مشاركة

97. PENGANGGURAN

last update آخر تحديث: 2026-01-09 12:20:22

​“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu.

​Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa.

​“Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan.

​Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur.

​Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   100. OBSESI PADA CINDY. PAKAI TANGAN PUN JADI.

    Malam yang sunyi di apartemen mewah itu terasa semakin mencekam bagi Nathan. Deru napasnya masih memburu setelah terjaga dari mimpi buruk yang terasa begitu nyata—sebuah bayangan kelam di mana ia kehilangan Cindy selamanya.“Sial,” umpatnya pelan, suaranya nyaris berbisik agar tidak mengusik ketenangan di ruangan itu.Nathan menoleh ke samping, menatap sosok Cindy yang masih terlelap pulas. Kulit wanita itu tampak bersinar di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui celah gorden, sisa-sisa kelelahan setelah percintaan panas mereka masih terlihat dari raut wajahnya yang damai.“Mimpi...” gumam Nathan sambil mengusap wajah dan meraup rambutnya kasar, mencoba mengusir sisa-sisa ketakutan yang menghantui pikirannya.Sebelum beranjak, ia membungkuk sebentar dan mengecup kening Cindy dengan sangat lembut—sebuah janji bisu bahwa ia akan selalu menjaganya. Nathan melangkah menuju lemari es kecil di sudut kamar, mengambil sebotol air mineral, dan meneguknya perlahan hingga separuh botol. Dingi

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   99. KETIKA MORGAN ADALAH CINTA PERTAMA CINDY YANG TERSISIHKAN.

    “Ini uang bayaran lo. Dua kali lipat, sesuai janji gue di awal,” ucap Morgan datar. Jemarinya bergerak lincah di atas layar ponsel, menekan tombol konfirmasi pada aplikasi mobile banking-nya. Sebuah notifikasi transaksi berhasil muncul, menandai berakhirnya interaksi mereka malam itu. “Um... terima kasih ya, Mas,” sahut wanita itu pelan. Ia tampak sibuk merapikan pakaiannya yang sempat berserakan di lantai, lalu melangkah ke arah cermin untuk membenahi rambutnya yang kusut setelah mandi. “Oke,” sahut Morgan singkat. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Baginya, wanita itu tak lebih dari sekadar alat pelepas penat. Hasrat seksualnya telah tersalurkan, dan secara fungsional, wanita itu tidak lagi memiliki nilai baginya saat ini. Morgan meraih kunci mobil dan dompetnya di atas nakas dengan gerakan efisien. Tanpa sepatah kata pamit atau basa-basi manis, Morgan melangkah keluar meninggalkan kamar hotel tersebut. Langkah kakinya terdengar mantap dan tenang di atas karpet koridor y

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   98. KEBANGGAAN ORANG TUA SEDANG ASYIK DI HOTEL DENGAN WANITA PENGHIBUR

    ​“Morgan belum pulang, Pa?” tanya ibunya malam itu. Ia tampak sibuk membersihkan sisa riasan di wajahnya di depan cermin meja rias, sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. ​“Belum kayaknya. Tapi tadi dia menelepon Papa, katanya lagi kumpul sama teman-temannya,” jawab sang ayah tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang tengah ia baca di atas ranjang. ​“Oh... begitu. Tapi dia siap, kan, untuk hari pertamanya besok? Jangan sampai dia malah nggak datang ke kantor,” ucap ibunya dengan nada cemas. Ia meletakkan kapas pembersihnya dan berbalik menatap suaminya. Bagi ibunya, citra Morgan di perusahaan adalah segalanya. ​“Pasti dia datang, Ma. Papa sudah bicara langsung dengannya tadi. Dia sudah memastikan sendiri kalau dia akan hadir di hari pertama,” ucap ayahnya dengan nada tenang, berusaha meredakan kegelisahan sang istri. ​Ayahnya menutup buku, lalu melepas kacamata bacanya. “Dia tahu betul seberapa besar taruhannya kali ini. Morgan nggak akan sebod

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   97. PENGANGGURAN

    ​“Jadi, minggu depan kita bisa nikah lagi?” tanya Cindy penuh harap pada Nathan malam itu. ​Suasana ruang TV apartemen mereka terasa kontras. Cindy tampak sibuk di atas karpet, menyusun tumpukan berkas penting untuk pengurusan administrasi. Sementara itu, Nathan justru tenggelam dalam dunianya sendiri. Pria itu memakai headphone besar, fokus menatap layar televisi lebar sambil sesekali mengarahkan senjata nirkabel mainannya ke arah musuh virtual dari atas sofa. ​“Sayang, kita harus foto lagi, kan? Buat buku nikah yang baru,” ucap Cindy lagi. Ia mengambil buku nikah lama mereka yang masih tersimpan rapi, lalu membukanya perlahan. ​Ada rasa getir sekaligus lucu saat jemarinya menyentuh lembaran itu. “Bisa nggak, sih, buku lama ini diterusin aja? Tapi kayaknya nggak mungkin, ya... Di lembar belakang udah ada stempel cerai. Hmmm...” Cindy tertawa kecil meratapi masa lalu mereka yang sempat hancur. ​Namun, tawa itu perlahan surut saat ia menyadari tidak ada respons dari pria di sam

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   96. KELUARGA NATHAN PANIK JIKA CINDY BERTEMU MORGAN?

    ​“Kamu kan tahu sendiri Sayang... aku nggak pernah bisa cuma satu kali...” bisik Nathan serak. Ia terus mengecupi leher jenjang Cindy, sementara jemarinya tidak berhenti memberikan rangsangan dengan ritme yang semakin cepat dan menuntut. ​“Ah... Mas... Um... Mas... Ah....” ​Desahan Cindy pecah di dalam kamar yang sunyi itu. Kedua kakinya mulai terasa lemas dan gemetar, membuatnya terpaksa menyandarkan seluruh beban tubuhnya pada Nathan. Ia melingkarkan kedua tangannya di atas bahu dan leher suaminya, mencari pegangan saat sensasi nikmat mulai merayapi seluruh tubuhnya. ​Tubuh Cindy bergerak naik-turun perlahan mengikuti permainan tangan Nathan yang terus meremas dadanya, sementara lehernya kini terasa basah oleh kecupan-kecupan panas. ​“Udah terlalu basah, Sayang... Aku nggak mau berhenti sampai kamu benar-benar keluar dan puas... Umm...” ucap Nathan dengan napas memburu. Ia begitu menikmati setiap inci kulit Cindy yang bersentuhan dengan jari-jarinya, membiarkan gairah itu

  • SEDIKIT LAGI, SAYANG!   95. MORGAN MENGIKUTI MEREKA.

    ​“Kenapa, Mas? Kayaknya dia panggil kamu tadi?” tanya Cindy heran saat melihat Nathan baru saja masuk ke mobil dengan terburu-buru. Nathan segera meletakkan bingkisan dari Morgan di bangku belakang tanpa kata. ​“Nggak, kok. Kita langsung pulang sekarang, Sayang,” ucap Nathan pendek. Wajahnya tampak tegang saat ia menyalakan mesin. Dengan gerakan cepat, ia memasang sabuk pengaman lalu menginjak pedal gas cukup dalam. Bunyi mesin mobil sport itu mengaung keras di area parkir, sebelum melesat pergi meninggalkan lokasi. ​Di kejauhan, Morgan hanya berdiri diam dengan senyum miring yang penuh arti, memperhatikan mobil adiknya yang menjauh dengan kecepatan tinggi. ​“Lo takut, kan?” ucap Morgan sangat pelan, hampir menyerupai bisikan. ​Ia terkekeh tipis, merasa menang karena telah berhasil mengusik ketenangan Nathan. Morgan kemudian berbalik, masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan duduk diam di sana sambil menatap lurus ke depan—merencanakan langkah selanjutnya untuk sang adik. ​“Sayang, d

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status