ANMELDENKetika Karma aku letakkan di dada Zarima. bukan hanya tangisnya yang reda di seketika itu juga, tapi bola matanya yang tadi sempat hanya menyisakan putihnya saja, mata horor yang membuatku panik karena menyangka dia akan segera 'pergi' juga, serta-merta pulih semula!Dan yang membuatku lebih terpana lagi adalah, ketika kusaksikan tampak segurat senyum bahagia terukir di pipinya.Bayi sememerah ini? Demi Tuhan, seharusnya aku katakan lagi, ini hanyalah ilusi belaka!Cukup lama barulah aku berpikir untuk mencobanya dengan Norma juga. Kuletakkanlah Karma di sisi Zarima, lalu bergeser menggendong Norma yang masih saja terus memperdengarkan suara tangisnya itu."Kak, gendong dia juga ya. Mereka ini memang ada benarnya juga, hari ini adalah kali terakhir kamu punya kesempatan untuk gendong mereka."Pelan-pelan kuletakkan Norma di dada Zarima. Dan ... menakjubkan! sungguh luar biasa menakjubkan. Norma pun ternyata memang menginginkan hal yang sama, tamsilku.Tapi ketika mereka tersenyum baha
"Kak, kafannya pakai yang ada saja ya? Kalau umpannya ini dilarang atau tidak diterima Tuhan, kamu tenang saja, nanti aku yang rayu Dia." Aku berbisik lembut, sekonyong-konyong membujuk. Sedangkan yang sebenarnya, ini antara yakin dan putus asa.Aku lalu menengadahkan kedua tangan. "Tuhan, kalau apa yang kulakukan ini memang melanggar ketentuan-Mu, mohon jangan libatkan Zarima, cukup hukum saja aku, aamiin..." Kuusap wajah dengan pasrah, kemudian mulai mengkafani Zarima. Kain sarung yang membuatku bertanya-tanya barusan adalah yang akan kugunakan."Yah, kok tidak cukup? Duh, bagaimana lagi ini?"Aku mengkerutkan dahi lagi, tahan nafas lagi, kain sarungnya tidak cukup panjang untuk membungkus sekujur tubuh Zarima.Demi Tuhan, hari ini aku sudah tidak ubahnya seseorang yang tersesat di hutan belantara. Sibuk aku mencari jalan pulang."Sabar Kak, ya, mudah-mudahan ada jalan!" desisku berat, seraya mengedar-edarkan pandang, menatap segala sesuatunya dengan penuh harapan.Hinggalah tatap
Ragu-ragu kusingkap kain sarung yang menutupi tubuh Zarima. Menjiwai wajahnya dengan cermat, sama saja dengan kemarin. Menyentuh urat nadi hingga memastikan detak jantung, juga tak ada tanda-tanda. Mendekatkan telinga ke hidungnya, dengan berat hati ketutupkan saja kembali kaun sarung ke jasadnya. "Hah... Kak, padahal aku sangat berharap akan ada keajaiban." Apa yang terjadi pada Karma dan Norma tadi malam, memang tidak masuk akal. Tapi berharap Zarima hidup kembali, apa boleh buat, itu jauh lebih tidak masuk akal lagi. Mumpung anak-anak ini belum terjaga, mulailah pula aku merebus air untuk menyeduh susu sekaligus campuran air mandi mereka. "Mandi? Jangan-jangan ini yang dia maksud kemarin lalu? Aku baru ingat, kemarin lalu, Zarima bilang, aku pasti punya kesempatan untuk memandikan dia. Dia bahkan seperti menegaskan, aku sendiri yang akan memandikannya. "Ya Allah, Kak.. kenapa harus main teka-teki seperti ini sih? Coba kamu terus terang saja, mungkin dari kemarin aku m
Aku tahu kami ini hanyalah cebisan malang, yang terpental dari sekat-sekat keniscayaan, remuk kami diulek-ulek ketidakadilan.Bukan sekali dua tersayat, berdarah-darah ditusuk runcingnya belati fitnah. Akan tetapi, baru kali ini aku merasa betapa dunia telah pun menghunjam dengan-dengan amat dalam!Sakit.. sakit sekali. Padahal, kami ini tidak bersalah, hanya korban, tapi mereka tega bahkan pada jenazah Zarima?Kejam..ini sangat kejam! Apa yang dipertontonkan dunia hari ini, benar-benar sudah sangat keterlaluan!"Tapi ini salahku juga, Kak. Seharusnya aku abaikan saja omongan orang tua itu.""Hanya saja, dia tadi imam mesjidnya,Kak. Fardu kifayah itu tanggung jawabnya. Itulah kenapa aku pikir, dia pasti datang urus kamu.""Maafkan aku, Kak, tolong maafkan aku. Aku mengaku salah, kamu boleh hukum aku sekarang, Kak..""Aku ... tidak tidak, tidak seperti itu, aku tidak bermaksud menambah beban perjalananmu, Kak. Baik, aku tidak akan menangis lagi."Ada yang mengatakan, dilarang meratapi
"Kenapa belum bangun juga, Kak? Tidak bisa ya kamu bangun liat mereka dulu biar hanya sebentar?""Kalian juga Karma. Sudah-sudahlah nangisnya Dek! Kalaupun butuh sesuatu, seharusnya bilang biar aku ...."Tunggu! Apakah aku sudah melewatkan sesuatu? Sepertinya iya! "Mudah-mudahan.."Sesegera itu juga aku bergeser ke bagian dapur, memastikan apakah masih ada susu sachet tadi malam."Syukurlah!" gumamku lagi, susunya masih ada beberapa bungkus.Tanpa membuang-buang waktu, mulailah pula aku siapkan susunya. Air di tungku yang tadinya untuk campuran air mandi Zarima, aku timba saja sedikit.Selesai menyeduh, susu dalam cangkir kucampur dengan air dingin secukupnya, mengaduknya sekali lagi, lalu kembali menghampiri mereka."Tuhan, tolong hentikan tangis adik-adikku ini.""Bismillah.""....""Alhamdulillah.. alhamdulilah. Terima kasih Tuhan, terima kasih, Kak Rima benar, Kau memang Maha Romantis!"Betapa aku sudah tidak ubahnya seseorang yang baru saja keluar dari labirin yang maha rumit.
Bayi yang masih memerah ini seolah tidak terima aku memarahi kakaknya. Begitu kusebut namanya, seketika itu juga dia palingkan wajah, menjatuhkannya sedikit lebih ke samping.Wajah itu kemudian dia lindungi menggunakan salah satu lengan kecilnya. Lagaknya, persis seseorang ketika sedang merajuk dan sekonyong-konyong sedang tidak mau diajak bicara!Karma pula, mimik wajahnya ... ya Tuhan, nian ... jatuh lagi air mata. Zarima bahkan belum ke mana-mana, tapi anak ini sudah tidak ubahnya bocah piatu yang tersisih dari lorong antrian panjang pembagian sedekah di hari lebaran.Air mata Karma memang masih terus menitik, luruh satu-satu merupa manik putus-putus di pipinya yang kemerah-merahan. Bibir mungilnya pun demikian, masih saja bergetar-getar sebagaimana tadi. Akan tetapi, tidak ada sedikitpun suara yang keluar dari sana. Sedangkan sorot matanya, betapa mengiba! Sungguh, siapa yang tega melihat itu!"Jangan takut Dek, jangan takut, masih ada aku yang akan menjadi pelindung kalian! Per







