LOGINLeo merampas telepon satelit itu dari telapak tangan Wina dengan gerakan terukur. Layar gawai tersebut menampilkan deretan angka frekuensi Radio Suara Distrik yang terus berkedip mencari jaringan stabil."Dengarkan siaran langsung ini sekarang juga, Dokter," ucap Wina menekan tombol pengeras suara pada perangkat komunikasi tebal tersebut.Suara statis radio pecah digantikan oleh intonasi berat seorang penyiar pria. Siaran itu menggemakan peringatan darurat ke seluruh penjuru distrik."Rumah Sakit Terpadu menggunakan obat-obatan yang dicampur racun pemandul permanen! Jangan pernah bawa keluarga kalian ke sana jika tidak ingin garis keturunan kalian putus!"Wina mematikan sambungan telepon itu dengan jari bergetar. Janda tangguh itu membuang napas panjang."Mereka menyiarkan berita bohong ini secara berulang sejak fajar," lapor paramedis itu merapikan kerah seragamnya yang sobek. "Pasien rujukan dari wilayah barat memutar balik kendaraan mereka."Beberapa jam kemudian, lorong bang
Suara derik engsel berkarat menggema saat Leo mendorong pelan pintu garasi pool ambulans milik Jono. Udara sebelum fajar terasa dingin namun dipenuhi bau oli dan sisa gas buang kendaraan yang tidak terawat.Leo melangkah menembus keremangan barisan mobil darurat reyot tanpa memicu alarm keamanan sedikit pun.Di sudut area perbaikan mesin, Wina terikat di kursi besi dengan noda oli menempel di kemeja putihnya.Janda tangguh itu menatap tajam tiga algojo bayaran Jono yang berdiri mengelilinginya. Ia tertangkap basah beberapa jam lalu saat menyelinap untuk merampas kunci cadangan armada."Tangan yang berani mencuri aset bos kami harus dihancurkan dengan palu ini," ancam algojo pertama mengangkat palu godam."Pasien di desaku akan mati jika tidak dijemput pagi ini juga!" bentak Wina mempertahankan niatannya meski terikat."Bukan urusan kami jika orang miskin itu tidak bernapas lagi," kekeh algojo kedua mengarahkan senter menyilaukan ke mata Wina.Leo memangkas jarak dari balik baya
Suara decit ban karet beradu dengan aspal kasar menghentikan laju sebuah ambulans secara paksa.Kendaraan gawat darurat itu tertahan tepat di perbatasan jalur utama menuju distrik selatan. Sirine merah di atap mobil langsung dimatikan dari luar oleh hantaman balok kayu.Terik matahari siang memanggang aspal jalanan hingga memancarkan uap panas yang menyilaukan pandangan mata.Lima mobil pikap modifikasi melintang menutup seluruh akses jalan raya utama. Belasan pria berwajah sangar berdiri di depan barikade memegang potongan pipa paralon tebal dan rantai besi berkarat.Pintu kemudi ambulans ditarik paksa dari luar hingga engsel bajanya berbunyi nyaring memekakkan telinga.Wina ditarik keluar dari kursi kemudi hingga seragam paramedisnya robek di bagian bahu kanan. Janda tangguh itu meronta menepis cengkeraman tangan kotor preman tersebut dengan sisa tenaganya."Pasien balita di dalam sedang kritis dan butuh penanganan bedah segera!" teriak Wina menunjuk bagian belakang ambulansny
Leo melepaskan tekanan jarinya dari area ulu hati Karina secara perlahan. Pria itu menahan kedua bahu sang instruktur untuk menstabilkan postur tubuhnya yang melemas kehilangan tenaga.Karina menarik napas panjang meraup sisa oksigen yang berbau tajam cairan formalin."Bongkar lemari ini sekarang juga!" perintah Surya dari luar diiringi suara kokangan senjata api rakitan. "Habisi siapapun yang bersembunyi di dalam sana!"Leo memutar tubuhnya membelakangi Karina dan mengangkat kaki kanannya ke udara.Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam pintu lemari dari arah dalam. Papan kayu jati tebal itu pecah terbelah dua menghasilkan suara ledakan kayu.Pintu lemari terlempar ke depan menabrak rahang preman terdepan yang memegang tali rantai anjing.Pria berjaket kulit itu terpelanting ke belakang menjatuhkan senapan rakitannya ke lantai keramik. Anjing herder itu meronta melepaskan kalungnya dan lari ketakutan keluar dari laboratorium.Leo melangkah keluar dari tum
Suara angin malam berembus pelan menyapu area asrama akademi keperawatan yang terletak di pinggiran distrik.Gedung tiga lantai itu terlihat gelap menyembunyikan aktivitas eksploitasi tenaga medis di dalamnya.Leo memotong gembok gerbang belakang asrama menggunakan tang baja tanpa menghasilkan suara bising.Pria itu menyelinap masuk menelusuri koridor lantai dasar menuju ruang penyimpanan dokumen.Di dalam ruang arsip yang berantakan, Karina duduk terikat di kursi kayu dengan kedua tangan di belakang punggung.Instruktur kaku itu masih mengenakan seragam kerjanya yang kini berkerut dan kotor oleh debu ruangan.Wajah wanita itu tertunduk menahan rasa perih di sudut bibirnya yang masih membengkak akibat tamparan Surya siang tadi.Dua penjaga berbadan besar berjaga di depan pintu memegang tongkat pemukul karet."Kau terlalu berani berniat melaporkan yayasan ini ke dinas tenaga kerja, Nona Instruktur," ejek penjaga pertama mengayunkan tongkatnya mendekati wajah Karina."Ratusan pera
Lorong bangsal rawat inap Rumah Sakit Terpadu terlihat sangat sepi pada pertengahan hari.Deretan ranjang berlapis seprai putih bersih berjejer rapi di dalam puluhan kamar kaca.Fasilitas medis tersebut sudah siap beroperasi penuh menerima ratusan pasien dari penjuru desa. Namun, tidak ada satu pun tenaga perawat yang berjaga di pos administrasi maupun ruang tindakan.Leo melangkah menyusuri koridor rumah sakit memeriksa papan jadwal jaga yang dibiarkan kosong melompong."Pendaftaran rekrutmen staf perawat kita diblokir total sejak kemarin sore," lapor Karina berdiri di dekat meja pendaftaran utama.Kepala Instruktur Akademi Keperawatan itu memegang tumpukan map berkas lamaran dengan jari memutih.Kemeja kerjanya dikancingkan hingga leher menunjukkan kedisiplinan yang sangat kaku. Rambut hitamnya diikat rapat ke belakang tanpa menyisakan satu helai pun yang berjatuhan."Tidak ada satu pun lulusan akademi yang berani menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit ini," lanjut K
Bilah golok karatan itu membelah udara dengan suara mendesing, mengarah tepat ke leher Leonardo.Maya dan Kania menjerit histeris, menutup mata mereka rapat-rapat.Namun, bagi seorang dokter bedah yang terbiasa dengan ketelitian tingkat tinggi di meja operasi, tebasan Bahar yang membabi buta itu ta
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi







