaun marun belahan tinggi, eh dituduh "terlalu banyak prasangka"! Sultan Azfar langsung kabur ninggalin Jihan kicep sendirian. Selir-selir ular mulai kelabakan, Bund! Makin gak sabar nunggu momen heboh berikutnya? Yuk, gercep klik LIKE, FOLLOW, dan tumpahin KOMENTAR kalian! Jangan lupa berikan SUPPORT terbaik kalian secara ugal-ugalan buat author lewat koin atau hadiah. SUPPORT kalian adalah bensin utama biar bab baru cepet up!

| 1
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 117: Laporan Untuk Dua Orang Ular

    Rania kini hidup dengan dua wajah. Satu wajah untuk Safiya, satu wajah untuk Nadira, dan hanya Nayla yang mengetahui wajah aslinya.Lorong selasar sayap barat istana bergema samar oleh langkah kaki Rania yang terbungkus jubah perak pelayan dalam. Dinginnya marmer malam merambat menembus alas sepatunya, namun tidak sedingin ketakutan yang mencengkeram dadanya.Di balik saku pakaiannya, surat dari ayahnya tentang ancaman orang-orang bertudung hitam masih terasa berat. Surat itu laksana bara api yang siap membakar habis seluruh keluarganya di desa jika ia melakukan satu saja kesalahan kecil di tempat ini.Di dalam kamar tempat tinggal yang dipenuhi kepulan asap dupa mawar, Selir Safiya sudah menanti dengan raut wajah kejam yang tidak sabar. Jemari lentiknya yang berkuku merah mengetuk-ngetuk permukaan meja rias emas."Bawa dokumen itu kemari, Rania! Jangan biarkan aku menunggu seperti pengemis!" perintah Selir Safiya, suaranya melengking tajam memecah kesunyian kamar.Rania melangkah maj

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 116: Dosa Yang Tak Bisa Dilupakan

    Di kamar Amira, tidak ada yang berani menyebut nama Nayla terlalu keras.Bukan karena takut Nayla mendengar.Mereka takut mengingat apa yang sudah mereka lakukan.Selasar paviliun bagian dalam itu teramat sunyi saat angin malam gurun berembus pelan melewati tirai-tirai sutra hijau zaitun. Di dalam bilik pribadi yang temaram oleh pendaran lilin, aroma minyak cendana yang menenangkan sama sekali tidak mampu mengikis hawa dingin yang mencekik batin tiga orang wanita di dalamnya. Selir Layla duduk dengan gelisah di atas dipan rendah, sementara Jihan berdiri kaku di sudut ruangan, meremas kedua jemari tangannya sendiri. Selir Amira berdiri membelakangi mereka, menatap lurus ke arah kegelapan taman luar dari balik jendela kayu.Layla memajukan tubuhnya sedikit, memecah kesunyian dengan suara yang setengah berbisik karena didera rasa paranoid yang akut. "Amira... jawab aku dengan jujur. Kau benar-benar tidak memiliki niatan untuk kembali berkumpul dan mematuhi perintah di paviliun Safiya?"A

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 115: Rencana Nayla

    “Aku akan mengambil kendali atas Sultan.”Kalimat itu meluncur dingin dari bibir Nayla. Seketika itu pula, Rania berhenti menangis. Isak tangis yang semula memenuhi kesunyian kamar asrama pelayan langsung terputus di tenggorokan, meninggalkan keheningan yang mencekam.Rania mendongak perlahan, menatap wajah sahabatnya dengan mata sembap yang membelalak lebar. Nayla berdiri teramat tenang, tetapi ada pendar tajam di matanya yang belum pernah terlihat sebelumnya. Tekad yang membakar itu mengintimidasi siapa saja yang memandangnya.Nayla melangkah pelan menuju meja kayu di sudut ruangan. Jemarinya yang ramping bergerak halus, mengelus permukaan gulungan kitab herbal yang tergeletak di sana. Udara malam yang menembus celah jendela kayu terasa begitu dingin, menampar kulit mereka yang terekspos."Aku tidak ingin sekadar menjadi pelayan pribadi yang berdiri membisu di balik meja mahoni Sultan Azfar, Rania," ucap Nayla tanpa berbalik. "Aku ingin mendapatkan sebuah posisi yang membuat suarany

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 114: Sahabat Yang Jujur

    Langkah kaki Rania terasa bagaikan terseret beban timah panas saat ia menelusuri koridor belakang yang remang. Kepalanya terus menoleh gelisah ke kiri dan kanan, mengawasi setiap sudut lorong. Ia menahan napas setiap kali melewati pilar batu, khawatir bayangan dayang-dayang milik Selir Safiya mendadak muncul dari balik kegelapan.Matanya juga menyapu semak-semak taman tengah dengan cermat. Ia sangat waspada pada kemungkinan hadirnya prajurit rahasia utusan Ibu Suri Nadira yang mengintai pergerakannya. Setelah memastikan situasi benar-benar aman, Rania dengan cepat mendorong pintu kayu kamar asrama pelayan milik Nayla.Ia menyelinap masuk laksana hantu malam dan memutar selot besi pintu dari dalam. Suara dentang besi yang mengunci ketat seketika memecah kesunyian ruangan.Nayla yang sedang duduk di tepi ranjang bambu seraya membaca gulungan kitab tanaman obat mendadak terkejut. Matanya terangkat, menatap gurat wajah sahabatnya yang berantakan dengan kelopak mata membengkak merah."Rani

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 113: Surat Untuk Rania

    Rania selalu tahu bahwa ancaman Selir Safiya bukan sekadar kata-kata kosong. Tetapi pagi itu, ia menerima bukti bahwa wanita kejam itu benar-benar mulai merenggut nyawa orang-orang terdekatnya.Matahari baru saja menyembul tipis di ufuk timur ketika seorang kurir pengirim barang menyerahkan sepucuk surat kumal berikat tali rami kepada Rania. Di sudut kanan kertas kasar tersebut, tertera tulisan tangan ayahnya yang sangat ia kenali.Rona bahagia sempat terbit di wajah Rania. Ia mengira surat itu hanya berisi kabar kerinduan biasa dari rumah panggung kayu mereka di pelosok desa.Namun, begitu ia melangkah menyelinap ke balik sekat kamar pelayan yang sepi dan merobek amplopnya, mata Rania bergerak cepat membaca baris pertama. Detik itu juga, seluruh darah di wajahnya seraya menguap habis. Kulitnya berubah pucat pasi."Rania, anakku yang paling kami sayangi..." tulis ayahnya dengan goresan pena yang gemetar dan berantakan."Ayah terpaksa menulis surat ini dengan sisa keberanian yang kami

  • Rahasia Malam Sultan   Bab 112: Laporan Yang Terlalu Bersih

    “Tidak ada apa pun yang mencurigakan dari Nayla.”Kalimat itu kembali keluar dari mulut Rania dengan getaran halus yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.Dan untuk pertama kalinya, Safiya tidak lagi tersenyum.Suasana di dalam kamar paviliun milik Selir Safiya terasa teramat pengap malam itu. Kepulan asap dari pembakar dupa beraroma mawar yang pekat menari-nari di udara. Asap tebal itu sama sekali tidak mampu mengikis ketegangan yang mendadak membeku di antara kedua wanita tersebut.Safiya berdiri tegak di dekat cermin riasnya yang berkilau emas. Sementara itu, Rania berlutut dengan takzim di atas permadani beludru tebal. Jemari Rania menggenggam erat ujung jubah perak barunya hingga kain halus itu kusut.Safiya membalikkan tubuh anggunnya dengan sentakan kaku. Matanya menatap lurus tepat ke dalam manik mata Rania yang bergetar hebat."Aku meminta laporan terbaru tentang Nayla Azura sepanjang sore ini, Rania," desis Safiya dengan nada yang menajam. "Dan kau hanya membawa omong koso

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status