FAZER LOGINTangan kanan Leo memutar tubuh Nyai Arum menghadap tumpukan karung goni beras.Pria itu menekan pangkal leher wanita tersebut menggunakan ibu jari dan telunjuknya secara bersamaan.Nyai Arum mencoba meronta dalam pengaruh obat halusinasi. Kuku-kukunya menggores punggung tangan sang dokter secara acak akibat sistem sarafnya yang menolak intrusi fisik asing tersebut."Aku sedang mengunci jalur saraf sumsum tulang belakangmu," ucap Leo mengabaikan goresan berdarah di tangannya.Leo menekan tiga titik saraf detoksifikasi di pangkal leher dan tulang punggung wanita itu. Sengatan rasa panas langsung membakar pembuluh darah Nyai Arum detik itu juga. Mulut wanita itu terbuka lebar meraup pasokan oksigen di udara.Proses pembuangan racun memicu lonjakan suhu tubuh. Keringat dingin membanjiri dahi dan pelipis Nyai Arum menembus pori-pori kulitnya dengan kecepatan tinggi."Panas... badanku terasa direbus," keluh Nyai Arum menggeliat gelisah di atas tumpukan beras mentah.Gairah biologis ya
Tangan kiri Leo bergerak vertikal menangkis serangan mendadak tersebut.Tulang lengannya berbenturan keras dengan batang kayu jati padat."Gerakanmu terlalu lambat untuk seorang pria yang mengaku dikuasai roh leluhur," ucap Leo.Pria itu memutar pergelangan tangannya dan merampas tongkat itu secara paksa.Ki Gede terhuyung ke depan kehilangan tumpuan utamanya.Leo menendang persendian lutut dukun tua itu hingga ia jatuh berlutut di atas tanah berdebu."Pria tua bangka ini memukul dokter kita!" teriak salah satu pemuda desa yang pro pada Leo.Warga desa menahan napas melihat tokoh spiritual itu ditumbangkan dalam hitungan detik.Leo melemparkan tongkat jati itu ke dekat kaki Sekar.Pria itu mengangkat jari telunjuk kanannya yang masih berlumuran cairan hijau."Hama ini tidak berasal dari kutukan," deklarasi Leo menatap kerumunan warga yang mematung. Lihat warna kental dan korosi pada lapisan luar kulit ulat ini."Sekar memungut sisa bangkai serangga dari atas tanah dan mengangkatnya ti
Ban Jeep hitam Leo bergesekan kasar dengan tanah berbatu di pelataran pasar desa. Pria itu mematikan mesin dan mencabut kunci kontak.Suhu panas matahari siang menembus atap kanvas kendaraannya.Sekar berlari mendekati pintu kemudi membawa sebuah ranting teh yang telah gundul."Ribuan ulat memakan habis tunas daun di sektor barat dalam tiga jam terakhir," lapor Sekar menyodorkan ranting tersebut.Leo mengambil ranting itu dari tangan asistennya. Mata sang dokter memindai bangkai ulat gemuk berwarna hijau gelap yang menempel di ujung batang."Corak garis kuning di punggung ulat ini tidak lazim ditemukan di habitat dataran tinggi," observasi Leo.Ia memencet perut serangga itu menggunakan ibu jari dan telunjuknya hingga pecah. Cairan hijau kental menetes mengenai ujung sepatu pantofelnya."Warga mulai memanen paksa sisa daun yang ada. Mereka panik," tambah Sekar dengan napas tersengal mengatur ritme bicaranya."Ancaman gagal panen ini memicu kekacauan di semua sektor perkebunan."Suara
141Kancing piyama satin merah itu terlepas satu per satu dari lubangnya. Kain sutra mahal itu meluncur jatuh melewati bahu Laras hingga ke lantai.Leo menarik pergelangan tangan wanita itu tanpa membuang waktu. Pria itu menyeret tubuh Laras menyusuri lorong menuju ruang kerja pribadi Bowo.Pintu kayu jati berpelitur gelap ditendang terbuka. Leo melempar tubuh Laras ke atas meja kerja utama. Tumpukan map jatuh menghantam lantai."Buka kedua kakimu," perintah Leo melonggarkan kerah kemeja linennya.Laras menuruti instruksi itu dengan napas tersengal. Akal sehatnya telah menguap tergantikan keputusasaan untuk sembuh.Jari tangan kanan Leo mematuk lurus menekan simpul saraf sakral di pangkal paha wanita itu. Tekanan presisi tersebut menghantam langsung aliran darah yang tersumbat di panggul bawah Laras."Ah!" Laras memekik tertahan. Punggungnya melengkung ke atas membentuk busur yang tegang.Sensasi panas menyengat membakar jaringan ototnya. Rangsangan ekstrem itu memaksa kelenjar hormon
Sepatu pantofel Leo menapaki teras keramik rumah dinas Koperasi Unit Desa.Jam dinding di dalam ruangan lobi kecamatan baru saja menunjuk angka dua siang.Bowo sedang memimpin rapat tertutup penyaluran pupuk di kantor camat. Pria paruh baya itu tidak akan kembali ke rumah dalam waktu tiga jam ke depan.Leo memutar gagang pintu utama rumah berdinding cat hijau tersebut.Panel kayu jati itu tidak terkunci dari dalam. Pria itu mendorongnya perlahan tanpa menimbulkan bunyi decit engsel sedikit pun.Leo melangkah masuk ke ruang tamu yang luas tanpa mengetuk atau mengucapkan salam.Udara dingin dari mesin pendingin ruangan langsung menyapu wajahnya. Suara pembawa acara siaran televisi terdengar keras mendominasi ruangan tersebut.Laras duduk bersandar menyilang kaki di atas sofa kulit berwarna hitam.Wanita itu mengenakan piyama satin merah berpotongan rendah hingga sebatas paha.Tangan kirinya memegang sebuah kikir kuku berbahan metal. Matanya fokus memperhatikan layar televisi di depannya
Tarjo memegang pipi kirinya yang memerah. Pria paruh baya itu menatap Kinasih dengan rahang menganga.Puluhan pemuda Desa Seberang menundukkan pandangan. Mereka menjatuhkan celurit ke aspal melihat kepala desa mereka dipermalukan istrinya sendiri."Kau urus surat cerai kita hari ini," putus Kinasih melangkah mundur. Ia berdiri di belakang garis bahu Leo.Tarjo tidak berani membalas tatapan dari sang dokter. Pria tambun itu berbalik dan berlari menuju motornya.Invasi sengketa tanah itu berakhir tanpa satu pun pertumpahan darah membasahi pelataran klinik.Dua minggu berlalu.Mesin traktor diesel menderu membajak tanah merah di lereng utara. Musim tanam teh unggulan telah tiba.Leo duduk memeriksa tumpukan laporan logistik di ruang kerjanya. Kipas angin gantung berputar statis di atas kepalanya."Gudang Koperasi Unit Desa memblokir jatah bibit unggul kita, Tuan," lapor Sekar meletakkan papan jalannya ke meja.Mandor wanita itu menyeka keringat di dahinya menggunakan ujung lengan kemeja