تسجيل الدخولSepatu pantofel Leo mendarat tanpa suara di atas karpet tebal koridor utama kantor dewan distrik.Cahaya remang dari lampu pendar darurat menjadi satu-satunya sumber penerangan sebelum fajar tiba. Pria itu menyusup melewati sistem keamanan berlapis gedung pemerintahan tersebut tanpa memicu alarm.Di ruang arsip lantai dasar, Sintia berlutut di depan lemari baja yang terbuka lebar.Sekretaris dewan itu membongkar tumpukan map kuning dengan tangan gemetar. Ia mencari bukti catatan aliran dana suap yang mengalir ke rekening pribadi Baskoro.Tiga ajudan berbadan gempal berdiri di ambang pintu memegang tongkat kejut listrik."Kau menggali kuburanmu sendiri dengan mencari dokumen itu, Sintia," ucap ajudan pertama melangkah maju ke dalam ruangan."Bos Baskoro sudah menduga kau akan mengkhianatinya setelah penyegelan kemarin," tambah ajudan kedua menyalakan tongkat setrumnya hingga memercikkan bunga api.Sintia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak rak besi arsip. Wanita ber
Suara sirine mobil aparat meraung membelah ketenangan pagi di pelataran Rumah Sakit Terpadu.Tiga truk pengangkut personel berseragam taktis berhenti tepat di depan gerbang utama fasilitas medis tersebut. Puluhan petugas bersenjata laras panjang melompat turun menyebar membentuk barikade yang memblokir seluruh akses jalan desa.Anggota Dewan Distrik Baskoro melangkah turun dari mobil dinas mewahnya dengan dagu terangkat tinggi. Politikus paruh baya itu mengenakan setelan jas safari berwarna gelap yang terlihat sesak di bagian perutnya.Dua ajudan berseragam mendampingi pria itu berjalan memasuki lobi rumah sakit tanpa memedulikan tatapan ketakutan para pasien."Panggil dokter kampung yang mengaku sebagai penguasa distrik ini, sekarang juga!" perintah Baskoro melambaikan tangannya dengan arogan.Leo berjalan keluar dari lorong bangsal rawat inap menemui rombongan pejabat pemerintahan tersebut. Kemeja linen pria itu bergerak pelan menyesuaikan langkah kakinya yang sangat terukur."Fasil
Ujung sepatu pantofel Leo menghantam keras bagian tengah panel kaca buram bilik dekontaminasi tersebut.Pecahan kaca setebal dua sentimeter meledak terlempar ke arah koridor laboratorium farmasi. Suara serpihan material pelindung itu memekakkan telinga meredam bunyi sirine peringatan yang menyala."Pecahkan kepala penyusup ini sekarang juga!" teriak Gunawan memundurkan langkahnya menghindari serpihan kaca tajam.Pria bertubuh tambun itu meraih sebuah tabung baja berukuran kecil dari atas meja kerjanya. Tabung itu berisi cairan asam pekat hasil sintesis kimia tingkat tinggi. Gunawan mengangkat tabung tersebut di atas kepalanya dengan rahang mengeras."Mati kau, Dokter sialan!" maki mafia farmasi itu bersiap melemparkan senjatanya.Gunawan menerjang maju berniat menyiramkan cairan korosif itu langsung ke wajah Leo. Belasan preman di belakangnya bersorak memberikan dukungan melihat bos mereka mengambil tindakan langsung. Leo sama sekali tidak memundurkan pijakan kakinya untuk menghi
Sepatu pantofel Leo menginjak lantai epoksi laboratorium utama Pabrik Farmasi Kimia Raya.Pria itu melangkah melewati deretan mesin sentrifugal yang masih berputar memproses cairan kimia sintetik. Lampu neon putih memendarkan cahaya terang menyorot koridor panjang di area produksi obat tersebut.Aroma klorin dan campuran amonia menyengat tajam di udara menandakan standar sterilisasi pabrik yang sangat buruk.Di sudut ruang sterilisasi, Dokter Rosa berdiri tersudut membelakangi meja baja tahan karat.Ahli farmakologi wanita itu mencengkeram erat sebuah tabung reaksi berisi serbuk putih di dada kirinya. Jas putih kebesaran miliknya terlihat kotor oleh noda debu dan bercak cairan kimia.Dua penjaga berbadan gempal berseragam hitam menghalangi jalan keluarnya membawa tongkat kejut listrik."Serahkan sampel obat itu sekarang juga, Dokter Rosa!" bentak penjaga pertama menyalakan aliran listrik di ujung tongkatnya.Suara gemeretak listrik bertegangan tinggi beradu dengan deru mesin di
Sisa abu pembakaran buku utang masih menempel di tepi sepatu pantofel Leo.Pria itu baru saja menginjakkan kakinya kembali di lobi Rumah Sakit Terpadu. Karina segera menghampirinya dengan langkah tergesa membawa papan jadwal kerja."Stok obat anestesi dan antibiotik sintetis kita dihentikan paksa pengirimannya malam ini, Dokter," lapor Kepala Keperawatan itu menahan napas.Laci penyimpanan farmasi yang berada di balik meja resepsionis terbuka lebar memperlihatkan rak baja kosong.Wanita berseragam putih itu menunjuk deretan kotak karton yang hanya berisi kemasan tanpa isi di sudut ruangan."Jadwal bedah trauma darurat terancam batal," tambah Karina merapikan letak kacamata kotaknya. "Obat herbal kita tidak diizinkan untuk pembiusan total pada prosedur operasi tulang besar."Leo meletakkan pena logamnya ke atas meja tanpa mengubah ritme tarikan napasnya. Pria itu berjalan mendekati meja memeriksa sendiri tumpukan daftar inventaris farmasi yang tersisa."Siapa pihak yang berani me
Suara pukulan benda keras pada dinding brankas baja memantul menyakitkan telinga di dalam ruang penyimpanan yang sempit. Udara pengap di dalam kotak besi itu semakin menipis digantikan oleh napas mereka yang memburu.Leo perlahan menarik tangannya dari perut bawah Rika untuk mengakhiri manipulasi saraf pencernaan tersebut. Pria itu menahan kedua bahu sang penaksir gadai untuk menjaga agar tubuh wanita itu tidak merosot ke lantai.Rika menarik napas meredam sisa lonjakan endorfin yang memanaskan aliran darahnya. Keringat membasahi kening dan lehernya menembus kerah kemeja kerjanya yang sederhana."Tetap di sini sampai aku membereskan masalah utang desa," instruksi Leo melepaskan pelukan lengan Rika dari lehernya.Sang dokter memutar tubuhnya membelakangi wanita itu dan mengangkat kaki kanannya.Tendangan keras dari ujung sepatu pantofel Leo menghantam panel pintu brankas baja dari arah dalam. Engsel kunci mekanik itu patah terlepas menghasilkan suara dentuman logam yang menggema d
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi







