Beranda / Male Adult / Rayuan Desa Wanita / Hancurnya Pertahanan Logika

Share

Hancurnya Pertahanan Logika

Penulis: Falisha Ashia
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 14:57:10

Amplop cokelat kotor itu diletakkan perlahan di atas meja kaca.

Suara gesekan kertas beradu dengan permukaan meja memecah keheningan ruang kerja VIP di lantai dua.

Jarum jam dinding kuningan menunjuk angka sebelas malam.

Leo duduk menyandar pada kursi kulitnya dengan mata terpejam.

Pria itu baru saja melonggarkan ikatan dasi dan membuka dua kancing teratas kemeja linennya.

Otot lehernya terlihat kaku setelah melakukan prosedur bedah selama lima jam penuh siang tadi.

"Bawa kembali uang itu," tol
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Rayuan Desa Wanita   Jatuhnya Sang Kembang Desa

    Ujung kuku jari Nida berubah membiru kusam.Wanita itu merosot pelan hingga lututnya membentur lantai keramik ruang arsip."Suhu tubuhmu sudah berada di angka tiga puluh empat derajat Celsius," observasi Leo menatap jam di pergelangan tangannya. "Sistem saraf pusatmu akan segera mati."Nida memeluk kedua lututnya dengan sisa tenaga yang ada. Gigi wanita itu beradu menghasilkan bunyi gemeretak yang konstan."Tolong aku," bisik Nida dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.Leo tidak memajukan langkah kakinya sedikit pun."Aku sudah pernah memberitahumu syaratnya di ruang istirahat waktu itu," tolak Leo melipat kedua tangannya di dada."Aku tidak menerima penyerahan seonggok daging kosong yang terpaksa karena keadaan."Ingatan malam itu kembali menghantam kepala Nida. Pria ini menuntut penyerahan mutlak yang didorong oleh gairah biologis, bukan paksaan utang atau ancaman kematian."Kang Jaya tidak ada di sini," racau Nida meneteskan air mata yang langsung terasa dingin di pipinya.

  • Rayuan Desa Wanita   Pemadaman Desa

    Kain pel berbahan katun itu menyapu genangan air di lantai keramik.Nida menekan gagang kayunya kuat-kuat untuk mengeringkan tetesan yang merembes dari celah pintu balkon. Kaca jendela di sepanjang lorong lantai dua bergetar hebat menerima hantaman angin kencang.Suara radio komunikasi berbunyi statis dari arah meja kerja Leo. Pria itu menekan tombol panggil menggunakan ibu jarinya."Jalur lintas utara tertutup material longsor, Tuan," lapor suara Sekar memecah bising di luar. "Truk nomor empat terjebak di area pemberhentian. Jaya tidak bisa kembali ke desa malam ini."Leo melepaskan tekanan pada tombol radionya. Matanya melirik ke arah Nida yang masih berjongkok memeras kain pel. Suaminya dipastikan bermalam di jalanan antarkota.Lampu neon putih di langit-langit berkedip tiga kali secara berturut-turut.Bunyi ledakan gardu listrik terdengar sangat keras dari arah bukit timur. Cahaya di dalam bangunan puskesmas mati total dalam hitungan detik."Generator cadangan kita sedang dalam pe

  • Rayuan Desa Wanita   Hancurnya Pertahanan Logika

    Amplop cokelat kotor itu diletakkan perlahan di atas meja kaca.Suara gesekan kertas beradu dengan permukaan meja memecah keheningan ruang kerja VIP di lantai dua.Jarum jam dinding kuningan menunjuk angka sebelas malam.Leo duduk menyandar pada kursi kulitnya dengan mata terpejam.Pria itu baru saja melonggarkan ikatan dasi dan membuka dua kancing teratas kemeja linennya.Otot lehernya terlihat kaku setelah melakukan prosedur bedah selama lima jam penuh siang tadi."Bawa kembali uang itu," tolak Leo tanpa membuka matanya.Nida berdiri kaku tepat satu meter dari sisi meja kerja.Wanita itu masih mengenakan rok panjang dan blus pudar yang sama sejak sore tadi.Napasnya tertahan melihat raut kelelahan yang membebani wajah sang dokter."Suami saya menghilangkan uang operasional Anda karena kebodohannya sendiri," ucap Nida menahan getaran suaranya."Kami tidak berhak menerima kembali uang ini, Dokter. Silakan potong hutang kami dari nominal ini."Leo membuka kedua matanya perlahan.Garis

  • Rayuan Desa Wanita   Sang Penyelamat Arogan

    Ban Jeep hitam itu berderit kasar bergesekan dengan aspal depan gerbang pasar kecamatan timur.Lampu jalan yang berkedip menyinari papan reklame karatan di atas pos penjagaan.Leo mematikan mesin kendaraannya dan mencabut kunci kontak.Pria itu melangkah turun menapaki jalanan pasar yang dipenuhi sisa sayuran busuk.Lima pria berseragam pekerja pertanian palsu sedang berkumpul mengelilingi meja kayu di sudut los daging.Mereka menghitung tumpukan uang kertas lima puluh ribuan sambil tertawa keras.Botol minuman keras murahan berserakan di sekitar kaki mereka.Langkah sepatu pantofel Leo mendekati meja tersebut tanpa ragu."Kalian menjual cairan pelarut industri sebagai pupuk organik kepada kurir logistikku," ucap Leo datar.Kelima pria itu menghentikan tawa mereka secara serentak.Pria berbadan paling besar yang duduk di ujung meja berdiri menantang.Tangannya memegang sepotong pipa besi berkarat sepanjang setengah meter."Siapa kau berani ikut campur urusan serikat kami?" bentak pria

  • Rayuan Desa Wanita   Mafia Pupuk Oplosan

    Bab 157 Mafia Pupuk OplosanTangan kapalan Jaya meremas batang padi yang menghitam pekat.Pria itu mencabut tanaman tersebut dari akarnya dengan mudah. Bau busuk menyengat langsung menusuk rongga hidung."Semuanya mati," gumam Jaya dengan tatapan kosong.Nida berdiri mematung di pematang sawah sore itu. Angin meniup pelan ujung rok panjangnya yang terkena cipratan lumpur.Hamparan padi yang seharusnya menguning kini berubah menjadi deretan batang layu berlendir. Tidak ada satu pun bulir panen yang bisa diselamatkan."Apa yang terjadi pada petak sawah kita, Kang?" tanya Nida melangkah turun mendekati suaminya.Jaya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pria itu menunjuk sebuah karung putih kotor berlogo kuda merah di tepi parit."Pupuk cair yang kubeli dua hari lalu," jawab Jaya dengan suara bergetar."Cairan itu membakar akar tanaman kita dari dalam hanya dalam waktu empat puluh delapan jam."Nida berjalan mendekati karung tersebut. Ia berjongkok dan memeriksa sisa cairan kental berbau

  • Rayuan Desa Wanita   Jarak yang Menyiksa

    Kain lap basah bergesekan dengan meja kaca ruang istirahat. Nida membersihkan debu mikroskopis menggunakan gerakan tangan kaku.Nida merapatkan kerah blusnya. Otaknya menyusun kalimat penolakan jika pria itu mencoba merebut harga dirinya sore ini.Leo melangkah masuk membawa papan catatan medis."Saya sudah mengepel seluruh lantai ruangan ini, Dokter," lapor Nida menundukkan pandangannya.Otot bahunya menegang bersiap menerima konfrontasi.Leo berjalan melewati posisi Nida seolah wanita itu tidak kasat mata.Leo meletakkan catatannya dan mengambil buku bersampul kulit hitam dari rak."Pastikan jendela arah timur tertutup sebelum kau pulang," instruksi Leo bernada sangat datar.Pria itu segera berbalik dan melangkah keluar ruangan tanpa melirik Nida sedikit pun.Pintu kayu tertutup rapat kembali. Nida berdiri mematung memegang kain lap basahnya.Pria itu sama sekali tidak menagih janjinya atau mencoba menyentuh kulitnya.Empat hari berlalu sejak Jaya mulai mengemudikan truk logistik he

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status