LOGIN“Dengan seberapa liar kau malam itu. Bagaimana kalau nanti kau hamil anakku, Sienna Hart?” Sienna Hart hanya ingin lari dari perjodohan menjijikan dengan duda tua kaya raya yang dirancang keluarganya. Tapi pelariannya justru berakhir di ranjang pria asing. Seminggu kemudian, pria itu muncul lagi. Dia adalah Sebastian Dellier. CEO dingin yang yakin telah meninggalkan benihnya di tubuh Sienna. Dan Sebastian menuntut pernikahan. Terjebak di antara dua pilihan, Sienna harus memilih. Tunduk pada keluarga yang menjualnya, atau mengikuti hasrat yang datang dari Sebastian?
View MoreBuggy golf itu kembali melaju, kali ini menuju hole berikutnya. Sienna duduk di kursi penumpang, berusaha mengatur napas sambil memandang lurus ke depan. Sebastian di belakang kemudi hanya meliriknya sekilas, bibirnya mengulas senyum tipis seperti pria yang tahu persis efek yang baru saja ia tinggalkan.“Bagus juga ayunanmu tadi,” ucap Sebastian santai. “Walau kau terlalu kaku di bagian pinggul.”Sienna mendengus pelan. “Mungkin karena pelatihnya terlalu mengganggu.”Sebastian tertawa pendek. “Gangguan yang menyenangkan, ‘kan?”Sienna hanya mengangkat alis tanpa menjawab, matanya menatap pemandangan hijau di sekitar. Tapi dari ekor matanya, ia tahu Sebastian tengah memperhatikannya dengan tatapan yang membuat darahnya kembali berdesir.Di hole berikutnya, Sebastian sengaja membiarka Sienna memukul sendiri. Tapi setiap kali Sienna membungkuk mengambil bola, ia merasakan tatapan penuh maksud itu lagi.“Kau sengaja menatapku seperti itu?” tanya Sienna tanpa menoleh.“Seperti apa?” Sebast
Buggy golf itu melaju pelan di jalur pribadi menuju hole keempat belas. Sebuah area tersembunyi di ujung lapangan, konon dikenal sebagai tempat bermain para miliarder yang ingin benar-benar tak terganggu.Tidak ada kamera. Tidak ada pengawal. Hanya angin tenang, langit biru, dan suara dedaunan yang tersapu angin.Sienna mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu melirik Sebastian yang duduk di sebelahnya. “Tempat ini terlalu mewah hanya untuk memukul bola kecil,” gumamnya pelan.Sebastian tersenyum miring tanpa menoleh. “Siapa bilang aku datang hanya untuk bermain golf?”Buggy berhenti di tepian lapangan yang luas. Sebastian turun lebih dulu, lalu menoleh dan mengulurkan tangan. Sienna diam sesaat, lalu menyambut uluran itu.“Aku tak bawa pelatih hari ini,” ucap Sebastian seraya mengambil stik golf dari tas di belakang mereka. “Tapi kau beruntung, aku dikenal sangat sabar dalam mengajar.”Sienna menyipitkan mata. “Kau yakin itu bukan cuma alasan agar bisa memelukku dari belakang dan menye
Setelah sarapan selesai, Joseph kembali ke kamarnya dan tenggelam dalam dunia video game kesayangannya. Suara-suara dari dapur perlahan mereda. Sienna membersihkan meja, sementara Sebastian masih duduk santai di kitchen island sambil menyesap sisa kopi terakhirnya.Sienna menghela napas pelan. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Dan akhirnya, tanpa benar-benar direncanakan, pertanyaan itu lolos dari bibirnya.“Kau tak pulang, Sebastian?”Sebastian mendongak. Wajahnya langsung berubah. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menatap Sienna tanpa berkedip.“Kita sudah bercinta tadi malam,” ucapnya pelan namun mantap. “Dan sekarang kau berpikir untuk mengusirku?”Sienna terdiam. Napasnya tertahan. Ia buru-buru menunduk, merapikan sendok yang sebenarnya sudah tersusun rapi.“Bukan maksudku begitu—”“Lalu apa?” potong Sebastian, suaranya tetap tenang tapi tegas. “Sienna, kau tahu, ‘kan? Setelah semalam, aku bukan tipe yang bisa disingkirkan semudah it
“Mom… Dad?”Sienna sontak membeku.Panik menjalar dari ubun-ubun hingga ke ujung jemarinya. Ia menoleh cepat, matanya melebar seperti rusa yang tertangkap sorot lampu mobil.Joseph berdiri tak jauh di belakang Sebastian—dan ia baru sadar, dirinya masih mengenakan hanya kemeja Sebastian. Tanpa bra, tanpa celana dalam. Kancing bagian atas pun terbuka, memperlihatkan dadanya yang sedikit menyembul keluar.Sebastian menoleh dengan reaksi yang lebih lambat, tapi langsung tanggap. Ia berdiri, lalu bergerak menutupi pandangan anak mereka.“Joseph!” serunya ceria. “Pagi, Kapten!”Bocah itu melangkah mendekat.Sienna yang nyaris membatu, mendadak turun dari kursi dan berjongkok di balik kitchen island.“Alihkan perhatiannya. Aku akan cepat-cepat ke kamar,” bisiknya singkat.Sebastian mengangguk. Ia langsung jongkok menyambut Joseph, mencoba mengalihkan perhatian bocah itu. “Hei, bangun pagi sekali, ya?”“Aku cium bau telur,” ucap Joseph sambil mengucek matanya.“Dan kau benar!” balas Sebastian






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews