เข้าสู่ระบบSebuah pesan disertai foto sang suami yang tengah menghabiskan malam bersama seorang wanita membuat Alana panik. Dirinya memang sedang cemas karena Ronald belum pulang. Situasi semakin genting saat Alana bersama Rahman, sang sopir, menemukan mobil Ronald memang tengah terparkir di sebuah basement hotel. Terlebih saat Alana kemudian menemukan tubuh suaminya di salah satu kamar hotel tengah tertelungkup bersimbah darah dan sudah tak bernyawa. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa ketika semuanya masih samar-samar malah hadir Maria yang mengaku istri kedua Ronald?
ดูเพิ่มเติมJOANNE
The heavy scent of citrus lined the confined space of the car as I pressed my forehead to the glass watching the unfamiliar scenery pass in a blur.
My phone beeped and a text message from Rose appeared.
Rose: You reached your step-brother’s place?
Still in the cab, I typed but then I deleted it and responded with a tired emoji.
I: Almost there
This was my first year at college. I had already paid for my apartment. Got there and realized I had been scanned by the agent. Stranded, I had to spend a few days at my step-brother’s house.
Rose saw no issue with it. But I was highly uncomfortable with it. The first and last time I saw Aiden was three years ago on the day of our parents' wedding. He didn’t even spend the day, he was already out. So to me, he was practically a stranger—a male stranger.
To respect the oath I made to myself to keep my virginity until marriage, this didn’t seem like a good plan.
My phone beeped.
Rose: Remember to take pictures of your sexy step-brother.
I rolled my eyes, and my fingers danced across my screen.
I: No, thank you, that’s sexual harassment, and it’s against my values.
Rose sent me an animated sticker of a man fucking a girl mercilessly.
Instantly, I felt a heat pool between my thighs, and with deep breath, I ignored the throb in my clit like I’ve ignored all the sexual desires in my life.
After ten more minutes, the car came to a halt in front of a building so tall it made me feel like an ant.
“Thank you,” I said to the driver who dropped my luggage beside me.
After taking out some cash from my purse and handing it over to the driver, I picked up my luggage and headed into the building.
I dragged the heavy bag along the opening that served like a …. and headed towards the elevator.
The doors of the elevator opened on the fourth floor, I stepped out and made way through the corridor, my eyes searching for room 406.
When I arrived at the door, I checked the message Aiden had sent me and punched in the passwords. The beep sound echoed and I pushed the door open.
The inside of the apartment was spacious, too spacious, and I like that.
“Aiden,” I called out, my voice tearing through the silence.
There was no answer.
I left my bag at the entrance and headed past the living room to the doorway that led to a corridor.
“Aiden,” I called again, louder this time.
A door clicked open, and a figure emerged in the hallway.
He walked out of the hallway, a towel wrapped low around his waist, like gravity was trying to pull it down and show me what I wasn’t supposed to see.
Drops of water slicked down his chest—his broad expanse of chest—down the contours of his muscular body that seemed more chiseled compared to when I last saw him.
While he was busy rubbing his brown strands with another, I caught my eyes lingering on the limp dick hidden beneath the towel. My heart fluttered, and my thighs clenched against themselves.
Quickly, I dragged my gaze back to his face. Aiden stopped and looked at me. For a second none of us said anything.
His eyes widened with recognition. “Joanne?”
With a smile that came out of nowhere, I nodded. “Hey.”
Aiden blinked. “Wow, you’ve grown so big.” His eyes raked over me.
I laugh, a little too quickly. “And you haven’t changed a bit.”
Which was a lie. A big fat lie. I didn’t remember him being this grown. This built. Or this…manly.
His gaze lingers. Maybe it wasn’t as long as I thought it was. But there was something about his stare. The way it made my body quiver and my knees weak.
“Uh.” Aiden cleared his throat. “You can take the second room on the right.”
I gulped hard. “Thanks.”
After watching his muscular back disappear into the room on the left, I dragged my luggage to the room, my legs feeling too warm.
Inside the room, I collapsed on the bed. Reaching for my phone I called Rose.
“I just arrived,” I said as soon as she picked up.
“That was quite a journey,” she said. “Does he have a roommate? A sexy one like him?”
My mind slipped to the third door. “I don’t know but there are three rooms,” I responded, “why are you asking?”
“Nothing.” A smile seeped into her voice. “Who knows you might lose your virginity to his friend.”
“Never,” I said, “that would be shameful, losing my virginity to a step-brother’s friend.”
“Shame makes sex more thrilling.” Rose chuckled.
As I unpacked, Rose and I continued our usual basic conversation.
**********
Hours slipped by and my eyes fluttered open. I had fallen asleep while I was arranging documents.
Yawning and stretching, my eyes drift to the dark sky outside. I reached for my phone and I gasped at the time. 11pm. How did I sleep for that long.
Letting out another yawn, I heard a sound. First like a whimper and then it clears into a moan. A long drawn-out moan.
Another one, and my stomach flipped.
My step-brother was fucking a girl in the apartment.
I should have stayed back, mind my business and continued to sleep. But my legs moved like it had a mind on its own.
Barefoot, I trod out of my room and into the corridor, looking for something I shouldn’t.
When I arrived at the living room, it wasn't Aiden. It was someone else.
A boy, jet black hair. I couldn’t see the color of his eyes as they were shut.
My eyes were glued to their movement. The way the girl sucked on his cock. The boy pinned her head in place and shoved his cock down her throat, letting out a deep moan that reverberated in my chest.
I felt my pussy swell as a tingling feeling filled my body.
The boy opened his eyes, and when those blue pupils locked with mine, my breath hitched.
"Inilah yang sedang ingin saya pastikan, Nyonya Alana. Saya belum bisa pastikan mereka itu siapa, sampai saya melakukan penyamaran seperti ini. Ini jugalah yang mendasari saya mengajukan permintaan pada Nyonya Alana," jelas Rahman panjang lebar. Alana menatap tajam ke arah Rahman. Wanita cantik itu menggigit bibir bawahnya pertanda ia sedang merasakan sebuah kecemasan. "Apa permintaan yang ingin Kau ajukan, Man?" tanya Alana kemudian. "Nyonya, bisakah kita berpura-pura saya masih linglung?"Alana langsung mengangguk setuju. "Satu lagi, Nyonya," imbuh Rahman dengan wajah menegang. Alana tetap fokus memperhatikan Rahman tanpa banyak bicara. "Bisakah mulai hari ini saya menginap di rumah Nyonya. Ada beberapa hal yang ingin saya pastikan soal Nyonya Maria. Saya sangat yakin ia berada di balik semua kejahatan terhadap saya ini."Alana langsung setuju begitu saja dengan permintaan Rahman. Baginya keberadaan Rahman di rumah adalah sebuah jaminan keamanan. Mengingat Maria semakin berani
Alana hanya mengangguk lalu memilih masuk ke kamar barunya untuk beristirahat. Bibik sendiri akhirnya pergi ke dapur bersama asisten rumah tangga muda, kepercayaannya. "Mbak! Maksudnya apa mempermalukan aku begitu di depan Nyonya Alana?" Asisten rumah tangga mata-mata Maria itu tidak terima dan menarik kasar pundak Bibik. "Kenapa, Minah? Ada masalah?" tanya Bibik pura-pura bodoh. Ia memang sengaja memancing emosi rekan kerjanya yang berkhianat itu. "Mbak membuat aku terlihat bodoh di depan Nyonya Alana. Kenapa sampai Nyonya enggak boleh jawab pertanyaan saya?" "Kamu bertanya hanya untuk mencari bahan kan. Kamu ini sungguh tidak tahu malu. Bekerja pada Nyonya Alana, dibayar setiap bulan oleh Nyonya Alana, tapi berkhianat padanya." Bibik langsung menyindir tanpa basa basi. Wanita bernama Minah itu langsung diam seribu bahasa. Ia tak menyangka Bibik akan secepat itu tahu kalau dirinya membantu Maria. ***Alana mengerjap tak percaya saat Rahman berada du depannya. Seperti sebuah kea
"Apa? Iya, aku akan sampaikan pada Bos Besar. Kali ini akan aku berikan hasil yang baik agar dia tidak kecewa." Maria masih saja terus mengobrol sambil kembali berjalan mendekati lemari tempat Bibik bersembunyi. Wanita itu kali ini tidak ada lagi penghalang yang membuat dirinya menghentikan tindakan. Bibik yang berada di dalam lemari hanya bisa menahan nafas sambil memejamkan mata. dalam sepersekian detik situasinya benar-benar sangat menegangkan. "Sedang apa Tante Maria di kamar Mami? Keluar! Jangan lagi mengacau!"Sebuah bentakan dari seseorang yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu kamar Alana, sekali lagi menyelamatkan Bibik. Maria yang panik langsung membalik badan dan jadi serba salah. "Ah, Milan. Kamu sudah pulang rupanya. Ehem tante hanya, merasa kamarku di bawah tidak terlalu sejuk. Jadi mencoba AC di kamar ini," sahut Maria beralasan. Wanita itu langsung berusaha menguasai situasi sembari membu
"Nyonya, Bibik sepertinya sudah bergerak. Dia akan memberi tahu Nyonya Alana perbuatan Anda di rumah ini." Seseorang segera berlari ke tempat peristirahatan Maria di rumah itu. Sosok itu berlari terengah-engah untuk segera mencapai tempat Maria. "Terima kasih, kau memang sangat bisa diandalkan," sahut Maria sambil menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu pada baju pelayan wanita itu. "Anda mau apa, Nyonya?" tanya sosok itu saat Maria bangkit dan segera bergerak menuju kamar utama Alana. "Tentu saja memanfaatkan peluang. Setidaknya dalam beberapa menit, wanita itu akan sibuk dengan Alana dan tak lagi mengawasi aku. Anak-anak juga belum pulang kan?" Maria gegas menuju kamar utama. Sementara di dapur, Bibik sedang bercakap dengan Alana lewat pesan. Alana sempat meminta sang asisten untuk ganti aplikasi[Nyonya, Non Maria sering sekali berkeliaran di rumah utama. Saya pantau beberapa kali Non Maria berusaha membuka pintu ruang kerja Tuan Ronald dan kamar utama tempat Nyonya dan Tuan
"Jangan kasar ya, Kak Lana! Aku bisa menuntutmu untuk hal ini!" tegas Maria kejam. Wanita itu terlihat kesal diperlakukan tidak sopan oleh Alana. Maria berusaha bangkit dan membersihkan pakaiannya. Ia lalu berdiri pongah sambil menantang Alana seperti tidak ada ketakutan sedikitpun dalam dirinya. "T
Alana masih terus mengamuk dan menjerit-jerit hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan seluler, bukan chat atau obrolan dalam aplikasi. [Saya kirim SMS, agar tidak ada yang bisa melacak dan mengurangi kemungkinan ada pihak lain yang ikut membaca pesan ini. Saya tidak bisa be
"Memangnya aku salah datang ke perusahaan suamiku? Aku ini juga istrinya Mas Ronald, Kak Lana!" tegas Maria berani. Alana hanya diam sambil menggemelatukkan giginya. Ia masih menahan dirinyaatas sikap Maria yang tak sopan. "Lagi pula, Mas Ronald bilang urusan perusahaan di serahkan pada istrinya. Bu
"Lana, suamiku sempat bilang. Malam itu sebelum Ronald terbunuh, suamiku terlihat sangat cemas. Ia seperti sedang ketakutan menunggu sesuatu," jelas Tante Anjani membuat kuduk alana meremang. Bahkan Om Prasojo sendiri belum mengatakan apa-apa tentang hal ini. Alana memang sangat penasar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.